
Setelah tiga hari memutuskan untuk tidak memberitahu keluarga besar dari kedua belah pihak, akhirnya mereka tau juga karna pastinya gak akan mungkin kalau mereka gak tau bakalan kerepotan juga.
Mereka sangat kompak sekali datang ke rumah sakit untuk menjenguk Anara yang masuk ke dalam ruangan rumah sakit. Walau belum melahirkan tapi ia tetap saja sangat teramat beruntung memiliki keluarga yang sangat perduli dengan mereka berdua yang sengaja merahasiakan dalam beberapa hari ini.
Semua persiapan sudah tersedia di atas lemari yang disediakan oleh pihak rumah sakit untuk pasien.
***
Keesokkan harinya,
Perjuangan tadi malam sungguh sangat panjang banget apalagi ketika ia ingin melahirkan rasanya tubuh berujung ke aku bahkan juga rasa lemah pun menyelimuti di dalam tubuh. Tapi ternyata masa-masa sulit seperti itu akhirnya terjalani juga dan bahkan sampai detik ini membuatnya bener-bener nggak nyangka ternyata bisa melahirkan seorang anak yang sekarang sudah berada di sampingnya, yang masih berwarna merah dan juga sangat lucu banget dengan kedua mata yang masih menutup.
Sebagai seorang Suami ia sangat siap siaga melayani seorang Istri yang baru saja melahirkan anak buah hati mereka sendiri. Walaupun sekarang masih dalam masa pemulihan tapi mereka berdua sangat yakin mereka bisa menjadi keluarga yang mungkin ke depannya bakalan lebih baik lagi, banyak banget orang yang gak suka dengan hubungan mereka tapi dengan adanya anak maka mereka akan kuat dengan semuanya yang terjalani nanti.
Sang Nenek dan Kakek, sangat bahagia banget atas kelahiran Cucu yang sudah lahir ke dunia. Mereka bener-bener nggak nyangka dan hari ini adalah hari yang paling bahagia di mana anggota keluarga bertambah lagi di antara mereka. "Aku sama sekali nggak nyangka ternyata kita sudah sampai ke detik ini, sampai kapanpun aku bener-bener nggak nyangka banget bisa seperti ini aku janji bakalan jadi seorang Ibu yang menjadi panutan untuk anakku bahkan untuk anak-anakku kelak di kemudian hari apabila dia udah punya adik. Kamu bahagia enggak sekarang udah punya anak?"
"Aku sangat bahagia banget sekarang udah punya anak, bener-bener seperti keajaiban yang sangat besar menjalani semua ini. Apalagi ketika aku melihat kamu melahirkan waktu itu dan baru aja terjadi tadi malam, aku benar-benar takjub banget ketika melihat semuanya dengan baik dan kamu benar-benar berjuang kuat banget menghadapi segalanya, bahkan aku ngelihat aja bener-bener kayak ngerasa speechless seorang perempuan ternyata banyak banget biasanya untuk anak-anaknya, mereka berjuang untuk melahirkan seorang anak yang dari rahimnya sendiri. Aku berjanji selalu ingin membahagiakan kalian berdua sampai kapanpun dan di manapun. Dan aku juga berjanji aku akan menafkahi kalian berdua dengan lahir batin," ucap Oktara dengan panjang lebar mengatakan hal ini.
Matahari begitu sangat cerah akan masuk ke dalam ruangan mereka sekarang. Oktara pun sengaja mengambil cuti terlebih dahulu agar bisa melayani Anara dalam masa pemulihan dan nanti ketika diizinkan untuk pulang ke rumah. Ia sengaja meminta izin terlebih dahulu agar bisa menjaga dan melakukan hal yang terbaik tidak mau sia-sia untuk ketinggalan.
Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam bahagia banget bisa mendapatkan predikat terbaru dinobatkan sebagai seorang Ayah.
Walaupun mungkin sekarang anak yang baru saja lahir tidak bisa diajak berbicara dan tahu apa yang mereka rasakan tapi suatu saat nanti anak itu tumbuh dan kembang menjadi anak yang lebih baik dari orang tuanya.
#20 Tahun Kemudian...
Rasanya waktu berjalan begitu sangat cepat, perasaan baru saja kemarin anak itu dilahirkan bahkan belum bisa berbicara sedikitpun. Namun sekarang mereka sudah ingin menikah meminta restu untuk ke depannya menjadi lebih baik. Rambut yang awalnya hitam legam kini berubah menjadi putih, kerutan-kerutan mulai sangat terlihat dari pelipis kanan dan kiri. Usia mereka semakin lama semakin tua dan senja aktivitas mereka yang harus banyak dikurangi karena gerak tubuh mereka yang semakin lama semakin berkurang tidak seperti dulu lagi.
Lantas perempuan mana yang tidak meneteskan air mata yang sangat besar dan mengalir deras melihat seorang anak yang ia lahirkan dari rahimnya sendiri kini bisa menjadi manusia yang mandiri dan bahkan sebentar lagi akan menikah. Walaupun mungkin di usianya masih sangat muda dan juga memiliki masa depan yang cukup cemerlang tapi ia lebih memilih untuk menikah muda agar ke depannya menjadi manusia yang tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindarkan. Kedua air mata Oktara tiba-tiba saja meneteskan air mata tidak menyangka ternyata waktu sangat berjalan begitu cepat sekali.
"Kamu kenapa sih kok tiba-tiba kayak meneteskan air mata gitu?" Anara bingung sekali apa yang sebenarnya terjadi dengan Oktara.
"Anak kita sebentar lagi bakalan menikah? Aku terharu banget ternyata dia udah besar." Rupanya ia masih belum sadar kalau ia masih di posisi bahagia banget bahkan sampai lupa.
Anara malah tertawa dengan ucapan tersebut apalagi dengan jawaban bakalan menikah. Jelas-jelas aja ia baru melahirkan tadi malam kenapa tiba-tiba mau menikahkan anak mereka berdua. "Kamu kenapa sih kok malah ketawa nggak jelas kayak begitu? Anak kita itu sebentar lagi mau menikah kenapa malah kamu ketawa sebagai orang tua?"
"Aku sama sekali nggak ketawa kok, aku cuma bingung aja sama kamu anak kita tuh baru aja lahir kenapa malah tiba-tiba pengen menikah? Apakah dunia secepat itu untuk berjalan?" Anara menunjuk kepada bayi yang baru saja lahir, lalu baru saja membuat Oktara tersadar ternyata iya tadi itu ngelamun dan juga membayangkan 20 tahun kemudian di masa depan.
"Astaghfirullahaladzim, ternyata aku tadi itu lagi ngehalu. Perasaan bener-bener kayak nyata deh anak itu bentar lagi mau menikah, eh ternyata dia masih kecil dan baru aja lahir tadi malam. Mungkin apakah aku tadi malam kurang tidur ya makanya aku tuh kayak ngegalau atau menghalu gitu?"
Anara mengangguk lalu ia mengelus puncak kepala dari Oktara. "Ya udah kalau gitu kamu mandi gih kayaknya rambut kamu udah kusam banget. Kayaknya kamu kecapean banget deh makanya sampai kayak begitu. Kalau misalkan kamu pengen tidur ya udah tidur aja aku nggak papa kok."
"Aku nggak kenapa-napa kok mungkin aku cuma kurang tidur doang, gimana kamu mau sarapan tadi baru aja datang makanan."
Anara mengangguk lalu ia perlahan-lahan menyandarkan badannya ke tempat tidur yang ada di rumah sakit. Sang Kakek dan sang Nenek bergantian untuk menjaga anak mereka kini mereka sedang terlelap tidur. "Aku enggak sabar banget buat bawa dia ke rumah dan sampai detik ini aja aku belum kasih nama buat dia."
"Yang terpenting adalah kamu bahagia dan juga kamu sehat urusan nama itu nanti belakangan aja. Terpenting Ibu dan anak bahagia dan juga sehat jadi kamu jangan mikirin hal-hal yang nggak-nggak dulu yang enggak penting oke?" Oktara mampu membuktikan kalau ia bisa menjadi seorang Ayah yang bertanggung jawab.
Semewah mewahnya rumah sakit siapa pun nggak akan pernah betah untuk tinggal di sana pasti akan tetap pengen pulang ke rumah. Dan rasanya nggak enak banget buat tidur di sini. Anara berharap bisa pulang ke rumah sampai tujuan.