
"Aku boleh nanya sesuatu sama kamu? Perkenalkan namaku Nanda, aku adalah pacar dari Oktara Istrinya yang merupakan Adik kamu."
"Ya sudah kalau gitu silakan duduk, ini serius atau bohongan sih?"
Wajah Nanda langsung berubah menjadi ekspresi yang sangat serius tidak ada ketawa satu sama lain. Ia menjelaskan kalau dirinya adalah pacar dari Oktara yang ditinggal nikah dan bahkan sekarang malah membuat dirinya merasa tersisihkan akibat dari ulah Adiknya tersebut.
"Kok kamu malah ngomong kayak begitu sih? Kalau ngomong itu yang sopan jangan malah ngomong kayak begini? Ya udah ceritain apa sebenarnya maksud kamu ngomong sama aku di sini? Waktu aku tidak terlalu banyak untuk meladeni orang yang tidak aku kenal!" Kedengarannya terkesan sangat sombong banget bahkan membuat perempuan yang ada dihadapan yang sekarang merasa tidak sedikit nyaman.
"Aku ngomong di sini juga nggak bakalan lama kok aku bakalan jelasin sedetail mungkin bahkan bisa bikin kamu tercengang!" sahutnya yang seperti itu sangat lantang banget.
"Apakah kamu yakin kalau misalkan orang yang kamu maksud itu adalah orang yang sama?"
"Aku yakin banget dan aku juga punya buktinya kok supaya kamu percaya sama ucapan aku!" Dengan cepat ia pun mengeluarkan bukti yang ada di ponselnya memperlihatkan beberapa foto yang tersimpan di dalam galeri dengan sangat rapi, ia memilih salah satu foto yang cukup romantis agar bisa dipercayai dengan cepat.
Setelah dilihat memang benar wajah itu benar-benar mirip dan bisa dikatakan itu adalah orang yang sama. "Apakah kalian berdua memiliki hubungan khusus?"
"Iya, kita berdua memiliki hubungan yang khusus. Apakah masih ada hal yang kurang yang bikin kamu tidak percaya atas ucapanku?"
Prima tidak seperti itu dalam waktu singkat, apalagi orang yang ada dihadapannya sekarang bukan orang yang dikenal melainkan orang lain yang seakan-akan menunjukkan bukti kepadanya. "Ya sudah kalau misalkan kamu nggak percaya sama ucapan aku kamu bisa simpan nomor aku sekarang juga. Kamu butuh bantuan aku, aku bakalan bantuin apapun tapi yang jelas dia adalah pacar aku. Dan asal kamu tahu dia adalah perempuan yang ngerebut pacar aku dari aku!"
"Kamu serius kalian sudah berpacaran sebelum dia menikah dengan Adik aku?" Perempuan itu hanya mengangguk saja pertanyaan dari Prima. Karena sampai kapanpun Prima akan terus menyelidiki kalau sudah curiga dengan satu orang yang ia berikan kepercayaan apalagi ini mengenai Adiknya yang sedang hamil.
Setelah itu perempuan yang menghampirinya tadi tiba-tiba langsung saja permisi untuk pergi membiarkannya berfikir sejenak apa yang sebenarnya harus ia lakukan agar tidak ceroboh dan tidak mau melukai Anara yang sedang hamil atau mengandung.
"Gue nggak akan pernah biarin Adik gue disakitin oleh orang lain apalagi sama Suaminya sendiri! Sampai kapanpun gue nggak akan pernah terima!" ucapnya dalam hati mengatakan hal ini langsung.
Sedari kecil mereka berdua sangat dekat banget walaupun ada kata mengekang dalam perjalanan Kakak dan Adik tapi ia selalu menjaga sampai kapanpun walaupun sekarang sudah menikah.
***
Anara terkejut sekali ketika melihat foto Nanda dan juga Oktara berdua dan kenapa malah Mas Prima tahu semuanya dan kenapa apa ada di ponselnya tersebut apa yang sebenarnya terjadi? "Mas dapat dari mana foto ini? Kok tiba-tiba ada sama Mas?" Tiba-tiba saja bibirnya terasa kering bahkan tidak bisa berkata apa-apa ternyata apa yang ia tutup-tutupi akhirnya perlahan-lahan mulai terbongkar.
"Kamu udah tahu nggak foto ini? Kenapa wajah kamu nggak usah tegang apa yang Kakak pikirkan? Apakah ada sesuatu hal yang kamu sembunyikan? Dan apakah setelah kamu tahu ini kamu bakalan melakukan sesuatu setelah kamu melahirkan?"
Pertanyaan macam apa ini? "Kok Mas malah ngomongnya kayak begitu sih seakan-akan memojokkan aku? Aku sama sekali nggak ngerti apa yang dimaksud oleh Mas Prima?"
"Udahlah kamu nggak usah bohong, mana Suami kamu kok belum datang juga?"
Suara ucapan salam yang biasanya terdengar sangat lantang berubah menjadi frekuensi yang cukup rendah melihat kedatangan Mas Prima yang tiba-tiba aja sudah berada di ruang tamu. Prima menepuk-nepuk kursi yang ada di di ruang tamu atau sofa. "Aku pengen ngomong sama kamu serius."
"Jadi dia itu siapa sebenarnya? Coba kamu jelaskan aku sama Anara, jangan ada bohong di antara kita berdua." Rasanya pulang capek dari kerja sekarang malah tambah capek bukannya melega bikin tegang dan bikin kedua matanya tidak bisa berkedip bahkan sedikit agak perih.
Ia menelan salivanya dengan sangat cepat. Mengatur posisi duduk agar lebih terampil dan lebih nyaman, apa yang harus dilakukan agar percaya apalagi ini udah berkaitan langsung dengan Kakak Ipar. "Kenapa kamu diam aja dari tadi ayo jawab buruan?"
"Apakah kalian berdua menutup-nutupi sesuatu dibalik aku?"
"Nggak ada sama sekali Mas, nggak ada sama sekali semuanya itu emang bener-bener kayak begini. Kok Mas Prima dapatin foto begini sih dari siapa apakah ada orang yang sengaja ngirimin?"
"Jadi sebenarnya dia itu adalah selingkuhan aku Mas, kita udah pacaran dari lama bahkan sampai aku sama Anara menikah. Tapi aku langsung sadar dan memutuskan semuanya dan bahkan sekarang aku nggak ada komunikasi lagi sama dia, aku beneran khilaf dengan apa yang aku lakukan selama ini aku menyia-nyiakan perempuan baik."
Seperti orang yang sedang diintimidasi diberikan jejeran pertanyaan yang membuat ia bingung harus menjawab terlebih dahulu pertanyaan yang mana. "Kalau macam-macam sama Anara, Mas nggak akan pernah biarin hubungan kalian berdua bakalan langgeng apalagi kamu menyakiti perasaan dia. Sebagai seorang Kakak, Mas sama sekali nggak pernah menyakiti perasaan dia. Kamu yang baru aja ketemu terus menikah dan sekarang dia udah hamil kamu malah menyakiti perasaan dia di mana sih wujud kamu sebagai seorang laki-laki yang bertanggung jawab? Mas udah percaya sama kamu tapi kenapa kamu marah seperti ini menyakiti perasaan? Kedua orang tua kamu sudah tahu belum kalau kamu pernah melakukan kesalahan apa masih sampai sekarang?"
Merasa takut dan panjang lebar nantinya dengan cepat Oktara pun bersujud memeluk kedua kaki Mas Prima, agar tidak menceritakan kepada siapapun dan ini menjadi rahasia kelam mereka bertiga saja. "Demi Allah Mas, aku udah nggak bareng sama dia lagi kita udah putus lagian juga dia masih ada sampai sekarang. Belum terima dengan keadaan aku nggak mau sama dia lagi aku udah mulai berubah dan bertobat!"
"Buang air mata kamu jauh-jauh, karena sampai kapanpun aku nggak akan pernah percaya sama ucapan kamu doang. Aku bakalan kasih kesempatan kamu buat berubah dan membuktikan semuanya kalau kamu sudah berubah. Kalau sampai kesempatan itu kamu sia-siakan maka sampai kapanpun aku nggak akan pernah ngerestuin hubungan kalian berdua!" Prima cukup marah dengan hal ini menyuruhnya untuk segera berdiri, karena nggak ada gunanya juga buat minta ma'af. Semua sangat sia-sia banget sampai kapanpun.
"Aku janji aku bakalan buktiin dan aku juga janji akan bertanggung jawab atas apa yang aku ucapkan kali ini. Anara kamu percaya 'kan sama aku? Aku udah mulai sayang sama kamu dan sebentar lagi kita bakalan jadi kedua orang tua, dan aku janji bakalan jadi Bapak yang baik buat anak kita berdua."
Anara diapit oleh kedua orang laki-laki yang sangat penting dalam hidupnya selain Papah, tidak bisa berkata apa-apa yang hanya ia lakukan adalah melakukan yang terbaik dan tidak mau salah langkah mengucapkan sesuatu bahkan nantinya bakalan berakibat fatal.
Oktara sudah menyangka cepat atau lambat Mas Prima bakalan tahu kejadian seperti ini. Dan ternyata hari ini adalah bombastis.
Apakah yang terjadi nanti? Apakah mereka berdua bisa menjalani dengan baik dan bahkan bisa mempertahankan rumah tangga mereka berdua?