Anara & Oktara

Anara & Oktara
17. Mencari Alasan



Anara masuk ke dalam rumah dan bingung banget ketika ia sudah menjadi seorang Ibu rumah tangga malah membawa koper pasti ada masalah. Tapi wajahnya berubah menjadi tersenyum dengan alasan ia kangen dan pengen menginap beberapa hari saja di rumah ini. 


Mungkin orang-orang ada yang di rumah tidak mempercayai ucapan tersebut mereka yakin pasti ada masalah besar hingga membuat seorang perempuan pulang ke rumahnya. "Aku nggak kenapa-napa kok aku pengen pulang ke rumah aja emangnya enggak boleh kalau pulang ke rumah dan menginap sebentar doang?" 


"Hari ini kira-kira mau masak apa nih kebetulan banget tadi aku beli makanan yang sengaja untuk dibuat di rumah ini kita masak aja di dapur." Ia menaruh kopernya di dalam kamar yang sudah lama tidak ia tempati, situasi yang berada di dalam kamar tidak berubah dari awal sampai sekarang karena emang kayak begitu-begitu aja dan gak ditempatin juga. 


"Mas Prima ada nggak ke rumah ini? Dia udah sibuk sama Istrinya dan juga anaknya." 


"Kemarin malam sih ada telepon-teleponan doang katanya pengen ke sini nanti tapi nggak tahu juga deh bener atau enggaknya soalnya 'kan kalian sudah memiliki rumah tangga jadi Mama nggak mau ganggu hidup kalian lagi cuma sekedar seperlunya doang, emangnya beneran ya kamu sama Oktara nggak ada cekcok atau marah besar?"


"Ya ampun Mah, aku tuh cuma pengen nginep di sini doang cuma beberapa hari aja aku juga tadi dianterin kok ke sini cuman Mas Oktara nggak bisa masuk karena banyak banget pekerjaan di kantor jadi ya udah deh." 


Padahal ini udah sore enggak mungkin banget lanjut kerja dan sudah waktunya untuk pulang. Tapi Anara tetap saja menutupi aib suaminya agar tidak dipertanyakan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupannya yang baru ini. 


Di sisi lain, 


Ketika sudah mengantarkan Anara ke rumah Mamanya ia pun pulang dengan sendirinya ke rumah. Rasanya bingung dan campur aduk banget ketika sudah sampai. "Kenapa Pak kok tadi Bu Anara malah memilih untuk pergi?" 


"Dia katanya pengen nginep di rumah orang tuanya jadi kita berdua nggak ada percekcokan satu sama lain. Ya udah deh kalau gitu saya ke kamar dulu ya udah gerah banget pengen mandi." 


"Baik Pak," jawabnya dengan singkat ia tidak mau mempertanyakan lebih panjang lagi karena bisa-bisa saja Oktara marah karena ini adalah pertanyaan yang tidak sopan. 


Ia kepikiran kalau memang nggak ada terjadi apa-apa pasti ada yang namanya cerita dengan orang lain semoga aja semua itu tidak terjadi agar tidak menjadi percekcokan yang panjang dan bakalan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan oleh Oktara. 


"Assalamu'alaikum." Seorang paruh baya yang tiba-tiba saja datang ke rumah ini lalu masuk melihat situasi begitu sangat sepi. Beliau disambut oleh asisten rumah tangga yang baru beberapa minggu bekerja di sini. 


"Anata mana? Kok nggak kelihatan sih?" 


"Bu Anara tadi bawa koper keluar saya juga nggak tahu mau pergi ke mana." 


Itu adalah jawaban yang sangat singkat dan sangat sepele banget tapi karena mendengar membawa koper tiba-tiba saja jantungnya terasa berdegup lebih kencang. Ia duduk di ruang tamu sambil menunggu Oktara yang keluar dari kamar karena pastinya lagi mandi dan membutuhkan waktu. 


Asisten rumah tangga menawarkan untuk disediakan air minum dan ditaruh di atas meja. Oktara terkejut sekali atas kedatangan Mama yang tiba-tiba saja datang tanpa angin dan tanpa hujan memberitahu sebelumnya. Kenapa pas banget ketika ada masalah dan mama datang ke sini tanpa memberitahu dulu dan membuatnya bingung untuk mencari alasan agar tidak ketahuan kepada siapapun. 


"Mama kenapa aku tiba-tiba datang ke sini enggak kasih tau aku sih?" Aroma parfum yang ia kenakan setelah mandi sangat memikat sekali dan sangat tercium kental. 


Mama tidak secepat itu mempercayai apa yang diucapkan oleh Oktara pasti ada hal besar yang membuat seorang perempuan keluar dari rumah, nggak mungkin tiba-tiba nggak ada angin dan gak ada hujan malah pergi gitu aja. "Iya Mah, dia itu cuma pergi sebentar doang 3 hari pengen ketemu sama orang tuanya katanya kangen. Aku sama dia nggak ada berantem sama sekali kok dan biasa-biasa aja malah hubungan kita langgeng banget. Emangnya kalau misalkan bawa koper itu harus berantem dulu untuk keluar dari rumah, 'kan nggak kayak gitu juga?" 


"Tapi beneran nih dia keluar dari rumah bukan karena kamu yang ngusir dan kalian berantem hebat?" 


"Iya Mah, ya nggak sama sekali lah masa aku kayak anak kecil. Oh iya Mama yang kasih tahu alamat rumah ini sama Nanda? Seharusnya Mama itu kasih tahu aku dulu supaya aku bisa wanti-wanti Mama biar enggak kasih alamat rumah aku." 


"Ya nggak masalah dong kalian 'kan udah nggak ada hubungan sama sekali lagi. Oh iya, dia cuma bilang pengen silaturahmi doang pengen ketemu sama kamu dan Istri kamu ya udah Mama kasih aja alamat lengkapnya."


"Bohong banget tanda ngomong kayak gitu sama Mama jelas-jelas dia nggak ada kata silaturahmi. Dan dia adalah salah satu penyebab kenapa Anara keluar dari rumah ini tanpa izin. Tapi semoga aja dia bisa jaga rahasia dan semuanya baik-baik aja," batinnya dalam hati. 


Karena tak merasa percaya akhirnya Mama pun mencoba untuk menghubungi Anara dengan video call. 


Perempuan itu sangat menyambut dengan ramah bahkan menanyakan kabar Mama. Karena ia sangat tahu banget keadaan rumahnya kayak gimana, akhirnya dia sadar kalau Mama di rumah Oktara. "Kalian nggak ada sama sekali marah-marahan 'kan? Mama nggak mau kalau kalian ada masalah dan diam-diam doang nggak menyelesaikan ya. Kamu pulang ke rumah orang tua kamu itu atas dasar kangen doang?"


Oktara harap-harap cemas semoga saja Anara mengatakan yang sebenarnya yang sudah mereka rencanakan waktu itu. "Kita berdua baik-baik aja kok Mah, aku ke rumah orang tuaku cuma sekedar pengen menginap doang nggak ada masalah apapun. Kenapa Mama nggak bilang sih kalau misalkan ke rumah?"


"Awalnya sih Mama pengen kasih kejutan buat kalian berdua eh tapi ternyata keadaannya udah beda tapi ya udahlah gak masalah juga. Oh ya kamu sudah kasih hadiah belum buat Oktara yang lagi ulang tahun ya walaupun ulang tahun udah lewat." 


"Sudah kok Mah aku sudah kasih kejutan buat Mas Oktara, dia bahagia banget pas dikasih kejutan waktu itu tapi kita cuma berdua doang sih biar lebih sweet dan lebih romantis. Coba aja Mama tanya langsung sama Mas Oktara nya." Pintar sekali ia menyembunyikan semuanya padahal kejadian yang sesungguhnya tidak seperti itu malah membuat perasaannya terasa sakit karena seorang laki-laki yang sudah menikah ini malah memilih perempuan lain merayakan ulang tahun. 


"Ya Mah aku bahagia banget waktu itu kita berdua doang ngerayain ulang tahun aku. Ternyata ulang tahun aku sama dia itu enggak beda jauh hanya beberapa Minggu saja."


"Oh ya udah deh kalau gitu kamu selamat untuk berbahagia terlebih dahulu ya di rumah orang tuamu dan jangan lupa salamin juga." Mama pun mematikan ponselnya dan menaruh ponsel tersebut di dalam tas seperti semula. 


"Syukur deh kalau misalkan nggak ada masalah apa-apa, Mama minum dulu ya." 


"Iya Mah," ujarnya tersenyum terpaksa. 


"Pokoknya kalian jangan menunda-nunda deh untuk urusan momongan biar nggak terlalu ketuaan juga nanti dia hamil. Kamu udah siap 'kan jadi seorang Bapak?" 


Deg! 


Pertanyaan macam apa ini yang malah dianggap oleh Oktara padahal hatinya masih menolak.