
Tiba-tiba saja ide gila bersarang di kepalanya. Dan itu ide yang sudah ia rencanakan tadi malam dan akan hari ini ia action untuk melakukan.
Ternyata rumah Oktara terbuka ia pun dengan cepat turun dari mobil menyuruh sopir untuk menunggunya di dalam.
Nanda memulai aksinya yaitu dengan menangis-nangis nggak jelas meneteskan air mata bahkan membuat situasi akan membuat seorang perempuan manapun bakalan iba dan menaruh perhatian yang cukup besar. "Kamu kenapa kok tiba-tiba nangis kayak begitu?"
"Boleh nggak aku ceritain ini sama kamu di dalam?" Rasa-rasanya ragu banget untuk mengajaknya ngobrol di ruang tamu tapi karena sudah baik datang ke rumah akhirnya ia pun mempersilahkan.
Nanda memegang tangan Anara sangat erat sekali. Dia mengatakan sambil mengusap perutnya seakan-akan dia sedang hamil. "Hah? Hamil? Kamu hamil?" Anara menutup mulutnya dengan tangan kanan.
"Semuanya gak mungkin banget, gak mungkin Mas Oktara melakukan ini. Aku yakin banget dia enggak akan pernah sebejat ini, menghamili perempuan lain?" Anara ikut terbawa suasana meneteskan air mata juga dan ketika ia ingin mengambil ponselnya di dalam kantong baju dengan cepat Nanda menaruhnya di atas meja.
"Aku harap kamu jangan ceritain ini kepada siapapun aku bener-bener nggak nyangka dan aku benar-benar menyesal atas perbuatan kami berdua," suaranya sangat sesuai bukan sekali untuk menceritakan menurut versinya agar orang lain percaya dan ternyata benar drama yang ia ulah membuat orang lain percaya salah satunya adalah Anara.
"Aku harap kamu bisa memikirkan dan sebagai seorang perempuan kamu mau merelakan Suami kamu buat Ayah dari biologis ini," sambil memegang dan mengelus perutnya seolah-olah di dalam perutnya itu adalah anak yang ia kandung padahal tidak sama sekali hanya sekedar kebohongan belaka.
"Kita adalah dua manusia yang gagal, kita berdua saling mencintai satu sama lain dan enggak pernah mau untuk dipisahkan. Aku mencintai Oktara tulus dari hati. Dan begitupun sebaliknya. Oktara menceritakan semuanya kenapa dia bisa menikah sama kamu."
Anara terdiam tidak bisa berkata apa-apa lagi. Nanda sempat melambaikan tangan di wajahnya tapi hanya bisa diam lalu ketika ia memegang pundak akhirnya tersadar juga kalau ia sedang melamun. "Kamu mau 'kan berjanji untuk ngebantu aku? Aku menanti malu banget kalau ditanya ketika sudah melahirkan siapa Bapaknya. Aku yakin banget kamu adalah perempuan yang baik dan perempuan yang bisa diandalkan yang baik pula kepada perempuan yang lain."
"Aku nggak bisa janji, sampai detik ini aku masih belum bisa percaya tentang apa yang kamu katakan tadi."
"Ya sudah kalau gitu kalau misalkan kamu nggak percaya aku nggak masalah kok, yang terpenting aku menceritakan sesuatu yang sebenarnya terjadi." Mungkin dengan berkata seperti ini akan membuatnya sedikit agak percaya karena seolah-olah pasrah dan seolah-olah meyakinkan tanpa memaksa.
"Kalau gitu aku langsung pamit pulang ke rumah ya aku nggak mau dia tahu kalau misalkan aku ke sini. Dan aku harap kamu jangan menceritakan ini sama siapapun." Nanda perlahan pergi masuk ke dalam mobil dan mobil itu perlahan menjauh. Ketika ia melihat ke belakang Anara seperti ini mempercayai apa yang ia ucapkan.
Dengan cepat ia menghapus air matanya karena ini adalah air mata yang ia sengaja buat untuk seolah-olah menghancurkan rumah tangga mereka berdua.
Anara menghapus air matanya berpikir ulang apakah yang diucapkan oleh Nanda itu adalah hal yang benar?
Bertemu dengan Prilly adalah mungkin salah satu jalan meluapkan apa yang di dalam perasaan. Sekitar jam 3 mungkin Oktara tidak ada di rumah karena masih jadwal jam kerja.
Kedua air matanya tumpah ketika menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Prilly. Entah kenapa di dalam kehidupannya merasa sedih yang sangat mendalam dan ujian yang sangat besar.
Sebagai seorang sahabat pastinya nggak rela sahabatnya disakitin oleh siapapun. Ia mengusap-ngusap puncak kepala Anara. Menenangkan perempuan yang sangat sabar banget. Kedua matanya sudah penuh dengan air mata dan sedikit agak lembab dan bengkak karena tidak henti-hentinya.
"Anara kamu enggak boleh ngomong sembarangan kalian berdua harus memang menjalani semuanya dengan ujian. Kamu yakin perempuan itu sedang hamil? Kalau misalkan dia hanya sekedar drama doang dan berpura-pura kayak gimana?" Anara menggelengkan kepala lalu menghapus air matanya jatuh dengan tangan dan mengambil tisu dihadapannya.
"Aku yang bakalan cerita semua ini sama Mas Prima, aku nggak akan pernah terima sahabat aku dia nanti sama seorang laki-laki enggak baik kayak dia."
Mendengar kata Prima ia langsung menolak. Tak mau permasalahan akan bergulir panjang. Bukan itu yang di mau tapi mendapatkan solusi bagaimana cara kita untuk menjalani.
Anara bisa dikatakan salah satu orang yang paling sabar dan paling bisa menahan emosi.
Suara rintik hujan terdengar dari tempat mereka berteduh. Setelah ia melihat dan melirik kearah jam ternyata sudah pukul 4 sore itu tandanya sebentar lagi Oktara bakalan pulang ke rumah.
"Mending kamu tanya baik-baik aja dulu kali aja ini hanya sekedar fitnah doang!"
***
Karena merasa kedua matanya sembab dan tidak mau di ketahui akhirnya ia memutuskan untuk memakai masker ketika berada di dalam rumah.
Oktara malah bingung apa yang dilakukan oleh Iatrinya. "Kamu kenapa sih kok di rumah pakai masker segala?"
Karena memiliki suara yang parau ia pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan tidak menjawab apapun, yang menunduk dan perlahan ingin masuk ke dalam kamar tapi ternyata Oktara jauh lebih dulu memegang gagang pintu. Dengan cepat ia memundurkan badan dan turun kembali ke bawah karena tidak mau saling bertatapan karena bakalan ketahuan kalau ia sebelumnya sudah menangis.
Anara memaksakan untuk menuju ke arah dapur menyediakan makanan ia walaupun asisten rumah tangga sudah disiapkan untuk tidak membuatnya kelelahan. Tapi sebagai Istri yang baik dia ingin mendapatkan pahala dari Suaminya yang bekerja keras di luar sana.
Detik-detik ketika Nanda menceritakan dirinya rasanya patah banget mendengar bahkan rasa patah itu seakan lebih kuat dari pada kokoh yang selama ini ia sandang. Masih teringat bayang-bayang perempuan itu mengaku dirinya sedang mengandung.
Lantas perempuan mana yang tega membiarkan janin yang tidak berdosa sedang tumbuh di rahim perempuan lain dan tidak memiliki seorang Ayah.
Seorang perempuan bakal mempertahankan seorang janin yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa tetap tumbuh dan harus memiliki seorang Ayah.
Seketika Oktara sudah duduk di samping Anara dan ia pun baru lagi sadar. "Kamu kenapa sih kok kayaknya aneh banget hari ini? Ada apa lagi?"
"Aku nggak kenapa-napa kok. Ya udah kamu silakan makan aku pamit dulu ya mau nonton TV!"
"Kok kamu malah ngomong kayak begitu sih nggak sopan banget ninggalin Suami makan sendirian di meja makan?" Anara pun yang sudah berdiri lalu kembali ke meja makan selalu menemani Oktara makan sendirian mengambil lauk yang sudah tersedia beserta sayurnya juga.
Ia pun menemani Suami tanpa berbicara sepatah dua patah yang penting.