
Akhirnya pernikahan pun telah terselenggara hari ini. Ditambah akad nikah tadi pagi yang berjalan dengan lancar dan membuat keharuan di antara orang-orang yang datang ke acara mereka berdua.
Enggak nyangka banget mereka sudah sampai ke titik ini bahkan mereka sudah resmi sebagai sepasang pasangan.
Dan mereka sangat bahagia banget sampai meneteskan air mata dan air mata yang keluar adalah air mata yang bahagia banget pastinya. Kini tanggung jawab mereka sudah menjadi tanggung jawab bersama tidak bisa dikatakan tanggung jawab yang sendiri-sendiri.
Tiba-tiba saja kepala Anara terasa pusing dan sedikit merasa lemas karena banyak banget tamu undangan yang datang ke acara adik iparnya.
Ia berusaha untuk melipir sejenak untuk bisa merilekskan dan kembali nanti ketika sudah biasa.
Namun ketika tiba-tiba saja ia melangkah ke suatu tempat ada orang yang sengaja membengkapnya dan membawanya pergi lalu masukkan ke dalam mobil. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi situasi seakan menjadi gelap dan tidak terasa apapun.
Mobil itu melaju pergi tanpa ada aba-aba dan meninggalkan tempat acara yang sungguh ramai.
Ia sangat bahagia banget ketika sudah bersama Anara di dalam mobil walaupun keadaannya belum sadar sama sekali karena ia sengaja melakukan in, karena tidak mau perempuannya ia suka diambil oleh orang lain ya walaupun memang apa yang ia lakukan ini adalah salah.
Sampailah di suatu tempat yang dituju sebuah rumah kosong yang sepi akan penduduk. Ia membawa antara untuk masuk ke dalam lalu mengikat kedua tangannya di belakang sebelum terbangun maka iya nantinya bakalan berontak. "Ya sudah kalau gitu kalian harus jaga dia jangan sampai dia kabur dari rumah ini!" Ia pun memberikan amanat kepada mereka berdua untuk bisa menjaga sampai perempuan yang ia ini tidak pergi dan tidak ke mana pun.
"Baik Bos, kita berdua bakalan menjaga perempuan ini dan kami pastikan dia enggak akan pernah pergi dari tempat ini." Ia pun mengangguk lalu memutuskan untuk pergi. Karena sebenarnya ada keperluan yang tidak bisa dicegah dan mereka akan menjaganya selama ia pergi meninggalkan Anara.
Setelah pergi tiba-tiba saja salah satu penjaga merasa perutnya keroncongan mereka pun memutuskan untuk makan di depan terlebih dahulu, tapi sebelumnya ia melihat ternyata perempuan itu masih tertidur dan belum siuman.
Selang dari 15 menit kemudian tiba-tiba aja kepala Anara terasa pusing ia melihat keadaan sekitar ternyata sudah berbeda ketika ia berdiri tadi di kondangan dari adik iparnya tersebut.
Ia sudah melihat kedua tangannya diikat di belakang dan tidak bisa bergerak sedikitpun dan kedua kaki pun juga seperti itu. "Kenapa aku bisa ada di sini ya? Kenapa aku tiba-tiba jadi ikat tangan dan kaki aku? Kenapa situasinya beda banget apakah aku hanya sekedar bermimpi?" Melihat pintu yang ada dihadapannya terkunci dengan rapat begitupun dengan jendela-jendela.
Ia berusaha untuk berteriak, tapi tidak ada yang mendengar sedikitpun karena di samping samping rumah tersebut terlihat rerumputan yang begitu sangat tinggi. Ia merasa panik kenapa tiba-tiba berada di sini dan kenapa tiba-tiba ia baru sadar dan kedua tangannya sudah diikat.
Mencoba untuk melepaskan tapi tidak bisa karena ikatan tersebut sangat sungguh keras.
Suara langkah kaki terdengar dari luar dan membuka pintu ketika ia sudah tersadar. Melihat ada seorang laki-laki yang berbadan tegap dan tinggi dan yang satunya jauh lebih pendek tetapi juga tegap. Mereka berdua malah tersenyum lalu mendekat dan sedikit berbisik yang membuat ia merasa merinding. Mereka mengatakan tujuan mereka ke sini adalah untuk menyekapnya atas suruhan Bos.
Tapi nggak bisa sama sekali karena geraknya yang lebih minim dan tidak bisa melakukan apapun. Tiba-tiba saja kedua air matanya menetes begitu deras dan merasa ketakutan. Siapa yang berani dan setega ini melakukan?
"Kamu jangan teriak-teriak nggak jelas dan jangan menangis. Kita nggak akan pernah lupain dan menyentuh badan kamu kalau kamu mau nurut sama kita!" perintahnya yang semakin membuatnya merasa ketakutan.
***
Oktara merasa panik banget ketika Anara tak berada di tempat. Ia menanyakan kepada seluruh anggota keluarganya yang berada di tempat tapi mereka tidak ada satupun yang mengatakan mereka tidak melihatnya.
Oktara mencoba untuk menghubungi dan melipir ke pinggiran acara agar tidak membuat orang-orang yang di sekitar merasa panik.
Panggilan yang pertama berdering namun setelah panggilan kedua dan setelahnya tidak ada sedikitpun jawaban bahkan ponselnya mati tiba-tiba aja membuatnya semakin panik dan ketakutan apa yang sebenarnya terjadi.
Ia sudah mondar-mandir ke kanan maupun kiri mendapatkan teka-teki yang seakan tiba-tiba saja terlaksana. "Kamu kenapa kok kelihatannya kaya panik banget begitu ayo ceritakan?" Mama yang tiba-tiba saja menghampiri Oktara yang terlihat sangat panik dari kejauhan lalu ketika ditanyakan. Membuatnya langsung tercengang dan memegang dadanya yang tiba-tiba saja terasa sakit dan sengak.
"Tapi Mama jangan cerita sama siapa-siapa ya mungkin aja dia ketemu sama temennya nggak ngomong dulu sama aku jadi ya udah aku bakalan cari sekarang juga tapi jangan cerita ke siapapun ya Mah."
"Sebenarnya kamu tuh di mana sih Anara, kenapa kamu bisa bikin aku panik kayak begini?" batinnya dalam hati.
Sebenarnya dalam hati ingin melaporkan kepada polisi tapi ini bukan sesuatu yang harus dilaporkan dan bahkan ini belum satu kali 24 jam. Jadi belum bisa melaporkan perihal ini ke kantor polisi dan panjang banget nanti.
Di acara yang sangat bahagia ini membuat situasi semakin runyam dan menegang. Oktara terpaksa berfoto bersama bersama adiknya adik iparnya tanpa ada Anara yang ikut di sampingnya berfoto mengabadikan yang tidak pernah akan terjadi lagi seumur hidup.
Kelihatan sekali senyum itu bukan senyum yang bahagia melainkan senyum itu adalah senyum yang sangat terpaksa dan khawatir banget. Setelah berfoto Tiara merasa aneh kenapa tiba-tiba saja Oktara berubah menjadi sedikit agak bingung dan merasa ketakutan dari raut wajahnya. "Anara nggak ada di tempat ini? Aku harap kamu jangan cerita ke siapapun ya."
"Ya udah kalau gitu, Kakak cari dulu aja ya kalau kenapa-napa nanti cerita aja sama yang lain," bisik Tiara yang tidak akan pernah mungkin meninggalkan tempat acaranya cuma gara-gara tidak melihat Anara di tempat resepsi pernikahan ini yang sungguh sangat megah dan tamu undangan pun berdatangan hadir silih berganti. Bahkan mereka saling mengabadikan di foto mereka dan tidak ketinggalan untuk meng-update di instagram atau di media sosial.
Oktara mengirimkan sebuah pesan singkat tapi ternyata hanya centang abu-abu satu. Rasa takut itu semakin menggebu dan ketakutan.