Anara & Oktara

Anara & Oktara
8. Perhatian Tulus



Oktara sengaja membeli ayam bakar terlebih dahulu, sedangkan Anara sengaja menyiapkan makanan di atas meja. Namun Anara tiba-tiba saja merasa khawatir karena orang yang jualan ayam bakar itu tidak jauh dari arah rumah. Tapi sampai sekarang kenapa nggak balik-balik. Dan pas banget khawatiran itu semakin bertambah ketika tiba-tiba saja hujan ditambah juga suara guntur yang cukup nyaring bergantian beberapa menit kemudian. Apalagi di rumah belum memiliki asisten rumah tangga dan juga satpam yang menjaga rumah. Ia mengambil ponsel di atas meja lalu menghubungi Oktara untuk segera pulang ke rumah. 


Sayangnya tidak mendapatkan jawaban apa-apa. Ia pun hanya bisa memainkan ponselnya di ruang tamu sambil menunggu dan melirik ke arah jam dinding yang menempel di atas ruang tamu yang terlihat memantul ke ruang makan. "Semoga aja Mas Oktara nggak kenapa-napa lagian juga di luar hujan." Walaupun Oktara tidak mencintainya tapi rasa khawatir tetap saja menyelimuti pikirannya. 


Suara ketukan terdengar dari luar, ia pun segera keluar dan membukakan pintu mengambil 2 kantong plastik yang diberikan oleh Oktara lalu mengunci pintu. 


Nasi yang sudah disajikan tadi sudah berubah menjadi dingin karena sekitar 15 menitan yang lalu. Ketika Oktara menyalakan ponsel ada panggilan masuk dari Anara, bukannya menanyakan kenapa menelpon, dia malah marah-marah enggak jelas! Rasa tak suka dan rasa nggak nyaman itu sangat benar-benar ia ucapkan dan lontarkan tanpa berpikir apakah akan merasa tersinggung atau tidak dengan kata-kata yang keluar itu. "Kamu ngapain sih nelpon-nelpon aku kamu 'kan udah tahu kalau misalnya aku itu beli ayam bakar di luar buat kita makan di dalam rumah, kenapa kamu malah nelpon-nelpon aku udah tahu di luar hujan?" 


Anara mengambilkan nasi ke atas piring lalu menaruh ayam bakar itu di atasnya. "Ya udah kalau gitu kamu makan aja biar makan bareng-bareng juga kita. Nanti kalau misalnya kamu kenapa-napa saya juga yang bakalan repot!" 


Tak ada kata-kata romantis yang terlontar ketika makan di meja makan. Mereka seperti orang yang tidak mengenal satu sama lain dan hanya fokus dengan makanan yang ada dihadapan mereka saja. Ini adalah contoh salah satu pasangan yang tidak bahagia, atas dasar keterikatan belaka doang yang lebih mereka seperti ini. 


"Tolong dong kamu ambilin lagi nasi saya laper banget soalnya! Oh iya bisa enggak sih kamu besok pagi nggak usah lagi buatin saya bekal untuk dibawa ke kantor. Karena di sana banyak banget makanan jadi menurut saya kamu nggak usah repot-repot bawain saya bekal."


"Ya udah kalau gitu Mas, aku cuma khawatir aja kamu kelaparan. Tapi kalau misalkan kamu bilang gak usah ya udah nggak papa aku nggak akan buatin lagi kok," angguknya yang tidak menanyakan kenapa berhenti untuk dibawakan bekal ke kantor. 


"Ya sudah kalau gitu saya masuk ke dalam kamar dulu ya soalnya nggak tahu kenapa tiba-tiba kepala saya ngerasa sakit, mungkin pas tadi beli ayam bakar kepala saya kena air hujan."


Oktara merebahkan kepalanya ke tempat tidur. Kepalanya sakit karena terkena air hujan lalu menarik selimut yang ada dihadapannya. Badannya berubah menjadi hangat dan panas. 


Anara akhirnya menyusul masuk ke dalam kamar setelah selesai merapikan meja makan ketika mereka tadi sudah makan bareng. "Kamu kenapa Mas kok tiba-tiba pakai selimut biasanya juga nggak?" 


Anara berinisiatif untuk memegang dahi Oktara, ternyata dahinya panas mungkin saja demam. Lalu membuka laci mengambil saputangan yang cukup tebal atau handuk di bawah lalu Anara ambil juga terus yang ada di bawah untuk dibawa naik ke atas mengompres dahi yang sekiranya bisa menurun demamnya. 


Ia mendekat dan mengompres air panas yang baru saja ia ambil tadi ke dahi Oktara. "Kamu kenapa sih perhatian banget sama saya? Padahal selama ini saya tuh jahat banget sama kamu dan cuek?" Pertanyaan yang mencengangkan dari Anara membuat sedikit Oktara terpana dengan kata-kata yang terlontar tersebut. 


"Soalnya kita sudah Suami dan Istri, itu tandanya kita memiliki tugas masing-masing. Kita menjalani hubungan dalam suka dan duka nggak juga dari sukanya doang. Makanya ketika salah satu di antara kita tumbang atau sakit maka kita nggak boleh menghindar atau menjauh tapi kita harus merawat dia sampai sembuh. Mungkin demam kamu yang nggak seberapa ini bisa membuat dosa-dosa kamu luntur. Gimana keadaan kamu udah membaik belum ada efeknya nggak?" 


Lantas Anara tersenyum dengan jawaban yang sedikit menyakitkan tapi ia menjawab sangat bijaksana banget. "Cinta itu akan tumbuh karena terbiasa, cinta dan rasa kasih sayang itu bakalan tercipta dengan sendirinya tanpa kita harus menyuruhnya dan bekerja keras untuk menciptakan. Aku yakin banget kamu bakalan cinta sama aku dan aku berusaha mencintaimu sekarang." 


"Jangan terlalu dipikirin mending kamu istirahat aja ya Mas, makasih banyak udah menyelamatkan keluarga aku malu di depan atau di tengah-tengah lingkungan orang-orang yang gak suka sama keluarga aku di rumah." 


Oktara mengangguk lalu menyuruh Anara untuk mengambilkan selimut di bawah kaki dan membuat tubuhnya merasa hangat. Oktara merasa bersalah tapi tetap saja tidak ada kata mencintai di dalam dirinya. 


Oktara rupanya tertidur ketika beberapa kali dikompres mungkin badannya sudah mulai mendingan dan panasnya turun. Anara tidur di samping Oktara, karena kedua matanya sudah mengantuk setelah sholat Isya tadi berjamaah sebelumnya, sebelum makan bareng. 


Lelap kedua mata itu membuat Oktara yang melepas kompresan yang masih menempel di dahi. Jam yang menempel di dalam kamar menunjukkan pukul 2 dini hari. Melihat Anara yang tertidur pulas di sampingnya. Ini kali pertama dia tidur bareng sekamar, biasanya Oktara lebih memilih untuk tidur di kamar sebelah yang kosong, atau kalaupun mereka tidur bareng Oktara lebih memilih tidur di sofa kamar tidur.


Oktara melanjutkan tidur kembali. 


Suara adzan subuh mulai terdengar berkumandang dari seberang. Anara melihat kompresan yang sudah dilepas dan ditaruh di dalam kobokan yang berisi air. Ia terlebih dahulu ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi melaksanakan sholat subuh. Perlahan ia membangunkan Oktara terlebih dahulu untuk bisa mengumpulkan nyawa- nyawanya yang berada di dalam tubuh agar di subuh ini menjadi bugar. 


"Ya udah kalau gitu kamu duluan yang cuci muka dan gosok gigi ntar aku bakalan nyusul." Sebelum masuk ke dalam kamar mandi ia memegang terlebih dahulu dahi Oktara yang masih hangat walau tidak lebih parah dari tadi malam. 


"Hari ini kamu bakalan berangkat kerja?" 


"Saya nggak kenapa-napa kok cuma kena air hujan doang yang bikin sakit kepalaku. Jadi saya harap kamu jangan terlalu khawatir yang berlebihan. Udah sana buruan ke kamar mandi biar kita bisa gantian!" suruhnya yang menyuruh lebih dulu, ia pun membangunkan badannya. Oktara membuka gorden-gorden lalu mematikan lampu karena matahari sudah mulai terlihat dan sangat terang banget. 


Kini giliran Oktara untuk mencuci muka dan gosok gigi. Anara mengambil air wudhu dengan tempat yang terpisah. Menghampar sajadah untuk sholat berjamaah bareng memakai mukena pemberian waktu pertama kali lamaran. 


Ia tidak menyangka sekarang sudah memiliki keluarga kecil walaupun mereka hanya berdua sekarang dan mungkin suatu saat nanti bakalan menjadi anggota keluarga yang benar-benar lengkap disertai dengan anak-anak yang lucu pastinya.