Anara & Oktara

Anara & Oktara
26. Panik



Ridho pun masuk ke dalam dengan membawakan makanan untuk memberi makanan terlebih dahulu. "Hei, wajah kamu kayak tegang banget begitu sih? Kenapa? Kamu kaget atas kedatangan aku ke sini?" Ridho membungkukkan badannya lalu mendekatkan ke arah telinga Anara. 


"Kok kamu malah diam aja sih aku udah beli makanan nih." Makanan yang ia beli masih berada di dalam plastik. 


"Loh, kenapa tiba-tiba ada kamu di sini?" Anara benar-benar terkejut kenapa tiba-tiba aja ada Ridho dihadapan yang sekarang jadi semua ini atas ulahnya? Benar-benar tidak menyangka kenapa malah melakukan sesuatu hal yang tidak baik sehingga membuat kedua matanya bengkak. 


"Kamu kok tega banget sih sekarang aku di sini? Salah aku sama kamu tuh sebenarnya apa kok kamu tega banget sama aku?" 


Ridho bukannya malah menjawab serius kini dia sedang bercanda dan mendekat ke arah Anara, dengan cepat ia pun berbisik. "Kamu jangan merasa ketakutan, aku di sini selalu menemani kamu apa adanya. Kamu jangan menangis seperti itu. Jadi kamu jangan takut ya kita kan udah kenal satu sama lain dari lama."


"Kamu kenapa sih ngomong kayak begitu Ridho? Aku sudah punya pasangan, jadi ngapain kamu ganggu hidup aku lagi. Tolong lepasin aku sekarang juga aku pengen kembali pulang. Pasti dia khawatir banget karena aku udah nggak ada. Tolong Ridho bukain!" Dengan suara yang merintih pun tidak ia pedulikan karena yang ia pedulikan adalah rasa keinginannya untuk memiliki seseorang yang tidak seharusnya ia dapatkan. 


Anara berusaha untuk melepaskan diri tapi tidak emosi agar Ridho bisa luluh dan membukakan 2 ikatan yang ada di tangan dan 2 ikatan yang ada di kedua kaki. "Sebentar ya kamu tunggu di sini." Anara mengangguk ia pikir akan dibukakan kedua tangan dan kedua kaki tapi ternyata salah, ya mengambilkan makanan lalu menyebabkan ke dalam mulut Anara. 


"Mending kamu makan dulu deh, tenaga kamu terkuras dengan menangis yang terus menerus tidak berhenti. Aku udah bilang aku itu bukan orang yang jahat." Ridho pun mengambil ponsel Anara, dan menyalakan layar ponsel tersebut banyak sekali notifikasi masuk di sana. 


Tertulis 'Oktara' 


"Ternyata dia nelpon mulu dari kemarin," cengirnya sambil melihat. 


"Ridho, tolong dong kamu kembaliin. Masa kamu tega banget sih sama aku, kita itu udah temenan dari lama. Tapi kenapa kamu malah melakukan sesuatu yang enggak baik kayak begini? Aku kenal kamu tuh baik kenapa kamu malah melakukan sesuatu yang nggak bikin orang lain itu suka?" Anara tidak menyangka bisa melakukan sesuatu yang bodoh seperti ini. 


"Mending kamu diam aja deh, aku nggak akan pernah ngelakuin apapun buat kamu tapi kamu nggak akan pernah mencintai aku dan sayang sama aku. Kamu malah memilih laki-laki lain yang belum tentu mencintai sebesar cintanya aku ke kamu. Udah berapa lama aku menyatakan cinta tapi kamu nggak pernah ngejawab, bahkan kamu mengucapkan omong kosong yang nggak ada gunanya." Mendengar seperti itu membuatnya sedikit agak merinding, ternyata cintanya sungguh begitu besar hingga membutakan semuanya. 


Ia memperlihatkan semuanya bagian kamar yang sengaja ia foto untuk ia berikan kepada Anara. "Coba kamu lihat deh semua dinding yang ada di dalam kamar aku itu, foto kamu semuanya. Karena aku saking sayang dan cintanya sama kamu, tapi kamu nggak pernah berdalih ke arah aku selalu saja bertepuk sebelah tangan. Apa kamu nggak mau mencoba untuk mencintaiku sekarang?" Sangat tegas sekali mengatakan hal ini. Kalau ucapannya tidak hanya sekedar omong kosong doang tapi dengan bukti yang sangat kuat menandakan jatuh cinta akan membuat semuanya menjadi gila. Karena cinta yang salah maka sesuatu hal yang baik itu tidak akan pernah terwujud ada tapi menjadi bumerang yang sangat cukup besar membutakan segala-galanya. 


"Ridho, kenapa kamu tega banget seperti ini sama aku? Tatapan kamu beda banget seperti orang yang membabi buta," batinnya merasa takut.


Selama ini orang yang dianggap baik dan selama ini orang yang ia anggap bisa mengerti perasaan tapi ternyata rupanya salah. Memang dari dulu Ridho terang-terangan banget buat mengatakan dia jatuh cinta tapi ia anggap hanya sekedar bercandaan doang dan cuma sekedar angin lalu tapi kenapa malah serius ini melakukannya bahkan membuatnya semakin merasa takut dan ingin pergi saja jauh. 


Dengan cepat Ridho pun mengangkatnya layar telepon yang berwarna hijau ke bagian atas. Suara parau yang terdengar bahwa di sana Oktara sedang merasa rindu yang sangat mendalam. "Kenapa sih malah telepon-telepon nggak jelas kayak begini? Sebenarnya lo tuh mau cari siapa sih?" 


Oktara semalaman tidak bisa tidur karena sampai detik ini belum ada kabar sedikitpun bahkan notifikasi telepon atau sebuah pesan teks pun tidak ada balasan sama sekali. 


Benar-benar merasa gelisah takut kalau kenapa-napa dan ada apa-apa. "Kamu kemana aja sih? Kamu berhasil buat aku takut dan merasa kehilangan? Kenapa perasaan gue tiba-tiba begini sih! Susah banget buat ngejelasin apa yang sebenarnya terjadi di dalam keadaan seperti ini!" batinnya dalam hati yang yakin banget kalau Anara baik-baik saja dan tidak kenapa-napa. 


Semoga bisa menjalani semuanya dengan baik dan benar agar tidak ada orang yang sengaja melakukan hal ini bahkan ingin merusak rumah tangga mereka berdua. 


"Hah? Kenapa lo tega banget ngelakuin kayak begini? Mana Istri gue sekarang! Gue pengen ngobrol sekarang juga! Lo jangan macam-macam ya sama dia," suara yang agak sedikit berbeda. Suara tersebut seperti suara seorang laki-laki. 


Dan langsung saja dimatikan. Membuatnya semakin panik dan membuatnya semakin takut apa yang harus saya lakukan supaya bisa membawa pulang dengan selamat tanpa ada lecet sedikitpun. 


Mencoba untuk melakukannya kembali tapi tetap saja nihil. Kenapa bisa seperti ini? 


"Ni orang kenapa sih! Bikin masalah aja, semoga aja Anara baik-baik di sana dan nggak terjadi apapun. Kalau antara kenapa-napa gue nggak akan pernah tinggal diam. Gue bakalan cari dia kemanapun dan gue nggak akan pernah biarin dia tenang begitu saja," tekadnya sangat begitu kuat bahkan ia tidak peduli orang yang akan ia temui nanti. 


Sebentar sekali ketika Allah membalikkan kan perasaan orang lain dan secepat juga orang lain itu akan berubah demi orang yang dia dapatkan selama ini yang menurutnya sudah ia sia-siakan. 


Ia harus pekerja hari ini dengan perasaan dan hati yang tidak tenang. Mencoba untuk menghubungi bodyguard yang sudah lama banget tidak dihubungi menyuruhnya untuk mencari foto yang sudah dikirimkan beberapa menit yang lalu. Dengan bayaran yang sangat fantastis membuat dua orang bodyguard tersebut kalap dan akan mengusahakan semaksimal mungkin agar bisa kembali dengan selamat. 


"Pokoknya kamu cari aja sampai ketemu, saya yakin banget ketika kamu sudah mendapatkan saya akan bayar di hari yang sama juga di detik itu juga!" Dengan cepat ia pun mematikan ponselnya tersebut. 


Lalu mengambil sarapan yang sudah tersedia diatas meja roti selai dengan tumpukannya. "Mbak kalau misalkan ada apa-apa tolong kabarin saya. Kalau gitu saya berangkat dulu." 


"Baik Mas," angguknya.