
Seperti alamat yang sudah diberikan tadi ia pun mencoba untuk menanyakan kepada satpam yang menjaga di depan. "Pak. Apa benar ini rumahnya Pak Oktara? Jadi sebelumnya saya udah pernah ke sini tapi enggak jadi dan hari ini saya udah janjian buat datang ke sini." Jelas-jelas Nanda tidak pernah kesini bahkan ini adalah pertama kalinya supaya satpam yang ada di depan yang menjaga rumah Oktara yakin dan percaya kalau tamu yang datang ini adalah orang yang sudah lama dikenal.
Nanda sengaja ke rumah Oktara dan Anara setelah mendapatkan sebuah alamat dari orang terpercaya. Ia melihat memang benar mobil Oktara terparkir di depan halaman dan ia di tanyakan oleh satpam ia mengatakan sudah membuat jadi sebelumnya dan dipersilahkan untuk masuk ke dalam, pintu terbuka lebar.
Ia melihat Oktara yang berada di ruang televisi ruang tamu. Nanda mengucapkan salam, dengan cepat Oktara terkejut sekali. "Nanda? Kamu ngapain ke sini?" Jantung mana yang gak copot ketika melihat selingkuhan datang ke rumah dan ada Istri sah pula di dalam. Ia mendorongnya untuk keluar dari rumah ini.
"Kamu kenapa? Kok kayak panik begitu sih? Ini rumah siapa?" Nanda menanyakan hal ini langsung.
Oktara yakin kalau Mama yang jadih tau alamat ini. Gak mungkin banget Nanda bisa tau alamat lengkapnya kalau bukan orang yang benar-benar tau.
"Kamu kenapa bohongin aku sih? Kamu kenapa? Kamu kenapa kayak begini sih sayang?" Nanda menatap tajam kedua mata Oktara, berharap Oktara bisa berkata jujur kepadanya.
"Nanti aku jelasin ya, tapi jangan ke sini oke? Kamu pulang aja deh dari sini." Wajahnya benar-benar terlihat sangat pucat.
Anara yang mendengar grasak-grusuk ia pun menaruh makanan di atas meja dapur, ternyata ketika melihat ada seorang perempuan yang tiba-tiba saja berada di samping Oktara. "Mas dia siapa?"
"Oh jadi dia Istri kamu? Beda banget ya sama aku? Ternyata level kamu langsung turun ya?" ucapnya yang mencibir, rupanya ia menilai dari atas sampai bawah kepada Anara. Oktara menyuruh Anara untuk masuk ke dalam kamar karna ini adalah urusannya.
"Kamu harus tau kalau aku adalah pacar dari Oktara, jadi kamu di selingkuhan sama dia. Kamu jangan mau sama cowok yang kayak dia. Dia cuma buat aku, kamu harus tau dia di belakang aku suka antar jemput dan aku selalu di transfer selalu." Semua rahasia langsung dibongkar olehnya yang membuat Anara langsung terdiam dan tak menjawab apapun.
"Mas, Mas pilih dia atau aku? Kalau kamu pilih dia aku harap-----"
"Anara sudah, kamu masuk. Nurut kata Suami ya!" tunjuknya ke arah kamar yang ada di atas. Menyuruh Anara untuk naik ke atas karna ia tak mau semuanya menjadi runyam.
Anata pun menangis dan menaiki anak tangga, ia masuk ke dalam kamar. Suara marah-marah dengan samar masih sangat terdengar.
Perempuan itu, ya perempuan itu yang ia lihat waktu itu adalah selingkuhan Oktara yang dibukakan pintu untuk masuk ke dalam. Sedangkan dia saja yang sudah pasti halal malah begitu saja tak ada perlakuan spesial.
"Mending kamu keluar deh dari sini, aku nanti bisa jelasin ya sayang. Urusan ini panjang banget jadi kamu jangan salah paham dulu. Aku sayang dan cinta sama kamu, tapi kamu jangan bikin onar dulu ya?" suara lembut yang mampu meredakan dan meluluhka nada suara Nanda yang memuncak.
Nanda menaikkan tangan kelingking sebelah tangan agar Oktara berjanji untuk bisa mau menjalani hubungan. "Iya sayang, mending kamu pulang dulu ya. Ya udah kalau gitu kamu pulang dulu. Oke?" Dengan berat hati Nanda pun memutuskan untuk pulang ke rumah tanpa menanyakan kembali apa yang terjadi, yang jelas saja semua baik-baik saja.
Setelah menutup pintu rumah, Oktara teringat Anara yang ada di dalam kamar. Ia cepat menghampirinya, melihat Anara berada di depan jendela dengan gorden yang menjuntai panjang. "Anara," ucapnya yang membuat Anara membalik badan.
"Iya?"
"Kamu sudah tau 'kan siapa perempuan tadi itu?"
"Hem. Aku ya kok. Bahkan aku sudah tau dari beberapa hari yang lalu. Jangan bahas dia lagi Mas. Aku sudah tau sekali. Sudah kamu fokus saja dengan dia, hubungan kita hanya sekedar status doang gak usah perdulikan aku. Aku gak kenapa-napa kok." Agak sedikit berat mengatakan hal ini dan berusaha setegar ini, tapi harus diingat kalau Oktara tak sejahat itu menyakiti perasaan seorang perempuan.
Anara berdecak pelan. "Sudahlah Mas, aku nggak kenapa-napa kok semuanya bakalan baik-baik aja. Aku udah pasrah sama semuanya."
"Kamu kenapa malah ngomong kayak begitu? Jadi dia itu emang selingkuhan saya yang seperti saya jelaskan waktu itu sama kamu. Saya sudah pernah bilang sebelumnya kalau saya itu tidak mencintai kamu bahkan rasa sayang pun tidak ada di dalam diri saya."
"Iya maka dari itu aku ngomong kayak begitu makanya aku enggak terlalu sakit hati bikin kaget." Anara mengangguk paham.
Anara memasukkan barang-barang di dalam koper mungkin saatnya untuk healing sejenak pergi ke rumah orang tua. "Kamu mau ke mana? Kok kamu malah packing baju kayak begitu?"
"Aku pengen nginep di rumah Mama dulu dalam beberapa hari ke depan." Oktara merasa panik ia takut kalau semuanya bakalan panjang dan semakin runyam cuma gara-gara masalah sepele seperti ini doang. Ia berusaha untuk mencegahnya dengan mengeluarkan barang-barang yang sudah dimasukkan ke dalam koper.
"Sudah Mas aku nggak bakalan cerita ke siapapun kok. Aku cuma pengen menginap di sana doang cuma sekedar itu dan aku juga nggak bakalan ceritain kejadian yang terjadi dalam rumah tangga kita berdua."
"Tapi kenapa kamu tiba-tiba mendadak pergi begitu saja dari rumah? Ketika kamu ngeliat Nanda datang ke sini itu tandanya kamu cemburu 'kan?"
Anara hanya tersenyum saja lalu melanjutkan kembali hingga bagian terakhir ia masukkan dan dia resleting. "Tenang saja Mas aku bakalan kembali ke sini kok." Ia mencium tangan Oktara dengan sangat gemetar banget menuruni anak tangga yang diikuti oleh Oktara dari belakang.
"Ya sudah kalau gitu saya anterin dulu ya. Saya harap kamu jangan menolak. Karena sudah tugas aja sebagai kepala rumah tangga." Anata hanya mengangguk lalu membawa koper ke bagian teras dan memasukkan ke dalam mobil yang dibantu oleh satpam.
"Saya permisi dulu ya Pak," ucapnya dengan mengucapkan salam lalu masuk ke dalam mobil. Asisten rumah tangga dan satpam hanya bisa saling tatap satu sama lain tidak berani untuk mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Oktara pun masuk ke dalam mobil lalu memundurkan mobilnya untuk keluar dari rumah mengantarkannya ke rumah mertuanya.
Selama berada di dalam mobil tidak ada sama sekali obrolan yang sangat serius bahkan mereka diam-diaman seperti patung. Anara melihat ke arah jendela sebelah kiri seakan pohon-pohon sedang berjalan padahal itu hanya sekedar efek dari mobil yang sedang berjalan.
Ketika sudah sampai di depan rumah Oktara memegang lengannya hingga terhenti untuk masuk ke dalam rumah. "Kalau ada kabar kamu kasih tahu saya, saya harap kamu jangan cerita kepada siapapun karena semuanya bakalan runyam dan bakalan bingung."
"Ya sudah kalau gitu saya langsung pulang aja ya, kamu hati-hati di sini."
"Ya Mas aku masuk dulu ya ke dalam assalamu'alaikum." Oktara mengangguk ketika antara sudah salim dan turun dari mobil masuk ke dalam rumah yang disambut oleh kedua orang tuanya.
Ia sangat yakin banget pasti banyak pertanyaan yang ada di benak di rumah orang tuanya Anara. Ia berharap agar bisa amanah seperti apa yang dijanjikan dari tadi.
-----
Kira-kira apa yang bakalan terjadi? Dan apakah ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Anara?