Anara & Oktara

Anara & Oktara
39. Puncak Cerita



"Mas Prima cuma pengen nanya doang sama kamu Oktara sesuatu hal yang penting. Tapi Mas harap kamu bisa jawab semuanya. Anara kamu siapkan ngedengerin apa yang sebenarnya terjadi?" 


Deg! 


Sebenarnya Anara sudah diceritakan langsung sama Oktara tapi dia berusaha untuk tetap steril dan santai karena takutnya nanti dikira membela Suami yang salah. 


"Apakah benar kamu dengan Nanda memiliki hubungan?" 


Duar! Benar-benar tak disangka langsung ke topik pembahasan, bahkan tidak ada basa-basi lagi yang dikeluarkan langsung oleh Mas Prima. "Nanda? Siapa Mas, Nanda itu?"


Prima menaikkan alisnya sedikit naik ke atas lalu menyilangkan kedua kakinya dan menaruh tangan di atas dada. "Kalau menurut aku kamu nggak usah pura-pura nggak tahu, aku yakin kamu itu tahu apa yang aku maksud tapi kamu pura-pura aja nggak tahu 'kan? Kenapa sih kamu pura-pura bohong kayak begitu? Dan kenapa kamu malah berkhianat seperti itu bahkan sampai membuat anak orang hamil?" 


"Hamil? Kalau boleh tahu Mas Prima tahu dari mana kalau dia hamil yang dimaksud itu?" 


"Aku harap kamu jangan bohong, jejak digital itu nggak pernah hilang bahkan sampai sekarang pun tetap akan ada bahkan sampai nanti." Prima menunjukkan foto tersebut yang tersimpan apik di dalam galerinya memberikan langsung kepada Oktara dan juga Anara yang berada di sampingnya dengan sangat jelas banget. 


"Coba deh kamu lihat foto ini baik-baik kira-kira ini kamu atau bukan sih? Kamu masih saja mang enak kalau misalkan ini bukan kamu? Coba deh kamu jawab dengan sangat jujur apakah foto ini kamu atau bukan Oktara?" 


Oktara tidak bisa lagi menyembunyikan bahkan sampai ia menunduk ke bawah. Ia mengatakan foto itu memang benar dia tapi itu sudah masa lalu dan sekarang ia sudah menata masa depan yang jauh lebih baik bahkan menghubungi perempuan lain saja tidak ada selain masalah pekerjaan apalagi sudah memiliki si kecil yang titik fokusnya bukan seperti dulu lagi mementingkan rasa egois dan keinginan hati. Namun percuma saja ketika ia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Prima, tak ada kata sedikit pun yang ia percayai yang keluar langsung dari mulut Oktara. Bahkan ketika Anara mengatakan langsung saja tidak pernah ia gubris titik fokusnya hanya orang yang ada di depan. 


"Udah deh mending kamu jujur aja daripada kamu menutupi lubang-lubang yang sama. Anara kenapa sih kamu diam aja dari dulu sampai sekarang, seharusnya kamu tuh cerita kalau kamu tuh sakit hati enggak kayak sekarang kamu malah menanggung beban bahkan kalian sudah punya anak. Laki-laki seperti dia itu nggak pantas untuk mendapatkan perempuan sebaik kamu! Dan asal kamu tahu kamu tuh banyak berkorban buat dia tapi kamu nggak sadar aja." Anara hanya bisa diam tidak bisa menjawab apapun di dalam hati kecilnya yakin banget kalau aku ntar adalah laki-laki yang baik dan sudah berubah. Tapi walaupun mungkin belum bisa mendapatkan bukti yang sangat kuat yakin banget semuanya sudah berubah lebih baik. 


"Mas udahlah mungkin Oktara sudah berubah jadi lebih baik kita kasih kesempatan dia supaya menjadi lebih baik ke depannya kayak gimana. Kamu kenapa sih selalu aja memaksakan keadaan seperti apa yang kamu pikirkan tentang setiap manusia itu pasti ada berubahnya. Buktinya aja mereka bahagia banget sekarang sudah memiliki si Putri kecil jangan usik kebahagiaan mereka lagi pasti perempuan itu pengennya merusak rumah tangga doang. Mending kamu kasih kesempatan dia kamu jangan egois juga!"


Oktara bersimpuh di kedua kaki Prima mengatakan foto tersebut memang dirinya tapi dia sudah berubah menjadi lebih baik bahkan sampai detik sekarang aku sudah tidak ada lagi komunikasi di antara mereka berdua. 


Tidak semudah itu untuk membuat Prima percaya. Ia hanya bisa diam dan mendengarkan apa yang dikeluhkan oleh Oktara. "Aku sama sekali nggak ada maksud lagi untuk melakukan seperti itu bahkan sampai orang lain hamil tuh nggak pernah. Aku tahu mungkin kesalahan yang dulu belum bisa menebus kebaikan apa yang aku lakukan sekarang yang masih berusaha, tapi kalau boleh jujur aku sama sekali nggak pernah hamilin Nanda. Sama sekali nggak pernah hamilin dia kalau menurutku itu adalah sesuatu hal yang paling buruk banget kalau emang benar aku melakukan tapi aku sama sekali nggak ngelakuin itu Mas?" suaranya sudah berubah menjadi agak serak. 


"Apa jaminan supaya aku percaya dengan ucapanmu? Bukti apa yang kamu bakalan kasih tahu sama Mas kalau kamu gak melakukannya?" Tantangan tersebut membuat Oktara semakin tertantang, ia sama sekali tidak pernah memiliki bukti yang kuat hingga membuat orang lain berpikir kalau misalkan dia adalah laki-laki yang bejat. 


"Aku sama sekali belum bisa membuktikan sekarang, tapi aku janji dalam waktu dekat aku bakal buktiin kalau misalkan dia beneran gak hamil. Aku nggak pernah melakukan hal seburuk itu Mas, sama sekali enggak pernah dia keterlaluan banget fitnah aku. Aku beneran nggak pernah melakukan seperti itu aku berani bersumpah aku benar-benar enggak melakukan!" 


"Sudah, kamu jangan banyak omong kosong tinggal buktikan saja apa yang kamu ucapkan hari ini." Ia mengambil minuman yang sudah dingin karena dari tadi belum ia ambil dan masukkan ke dalam mulut. 


Sepanjang waktu orang ada di samping Prima tidak enak dengan kejadian ini karena melihat sikap Suami yang begitu benar-benar tegas sekali dalam menyikapi hal ini. Tapi hal seperti ini harus diberi ketegasan agar tidak terulang lagi kepada siapapun yang bener-bener sudah memiliki keluarga atau rumah tangga yang masih dibangun. Perempuan perusak di luaran sana akan terus merusak rumah tangga orang yang bener-bener nggak kokoh maka dari itu ia membiarkan Prima begitu saja menangani apa yang sebenarnya terjadi. 


***


Setelah kejadian tadi malam di ruang tamu Oktara pun bingung dan pagi-pagi hari ini nggak mood banget buat berangkat kerja. "Udahlah kamu nggak usah ditekuk gitu wajahnya aku percaya kok sama kamu kita bakalan cari jalan keluarnya ya, ya udah kamu sarapan aja dulu nanti kamu bakalan kenapa-napa kalau kamu terlalu banyak pikiran. Aku sengaja buatin sarapan buat kamu dan si kecil baru aja bangun tadi di mandiin sama Mbak." 


Oktara mengecup tangan Anara kalau menatap kedua matanya dengan tatapan yang sangat tajam mengatakan ia dalam waktu cepat atau lambat akan melakukan yang terbaik dan akan membuktikan kalau apa yang dikatakan oleh Mas Prima itu tidak benar. "Makasih banyak ya kamu udah percaya sama aku, kamu beneran percayakan sama apa yang aku katakan?" 


"Iya Mas, aku percaya kok sama kamu sampai kapanpun kamu itu adalah imamku. Dan sampai kapanpun juga kamu adalah laki-laki yang terbaik yang dikirim oleh Allah subhanahu wa ta'ala." Oktara beruntung sekali mendapatkan perempuan seperti Anara, perempuan yang selalu mendukung apapun yang laki-lakinya lakukan atau Suaminya tersebut.