
Akhirnya bisa kumpul lagi dengan kedua sahabat yang sangat bisa diandalkan untuk masalah curhat apa lagi masalah yang cukup dalam.
Mungkin sebenarnya pertemuan mereka tidak terlalu direncanakan tapi karena dengan ajakan iseng ini beneran terjadi maka dari itu akhirnya mereka akan sedikit bercerita tentang hal pribadi mereka. "Sebenarnya lo itu mau cerita apa sih sama kita berdua kayaknya beban banget di dalam pikiran?"
"Ini masalah rumah tangga gue sih dan gue sebenarnya pengen cerita sama orang tapi nggak tahu ceritanya itu sama siapa kali aja kalian bisa ngebantu permasalahan yang ada dalam hidup gue." Ia mengetuk-ngetuk dengan jemari di atas meja.
Setelah menjelaskan beberapa bagian penting akhirnya mereka secara langsung menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi. Dan seolah-olah ini adalah pertanyaan yang paling besar dan pertanyaan yang paling tidak bisa dijawab oleh Oktara langsung. "Ya seperti itulah dia juga terjebak dalam kondisi seperti ini gue bingung apa yang harus gue lakuin. Tapi harus bagaimana bingung banget!"
"Jadi kalian berdua itu tidak memiliki rasa cinta dan rasa kasih sayang yang tulus? Kalau di antara kalian nggak ada kata mencintai kenapa kalian memutuskan untuk menikah? Gue bingung deh sama jalan pikiran lo kayak begitu!"
Oktara baru kali ini menceritakan sedetail mungkin. "Heh kenapa jadi rumit begini sih? Gue aja yang dengernya harus menjelaskan dan mencerna dengan baik biar bisa ngedapetin maksud apa yang diceritakan tadi."
"Iya terus apa yang gue harus lakukan supaya gue bisa mendapatkan apa yang gue inginkan? Terkadang gue merasa bersalah selama ini bersikap sama dia karena dia selamanya baik banget sama gue. Dan kalau boleh jujur di dalam hati yang paling dalam gue itu pengen sebenarnya merubah diri gue supaya bisa sayang dan cinta sama dia, tapi masalah hati itu sulit banget untuk dijalanin!" Baru kali ini ia menjelaskan sedetail mungkin dan baru kali ini juga ia bisa merasa lega karena kedua sahabatnya malah mendukung apapun yang terbaik bukan malah pojokan dan menyalahkan apa yang seharusnya tidak dilakukan dan apa yang harus dilakukan.
"Kalau kata gue sih sebelumnya terlambat dan sebelum mendapatkan apa yang seharusnya lo dapatkan dari orang tersebut, alangkah baiknya kalau menurut gue sih belajar untuk mencintai dengan cara memaksa. Ya mungkin awalnya mungkin terkesan kayak aneh gitu kenapa cinta harus dipaksa dan kenapa cinta harus dilakukan, karena pada dasarnya kalian sudah menikah sudah memikat janji enggak cuma sekedar dari dua pihak aja tapi antara manusia ke manusia dan Tuhannya. Memang agak sedikit berat sih masalah yang kayak begini, tapi kalau menurut gue ketika lo mencoba untuk membuka hati loh buat perempuan yang mungkin awalnya enggak lo cintai tapi lama-lama lo akan terbuka dengan sendirinya nanti," tepukan singkat yang membuat Oktara malah berpikir kalau misalkan hidup itu emang agak sulit.
"Jadi menurut kalian berdua gue harus belajar untuk memaksakan gue cinta sama dia? Tapi gue bingung, mulainya dari mana?"
"Ya ampun pakai minta dijelasin segala yang mulai-mulai aja, kalau menurut gue sih hal yang simpel doang aja dulu dilakuin biar lo terbiasa sama dia."
"Tapi masalahnya gue tuh udah punya selingkuhan yang gue cintai!"
"Hah? Di saat lo udah menikah lo punya perempuan lain lagi?"
Oktara malu-malu untuk mengangguk. "Gue bingung banget sebenarnya, tapi gimana gue juga nggak bisa keluar dari zona seperti ini?"
"Astaga masalah lo ternyata komplit juga ya gue pikir lo bahagia-bahagia aja selamanya!"
Setelah panjang lebar menjelaskan perkara apa yang sebenarnya terjadi, akhirnya Oktara bisa menarik kesimpulan kalau dirinya harus membuka hati. Dan harus bisa legowo karena semuanya harus berjalan dengan baik pula apa lagi sebentar lagi ia akan memiliki adik ipar. Tiara adalah adik satu-satunya yang merupakan juga perempuan yang pastinya kalau disakitin dia juga bakalan sakit.
Ia menarik napas sejenak untuk bisa menstabilkan apa yang ia rasakan, berpamitan untuk pulang dan memulai untuk hal yang baru semoga saja bisa dijalani dengan baik.
Mereka berdua bangga memiliki seorang sahabat yang pengen berubah menjadi lebih baik.
***
Sudah dua hari ini Oktara merasa sangat bingung, kenapa sikap Anara seperti ini? "Anara saya pengen tanya sama kamu, kamu kenapa? Kenapa kedua mata kamu bengkak? Kamu habisa menangis?" Ia memalingkan badan Anara dan mengambilkan tisu yang ada di depan.
Setelah duduk di meja makan akhirnya Anara menjelaskan apa yang terjadi dalam beberapa hari kemarin. Kedua mata Anara langsung saja terbelalak tidak menyangka ternyata Nanda bisa mengatakan seperti itu. Jelas banget Oktara menolak, dan menggubris semuanya karena emang nggak ada yang ia lakukan dan semuanya akan baik-baik saja.
"Kamu mending jujur aja deh sama aku?"
"Saya harus jujur apalagi saya nggak pernah ngelakuin? Walaupun saya bukan laki-laki yang baik tapi saya tidak pernah melakukan seperti itu kepada perempuan lain bahkan sama kamu aja tidak 'kan?"
"Tapi kenapa dia malah ngomong kayak gitu sama aku? Bahkan dia sempat nangis-nangis nggak jelas?" Oktara merasa sesak mendengarkan perkataan tersebut.
"Sekarang gini aja deh mending kita ketemu bareng-bareng bertiga jelaskan satu persatu. Gimana biar kamu enggak menyangka- nyangka yang enggak jelas?"
"Aku yakin banget apa yang diucapkan itu sesuatu yang benar, kalau misalkan kalian berdua saling mencintai dan mau bersama ku rela kok buat mundur."
Oktara malah tertawa mengatakan hal ini langsung. Seolah mudah banget untuk mengatakan berpisah. "Ya habisnya kayak gimana kalau kamu nggak mencintai aku aku juga nggak bisa maksa kali! Kamu tau enggak alasan aku keluar dari rumah itu 2 hari untuk apa? Aku tuh pengen tau aja apakah kamu mengharapkan untuk aku kembali atau tidak? Tapi ternyata ada hal yang sangat membingungkan."
"Aku pengen ngomong sebenarnya sama kamu." Anara nggak salah denger nih Oktara menyebut dirinya aku dan kamu? Yang biasanya hanya dengan bahasa-bahasa formal keluarkan.
"Aku pengen belajar buat mencintai kamu!"
Boom! Seakan perasaan itu sedikit meledak. Dan bingung harus bisa menjawab apa karena kata-kata tersebut yang keluar langsung dari Oktara itu sangat sungguh langka dan harus didengarkan baik-baik agar bisa mendapatkan hal yang baik pula.
"Kamu beneran ngomong kayak gini sama aku? Aku bener-bener nggak nyangka? Aku nggak salah dengar 'kan kamu ngomong kayak gini sama aku?"
"Aku serius, Pernah gak sih kamu selama ini ngira aku tuh bohongan dan aku nggak pernah bercanda. Jadi menurut kamu apakah aku masih punya kesempatan untuk belajar mencintai kamu? Dan apakah kamu mau membuka hati kamu buat aku? Kalaupun iya ya udah kita bareng-bareng lagi."
Anara masih belum yakin lalu ia dengan cepat mempertanyakan bagaimana situasi yang berhubungan dengan Nanda. "Aku sama sekali nggak pernah melakukan, sampai kapanpun aku nggak pernah melakukan hal itu kepada siapapun terkecuali Istri aku sendiri."
Deg! Kenapa tiba-tiba suasana merasa sedikit agak panas yang awalnya mungkin dingin dan langsung berubah tiba-tiba kayak begitu.
Tatapannya sangat tatapan yang sangat tajam.
"Jadi bagaimana apakah kamu mau menjalani hidup sama saya? Eh maksudnya aku?" Menarikan sebuah kelingking lalu mengaitkan di keduanya. Seperti orang yang baru saja menikah untuk menyesuaikan hal yang baru.