
"Sebenarnya aku tuh males banget datang ke sana apalagi kita 'kan tunggu tadi nggak tidur?"
"Masa sih aku tega nggak datang ke acara tersebut apalagi ini 'kan sekali dalam seumur hidup nggak mungkin banget kalau misalnya aku nggak datang?" Anara merasa lega banget kalo kedua orang tua bakalan datang ke rumah untuk menjaga si kecil apalagi mereka berdua pengen banget sedikit berlama-lama dengan si kecil atau Pingkan cucu kedua mereka berdua.
"Ya udah deh kalau gitu tapi jangan lama-lama ya kamu jangan caper-caper sama dia?"
"Kamu itu ngomong apaan sih jelas-jelas kita sudah punya anak dan dia juga udah menikah jadi ngapain kamu mikirin hal-hal nggak penting kayak begitu? Mas Oktara nggak perlu khawatir dan nggak perlu takut aku bisa jaga diri baik-baik kok ketika kita udah sampai di sana." Oktara dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Anara mengganti pakaiannya dengan pakaian yang cukup resmi seperti orang yang mau ke kondangan bahkan riasan wajah pun tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis pokoknya natural sebaik mungkin.
Setelah keluar dari kamar mandi Oktara pun mengambil baju yang ada di dalam lemari tapi ia lupa melihat kalau misalkan baju yang sudah disiapkan Anara berada di tempat tidur dengan gantungan baju yang masih terpasang.
Ia tersenyum ketika baju-baju berangkat hari ini sudah dipersiapkan di tempat tidur. Suara klakson terdengar dari luar rupanya Anara yang menyambut sebagai perwakilan membawa si kecil juga yang tadi tertidur di tempat tidur.
"Oktaranya lagi ganti baju soalnya baru aja mandi nggak papa 'kan kalau misalkan aku titip sebentar di rumah?"
"Iya nggak kenapa-napa kok lagian juga kita udah lama banget gak ke sini dan kalau misalkan kalian pengen pergi agak lamaan juga nggak masalah, biar kita berdua yang ngejagain."
Anara berlenggang ke arah dapur untuk membuatkan minum untuk kedua orangtuanya yang jauh-jauh datang dari rumah. "Enggak usah repot-repot nanti kita bisa sendiri kok ambil di dapur."
"Nggak repot-repot ke lagian juga tamu spesial masa gak dibuatin minum," ucapnya yang sambil menuangkan minuman yang baru saja ia bawa dari dapur dan menuangkan ke dalam gelas yang kosong.
Tak berapa lama Oktara pun datang dan langsung bersalaman kepada mertuanya yang sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri. "Ya udah kalau gitu mending kalian berangkat aja deh biar Mama dan Papah yang ngejagain Pingkan di rumah." Jadi sebelumnya mereka berdua dijemput terlebih dahulu oleh supir karena mereka berdua nggak punya mobil jadi harus dijemput lagi pula juga kalau naik motor kasihan karena usia mereka semakin lama semakin tua. Apalagi jarak tempuh mereka tidak bisa terlalu lama seperti dulu lagi.
Oktara mempersilahkan untuk masuk kedalam mobil dan mereka akan berangkat ke tempat acara.
***
2 Minggu kemudian...
Mereka berdua masuk ke dalam tempat acara dan melihat kedua mempelai sudah berada di depan bersalaman dengan tamu undangan lain datang. "Ya ampun ternyata akhirnya dia bisa bareng sama orang yang benar-benar dia cintai, semoga aja mereka berdua bahagia dan nggak ada kata sandi sedih lagi di dalam perasaan Ridho."
"Selamat ya semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah dan yang paling penting adalah bahagia selalu dunia akhirat." Ketika bersalaman langsung dengan Anara rasanya deg-degan banget apalagi orang yang ia harapkan selama ini malah bukan jadi pasangannya dan foto-foto yang berada di dalam kamar sengaja ia rusak dan hancurkan, karena ternyata nggak ada gunanya juga buat memasang foto-foto tersebut dan bakalan bikin hati yang merasa sakit.
Senyum yang tercipta sangatlah palsu banget. Dan mereka berdua pun dipersilahkan untuk mengisi makanan yang sudah tersedia untuk tamu undangan yang datang.
Oktara lebih dulu mengambil makanan.
Rupanya senyuman Anara disambut dengan hangat oleh Ridho dari kejauhan. Karena tidak mau berkelanjutan dengan cepat Oktara memalingkan wajah Anara dan menawarkan makanan mana yang harus diambil. "Kamu kenapa sih kok natap nya kayak gitu banget apakah kamu masih cinta sama dia?"
"Masih cinta? Jelas aja aku sama dia nggak ada perasaan sama sekali masih aja kamu nanya kayak begitu. Kalau misalnya aku cinta sama dia nggak mungkin aku nikah sama kamu walaupun mungkin dia bilang sama aku dan sama semua orang dia suka dan sayang sama aku tapi aku sama sekali enggak ada rasa cinta sedikitpun aku cuma nganggep dia cuma sahabat. Jadi menurut aku ya ngapain kita harus ngegubris omongan-omongan di luaran sana dan juga ekspresi dia ke aku kayak gimana? Udahlah lagian dia juga udah menikah juga dengan wanita pilihannya kita fokus aja sama masa depan kita berdua Dan anak kita bahkan kita akan rencananya mau investasi supaya uang yang kita punya itu jadi bermanfaat dan terus bertambah dengan usaha kita. Ya udah kalau gitu kita makan aja yuk nggak usah dipikirin hal-hal yang ada di kepala kamu."
"Kamu jangan ngambek kayak begitu dong aku 'kan cuma nanya doang nggak ada maksud apa-apa?" Karena nggak mau merusak mood dari Anara akhirnya dengan cepat ia pun merubah untuk mengembalikan mood tersebut menjadi lebih baik.
"Ya udah nggak usah dipermasalahkan."
Setelah mereka makan akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berfoto bareng karena ini adalah momen yang paling langka dan moment untuk sekali dalam seumur hidup. Karin sepertinya tidak merasa asing dan perempuan yang ada di samping seorang laki-laki yang memegang pinggang perempuan tersebut. Dalam beberapa menit ia baru saja ingat kalau perempuan tersebut adalah orang yang ada di foto ponsel dari Ridho.
"Oh jadi ini perempuan yang berhasil mengambil perasaan dari Ridho?" gumamnya dalam hati sangat yakin banget karena foto tersebut sangat mirip dengan orang yang ia lihat sekarang. Tapi perasaannya tidak boleh gentar, karena perempuan yang ia lihat sekarang sudah menikah dan laki-laki yang ada di samping perempuan tersebut sangat romantis banget tidak mau kehilangan.
"Terima kasih banyak ya udah datang ke acara kami berdua."
"Ya udah kalau gitu kita pamitan pulang dulu ya semoga kalian bahagia dan sampai akhir hayat memisahkan." Anara dan Oktara pun akhirnya selesai datang ke acara pernikahan mereka berdua, dengan cepat Oktara membukakan pintu yang sangat terlihat banget dari dalam ketika Ridho memperhatikan dari kejauhan. Jika waktu bisa diputar posisi yang dihadapi oleh oktari itu adalah posisi dirinya jika Tuhan dan takdir menakdirkan tapi ternyata tidak dia bukan jodohnya dan orang di sampingnya adalah jodoh dari dirinya sendiri.
Lalu mereka berdua bersalaman kembali kepada tamu undangan yang lain yang baru saja datang ke acara tersebut karena semakin lamanya waktu atau semakin siangnya waktu maka tamu undangan semakin banyak.