
Tiba-tiba saja ia mendapatkan sebuah notifikasi dari sebuah aplikasi yang berwarna hijau, mengatakan untuk mengajak ketemuan hari ini yang padahal males banget buat jalan keluar apalagi weekend pengennya santai santai di rumah. Anara yang baru saja selesai membuat pisang goreng di dapur ditambah juga keju di atasnya dan enak banget buat dimakan. Merasa bingung dengan wajah Oktara yang seakan aneh. "Kenapa kok wajah kamu tiba-tiba kayak tegang gitu? Sebenarnya ada apa sih?"
Oktara pun memberikan pesan singkat yang dikirimkan oleh Anara. "Oh dari Mas Prima? Jadi Mas Prima ngajakin kamu buat ketemuan? Ya udah ketemuan aja sana, ya udah kalau gitu aku ganti baju dulu ya?"
Oktara langsung saja menolak karena hanya mereka berdua aja yang ketemu bukan ada orang lain di belakang orang itu adalah Adiknya sendiri. "Oh ya udah kalau gitu makan dulu pisang goreng yang baru aja aku buatin dari di dapur?"
Ketika memakan ternyata rasanya enak banget dan bahkan sampai ketagihan ngambil 2. "Kamu enak banget sih bikinnya? Aku sih sayang kamu satu aja ya soalnya enak banget."
"Hahaha ya udah kalau gitu kamu habisin aja semuanya nggak papa kok nanti aku bikin lagi yang baru." Tanpa basa-basi dengan cepat ia mengambil dan memasukkan ke dalam mulutnya sampai benar-benar begah dan dengan cepat pula mengambil air putih yang ada dihadapannya cukup dengan satu kali teguhkan.
***
Sampailah di tempat perjanjian mereka berdua di suatu kafe yang terbuka lebar outdoor. Oktara seperti orang yang sedang di sidang dipersilahkan untuk duduk di bangku yang kosong sementara minuman yang sudah dipesan tinggal sedikit, lalu pelayan tiba-tiba saja datang memberi menu makanan atau minuman. "Ya udah silakan aja dipasang dulu nggak usah terlalu buru-buru."
"Gimana hubungan kalian berdua apakah baik-baik saja? Kalau iya baik atau enggak tolong katakan saja!" Ternyata membuatnya ketar-ketir bahkan deg-degan banget ketika di pertanyakan pertanyaan tersebut.
"Hubungan kita berdua baik-baik aja kok Mas, dan sebentar lagi dia bakalan ngelahirin aku bahagia banget karena sebentar lagi juga aku bakalan jadi seorang Ayah," senyumnya sangat terpaksa banget karena benar-benar seperti orang yang sedang tertekan bahkan sampai detik ini pun ia masih merasa takut kalau ngobrol sama Kak Prima.
"Aku juga sebenernya nggak terlalu marah-marah juga orangnya tapi kenapa wajah kamu salah mau ngobrol sama aku itu selalu aja tegang dan nggak bisa rileks?"
Mungkin kalau mengatakan langsung dalam hati ya bakalan mengatakan yang sebenarnya tapi kan ini nggak mungkin, nggak akan pernah mungkin bahkan bisa di luar dari ekspektasinya nanti tanggapannya dan bakalan bikin rumit lagi. "Aku emang kayak begitu Kak orangnya suka gugup. Ya udah silakan dimakan. Di mana Kak kabar Istri? Baik-baik aja 'kan? Kok si kecil nggak dibawa ke sini?"
"Lagi ribet banget kalau dibawa ke sini lagi yang juga jadi rumah sama Mamanya, aku pengen nanya deh sama kamu kamu nggak ada hubungan sama siapa-siapa 'kan selain sama Anara?"
Deg!
Pertanyaan macam apa ini yang langsung aja keluar dari Kak Prima? Sama sekali enggak nyangka kenapa bisa keluar dengan pertanyaan tersebut. "Kok kamu diam aja sih? Aku cuma pengen nanya doang sih sama kamu nggak ada maksud apa-apa, jadi aku harap kamu jangan ngerasa kayak ketakutan gitu!"
Oktara sangat takut banget kalau cerita semua yang terjadi di masa lalu kepada Kak Prima bisa-bisa urusannya bakalan panjang. "Enggak sih cuma nanya doang enggak ada maksud apa-apa kalau enggak ya enggak masalah juga bagus," sahutnya seperti itu sambil menyilangkan kedua kaki indahnya di sore hari membuat situasi bukannya makin adem tapi malah semakin tegang dan sedikit agak panas.
"Gue yakin banget deh pasti cerita sama Kak Prima enggak mungkin banget Kak Prima tanya tiba-tiba kayak begini?" Batinnya dalam hati mengatakan langsung.
Pertanyaan tadi sampai membuatnya melamun ketika berkendara padahal itu nggak baik tapi untungnya sampai di rumah dengan selamat.
Anara yang awalnya kepo dengan pertanyaan-pertanyaan melihat raut wajah dari Oktara langsung mendekat dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. "Kamu cerita ya sama Mas Prima kalau misalkan aku itu dulu punya? Itu 'kan udah masa lalu ngapain sih kamu cerita cerita sama Kak Prima? Aku sama sekali nggak suka kalau kamu ceritain masa lalu yang nggak baik sama orang lain, cukup kamu aja yang tahu."
Anara berpindah tempat lalu menatapnya dengan tatapan yang sangat sejajar memegang kedua pundak mengatakan ia tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapapun. "Aku sama sekali nggak ngomong sama siapapun. Jujur kamu percaya deh sama aku aku tuh gak pernah ngomong sama siapa-siapa. Jadi kalau menurut aku kamu jangan salah paham, atau aku telepon Mas Primanya buat datang ke sini biar gak salah paham semuanya!" Oktara merampas ponsel yang dipegang oleh Anara.
"Gak usah di telepon nanti ceritanya bakalan panjang, jadi kamu beneran gak cerita sama siapapun? Aku paling nggak suka kalau kamu cerita hal ini ke orang lain soalnya aku udah males banget berhubungan dengan dia!" Anara mencoba untuk menenangkan Oktara ia menerima apa adanya dan mau membuka lembaran baru, ia mengelus-ngelus perutnya yang semakin lama semakin membesar bahkan sebentar lagi akan melahirkan nggak nyangka ternyata bulan ketemu bulan akhirnya berjalan juga. Tinggal menunggu tanggal lahir sang buah hati mereka berdua.
"Ya udah kalau gitu, soalnya tadi itu Mas Prima nanya-nanya perempuan nggak tau juga apa maksudnya tapi aku berusaha untuk nggak ngomong apa-apa. Aku pikir kamu yang cerita semuanya, semuanya bakalan lunya nanti kalau kamu cerita."
"Demi Allah aku sama sekali gak cerita sama siapapun bahkan sama kedua orang tuaku juga nggak cerita aku nggak akan pernah ceritain hal yang buruk sama orang lain ya udah kalau misalkan orang lain tuh pengen berubah, aku bakalan terima karena aku juga punya dosa yang belum tentu dima'afkan sama Tuhan. Kamu percayakan sama ucapan aku?"
Oktara mengangguk paham.
Ketika berada sendiri di dalam kamar Anara menyiapkan barang-barang yang akan nanti dibawa ke rumah sakit, karena untuk persiapan melahirkan. "Kayaknya sebentar lagi aku bakalan melahirkan 'kan soalnya setelah dihitung-hitung menurut kalender juga sangat kelihatan banget."
"Aku siap siaga banget buat nganterin kamu nanti ke rumah sakit kamu kasih tahu aja dan kasih kabar kalau aku nggak di rumah. Aku enggak sabar banget ngelihat kamu nanti ngelahirin, semoga aja nanti anaknya sehat dan kamu juga sehat."
"Aku pengennya nanti anak kita itu perempuan biar bisa ajak aku jalan-jalan dan aku juga bisa ngajak dia bisa didandanin gitu. Kalau kamu pengennya anak laki-laki atau perempuan?"
"Kalau aku sih pengennya laki-laki biar bisa diajak jalan juga bareng sama aku, tapi terserah aja mau laki-laki atau perempuan juga nggak masalah yang terpenting yaitu sehat dan juga bisa membanggakan kedua orang tuanya pastinya. Pokoknya aku nggak akan pernah biarin, orang-orang yang pengen ngejatuhin kita berdua. Udah cukup semuanya kita lalui. Dan kita mulai bangkit ke masa depan yang jauh lebih cemerlang."