
Sebelum bertemu dengan sahabat ia berpamitan terlebih dahulu, lebih tepatnya meminta izin untuk pergi. Oktara mengizinkan untuk bertemu dengan sahabatnya dari Anara. "Mau saya antar nggak? Ketemu sama sahabat kamu?"
"Nggak usah Mas, aku bisa kok berangkat sendiri sama sopir juga. Pertemuan kita juga nggak jauh-jauh amat sekitaran di sini juga alamatnya. Ya udah kalau gitu aku berangkat dulu ya!" Ia salim terlebih dahulu kepada Oktara, sebenarnya hari ini adalah hari weekend atau hari libur tapi karena pengennya santai ya udah jalan sendiri aja dengan sopir yang biasanya sering disediakan oleh Oktara.
Sekitar 10 menit akhirnya sampai juga bertemu dengan Prilly, Prilly yang sebentar lagi bakalan menikah akan juga mengalami biduk rumah tangga yang pastinya bakalan bikin bahagia dan bikin kita bisa bercerita bercanda tawa satu sama lain. "Hai apa kabar? Lama banget gak ketemu nih." Biasanya dulu sering banget jalan dan kesana-kemari pas zaman-zaman masih sekolah. Tapi sekarang sudah sangat beda banget karna situasi dan kondisi yang sudah berubah.
"Ma'af banget udah sedikit agak ngaret datang ke sini tadi."
"Iya santai aja pokoknya." Prilly sudah lebih dulu memesan minuman yang ada di kafe.
"Ma'af ya aku waktu itu gak bisa datang ke nikahan kamu soalnya waktu itu banyak banget acara yang nggak bisa ditinggal. Kayak acara keluarga gitu. Tapi sekarang bahagia banget 'kan?"
"Kira-kira aku cerita aja nggak sih kali aja Prilly bisa ngebantu!" gerutunya dalam hati mengatakan hal ini.
"Kok malah diam aja sih? Emang ada yang salah sama pertanyaan aku?"
"Ya udah cerita aja, kayaknya ada sesuatu yang disembunyikan. Kamu kenapa sih kok wajahnya kayak begitu. Kamu bahagia banget 'kan, sama kehidupan baru kamu?" Dia adalah Prilly, sahabat Anara ketika waktu SD dan sampai sekarang.
Dia sangat merasakan sekali apa yang dirasakan oleh sahabatnya, seperti kontak batin yang udah dirasakan dari lama karena mereka walaupun tidak memiliki ikatan darah tapi mereka memiliki ikatan batin yang sangat erat. "Tapi aku harap kamu jangan cerita ke siapa-siapa ya!"
"Iya, kita 'kan udah lama kenal satu sama lain dari lama. Jadi kamu jangan khawatir aku bakalan bocorin atau tidak. Aku adalah sahabat yang sangat setia banget gak akan pernah ceritain ke siapapun."
"Jadi aku sama Oktara itu tidak saling mencintai satu sama lain. Kita menikah karena orang tuaku terlilit hutang sama orang tua dia. Makanya orang tuanya menyuruh kami untuk menikah." Anara menunduk ke bawah dan sangat sedih banget dengan suatu keadaan.
"Tapi apakah kamu mencintai dia? Dan kalian mau berusaha untuk saling mencintai satu sama lain?"
Pembahasan hari ini cukup berat setelah pertemuan mereka sekian lama, Prilly bisa dipegang kata-kata dan ucapannya untuk bisa dijadikan tempat curhat siapapun yang bercerita kepadanya. "Kamu sabar aja, aku yakin ketika kamu melakukan kebaikan dan pasti Allah bakalan kasih yang lebih juga ke kamu kok." Anara tersenyum dan tertawa saja, menganggap itu angin lalu saja.
Anara memberikan bunga yang ada di pinggiran jalan untuk ia berikan kepada Oktara. Sesuai dengan saran Prilly kali aja Oktara bisa luluh.
"Assalamu'alaikum." Anara yang mengucapkan salam dari luar. Melihat Oktara yang sedang memainkan ponselnya di ruang tamu.
Anara langsung duduk di samping lalu memberikan bunga yang diberikan tadi. "Maksud kamu apa kasih saya seperti ini?"
"Udah ketemu belum sama temen kamu itu? Kamu nggak ketemuan sama laki-laki 'kan?" Karena waktu itu ia pernah berbohong makanya Oktara sedikit ragu.
"Enggak sama sekali, aku beneran ketemu sama temen aku yang namanya Prilly. Dia adalah sahabat aku waktu SD sampai sekarang. Dan sebentar lagi juga dia bakalan menikah. Nanti kalau misalnya dia menikah jangan lupa kita ke sana bareng ya!"
"Tapi aku nggak janji ya, soalnya aku sibuk banget," sahut yang benar-benar ketus banget tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang romantis atau kata-kata yang bikin enak untuk didengar.
Anara permisi untuk masuk ke dalam kamar untuk mengganti bajunya. Ketika melihat di dalam cermin terlihat sekali aura wajahnya tidak bahagia. Tapi ia berusaha menjadi orang yang baik tidak mau berburuk sangka, mungkin aja ini semua adalah ujian di dalam hidup supaya masuk ke dalam level kesabaran dan keikhlasan pastinya.
Oktara melihat sebuah bunga sederhana yang diberikan oleh Anara tadi ketika masuk ke dalam rumah. Ada sebuah kartu ucapan yang tertulis di dalam yang terselip di tengah-tengah bunga tersebut.
"Semoga pernikahan kita langgeng ya Mas!" Kata-kata tersebut ternyata membuat Oktara tersenyum simpul, namun di dalam perasaannya tidak ada sedikit pun merasa tersentuh karena nggak ada kata mencintai di dalam hidup.
Setiap seminggu sekali ia mengganti sprei agar tetap terjaga kebersihannya dan kelembaban juga. Banyak sekali barang-barang yang belum dibuka ketika diberikan tamu undangan kepada mereka. Sebagian sudah ditaruh di ruang tamu foto-foto yang bisa dipajang.
Rencananya setelah sudah merapikan tempat tidur ia ingin membuka kado-kado yang belum ke buka.
Suara terdengar dari dalam kamar Oktara memanggilnya dari bawah ruang tamu lebih tepatnya.
Anara menuruni anak tangga ketika sudah selesai merapikan atau mengganti sprei tempat tidur. "Iya Mas ada apa?"
"Saya cuma pengen kasih tahu, saya suka sama bunganya. Tapi ada hal yang nggak saya suka. Saya harap kamu jangan kasih lagi kartu ucapan seperti ini, karena sampai kapanpun saya nggak akan pernah mencintai dan sayang sama kamu. Jadi jangan bikin sesuatu hal yang menjijikan seperti ini! Kamu paham 'kan maksud saya?" Sebuah kartu ucapan yang sengaja ia ke request ke toko bunga ternyata tidak dihargai oleh Oktara. Anara hanya berdiam diri tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tidak menjawab apapun tapi hanya sekedar menarik napas sejenak agar tidak terpancing emosi dan melawan.
"Saya pengen makan, kamu sudah masak di dapur? Saya mau keluar sebentar mau beli ayam bakar dulu. Kamu mau percaya atau enggak?"
"Aku di rumah aja, ya udah kalau misalkan kamu pengen beli ayam bakar, silakan!" angguk Anara mempersilahkan Oktara untuk keluar membeli ayam bakar untuk makan di rumah.
Dengan cepat Oktara keluar dan masuk ke dalam mobil dan melaju keluar dari pintu gerbang ketika satpam sudah membukakan pintu. Sebuah kartu ucapan yang sengaja tadi iya bikin sesuai dengan request-an dari Prilly atau nasihat ia menyimpan ke dalam baju yang ia kenakan hari ini. Mungkin bagi sebagian orang akan dibuang begitu saja karena tidak merasa dihargai, tapi karena yakin banget dengan cinta tumbuh karena terbiasa ya udah udah di jalani saja.