Anara & Oktara

Anara & Oktara
10. Curahan Hati Sahabat



Anara memakai baju jalan-jalan yang biasanya setelah mereka menikah ia memakaikan dasar atau piyama. "Kamu mau ke mana?" 


"Aku pengen ketemu sama sahabat aku." 


"Oh sama sahabat kamu ya!" Ada kepikiran untuk nganterin. 


"Kamu mau saya anterin nggak ketemu sama temen kamu? Walaupun saya tidak mencintai kamu tapi saya berkewajiban untuk mengantar kamu untuk bertemu dengan sahabat kamu itu! Ya udah kalau gitu kamu masuk ke dalam mobil duluan." Oktara mengunci pintu lalu masuk ke dalam mobil mengantarkannya untuk bertemu dengan sahabat Anara. 


"Kenapa sih kamu sering banget ketemu sama sahabat kamu?" 


Anara salah sangka dan tidak mengerti maksud ucapan dari Oktara. Ia pikir Oktara marah dan tidak suka atas pertemuan tersebut yang membuat Oktara malah tertawa singkat. "Coba deh kamu simak baik-baik apa yang saya katakan tadi, bukannya saya tidak mau mempertemukan kamu dengan sahabat kamu. Tapi pertanyaannya adalah----" 


"Iya aku paham dan ngerti kok ma'af kalau misalkan aku nggak mudeng." 


"Ya udah kalau gitu. Nanti saya bakalan jemput kamu, saya mau potong rambut dulu habis dari sini. Saya harap kamu jangan terlalu lama ya ketemu sama sahabat kamu soalnya biar saya nggak lama nungguinnya!" 


Turunlah Anara dari mobil ketika sudah sampai bertemu dengan Prilly. Memang benar seorang perempuan yang sedang menunggu memainkan ponselnya. Anara berpamitan kepada Oktara lalu ia mencium tangannya. 


"Gue pikir dia bakalan ketemu sama cowok! Ternyata dia ketemuan sama cewek!" batinnya dalam hati. 


Oktara sesuai dengan ucapannya tadi ia memotong rambut terlebih dahulu di tempat langganannya. 


"Tadi sama Suami kamu ya? Ya ampun aku belum sempat ngeliat lagi gimana gantengnya? Kira-kira seganteng sama pacar gue nggak sih?" Anara melambaikan tangan dari kejauhan. 


"Cowok ganteng dan cewek cantik itu tergantung siapa yang ngeliat, jadi kalau menurut aku sih semuanya itu cantik-cantik dan ganteng-ganteng!" 


"Katanya pengen curhat ya udah cerita aja. Sebenarnya hari ini aku lagi sibuk sih, nggak bisa ketemuan dulu tapi karena aku pengen ngedengerin curhatan dari sahabat aku ya udah deh aku sempet sempetin buat ke sini!"


"Ya ampun, kalau gitu mah enggak usah ketemuan kali kita!"  


"Ya udah kalau gitu cerita aja udah kebetulan juga kita di sini!" 


Ia menjelaskan apa yang selama ini terjadi dalam hidup. Prilly tidak menyangka ternyata orang yang menikahi sahabatnya tidak mencintainya bahkan selingkuh dengan perempuan lain dikala mereka sudah menikah. "Hah serius? Ya ampun kenapa bisa kayak begitu sih? Terus apakah mereka masih memiliki hubungan? Dia tahu nggak kalau misalkan kamu udah tahu dia selingkuh? Seharusnya dia itu itu malu sama kamu karena kamu udah baik banget sama dia, kalau aku jadi kamu aku nggak akan pernah biarin siapapun yang ganggu kehidupan aku." 


Sebagai seorang sahabat ia berusaha untuk menenangkan Anara keluh kesahnya ia tampung dan yang pastinya memberikan semangat agar tidak mudah menyerah. "Aku yakin banget nanti kamu bakalan mendapatkan petikan kesabaran kamu. Sudah ya kamu jangan menangis aku yakin banget semuanya bakal baik-baik saja." 


Prilly menarik napas sejenak agar bisa menerima curhatan yang begitu berat dari sahabatnya tersebut. "Pantesan aja aura kamu itu nggak terlalu bahagia banget kelihatannya, tapi alhamdulillah nya kamu mampu menutupi semuanya dengan baik sehingga orang-orang yang nggak tahu dan nggak pernah kamu ceritakan mereka bakalan tertipu." 


"Aku nggak mau apa yang terjadi di dalam rumah tanggaku diketahui oleh banyak orang. Kamu adalah satu-satunya orang yang aku ceritakan, jadi aku harap kamu jangan cerita ke siapapun ya!" Prilly menggeserkan bangkunya lalu memeluk erat. 


"Aku yakin kok semuanya bakalan baik-baik saja, kamu tetap jadi orang yang paling baik untuk Suami kamu. Sampai dia sadar bahwa kamu adalah orang yang paling berharga dalam hidup dia, intinya kamu jangan pernah kecewain dia ya! Aku yakin banget semua ini sangat sulit dan rumit. Tapi aku yakin kamu bisa melewati semuanya dengan baik!" Prilly mengambil tisu yang ada dihadapannya lalu menyapukan di kedua pipi Anara yang menangis. 


"Makasih banyak udah jadi sahabat yang terbaik buat hidup aku, aku banyak banget berhutang budi sama kamu Prilly!" Mereka terharu dan berpelukan kembali. 


Anara mengipas-ngipaskan kedua matanya agar tidak terlihat cengeng di depan Oktara. "Udah kamu jangan nangis lagi nanti dia bakalan kaget dan bingung? Aku yakin banget nanti bakalan banyak pertanyaan yang bikin kamu nggak bisa jawab!" 


Prilly Mengatakan agar emosi dari Anara bisa stabil. Setelah ia mengirimkan sebuah pesan teks Oktara pun menelpon dan akan segera menjemput ketika tadi ia mengantarkan bertemu dengan Prilly. "Ya udah makasih banyak ya, rasanya lega banget cerita sama kamu!" 


"Mata kamu kenapa? Tiba-tiba aja mata kamu bengkak gitu sih ada apa? Masa?" Anara masuk ke dalam mobil dengan mata yang sudah bengkak dan sembab padahal pas tadi berangkat nggak kenapa-napa dan biasa-biasa aja. 


"Nggak kenapa-napa kok Mas, kita cuma cerita-cerita doang!" Apa yang terjadi kenapa Oktara malah menanyakan apakah ia menceritakan tentang rumah tangganya kepada orang lain? Lagi dan lagi ia berbohong dengan kata-kata tersebut karena tidak mau ada masalah dan tidak mau terjadi apapun. 


"Aku sebenarnya enggak kenapa-napa sih Mas, gimana apakah kamu udah mulai membaik?" Ketika tangan Anara ingin memegang dahi Oktara dengan cepat laki-laki tersebut menangkisnya hingga membuat tangan terasa sakit dan sedikit meringis. Sebenarnya apa yang dilakukan itu bukan sesuatu yang disengaja juga, Oktara tidak sejahat itu. Tapi mungkin karena refleks dan sangat terkejut maka dia melakukan untuk melindungi dirinya. 


"Tangan kamu kenapa? Aku minta ma'af."


Anara hanya diam saja lalu mengambil minyak kayu putih yang berada di dalam tasnya dan meneteskan ke bagian tangan yang tidak sengaja ditangkis oleh Oktara. Tenaganya sungguh seperti orang yang benar-benar melakukan hal yang ditangkis kepada musuh. 


"Ya udah kalau gitu kita langsung pulang aja ke rumah!" 


Penampilan Oktara sangat fresh banget ketika sudah potong rambut. Dia terlihat muda dan gagah bahkan rapi banget berbeda dengan sebelumnya yang jauh lebih biasa. Anara sebenarnya terpana dan terpesona dan akhir-akhir ini ia merasakan deg-degan banget kalau dekat dengan Oktara tapi ia coba untuk menutupi semua agar tidak ketahuan dan menahan gengsi. Apalagi ketika melihat sebuah pesan dari seseorang dan seseorang itu adalah perempuan yang pastinya akan membuatnya jauh lebih sadar diri kalau pernikahan mereka bukan karena cinta dan rasa kasih sayang. 


"Itu sahabat yang udah tau banget sama kamu dari dulu?" 


"Iya tau banget karena kita udah lama banget kenal dari SD sampai sekarang! Sebelumnya aku udah pernah cerita sama kamu mungkin kamu udah lupa." 


"Ya kali ya saya udah lupa mungkin," menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.