Anara & Oktara

Anara & Oktara
46. Obrolan Menyakitkan



Rumah Karin. 


Ridho sengaja menjemput Karin di rumah sebelumnya ia belum konfirmasi terlebih dahulu karena males banget untuk kasih tahu atau chatting. Dengan cepat karena masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya sedangkan Ridho asyik mengobrol di ruang tamu. 


"Enggak nyangka banget ya ternyata kalian sebentar lagi bakal menikah."


"Iya Tante enggak nyangka banget sebentar lagi aku sama Karin bakalan nikah, aku bener-bener nggak nyangka ternyata jodoh aku udah ada di depan mata." Ridho hanya sekedar basa-basi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang keluar langsung dari Mamanya Karin. 


Sementara itu ketika Karin di dalam kamar kebingungan memilih baju untuk bisa jalan bareng dengan Ridho hari ini yang ia juga tidak tahu bakalan jalan ke mana karena males juga buat nanya-nanya. 


"Ya udah deh kayaknya lebih keren." Dengan cepat karena pun mengambil asal salah satu baju yang berada di dalam lemari lalu dengan cepat pula ia memakai tanpa harus memadupadankan baju yang ia kenakan dengan kerudung yang ia pakai. 


Tanpa polesan make up yang sangat menor cukup listrik dan juga bedak untuk bisa sedikit agak percaya diri dari pada berada di rumah yang jauh nggak pakai make-up sama sekali. "Ya udah deh kalau gitu kayaknya harus berangkat sekarang aja." Karin pun mengambil tas lalu sepatu yang berada di dalam rak kamar lalu turun ke bawah dan menghampiri Ridho yang sudah menunggu di bawah. 


Ketika ia turun di bawah tiba-tiba pandangan kedua orang tersebut yang sedang duduk dan asyik mengobrol langsung tercengang melihat penampilan Karin yang sangat biasa banget. "Kenapa kalian kok ngeliatin aku kayak gitu banget sih emang ada apa dengan penampilan aku?" 


"Kamu kok lama banget sih di dalam kamar ternyata cuma pakaian ini doang yang kamu pakai?" Pertanyaan Mama yang membuatnya sedikit merasa ambigu kenapa tiba-tiba pertanyaannya seperti ini pasar rasanya aneh banget. 


"Enggak papa kok Tante Karin kelihatan lebih cantik dan lebih apa adanya." Dengan cepat dan tanpa berlama-lama karena pun berpamitan dan ketika berada di luar dibukakan pintu oleh Ridho, sangat terlihat sekali Mama bahagia banget melihat anaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan laki-laki yang dijodohkan. Walaupun mungkin merasa laki-laki yang mengajaknya hari ini belum sepenuhnya menaruh hati kepadanya akan rasa cinta pun tidak ada tapi ia tetap berusaha dan menjalaninya semoga ada keajaiban yang Tuhan berikan. 


"Jadi hari ini kita bakalan makan terlebih dahulu sebelum cari undangan." 


"Jadi undangan yang waktu itu yang kita pesan itu rupanya udah nggak dicetak lagi karena percetakannya katanya tutup, jadi kita cari tempat lain aja yang banyak banget dan kalau menurut aku sih nggak perlu banget buat kita terlalu mendesak karena kan masih sekitar 2 mingguan juga." 


Karin hanya mengangguk dan paham tidak mengeluarkan komentar apapun. Semoga semuanya berjalan dengan sangat lancar. 


"Sebenarnya kita ngapain sih ke sini segala?" Ridho sengaja menarik bangku kosong dan mempersilahkan Karin untuk duduk. 


"Kamu ngapain ngeliatin aku kayak gitu? Jangan berspekulasi yang nggak-nggak. Ada sesuatu yang pengen aku omongin sama kamu semoga kamu mengerti apa yang aku maksud ini." Ridho memperlihatkan foto-foto undangan kepada karena undangan mana yang pas nantinya mereka pilih untuk acara pernikahan mereka berdua. 


Dari segi manapun ia lihatkan bahkan tema yang mencakup untuk pernikahan mereka juga ditaruh di atas meja dari foto-foto yang sengaja diambil lalu dikirimkan ke ponselnya dan diberikan langsung kepada Karina kepada sang calon perempuan. "Ya udah deh yang ini aja soalnya kayaknya lebih baik dan lebih bagus." 


"Bener juga sih ya udah deh yang ini aja biar simpel." Pelayan pun menaruh makanan dan minuman di atas meja lalu permisi untuk pergi. 


"Habis dari sini kita langsung melihat bentuk-bentuk undangan yang akan kita pilih nanti terus setelah itu kita langsung aja pulang nggak papa 'kan?" Karin pun hanya sekedar mengangguk saja. 


"Kok makanannya gak dimakan sih? Emang kamu gak suka?" 


"Aku pengen cerita sama kamu supaya nantinya kamu nggak kaget," ucap Ridho dengan cepat menunjukkan foto perempuan yang ada di ponselnya yang sangat tersimpan rapi. 


Lantas membuat Karin langsung menanyakan siapa nama perempuan ini dan apa hubungannya. Dengan cepat pula Ridho mengatakan foto itu adalah orang yang paling spesial dan hidupnya yang Sampai detik ini tidak bisa menggeser perasaan rasa cinta dan rasa kasih sayang itu. "Entah tahu kenapa aku masih sayang dan cinta sama perempuan ini, namanya Anara dia sudah menikah dan memiliki seorang anak jadi kalau menurut aku dia adalah orang yang sangat penting banget buat hidup aku, kalau ditanya salah siapa sih salah aku yakin banget aku salah. Tapi aku masih sayang dan cinta sama dia kan kalau menurut aku sendiri susah banget untuk melupakan semua yang ada di dalam diri dia buat kehidupan aku."


"Apakah dia terlalu baik buat kamu sampai kamu susah lupa sama dia?" 


Ridho mengangguk dengan cepat yang membuat perasaannya langsung seakan teriris dan tertampar. 


"Dia adalah perempuan yang sudah lama aku cintai bahkan dari dulu sampai sekarang tidak ada perubahan." 


"Lantas ketika kamu mengatakan hal ini sama aku apakah dia tahu kalau misalkan kamu mencintainya?" 


"Ya... Dia tahu kalau misalkan aku suka dan cinta sama dia tapi dia bilang kita hanya sebatas persahabatan doang nggak ada rasa satu sama lain buat dia. Aku baru aja kok ngirimin pesan singkat buat dia kalau misalnya aku benar-benar sangat mencintai dia kalaupun aku akan segera menikah juga menjalani pernikahan dengan perempuan lain dan perempuan lain itu ya kamu. Kamu tahu enggak alasan aku buat nikah sama kamu itu apa?"


"Apakah untuk melupakan dia?"


"Ternyata perempuan itu punya feeling yang sangat kuat ya di dalam dirinya. Tanpa diberitahu di udah ngerasain apa yang kita rasain. Caraku buat ngelupain dia ya aku harus menikah dengan perempuan lain. Kalau sampai kamu berhasil membuat perasaan aku jatuh hati sama kamu dan kamu berhasil membuat aku buat lupa sama dia maka kamu adalah pemenangnya. Banyak sekali perempuan yang aku dekati tapi nggak pernah sampai ending. Aku memberi kesempatan buat kamu supaya kamu bisa merubah hidup aku." 


"Insya Allah aku akan berusaha untuk merubahnya, dengan seizinnya Insya Allah semuanya bakalan berubah dengan berjalannya waktu." 


Dan Ridho hanya tersenyum saja menghabiskan makanan dan minuman yang ada dihadapannya. 


***


Banyak banget undangan-undangan yang ada di sana. Mereka disuruh memilih undangan mana yang bakalan untuk dijadikan undangan kepada tamu undangan nanti. Setelah sekitar 15 menitan pilihan mereka akhirnya menemukan yaitu undangan berwarna putih seperti emas. 


"Ya ampun enggak nyangka banget sebentar lagi aku bakal nikah," gumamnya dalam hati. 


"Aku harap kamu ngerti kalau misalkan nanti kita menikah kita nggak akan pernah bahagia, karena kebahagiaan kita memang bukan karena diciptakan melainkan dipaksa. Kamu pahamkan maksud aku apa? Dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintai kamu?" Ridho mengatakan hal ini langsung kepada Karin. 


"Kenapa kamu malah ngomong kayak gitu sih sama aku? Kamu gak mau buat membuka hati kamu buat aku?" Karin sebenarnya ingin membuka hati untuk Ridho bagaimana sebagaimana seorang perempuan yang ingin menikah. 


"Mohon ma'af kalau misalkan kata-kata aku menyakiti perasaan kamu tapi ya emang kayak gitu. Ya udah deh kalau gitu habis dari sini kita langsung aja pulang ya." Ridho lebih dulu masuk ke dalam mobil setelah membayar makanan yang mereka pesan tadi. Karin siap berapa lama masuk ke dalam mobil duduk di sampingnya di depan kemudi.