
Karin pun galau dan kepikiran apakah pernikahan mereka berdua akan menjadi langgeng atau tidak, karna ia sangat merasa sekali kalau misalnya Ridho tidak mencintainya dengan tulus. Ia sengaja menenangkan perasannya agar lebih santai dan lebih tenang lagi, karna apapun yang dialaminya bukan hal yang sangat mudah sekali.
"Kamu kenapa?" Mama menghampiri Karin yang mematung padahal sudah berubah senja dan saatnya untuk masuk ke dalam.
"Gak kenapa-napa kok Mah, aku cuma bingung aja apakah pernikahan ini akan dilanjutkan atau tidak. Aku ragu aja sama dia," ucapnya dengan tatapan yang sangat kosong dan benar-benar ingin yakin apakah ini benar atau tidak. Apalagi ketika pertama kali ketemu.
Flashback..
Karin, Papah dan Mama sengaja berkunjung ke rumah besar berwarna putih untuk mampir ke sana. Ia merasa gugup sekali untuk bertemu dengan Ridho untuk pertama kalinya.
Tatapannya sangat tajam dan terlihat sekali kalau ia tidak suka. Keluarganya sangat menyambut dengan hangat akan mempersilahkan untuk duduk di ruang tamu atau sofa. "Kalau boleh tahu sebenarnya ada apa ya kok kayak gini?" Di dalam hati yang paling dalam Karin ngerasa kalau misalkan Ridho tidak mengetahui apapun bahkan sepertinya benar-benar enggak tahu apa-apa.
"Jadi kalian berdua itu akan dijodohkan satu sama lain dan kalian bakalan menjalani hidup rumah tangga. Dan pastinya bakalan bikin bahagia kalian berdua," ucap Mamanya Ridho yang sengaja mengatakan hal ini langsung.
"Mama kok kayak gini sih? Kok gak kasih tau aku terlebih dahulu sebelumnya? Kenapa?"
"Mama 'kan waktu itu pernah bilang sama kamu masa kamu lupa sih? Iya 'kan Pah. Ma'af ya si Ridho kadang suka lupa." Ia sedikit merasa malu karna Ridho sangat terang-terangan sekali mengatakan hal ini langsung di depan orang tua Karin dan kedua orang tuanya sendiri.
"Kenapa semuanya bakalan jadi begini sih? Kenapa gue malah ngerasain hal yang gak gue inginkan dan kenapa gue malah dibikin seperti ini terus?" gumamnya dalam hati. Padahal di lubuk hatinya yang paling dalam masih mencintai orang yang sama dan itu Anara.
Mama menghentikan lamunan dari Karin baru saja ia tersadar. "Aku gak kenapa-napa kok."
"Jadi apakah kamu mau menikah sama dia?" Mama dengan cepat menanyakan langsung pertanyaan yang sempat tertunda tadi.
"Aku sih mau aja Mah, tapi ya kalau dia mau aku juga mau, tapi kalau misalnya dia gak mau kayak gimana?"
"Mama dan Mamanya udah kasih tau kalau kalian sudah sepakat buat menikah. Nah ini aja Mamanya nelfon Mama, sebentar ya Mama angkat terlebih dahulu."
"Iya? Oh pastinya, nanti kita atur kembali ya soalnya----" suara berkumandang adzan pun terdengar dengan cepat ia meminta izin untuk mematikan ponselnya.
Foto-foto yang sengaja ia ambil ketika fitting baju sangat bagus dan cantik sekali ketika ia kenakan di pernikahan nanti pastinya gak akan pernah terlupakan moment sekali dalam seumur hidupnya.
Apakah ini ujian?
Ia memakai mukena ketika sudah berwudhu tadi di dapur.
Rasanya khidmat sekali ketika ketika mengadu ke Allah (Sang Pencipta) menjadi sosok yang tetap tegar dan selalu menjadi manusia yang terus bersyukur. Berharap kalau semuanya bakalan baik-baik saja dan semoga apa yang diterima ini akan tetap menjadi yang terbaik.
***
"Kamu kepikiran apa sih sebenarnya? Kok kayak diam aja dari tadi? Pingkan lagi rewel ya? Kalau misalnya dia rewel gak kenapa-napa aku yang kerjain apa yang bisa aku lakukan? Udah kamu tidur aja mendingan." Anara mencoba untuk menenangkan ketika sedang menggendong Pingkan yang dari tadi rewel ia merasa sedikit kesulitan untuk menenangkannya. Lalu Oktara terbangun ketika mendengar suara anak kecil.
"Aku gak kenapa-napa kok, mending kamu tidur aja. Nanti bakalan cepat tenang juga kok," jawab Anara yang merasa masih kuat dengan Pingkan yang terus saja rewel dan menyuruh Oktara untuk tidur.
Oktara merebahkan kepalanya ke tempat tidur. "Kenapa perasaanku jadi kayak gini ya? Dan kenapa aku malah kepikiran sama Ridho? Apa dia beneran pengen nikah sama dia? Dan kenapa dia malah menenangkan diri?" batinnya yang malah kepikiran dengan Oktara.
Hati kecilnya bilang kalau Oktara sedang tidak baik-baik saja. Dan kenapa malah seperti ini?
Ia melihat banyak sekali notifikasi dari ponselnya, Ridho mengirimkan sebuah pesan text yang sangat panjang sekali.
"Anara aku pengen curhat sama kamu, aku harap kamu mengerti dan paham tentang semua ini. Terserah mau kamu benci atau enggak sama aku, aku sama sekali gak perduli. Yang terpenting adalah aku udah lega ngomong ini sama kamu. Sebenarnya aku gak mau nikah sama calon aku, karna aku beneran gak ada rasa cinta dan sayang sama dia. Yang aku pengen cuma kamu doang, karna aku cinta sama kamu bukan sama yang lain. Aku sangat sadar dan tau banget kalau aku salah mencintai dan sayang dengan orang yang salah. Tapi yang namanya perasaan pastinya gak bisa gubris sama sekali, gak bisa dirubah dan sulit buat dijauhkan. Gak bisa sama sekali? Anara aku minta ma'af udah bikin kamu banyak mikir, intinya aku sayang dan cinta sama kamu. Aku beneran cinta sama kamu."
Anara hanya menarik napas sejenak, ia pun tak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Yang ia pikirkan adalah menjalani hidup tanpa harus ada embel-embel orang lain, tapi ia sama sekali tak pernah marah sedikitpun dengan Ridho karna ia belajar untuk memposisikan. "Kamu kok gak tidur?"
"Enggak papa kok." Oktara melirik ke arah Anara yang masih memegang ponselnya lalu dengan cepat antara pun mematikan dan memasukkan ke dalam bawah bantal karena takut Oktara mengambil dan membaca pesan yang belum dihapus tersebut.
"Kok kamu malah sembunyiin gitu sih hp-nya emang ada masalah apa? Dan kenapa kamu kayak tegang banget gitu emang ada pesan apa sih yang kamu baca kamu ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku ya?"
"Nggak kenapa-napa kok aku nggak sembunyiin apapun. Aku boleh nanya nggak sama kamu tapi kamu harus jawab dengan jujur ya?"
Untungnya Pingkan sudah tertidur sangat keras ketika drama yang terjadi tadi. "Iya ya boleh tahu emang kamu mau nanya apa sama aku?"
"Apakah ketika ada orang misalkan masih suka dan masih sayang sama orang yang salah dalam artian orang yang dia cintai itu sudah menikah kira-kira menurut kamu apa yang harus dilakukan orang tersebut supaya nggak terjerumus sama perasaan dia?" Kata-kata yang keluar dari mulutnya terkesan ambigu ya nggak membuat antara bingung dan aneh lalu menanyakan balik apa yang dimaksud agar dijelaskan dengan sangat lantang dan menyeluruh.
"Aku cuma sekedar nanya doang sih nggak ada maksud apa-apa."
"Apakah ini ada hubungannya sama Ridho?"
Kenapa bisa jadi tepat sasaran seperti ini?"
"Kenapa sih kamu malah nanya kayak gitu aku 'kan cuma nanya doang nggak ada hubungannya sama siapapun. Kamu kenapa sih jadi cowok itu cemburuan banget aku tuh nggak nanya sama siapapun cuma misalkan doang." Anara mempertegas ucapannya agar apapun yang mereka katakan itu nggak ada salah paham di antara keduanya.
"Ya kalau menurut aku sih harus tinggalkan sayang sayangnya dia sama orang itu yang udah menikah misalnya yang harus ditinggalkan, contohnya aja aku waktu kemarin selingkuh ya aku harus tinggalkan walaupun mungkin awalnya kayak ngerasa berat dan kalau boleh jujur aku 'kan gak cinta sama kamu kan nah tapi karena aku paksa akhirnya aku sadar kalo ternyata aku beneran sayang dan cinta sama kamu tapi tinggal tunggu aja waktu yang tepat. Ya udah deh kalau gitu kita tidur aja ya aku ngantuk banget besok aku kerja." Mereka pun memejamkan kedua matanya.