Anara & Oktara

Anara & Oktara
23. Begian Awal



Sudah lewat sekitar 1 jam-an Oktara tidak datang juga. Dengan cepat Nanda menghubunginya untuk segera dijemput dan diantar pulang ke rumah kamu biasanya setiap hari selalu begitu antar jemput. "Ish kok lama banget sih datangnya udah 1 jam nih gue nunggu. Jadi orang nyebelin banget sih." 


Ketika ia menelepon tiba-tiba saja, nomor yang dituju langsung dengan cepat mematikan. Nanda merasa kesal banget kenapa bisa bersikap seperti ini. 


Kamu tidak mau berlama-lama menunggu akhirnya ia memanggil atau menelpon sopir yang sering antarin ke mana-mana dan sebentar lagi akan dijemput oleh sopirnya yang ada di rumah. 


Selama di perjalanan ketika sudah masuk ke dalam mobil Nanda selalu aja ngomong-ngomong nggak jelas bahkan meminta kejelasan kenapa Oktara belum datang juga untuk menjemputnya. 


Ia masuk ke dalam rumah dengan sangat kesal banget, melempar sembarangan pasti akan akan dan merebahkan kepalanya tanpa mencuci kaki dan tangan terlebih dahulu ke dalam kamar mandi. "Apa jangan-jangan Oktara berubah pikiran buat dekat sama gue lagi? Dan apakah Anara cerita kalau gue hamil dari anaknya Anara? Kenapa gue bodoh banget sih ngomong kayak begitu langsung nggak mikir dulu kepanjangannya kayak gimana!" Ia merasa kesal. 


***


Oktara mengajak Anara untuk jalan-jalan bareng ke mall. Rasanya beda banget seperti sebelumnya yang jauh lebih cuek dan jauh lebih berani jaga jarak. Tapi sekarang mereka berdua berusaha untuk mendekatkan diri karena mereka adalah pasangan bukan hanya sekedar teman asing doang yang sekedar tahu satu sama lain. 


Oktara menarikan bangku kosong yang ada di sampingnya dan mempersilahkan Anara untuk duduk. Ia memanggil pelayan untuk memesan menu makanan. Anara benar-benar dibuat seperti princess perlakuannya dan malah membuat perempuan itu merasa bingung dan canggung atas apa yang dilakukan oleh Oktara. 


"Kamu jangan terlalu berlebihan kayak begini dong aku kan jadi bingung dan takut melihatnya?" 


Oktara hanya termenung tapi dengan garis senyum yang sangat jelas, dengan suara yang sangat lembut yang tidak pernah didengar sebelumnya kini mulai terdengar dan perlahan-lahan mulai harus terbiasa. "Udah deh kamu jangan banyak nanya, aku lagi berusaha untuk mencintai kamu dan aku juga berusaha untuk bisa memposisikan diri sebagai pasangan kamu. Jadi aku harap kamu jangan terlalu berpikir hal yang tidak-tidak sama aku." 


Ketika ingin menjawab menu yang mereka sudah pesan tadi datang dan ditaruh di atas meja. Sebelum ia mengambil dengan cepat c


Oktara mengambilkan terlebih dahulu minuman yang sedikit agak jauh dari jangkauan Anara. "Aku bisa minum sendiri kok," angguknya dengan menunduk sangat pelan. 


"Kenapa ya aku merasa canggung banget hari ini jalan bareng sama kamu. Aku tuh masih bingung sama karakteristik kamu yang kadang beda banget, sebenarnya siapa sih yang mempengaruhi pikiran kamu jadi berubah tiba-tiba kayak begini?" 


Oktara tidak mau menceritakan siapa yang mempengaruhi otaknya hingga bisa bersikap seperti ini. 


Cukup ini menjadi bagian rahasia seorang laki-laki. "Ya udah kalau gitu nikmati aja makannya enggak usah banyak ngomong deh. Kenapa sih kamu tuh akhir-akhir ini cerewet banget jadi orang?"


"Aku sama sekali nggak cerewet aku tuh cuma bingung aja sama sikap kamu yang kayak begini," jawabnya yang memasukkan makanan ke dalam mulut dengan cepat lalu mengunyah. 


"Ya udah kalau gitu tapi jangan terlalu kencang aku ngerasa sakit." 


"Astaga, aku terlalu bersemangat ma'afin aku ya." 


Banyak sekali pengunjung lain yang datang ke dalam mall ini. 


Tiba-tiba saja sebuah tamparan melesat di pipi Anara, sangat jelas banget Nanda menampakkan bahkan dia tidak peduli dilihat oleh banyak orang karena saking emosi dan saking marahnya banget. Gara-gara perempuan yang ada dihadapannya saat ini membuatnya tidak bisa kembali bersama Oktara. 


Oktari merasa malu banget dan menarik tangan Nanda untuk berbicara empat mata. "Kamu itu apaan sih kok tiba-tiba aja nampar dia? Anara itu nggak salah apa-apa kenapa kamu tega banget sih nampar kayak begitu?" 


Nando malah tertawa dan memegang kedua bahu atau pundak Oktara. Ia mengatakan sudah berhasil untuk mempengaruhi pikiran Anara, seseorang yang sedang duduk di sebelah sana memperhatikan mereka berdua yang sedang asyik mengobrol. Dengan cepat kok cara menurunkan tangan yang memegang pundaknya dengan kasar. 


"Aku harap kamu enggak usah lagi deket-deket sama aku dan aku akan bakalan blokir nomor kamu di HP aku sekarang juga!" Ketika Oktara ingin menghapus nomornya tiba-tiba saja dengan cepat Nanda merampas dan menjatuhkan ke lantai sehingga membuat ponselnya langsung saja mati. 


"Kamu kenapa sih berubah banget sekarang aku nggak suka tahu nggak sih?" Nanda kata cam emosi banget dan membuat kedua matanya tiba-tiba saja merah memaki-maki Oktara karena sudah berubah banget. 


Lantas membuat Anara langsung mendekat. "Kalian kenapa sih pada berantem segala?" Ketika sebuah tamparan kembali ingin mendarat di pipinya dengan cepat Oktara menahan dan menangkis serangan tersebut yang tidak pantas untuk menampar untuk kedua kalinya. "Aku sama sekali nggak suka yang namanya perempuan kasar, masih banyak cowok di luaran sana yang jauh lebih baik dan jauh masih bisa single dan bareng sama orang!" Ia menarik tangan Anara untuk pergi meninggalkan Nanda sendirian. 


Tak hanya dari situ saja Nanda tetap mempertahankan. Ia pun dengan cepat menarik baju bagian belakang dari Oktara hingga membuat laki-laki itu tersungkur ke belakang untung tidak jatuh ke bawah. Genggaman tadi berubah langsung terlepas. "Kalian jangan harap hidup bahagia! Sampai kapanpun anak ini tetap anak kamu!" 


"Hei, kamu jangan halu deh saja kapan kamu hamil dan sejak kapan aku hamilin kamu? Sadar diri dong kamu tuh jangan keterlaluan, mulai detik ini aku nggak akan pernah hubungin kamu lagi dan aku akan membina rumah tangga aku dengan baik aku pengen berubah. Jadi jangan harap kamu bisa ngedapetin aku lagi, udah deh mending pergi dari sini daripada harga diri kamu jatuh karena diri kamu sendiri itu!" 


Oktara tak peduli suara teriakan dari belakang yang marah-marah enggak jelas. "Udahlah kamu jangan dengerin apa yang dia bilang." Allah maha membolak-balikkan perasaan yang nggak bisa dirubah oleh siapapun terkecualinya. Sebagai manusia harus bisa berusaha dan berdo'a agar apapun yang kita dapat bisa menjadi berkah dan sesuai dengan ekspektasi kita. 


Walaupun mungkin adalah ini bagian dari awal tapi ia yakin suatu saat nanti bisa menjadi keluarga yang sangat bahagia banget dalam hidup. Wajah Oktara yang sangat menegangkan kini berubah menjadi lebih biasa. Mereka melanjutkan kembali untuk jalan-jalan. "Aku memang bukan laki-laki yang sempurna tapi aku berusaha untuk menyempurnakan sesuatu yang tidak sempurna itu," tatapan itu tatapan yang paling tajam selama mereka menikah.