
Baru saja ditinggal sehari rasanya kayak ditinggal 1 bulan. Gak ada yang nyiapin dan enggak ada yang sudah recok setiap paginya. Tapi Oktara berusaha tetap bisa melayani dirinya sendiri. Tak mau bergantung kepada orang lain dan membuktikan dengan adanya dia bisa berangkat tanpa dilayani oleh siapapun.
Asisten rumah tangga menyiapkan sarapan pagi dan juga minuman di atas meja ruang makan. "Ya udah kalau gitu saya berangkat dulu ya kalau misalkan ada Ibu yang nelpon tolong kasih tahu saya belum pulang ke rumah dan kasih kabar saya kalau ada seandainya."
"Baik Pak."
Anara yang pagi-pagi sudah terbangun ia baru sadar kalau ini masih di jalan kamar tempat tinggalnya ketika sebelum menikah. Kebiasaan dalam beberapa bulan terakhir ini membuatnya sulit untuk menyesuaikan kembali seperti semula. Yang biasanya menyiapkan setiap pagi bahkan juga sarapan serba dilayani. Tapi ia harus menahan rasa kangennya untuk bisa kembali ke rutinitas seperti semula lagi. Ia ingin mengetes apakah akar memiliki perasaan terhadapnya atau hanya sekedar mengikuti syarat yang diajukan ketika mereka sudah menikah.
Berharap notifikasi yang ada di dalam ponsel orang yang pertama kali memberikan pesan yaitu adalah Oktara.
Setelah dibuka rupanya nggak ada apa-apa dan itu terlalu berekspektasi tinggi.
Ia menghirup udara segar di pagi hari ini karena setiap pagi biasanya dulu sebelum menikah sering olahraga kecil dan juga menyapu halaman agar tubuh terasa berkeringat.
Sebagian tetangga kaget kenapa bisa balik lagi ke rumah tapi karena ia santai dan biasa aja menjelaskan kalau pengen liburan aja ke rumah. Mungkin sebagian orang berpikir seorang perempuan yang sudah menikah pulang ke rumah itu pasti ada masalah dengan orang yang sudah menikahinya tersebut, tapi karena Anara biasa aja jadi mereka nggak terlalu kepo dan berkelanjutan.
Sarapan di pagi hari biasanya ia membeli bubur terlebih dahulu di depan komplek. Untuk bisa sarapan dan juga membuat tenaga jauh lebih banyak daripada nggak sarapan sama sekali ia memberikan 3 bubur bungkus yang akan dibawa ke rumah.
"Udah lama banget ya Neng enggak makan di sini sarapannya?"
"Iya nih bang udah lama banget gak makan di sini soalnya kan aku udah nikah jadi kebiasaan makan di rumah sama Suami." Lagi dan lagi pertanyaan yang sering menjadi kebiasaan yaitu kapan memiliki momongan dan kapan bisa memiliki keturunan itu adalah pertanyaan yang paling klise yang sering dilontarkan oleh banyak orang.
Anata hanya tersenyum saja dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut yang hampir setiap waktu setelah beberapa bulan menikah.
Suara notifikasi terdengar dari ponselnya.
Angga
"Kamu udah sarapan belum tadi saya udah berangkat!"
"Aku lagi sarapan di dekat komplek seberang yang ada di rumah aku," balasnya seperti itu.
Oktara merasa gelisah banget padahal baru saja ditinggal 1 hari oleh Anara, ternyata kebiasaan itu sudah mendarah daging dan sulit untuk dilepaskan ketika orang itu udah nggak bareng sama kita dalam beberapa waktu.
"Lah itu 'kan Anara? Kenapa dia bisa ada di sini sih?" Prilly pun menghampiri orang yang yang tak asing di dalam benaknya lalu mengucek-ngucekkan mata apakah ini sekedar mimpi atau kenyataan.
"Kamu kenapa di sini? Kamu nggak di rumah?"
Wajah Prilly langsung berubah menjadi wajah yang bener-bener malu-malu kucing. "Ya iya sih bener kita juga mau rencananya menikah cepat biar memiliki keturunan cepet juga. Pasti ada masalah kan sama Suami kamu, nggak mungkin banget nih nggak ada masalah ayo dong terus sama aku?" Sahabat mana yang enggak tahu sahabatnya sedang berbohong atau diterpa masalah pasti bakalan ketahuan juga walaupun kita sudah berbohong dan sudah mendustakan yang berpura-pura tersebut.
"Jadi waktu itu ternyata selingkuhan dari Mas Oktara datang ke rumah, awalnya aku biasa aja ya karena aku seruni udah tahu juga siapa nama perempuan itu dan pernah ngeliat juga. Kalau ditanya sedih ya pasti sedih, perempuan mana sih yang nggak merasa sedih dan kecewa melihat pasangannya dan selingkuhan itu datang ke rumah. Dia marah-marah enggak jelas dan nyuruh buat Mas Oktara pilih antara aku sama dia. Tapi sayangnya Mas Oktara malah diam dan menyuruh aku untuk masuk ke dalam kamar."
Terasa gemetar banget menceritakan hal ini. "Terus kenapa kamu malah memilih untuk balik ke rumah orang tua? Apakah kamu ingin bercerai?"
Dengan pelan ia menggeleng tak mau ada perceraian diantara mereka berdua. Anara harus bisa berpikir panjang untuk kedepannya bagaimana tidak bisa sekedar sepihak doang untuk mendapatkan apa yang di dalam dirinya. Banyak orang-orang yang terkait yang di dalam hidupnya sangat penting dan berpedoman. Apalagi keluarga nggak cukup berada dan cukup bisa membantu perekonomian selama ini maka dari itu harus banyak ingat tentang kebaikan yang mereka lakukan.
Memang benar pernikahan mereka bukan pernikahan yang diinginkan tapi tidak selayaknya seorang salah satu diantara pasangan melakukan seperti itu. "Aku yakin banget dia bakalan menyesal karena sudah menyia-nyiakan perempuan sebaik kamu."
Anara memegang tangan Prilly "Aku berharap sama kamu jangan pernah ceritain hal ini sama siapapun. Aku percaya sama kamu Prilly, karena kamu adalah sahabat aku dari dulu sampai sekarang nggak akan pernah berubah."
Prilly tersenyum sudah dianggap sahabat salah satu manusia baik yang ada di muka bumi. "Ya sudah kalau begitu aku masuk ke dalam dulu ya untuk kasih bubur ini sama mereka." Prilly menolak ketika ditawarkan untuk masuk ke dalam rumah memilih untuk makan bubur karena perutnya terasa lapar.
Langkah kakinya siapkan membuktikan kalau dia sedang tidak baik-baik saja. "Kasihan banget ya Neng, semoga dia bisa melalui semuanya dengan baik," ucap tukang bubur yang mendengarkan percakapan berat mereka berdua dan tidak mau ikut campur dan mendo'akan agar semuanya baik-baik saja dan berjalan dengan lancar pula.
"Ya kayak begitulah Bang, namanya orang baik nggak akan pernah lepas dari ujian pasti selalu aja diuji dari manapun. Ya udah saya pengen makan bubur dulu perut saya lapar."
Anara menaruh 3 bubur tadi di atas meja menyuruh anggota keluarganya untuk makan bareng-bareng. "Kamu sendiri gak makan?"
"Aku tadi udah makan di depan ketemu sama Prilly juga yang baru aja datang dari mana gitu nggak tahu juga sih. Ya udah kalau gitu aku ambilin piring sama sendok dulu ya biar makannya bareng-bareng." Menaruh tiga piring dan sendok di atas meja lalu menuangkan air minum yang terlebih dahulu sudah ada kepada 3 gelas yang kosong.
"Mas Prima kenapa liatin aku kayak begitu banget sih? Kenapa? Emang aku hantu?"
Prima adalah salah satu orang yang paling tepat di antara orang yang lain. Perasaannya jauh lebih peka setelah dia menikah dan tahu bagaimana cara memposisikan diri sebagai seorang laki-laki yang ada di samping perempuan yang ia cintai.
"Kamu lagi baik-baik aja 'kan sama Suami kamu?" Kebetulan tadi malam ketika Anara sudah tertidur pulas Mas Prima tiba-tiba aja datang. Melihat pintu kamar yang sedikit terbuka dengan lampu yang menyala.
Rupanya Mama bercerita kenapa Anara bisa menginap di sini. "Aku baik-baik aja. Lagian juga waktu itu Mas Oktara yang nganterin aku ke sini bukan orang lain. Ya udah dimakan aja sarapannya kenapa sih pada heboh banget ketika aku nginep di sini?" sahutnya seolah merasa tidak masalah dan tidak ada apa-apa.
Kira-kira apa yang dilakukan oleh Prima kepada Oktara? Penasaran? Apakah mereka akan berujung dengan berantem?
.