
Akhirnya setelah beberapa hari di rumah sakit mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah setelah diizinkan oleh dokter. Oktara mempersilahkan untuk duduk di ruang tamu tanpa menyuruhnya agar tidak terlalu bergerak sama sekali. "Aku bener-bener nggak kenapa-napa kok, kamu kenapa sih jadi orang itu posesif banget?"
"Kamu sebenarnya kenapa sih kok malah ngomong kayak begitu inikan adalah hal yang wajar aja? Udah deh mendingan kamu diam aja jangan terlalu kenapa-napa juga, aku nggak kenapa-napa kok aku ngelakuin ini ikhlas ya karena aku pengen ngeliat kalian berdua itu cepet sehat lagi maksud aku adalah kamu jangan terlalu capek kamu 'kan habis saja melahirkan, apalagi dalam beberapa waktu ke depan kamu bakalan ASI eksklusif. Jadi kamu nggak perlu capek-capek aku yang bakalan ngelayanin apa yang kamu mau."
Anara malah geleng-geleng kepala melihat sikap Oktara yang seperti itu, walaupun mungkin ini adalah pengalaman pertama mereka tapi sebagai Suami siaga dan apapun melakukan dia selalu bahagia banget.
Asisten juga membantu apa saja yang diperlukan oleh Anara. "Ternyata Pak Oktara terlalu posesif banget ya sama Ibu, kelihatan banget sepertinya sayang banget apalagi ketika udah melahirkan. Aura seorang Ayahnya tuh benar-benar terpancar kayak begitu." Bahkan asisten rumah tangga pun merasakan hal yang sama ternyata perubahan itu benar-benar terjadi.
Karena masih dalam masa pemulihan ia pun merebahkan bayinya yang ada di samping lalu ia memejamkan kedua matanya karena terlelap banget mengantuk. Mungkin tidak terlalu banyak pengalaman yang terjadi dalam hidup tapi memiliki seorang anak dan juga menjadi seorang Ibu itu adalah pilihan dan sudah menjadi takdirnya. "Ya ampun sayang ternyata kamu kamu cantik banget sih, pokoknya Mama selalu do'ain supaya kamu selalu sehat dan juga nantinya jadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua."
Sementara itu di ruang tamu Oktara memberitahu kedua orang tuanya kalau misalkan mereka sudah pulang dari rumah sakit. Karena waktu itu mereka memutuskan untuk pulang ke rumah karena Oktara yang menyuruh mereka ia juga merasa tidak enak karena tinggi di rumah sakit beda banget ketika tidur di rumah. "Sekarang udah ada di dalam kamar si mungkin mereka lagi tidur atau ASI. Mama dan Papah istirahat aja di rumah, kalian kan udah ngebantu kami cukup lumayan beberapa hari ini jadi mending kalian tidur aja dulu istirahat biar lebih sehat lagi ke depannya nanti kita bakalan ketemu lagi deh kasih kabar-kabaran aja."
Ia membuka foto-foto yang berada di dalam galeri banyak banget puluhan foto yang ia sengaja ambil ketika berada di rumah sakit, karena momen langka yang seperti ini sangat jarang banget dan nggak akan pernah terulang kembali di kemudian hari karena anak yang sudah lahir di rumah sakit nggak akan pernah lagi yang namanya mengecil pasti enak itu akan tumbuh besar nantinya jadi momen tersebut akan diabadikan di dalam kamera ponselnya.
"Ya ampun ternyata kamu lucu banget sih kalau dilihat-lihat, mirip banget sama Mama kamu. Semoga kamu jadi anak yang berbakti sama orang tua. Papah bangga banget sama kalian yang sampai kapanpun enggak akan pernah kehilangan," senyumnya sangat terlihat garis yang cukup melebar benar-benar tulus banget dari hati.
***
"Loh Papah dan Mama mau pergi ke mana, kok kayaknya rapi banget sih?"
Prima sama sekali enggak tahu kalau adiknya sudah melahirkan karena nggak ada kabar bahkan status di wa pun nggak diaktifkan atau ditaruh di sana. "Emangnya kamu nggak tahu kalau Anara sudah melahirkan dan anaknya seorang perempuan." Dengan polosnya p
Prima hanya bisa menggeleng sedikit merasa kecewa karena nggak dianggap sebagai seorang kakak tertua. Tapi sebagai Kakak pertama atau Kakak tertua ia tidak boleh merasa tersinggung karena mungkin aja nggak kepikir untuk memberitahu kalau iya sudah melahirkan dan sudah pulang ke rumah.
"Ya udah deh kalau gitu aku ikut ya buat ngejenguk. Tapi Mama dan Papah duluan aja deh aku pengen beli sesuatu dulu." Dengan cepat ia masuk ke dalam mobil lalu mencari hadiah atau kado buat si kecil yang bakalan mendapatkan kado dari uncle atau pamannya.
Prima pun digiring untuk memilih barang-barang yang cocok untuk anak yang baru saja lahir perempuan. "Terima kasih banyak ya Mbak kalau gitu saya pilih-pilih dulu barangnya." Pelayan toko tersebut melayani pelayanan yang lainnya juga merasa kebingungan. Karena bukan hanya sekedar dari pasangan yang baru saja melahirkan seorang anak laki-laki atau perempuan tapi bisa jadi juga pasangan yang belum menikah untuk memberikan kado dari seseorang yang pengen mereka kasih.
Ia melirik ke arah jam tangan yang melingkar sekitar 20 menitan ya sudah berada di sini tapi belum satupun benda ia bawa ke kasir. "Kayaknya ini aja deh ya udah deh gue bawa aja!"
Setelah ia memegang kantong plastik yang sudah berisi kado yang isinya adalah hadiah dengan cepat ia langsung ke rumah Oktara dan Anara, Mama dan Papah sudah sampai di sana.
"Ya ampun cantik banget sih cucu Nenek." Masih sangat merah banget karena baru aja keluar dari rumah sakit. Terdengar dari luar suara klakson mobil Oktara pun melihat dan ternyata prima sudah membawa 1 kantong plastik kado.
"Silakan masuk Mas, Mama dan Papah udah datang duluan." Sebelumnya Anara meminta ma'af terlebih dahulu dikarenakan lupa memberitahu karena buru-buru banget pulang ke rumah dan juga waktu melahirkan waktu itu lupa kasih tahu karena ponselnya ketinggalan di rumah karena keadaan mendesak sekali.
"Iya-iya enggak masalah kok nggak kenapa-napa." Oktara menuju ke arah dapur untuk dibuatkan satu gelas minum lagi untuk tamu yang baru saja datang.
"Udah nggak usah repot-repot kok santai aja bukan tamu yang kayak gimana-gimana juga."
Kalau melihat wajah Oktara pikiran Prima langsung ke arah foto tersebut yang masih ia simpan yang diberikan oleh seorang perempuan yang bernama Nanda. Tapi tak mungkin ia merusaknya kali ini untuk menanyakan ke sekian kalinya. Karena kebahagiaan seorang adik juga sangatlah penting tidak melulu tentang keegoisan dan tidak melulu tentang masa lalu yang harus dituntaskan.
Sangat jelas dipikirannya beberapa hari yang lalu ia bertemu dengan seorang perempuan yang bernama Nanda, bahkan percekcokan yang terjadi waktu itu malah membuatnya semakin yakin kalau hubungan mereka masih belum tuntas dan masih ada hal yang sangat disembunyikan tapi masih tertutup rapat oleh Oktara.
"Mas, silakan diminum kayaknya harus banget deh sampai bingung kayak begitu. Coba lihat deh Om Prima kayaknya tegang banget kayak begitu kenapa nggak diajak istrinya ke sini?"
"Sebenarnya tadi itu nggak ada niatan juga buat ke sini beli kadonya juga sangat buru-buru banget sama kamu nggak kasih tahu, nanti deh Mas bawa dia ke sini sama si kecil juga."