Anara & Oktara

Anara & Oktara
41. Melabrak Nanda



"Kayaknya Mas Akbar punya deh nomor dari Oktara apa gue minta aja ya nomor Nanda semoga aja dikasih?" batinnya dengan cepat melakukan aksi tersebut. 


Dengan diam-diam Prilly sengaja mengambil handphone Akbar yang tergeletak di atas meja sedangkan Akbar sedang mandi di kamar mandi. Kebetulan banget dia pengen ketemuan sama Nanda, dengan cepat ia menyimpan nomor Oktara lalu menghubungi cara untuk meminta nomor Nanda. 


Setelah mendapatkan nomor tersebut akhirnya ia menyimpannya dan menaruh kembali ponsel tersebut agar tidak ketahuan. Dengan cepat pula ia mengambil baju yang ada di dalam lemari lalu memakainya untuk ngajak ketemuan langsung. Setelah keluar dari kamar mandi Akbar bingung mau ke mana Prilly. Karena tidak mau ada satu orang pun yang ikut campur dengan rencananya hari ini maka dari itu ia berbohong mengatakan kalau misalkan ia ingin bertemu dengan sahabat selamanya dan untungnya Akbar sama sekali tidak curiga dan bahkan langsung percaya. 


"Ya udah kalau gitu aku berangkat dulu ya nggak papa 'kan kalau misalkan aku tinggal sebentar?" 


Dengan cepat Prilly pun masuk ke dalam mobil dan supir sudah siap mengantarkannya ke suatu tempat, di mana tempat itu menjadi tempat janjian mereka. "Pak, aku harap nanti jangan kasih tahu ke siapa-siapa ya kalau misalkan aku ketemuan sama seseorang di dalam mall, dan juga Bapak tunggu aja di dalam mobil soalnya cuma sebentar doang kok." 


"Baik Bu." 


Setelah sudah sampai ke tempat tujuan dengan cepat ia menghubungi kembali Nanda agar segera datang ke tempat ini. Sekitar 10 menitan akhirnya Nanda pun datang setelah Prilly melambaikan tangan dari kejauhan menandakan kalau misalkan orang yang pengen ketemu itu adalah dirinya. Nanda tampak mematung ketika melihat orang yang tidak dikenal tapi menghubunginya. "Kayaknya lo salah orang nih? Gue sama sekali nggak kenal sama lo!" Prilly hanya tersenyum saja bahkan melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki ternyata orang yang ada dihadapannya oke juga buat dijadikan selingkuhan. 


"Lo siapa? Eh kayaknya salah orang deh ketemu sama gue?" Nanda sedikit agak bingung kenapa tiba-tiba seorang perempuan yang ada dihadapannya mengajaknya ketemuan tapi dia sama sekali nggak tahu dan nggak kenal siapa orang yang ngajak ketemu di depannya sekarang. 


"Mending lo duduk aja dulu gue bakalan jelasin sedetail mungkin apa yang sebenarnya pengen gue sampain ke lo dan gue pengen tanyain." 


"Ya udah kalau gitu lu ngomong aja langsung to the point nggak usah panjang lebar." 


Prilly pun memulai pembicaraan awal kalau misalkan dirinya ke sini pengen menanyakan apakah dia hamil atau tidak. Sebenarnya Nanda pengen berdiri untuk pergi dari tempat ini kan nggak penting banget untuk gue jelasin sama orang yang enggak ia kenal. Tapi karena Prilly tetap menyuruhnya untuk tetap duduk akhirnya ia mengikuti saja dan mau mengikuti alurnya tersebut. 


"Kalau saran gue sih lo nggak usah bohong sama diri lo sendiri dan sama orang lain dan itu bakalan jadi bomerang sendiri?" 


Karena merasa tak terima. 


"Lo siapa sih sebenarnya kok malah ngatur-ngatur enggak jelas gini sih?" Nanda tidak tahu siapa perempuan yang ada di hadapannya sekarang bahkan membuatnya tidak habis pikir kenapa malah menyuruhnya untuk meninggalkan Oktara, di dalam benaknya ia yakin banget kalo dia adalah mantan dari Oktara tapi ternyata semua itu salah. 


"Gue ini bukan mantannya dari Oktara, jadi gue ini adalah Prilly sahabat dari Anara


Suaminya dari Anara. Gue udah dengar kalau misalkan lo pura-pura hamil supaya lo bisa merebut Oktara kembali? Sumpah ya gue sama sekali nggak nyangka ada perempuan yang masih saja memaksakan kehendaknya sendiri dan juga pengen memisahkan orang yang sudah berumah tangga, ternyata lo itu nggak berpikir jernih banyak kok cowok di luaran sana yang jauh lebih ganteng dan juga kaya bahkan tajir sedikit pun juga ada tapi kenapa lo sendiri malah pengen dapatin orang lain yang udah punya pasangan?"


"Ya suka-suka gue dong mau dapatin siapa kek mau ngejalanin siapa kek, bukan urusan lo juga. Lagian lo dapat info dari mana kalau misalkan gue hamil?" 


Seketika Nanda langsung terdiam tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan cepat ia mengambil tas yang ada dihadapannya, lalu pergi begitu saja karena enggak penting banget buat datang ke sini cuma hanya sekedar diomelin gak jelas sama orang yang gak penting banget. 


Sepanjang jalan dia ngomel bahkan menggerutu dengan sendirinya masuk ke dalam mobil dan menancapkan gasnya dan meninggalkan tempat tersebut. 


Tiba-tiba saja Prilly mendapatkan panggilan telepon yang berdering dari ponsel di dalam tasnya. "Iya sebentar lagi aku bakalan sampai kok. Soalnya aku masih di dalam mall jadi aku bentar lagi bakalan balik ke rumah." Setelah membayar ia pun dengan cepat keluar dari mall tersebut dan masuk ke dalam mobil. 


Rasanya lega banget bisa memberitahu Nanda atas selingkuhan dari Oktana. "Perasaan gue lega banget dan semuanya semoga bakalan balik ke seperti semula yang bakalan baik-baik aja. Gue nggak rela banget kalau misalkan sahabat gue diambil sama orang lain dan merasa sedih banget deh dalam hidupnya." 


***


Akhirnya sampai juga di rumah. Melihat wajah Akbar yang seakan aneh banget seperti orang yang sedang mengintimidasi apa yang sebenarnya terjadi. Perasaan Prilly benda-benda deg-degan banget apakah dia tadi lupa untuk menghapus pesan tersebut. 


Dan ternyata benar pesan tersebut benar-benar belum terhapus. "Kamu kenapa minta nomor Nanda sama Oktara, kok kamu nggak kasih tahu aku dulu sih sebelumnya? Terus kamu jalan ke mana?" 


"Kamu kenapa sih kok kaya tegang banget gitu ngomongnya sama aku, aku kan udah bilang kalau misalkan aku itu ketemu sama temen aku temen lama maksudnya. Dan dia juga perempuan kok bukan laki-laki. Kamu cemburu ya sama dia?" 


"Aku nggak suka kalau misalkan aku udah ngomong serius kamu becanda, aku nanya beneran sama kamu, kamu tadi itu ketemu sama siapa?" 


Karena nanti takutnya bakalan berkepanjangan lama dan juga bakalan bikin situasi mencekam dan salah paham akhirnya Prilly pun mengatakan kalau misalkan dia mengajak ketemuan Nanda di suatu tempat. Iya bener-bener gram dan tidak mau kehilangan momen kalau misalkan semuanya bakalan runyam dan bahkan berdampak kepada rumah tangga mereka. "Aku sama sekali nggak suka kalau misalkan ada salah satu sahabat aku disakitin sama orang lain. Dan aku juga sama sekali nggak mau dia ngancurin rumah tangga sahabat aku sendiri cuma gara-gara dia masih cinta sama cowok itu dan cowok itu adalah Oktara?"


"Ya tapi seharusnya kamu kasih tahu aku dulu kalau misalkan kamu kenapa-napa gimana? Aku sama sekali nggak mau kamu kenapa-napa dia itu orangnya nggak baik dan licik banget kata Oktara. Tadi kamu masuknya ke dalam sama siapa sendirian atau sama supir?" 


"Sendiri aja. Tapi aku ketemuannya di tempat terbuka kok dan juga ada banyak orang jadi aku nggak kenapa-napa. Aku pikir kamu tuh kenapa ternyata kamu khawatir ya sama aku, ya ampun so sweet banget sih Suami aku yang satu ini walaupun agak marah-marah tapi ternyata perhatian banget." 


"Ya udah kalau gitu kalau misalkan kamu nggak kenapa-napa aku cuma panik doang, terus gimana apa tanggapan dia setelah kamu ngelabrak dia dan kasih tahu dia?" 


Prilly menjelaskan sedetail mungkin ketika ia datang sampai perempuan itu pergi meninggalkannya. Dia sama sekali bener-bener tertekan dan juga tetap mau melanjutkan aksinya tersebut walaupun dirinya sendiri sangat salah banget.