
"Ayo buruan masuk kamu ngapain lagi di situ!" Paksaan keras dari Prima kepada Anara yang tak mau untuk ikut ke rumahnya sendiri bersama Oktara. Ia terus saja memaksanya.
"Aku males ah, ngapain sih kita pakai ke sana segala? Kita cuma berdua aja Mas Prima?" Anara merasa takut kalau terjadi apa-apa.
"Kamu kenapa sih banyak mikir banget emang kalian berdua ada masalah? Kalau misalkan kalau nggak ada masalah ya udah santai aja kenapa kamu malah berpikir kayak begitu?"
Anara khawatir Prima bakalan macam-macam nanti di sana nanyanya. "Ya udah buruan masuk ke dalam mobil."
Prima sengaja ke rumah Oktara diam-diam bersama Anara, padahal ia menolak dan tak mau kalah Prima datang ke rumahnya karna ia yakin banget Oktara bakalan lepas jantung karna melihat raut wajah Prima yang sangat menegang tanpa senyum sama sekali.
Ia mengucapkan salam terlebih dahulu dan dibukakan langsung oleh Oktara yang duduk di ruang tamu memainkan ponselnya. Ia terkejut sekali ketika kedatangan Prima dan Anara.
Mempersilahkan masuk ke dalam untuk duduk di ruang tamu, ia menelan salivanya dengan menatap wajah Anara seperti itu. "Hallo Mas Prima apa kabar?"
"Iya baik, kamu gimana? Apa kabar?" Menyilangkan kedua kakinya di bawah. Foto pernikahan mereka berdua terpajang di ruang tamu. Sangat romantis dan mereka masih kurus di foto tersebut.
"Baik juga mas, tumben ke sini sama Anara kenapa ya?" Dibuat Dag Dig Dug. Prima memiliki aura yang berwibawa dan membuat orang-orang yang siapapun yang ngomong sama dia pasti deg-degan dengan wajahnya yang sedikit agak serius tidak ada senyum sama sekali.
"Gak papa sih, aku pengen ketemu sama kamu aja. Gak boleh?" Bahkan tatapannya saja membuat orang lain tertunduk lunglai.
"Oh tentu saja boleh dong, boleh sekali gak papa kok. Silakan saja. Oh iya kalau gitu tunggu sebentar ya, aku bikinin minum dulu di dapur." Tanpa menyuruh Mbak yang ada di dapur ia ingin melamakan diri karna deg-degan banget. Ia mengirimkan sebuah pesan untuk Anara kenapa bisa ada Prima datang ke rumahnya dan kenapa gak bilang terlebih dahulu.
Rupanya Prima sudah mengetahui kalau yang mengirimka pesan itu adalah Oktara, ia menyuruhnya untuk tidak membalasnya. "Sudah jangan dibalas. Kamu tunggu saja di sini," suruhnya. Anara takut kalau Mas Prima menanyakan hal yang tidak-tidak.
Oktara menaruh minuman di atas meja tapi anehnya hanya satu gelas saja, sedangkan ada dua tamu yang datang ke rumah. "Loh kenapa cuma buat Mas saja? Buat Anara mana?" liriknya ke arah tamu yang ada di sampingnya.
"Gak usah kok Mas, aku gak suka minuman yang manis kok." Ia membela Oktara agar tak salah sangka.
"Mas mau tanya sama kalian berdua, apakah kalian tidak ada perselisihan dan salah paham di antara kalian berdua?"
Pertanyaan yang bikin skakmat. Tak bisa di jawab dan tak bisa membuat mereka berdua seketika berpikir cepat. "Gak ada apa-apa kok Mas, kita berdua baik-baik saja kok. Mas kenapa malah nanyain hal ini sama kita berdua sih?"
"Iya Mas, kita baik-baik aja kok. Gak ada masalah. Emangnya Anara bilang apa sama Mas Prima?"
"Enggak kok, aku gak ngomong apa-apa, Mas Prima kenapa sih kok curigaan banget."
"Tidak mungkin kamu keluar dari rumah hanya dengan alasan menginap di rumah Mama dan alasannya cuma kangen doang, pasti kalian berantem dan masalah yang besar bukan?" Prima tidak mau kalau Anara mendapatkan rasa sakit hati karna dia adalah adik semata wayang yang harus benar-benar dijaga.
"Aku harap hubungan kalian tetap langgeng ya jangan ada pengkhianatan di antara kalian berdua, aku cuma pengen kalian bisa jadi keluarga yang bahagia."
"Iya Kak, kita akan mengusahakan apalagi kita sebentar bakalan ada program hamil gitu jadi do'akan saja semoga Anara bisa hamil ya Kak. Soalnya kita sudah pengen punya momongan." Kebohongan apa lagi yang diciptakan Oleh Oktara? Dan kenapa malah memperbanyak masalah yang terjadi dalam hidup? Hingga orang lain percaya begitu saja?
"Benar? Benar kalian ingin memiliki momongan? Kalau gitu bagus dong, bagus banget kalau kalian ingin memiliki momongan."
"Pokoknya kalian harus berbahagia terus ya sampai kapanpun maut memisahkan."
Setelah obrolan panjang lebar Anara mengajak Prima untuk pulang ke rumah Mama. "Ya udah kalau gitu kita pamit dulu ya," tepuk Prima di bahu Oktara. Namun ia terkejut ketika Anara malah memilih untuk pulang bersama Prima bukan malah tinggal di sini.
"Kenapa malah ikut sama Mas Prima? Bukannya kalian satu rumah di sini?"
"Aku nanti aja pulang ke rumah, soalnya koper-koper aku ada di rumah Mama. Nggak papa kan kalau misalkan aku ikut sama Mas Prima?"
"Ya udah kalau gitu boleh. Eh tapi kamu harus izin dulu sama suami kamu. Karna seorang perempuan itu harus seizin Suaminya dulu."
"Ya udah kalau gitu aku pamit ke rumah Mama dulu ya Mas. Assalamu'alaikum." Mencium tangan Oktara dan mereka masuk ke dalam mobil ketika sudah diantar.
"Kamu kenapa sih nggak tinggal aja sama Suami kamu di sini?"
"Mungkin besok atau lusa aku bakalan pulang. Aku pengen di rumah aja sama Mama dan Papah. Masa nggak boleh sih menginap, Mas malam ini nginep di rumah Mama Papah nggak?"
"Habis pulang dari rumah Mas langsung pulang aja ke rumah juga. Jadi nggak menginap tadi malam doang. Beneran nih kamu nggak mau nginep di rumah Suami kamu hari ini?"
"Tenang aja nggak usah khawatir bakalan pulang juga aku nanti."
Oktara mengirimkan sebuah pesan teks. Mengucapkan terima kasih atas semuanya karena sudah merahasiakan ini dengan baik.
Anara
"Iya sama-sama. Aku akan konsekuensi sesuai dengan apa yang aku ucapkan. Jadi kamu jangan khawatir, dan aku juga nggak mau keluargaku tahu kalau kita berdua ada masalah. Tenang aja aku bakalan pulang juga kok ke rumah."
Tulisnya dengan panjang lebar mengirimkan sebuah pesan. Lalu mematikan layar ponselnya dengan cepat.
Oktara masuk ke dalam kamar merebahkan kepalanya ke tempat tidur lalu menyilangkan kedua kaki. Kedua matanya melihat ke arah langit-langit kamar. Biasanya di samping ada Anara yang mereka nggak satu tempat tidur ini ia malah sendirian.
"Kenapa sih gue deg-degan banget pas tau Anara ada di sini? Dan kenapa gue kepikiran untuk bisa terus bareng sama dia? Padahal gue gak ada rasa sama sekali? Tatapan Anara tadi beda banget sumpah. Kayak gak perduli sama gue," gerutunya dalam hati.
Ia mencoba untuk memejamkan kedua matanya, untuk tidur pertama kalinya setelah menikah di dalam kamar.
Nanda malah meneleponnya kembali. "Ngapain sih dia malah nelepon gue?"
"Iya hallo, kenapa sayang? Kok tiba-tiba saja kamu nelepon aku sih?" Oktara malah kena omel Nanda yang sering hampir tiap malah teleponan di tempat lain.
"Kenapa kamu malah marah gak jelas?" Oktara dapat menilai kalau Anara jauh lebih baik ketimbang dari Nanda. Lebih santai dan gak mudah marah-marah gak jelas. Setelah semuanya terjadi sifat Nanda malah santai dan berubah-ubah gak jelas. Sebenarnya ada apa sih? Kenapa malah kayak begitu?
"Ah ini orang makin lama makin gue marah aja!" batinnya dalam hati.