
"Kayaknya gue harus jemput sekarang juga deh?"
Anara mendapatkan sebuah pesan kalau Oktara akan segera menjemputnya pulang ke rumah. "Kenapa malah jemput sekarang sih?"
"Ayo buruan di packing!"
"Iya Mah, aku packing sekarang ya." Anara sebagai anak yang berbakti masuk ke dalam kamar untuk memasukkan barang-barang yang sebagian ia keluarkan. Gak kerasa sebentar lagi bakalan dijemput oleh para.
Oktara sengaja menjemput di rumah langsung karena nggak enak banget kalau lama-lama di rumah mertua. Apalagi dengan status mereka yang sudah resmi menikah itu tandanya nggak baik di pandang orang-orang yang gak tahu permasalahan yang sebenarnya.
Ia memarkirkan mobil di depan rumah dan melihat ruang tamu yang penuh dengan manusia-manusia yang sedang asyik mengobrol. "Assalamu'alaikum," ucapnya yang mengucapkan salam dan dipersilahkan masuk ke dalam dan duduk.
Dengan logat wibawanya ia pun masuk ke dalam lalu duduk dan mengajak Anara untuk pulang ke rumah. Padahal hari ini adalah hari kedua yang seharusnya perjanjian mereka 3 hari tapi dipercepat 1 hari untuk mendahulukan. Kenapa kamu malah jemput aku? Kan aku bilangnya tiga hari sama kamu?"
Karna di depan ada Mama dan Papahnya Anara ia pun hanya diam saja, merasa sungkan dengan mereka yang menyambutnya dengan sangat baik. "Anara, kamu tidak boleh mengatakan hal seperti itu kepada Oktara. Dia itu Suami dan kamu berhak dijemput dan dia pun berhak menjemput kamu."
"Tapi aku pengen di sini dulu sama kalian berdua."
"Sudah jangan seperti itu egois."
"Ya udah mending kamu pulang aja sama Suami kamu nggak baik dia udah jemput kamu di sini masa kamu menolak sih? Aku berpikir yang dewasa ya sayang."
"Aku mimpi apa sih kemarin kok tiba-tiba aja ntar malah jemput aku di rumah?" batinnya dalam hati.
Akhirnya bisa balik ke rumahnya lagi setelah di jemput oleh Oktara. "Makasih ya Mas udah jemput aku di rumah." Oktara mengambil koper dan memasukkan koper tersebut ke dalam kamar. Walaupun kelihatannya seperti orang yang cuek dan jutek tapi dia adalah orang yang paling bertanggung jawab dan yang paling peduli banget dengan orang-orang yang di sekitar.
"Iya sama-sama enggak usah terlalu berlebihan kayak begitu deh."
Anara mencoba untuk menggodanya tapi malah membuat Oktara tidak sengaja menampar sebelah kanan pipinya secara refleks. "Astaga ma'afin banget saya nggak sengaja."
"Kamu kok tega banget sih nampar aku, padahal aku maksudnya cuma bercanda doang. Kamu kenapa sih tega banget sama aku Mas?" Anara berpura-pura merasa kesakitan dan menangis di pinggiran tempat tidur hingga membuat Oktara benar-benar merasa salah dan membuat dirinya sudah keterlaluan banget dengan perempuan yang sudah ia nikahi.
Lalu ia mendekat dan mengatakan. "Saya beneran nggak sengaja ini emang bener-bener enggak tahu apa-apa. Habisnya kamu sih tiba-tiba aja ngomong kayak begitu saya kan jadi kaget dan refleks buat nampar kamu."
"Ya harusnya kamu jangan kayak begitu dong aku kan cuma bercanda doang masa kamu tega banget sih. Ya udah deh kalau gitu aku balik lagi ke rumah Mama ngapain juga aku ke sini kalau misalkan disiksa dan enggak pernah dianggap." Ia memasukkan kembali baju-baju ke dalam koper dan ketika ia ingin keluar dari kamar dengan cepat Oktara membentangkan kedua tangannya dan melebarkan kedua kakinya untuk menghalangi perempuan itu keluar dari kamar menyuruhnya untuk mengeluarkan semua barang-barang yang ada di dalam koper dan memasukkan ke dalam lemari.
"Kamu kenapa sih kok malah ngelarang aku bukannya kamu nggak suka kalau misalkan aku ada di sini?"
"Kamu kok malah ngomong kayak begitu sih? Kalau saya udah jemput kamu itu berarti saya itu peduli sama kamu dan saya bertanggung jawab jadi seorang laki-laki," jawabnya dengan sangat tegas banget untuk mengatakan hal ini dengan langsung tanpa jeda dan tanpa tersenyum.
"Hari ini kamu nggak usah masak saya pengen ngajakin kamu jalan-jalan."
"Kamu kenapa sih kok malah banyak nanya sama aku udah deh ikutin aja."
Flashback,
Jadi sebelumnya sebelum Oktara keluar dari rumah Mama kasih tahu terlebih dahulu supaya bisa membuat Oktara semakin jatuh cinta dan semakin jatuh hati. Dengan cara yang seperti apa? Dengan cara dia melakukan yang tidak seperti yang ia lakukan sebelum-sebelumnya. Maksudnya apa iya disuruh untuk berpura-pura jadi perempuan yang jauh lebih agresif dan sensitif itu tandanya seorang cowok bakalan merasa marah dan juga merasa salah kalau dibuat seperti nggak karuan.
Oktara membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Anara masuk ke dalamnya. Perlakukan yang benar-benar terkesan aneh dan berubah banget.
Oktara dengan wajah yang menegang dan membuat situasi seakan rumit untuk dijalani. "Kamu kenapa sih?"
"Apanya yang kenapa? Saya santai dan biasa aja kok, kamu kenapa malah kayak begitu sih? Jangan terlalu banyak omong!"
Anara menarik napas sejenak. "Ya udah aku minta ma'af deh,"
"Intinya jadi manusia tuh jangan terlalu baper dan terlalu banyak pikiran. Apa yang saya lakukan selama ini sama kamu itu atas dasar saya sadar dengan status saya itu kayak gimana jadi kamu jangan berpikiran yang kayak macam-macam."
"Iya Mas, aku paham dan mengerti kok."
***
"Saya ajak kamu ketemu sama dua sahabat saya yang sangat jarang saya kenalkan sama mereka. Karna males aja. Ya udah yuk turun." Ada dua orang yang sedang menunggu mereka berdua dan Oktara melambaikan tangan ketika sudah turun dari mobil.
"Sorry banget nih gue agak lama sampainya. Biasalah masalah drama kehidupan yang harus dijalani."
"Ah santai aja kali, gak masalah juga kok."
Perlahan Oktara memperkenalkan orang-orang yang sudah ia lama kenal dulu. Yaitu dua sahabat yang selalu ada dalam keadaan apapun Budi dan Darto. Anara memperkenalkan diri dan sangat terlihat canggung dan bingung. "Dia ini Istri gue, kenalin. Biasalah namanya cewek pasti malu-malu kucing begitu."
"Iya santai aja kok. Eh gimana lo masih main gak ke sekolah kita. Udah lama banget kita gak ke sana, katanya sih mau reunian gitu, gak tau deh gue bakalan iya atau enggak. Soalnya masih dalam rencana gitu."
"Oh gitu? Gue gak ada kabar sama sekali sih. Entar deh kalau ada kabar kabarin gue aja. Gue bakalan datang kok." Biasanya obrolan seorang cowok-cowok adalah kebiasaan dan keinginan mereka untuk bisa nongkrong lagi bareng kayak dulu.
"Ternyata kalem banget ya Istrinya." Ia mengatakan ketika mereka menghadiri acara pernikahan mereka berdua terlihat sekali wajah Oktara sangat menegang dan deg-degan banget apalagi di saat di foto. Karena merasa malu akhirnya ia pun merasa harus membahas persoalan yang lain agar tidak membuat perempuan yang ada di sampingnya merasa percaya diri banget.
"Tau nggak lo beruntung banget mendapatkan perempuan sebaik Istri lo sekarang," puji mereka berdua yang membuat Anara merasa sangat deg-degan banget dan hanya senyum-senyum gak jelas.
"Kenapa sih nih orang banyak banget pesonanya, padahal jelas-jelas dia biasa aja. Kenapa orang-orang yang ngelihat dia kayak sukai dan senang aja begitu kok gue nggak sama sekali?"