
Wajah Nanda tidak bisa dikondisikan lagi lalu ia masuk ke dalam mobil tanpa berbasa-basi terlebih dahulu. Ia meluapkan apa yang ia rasakan di dalam benak selalu melontarkan sebuah pertanyaan dengan emosi yang sedikit tinggi dan nada suara juga. "Kok kamu tiba-tiba marah begitu sih sama aku? Emang sebenarnya aku ada salah? Ayo ucapin!" Ketika Oktara ingin mengelus puncak kepalanya dengan cepat ia menolak dan marah memalingkan tangan Oktara ia tak mau disentuh dalam sementara waktu.
"Hei kamu kenapa? Kok marah-marah ga jelas sih sayang? Ayo cerita sama aku, ada apa? Apa kurang uang yang aku transfer waktu itu? Ya udah aku transfer ya? Kamu mau berapa?" bujukkan tersebut tidak membuat Nanda merasa luluh ia malah marah dan tak terima ingin kejujuran dari Oktara agar sebagai seorang perempuan tidak direndahkan dan tidak mendapatkan kerugian.
"Kamu ngapain sih malah marah-marah gak jelas kayak begini? Emang maksudnya apa?"
"Aku pengen minta kejelasan sama kamu, kamu kenapa malah gak mau jawab begini sih pertanyaan aku? Aku tuh beneran nanya penting sama kamu. Masa kita jalanin hubungan gini-gini terus sih?"
"Ngapain sih kamu tuh nanya-nanya Hal nggak penting kayak begitu? Emang selama ini perhatian sama apa yang aku lakukan ke kamu itu kurang?" Oktara sengaja mencari-cari kesalahan. Ia mengatakan selama ini biasa-biasa aja dan semuanya bakalan baik-baik aja kalau dijalani tanpa harus mempertanyakan sesuatu yang nggak penting.
"Kamu tuh nggak mikir ya aku cuma nanya kayak gitu doang. Masa kamu marah-marah gak jelas sih? Kamu tinggal jawab aja iya atau enggak susah kamu kayak gitu doang enggak bisa jawab!" Nanda semakin kesal dengan jawaban Oktara yang kesana-kemari.
Ia terus saja memaksa agar Oktara mau mengatakan yang sesungguhnya yang membuat teka-teki selama ini.
Karna sudah merasa kesal Oktara menyuruhnya untuk cepat segera turun dari mobil dan meninggalkannya begitu saja.
Ia sudah capek seharian ini kerja eh malah marah gak jelas banget.
Ia tak perduli Nanda akan marah atau ngambek kayak gimana. Kenapa Nanda bisa tau kalau ia sudah memiliki seseorang yang mungkin bisa membuatnya semuanya bomerang.
Ketika sudah sampai di rumah Oktara langsung saja marah-marah dengan Anara. "Kamu mending sini dulu deh." Menaruh sapu yang dipegang olehnya. Anara merasa aneh kenapa Oktara malah marah-marah gak jelas seperti ini.
"Ada apa Mas? Kok malah marah-marah gak jelas sih? Ada apa? Dan kenapa?"
"Kamu kasih tau seseorang yang tentang pernikahan kita berdua? Kan saya udah bilang jangan ceritakan kepada siapapun, gimana sih kamu ini?" Anara tidak pernah menceritakan hubungan mereka berdua setelah Prilly. Tak ada lagi selain itu, karna Prilly tak mungkin sekali melakukan hal seperti itu karna dia adalah tipekal sahabat yang dapat dipercaya.
"Kalau kamu masih saja ribet saya gak akan segan-segan ceraiin kamu. Kamu pahamkan maksud saya apa?"
Anara terkejut dengan kata-kata yang keluar dari Oktara. Ia benar-benar tak merasa bersalah tapi malah dituduh seperti itu. Tak ada jeda untuk bisa menjelaskan, Oktara terus saja menekannya dan menyuruhnya untuk mengaku apa yang dilakukan yang padahal ia tidak pernah melakukan apapun.
Tiara datang ke rumah Oktara dan Nanda melihat situasi yang benar-benar tak disangka sebelumnya. Niat hati untuk memberikan kabar baik ternyata malah sia-sia begitu saja. "Loh ini ada apa? Apa yang sedang terjadi? Kak ini sebenarnya ada apa sih?" Ia sudah melihat Anara menangis karna Oktara memarahinya, Tiara tak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi karena ketika sudah datang ia melihat seperti ini langsung.
Oktara dan Anara bungkam, tak mengatakan apapun. Mereka tak mau bercerita yang sebenarnya. "Kak ayo jawab? Ada apa sih sebenarnya?" Ia menarik Oktara meminta kejelasan apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini? Gak mungkin banget situasi biasa aja dan malah kayak ada masalah yang sangat besar sekali.
"Gak ada apa-apa kok, gak ada apa-apa."
"Oh ya udah kalau gitu, ini aku pengen kasih undangan buat kalian berdua. Undangannya duluan sih, akad nikahnya nanti sebelum acara ini. Kalian datang dong udah lama banget gak datang ke rumah, sepi tau di rumah." Tiara tak membahas lagi apa yang terjadi walau banyak sekali pertanyaan yang berkecambuk di dalam pikirannya kali ini. Anara mengangguk dan siap akan datang nantinya.
Tiara memegang perut Anara dengan pelan. "Udah hamil belum sih? Kok perutnya kayaknya masih rata aja."
"Em iya nih, do'akan aja ya."
"Emang belum ada niatan buat hamil? Sekarang maunya santai dulu ya? Nanti aku kalau udah nikah langsung aja sih pengen punya anak gitu. Biar nanti aku dan anak aku seumuran jadi gak tua-tua banget akunya gitu." Sebenarnya Anara juga ingin memiliki seorang anak dari hasil pernikahan mereka tapi apa dikata mereka saja tidak pernah tidur berdua. Lagi bagaimana bisa memiliki seorang anak?
Oktara tidak suka dengan pembahasan ini, ia mencari topik yang lain untuk bisa menangkis pembahasan yang semakin melebar.
"Iya hallo? Ya udah aku langsung ke sana dulu ya." Tiara berpamitan karna ada urusan yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.
Ketika Tiara sudah pergi dan kini hanya mereka berdua. Oktara mengatakan agar Anara tidak melakukan apa-apa dan jangan cerita kesana-kemari kalau mereka sudah menikah.
"Aku gak sama sekali cerita ke siapapun kok. Kenapa kamu terus marah gak jelas begini sih Mas? Lagian kalaupun kita cerita ke siapapun juga gak akan masalah karna kita sudah menikah dan itu sah. Jadi ngapain kamu malah marah kayak begini?" Anara sangat marah banget suarany bergetar, Oktara tidak pernah mengerti perasaan seorang Istri.
"Kamu harusnya sadar diri, pernikahan kita bukan atas dasar cinta dan kasih sayang. Jadi kamu jangan harap saya akan mencintai kamu sampai kapanpun. Karena percintaan kita itu tidak murni atas dasar kita ingin. Udahlah mending kamu rapi-rapi dapur beres-beres soalnya kulkas udah mulai kotor."
Kalau enggak sabar-sabar memiliki sikap seperti Anara mungkin mereka sudah bercerai dan tidak akan pernah menyatu kembali karena keegoisan salah satu di antara mereka yang tidak pernah menganggap cinta itu ada. "Ya Allah ya Tuhanku semoga ujianmu bisa hamba lalui dan semoga aja ke depannya bisa lebih baik," batinnya yang berdo'a.
***
"Kamu tadi habis dari mana sih kok lama banget aku tungguin di sini?"
"Tadi itu aku ke rumah kakakku, jadi agak ngaret deh sedikit. Kamu tadi ngomong apa ya aku nggak kedengeran apa-apa? Gimana semuanya sudah selesai atau belum?"
"Semuanya udah hampir 98% sih tinggal kita menunggu hari H-nya doang."
"Ya udah deh kalau gitu bikin santai aja. Aku pengennya sih segera cepat ya biar nggak capek."
"Aku juga pengennya kayak gitu tapi gimana dong jadwal udah harus kita jalani," sahutnya yang juga udah gak sabaran banget buat berangkat bareng.
Vedro sengaja membeli makanan terlebih dahulu sebelum bertemu karena ia tahu banget kalau Tiara ini kalau orang yang suka makan atau doyan makan. Mereka berdua saling melengkapi bahkan dikala sedih atau LDR-an pun juga merasakan salah satu di antara mereka ada yang merasa sedih atau terluka.