Anara & Oktara

Anara & Oktara
43. Terpaksa Menikah



"Gimana kamu suka nggak sama masakan aku?" Akhirnya selesai juga bikin nasi goreng di dapur walaupun mungkin dengan bumbu seadanya dan juga hanya telur ceplok juga di atasnya tapi ini sangat menguras tenaga sekali apalagi untuk orang yang paling spesial dan juga paling penting itu adalah ditambahkan cabai agar sedikit terasa pedas. 


Suapan pertama ia masukkan ke dalam kedua matanya melihat ke arah atas selalu mengunyahnya merasakan apakah ini sesuai dengan seleranya atau bukan. Seperti ajang  masak yang ada di televisi. "Menurut kamu kira-kira aku bakalan kasih nilai berapa?" 


"Kalau menurut aku sih kamu bakalan kasih nilai aku 100 soalnya makanan aku udah sempurna banget?" Dengan cara yang sangat sederhana banget, tapi mampu membuatnya tegang seperti dinilai oleh juri profesional. 


"Manusia itu nggak ada yang sempurna bahkan makanan pun kadang ada kekurangannya juga jadi kalau menurut aku aku kasih nilai 85 kamu banyak belajar lagi ya supaya kamu bisa bikinin aku jauh lebih banyak dari yang sekarang?" 


Anara membangunkan kedua bibirnya ke bawah karena benar-benar sulit sekali untuk mendapatkan nilai untuk dirinya sendiri dari orang yang pelit banget soal angka. 


"Iya deh terserah kamu ya udah kalau gitu aku mandiin Pingkan dulu ya di kamar?" 


Anara masuk ke dalam kamar lalu memandikan buah hati yang baru saja bangun, karena masih belum bisa makan nasi makanya ia harus pagi-pagi banget untuk makan atau sarapan terlebih dahulu yang bergizi biar sang anak bisa mendapatkan asupan yang baik nantinya ke dalam pencernaannya dan yang paling penting adalah seorang Ibu harus bisa melakukan yang terbaik untuk anaknya agar kelak anaknya menjadi anak yang cerdas dan pintar. 


Karena tidak mau mengabadikan momen itu hanya sekedar secara nyata dengan cepat Oktara pun memposting di kedua ponsel yang pertama adalah ponsel dari Anara yang tergeletak di atas meja dan yang kedua adalah ponsel yang sengaja ia simpan dalam kantong tadi dengan foto yang sama. Semenjak mereka berdua menikah mereka sama sekali tidak ada ada sembunyi-sembunyi apalagi semua isi dari ponsel tersebut. 


"Ya ampun ternyata anak Papah cantik banget ya, kamu cepat besar ya biar kita bisa jalan-jalan dan kita juga bisa ke taman kaya orang lain."


"Enggak nyangka banget ya ternyata sudah sampai hampir 1 bulan aja di rumah?" 


"Iya ternyata waktu itu berputar begitu sangat cepat banget nggak kerasa gitu loh perjalanannya waktu kamu hamil dan juga melahirkan dan sekarang dia udah ada di hadapan kita." 


***


Persiapan kali ini sungguhlah sangat melelahkan sekali bahkan ketika bercermin di depan cermin rasanya pengen balik dan putar arah gak mau untuk berada di posisi sekarang. "Sebenarnya kamu itu cinta nggak sih sama aku? Kok kalau misalkan aku lihat-lihat kamu tuh kayak beda banget? Ini itu pernikahan bukan hanya sekedar pacaran doang?" Sebagai seorang perempuan pastinya males banget kalau pernikahan hanya sekedar tanda bukan karena cinta dan rasa kasih sayang. 


"Sebenarnya aku tuh gak cinta dan sayang sama kamu ya karena apa ya aku nggak jalan ini ya pengen ngelupain masa lalu aku, ma'af kalau kata-kata ini menyakitkan buat kamu emang bener kenyataannya kayak begitu aku beneran nggak cinta sama kamu tapi aku pengen berusaha untuk mencintai kamu. Bantu aku buat bisa ngelupain masa lalu aku." Ridho bunda benar enggak bisa terima dalam waktu singkat seperti ini karena masa lalunya selalu saja membayang-bayangi pikirannya. 


Karin pun masuk ke dalam kamar ganti dengan cepat ia meneteskan air mata yang sudah ia tahan-tahan dari tadi, masalah cinta dan kasih sayang itu sangat penting banget dalam suatu hubungan apa lagi dalam acara yang sangat sakral, sejak pertama kali dikenalkan dengan seorang laki-laki dan ini adalah untuk yang pertama kali yang terakhir kalinya dalam hidup kenapa harus merasakan luka yang sangat hebat. Dia mengatakan kalau misalkan mencintai perempuan lain dan sampai mereka menikah nanti mungkin bakalan seperti itu terus perempuan mana enggak ngerasa sakit calon Suaminya bakalan tidak mencintainya hanya sekedar menjalani rutinitasnya sebagai karakter Suami. 


Ketika diluar Ridho ternyata sudah mengganti baju dengan pakaian pertama kali mereka datang tadi. Dari kejauhan ia melihat Ridho membuka foto salah satu status teman WA nya. Laki-laki yang sedang duduk itu rasanya sedang bersedih hati melihat foto keluarga kecil yang sedang terpanjang di status WA, ketika Karen mendekat Ridho mengatakan kalau foto tersebut adalah orang yang ia cintai selama ini yang ternyata sudah memiliki pasangan dan juga anak. 


Di dalam foto tersebut sangat terlihat sekali sepasang pasangan yang sangat akrab dan bahkan juga sangat romantis banget mereka sepertinya bahagia. "Kamu kenapa masih mengharapkan orang yang sudah memiliki pasangan dan juga punya keluarga sendiri?" 


Ridho tidak menjawab malah menatap Karin dengan tatapan yang sangat tajam dengan cepat ia pun meminta ma'af karena sudah lancang menanyakan hal ini secara langsung walaupun mungkin dia adalah calon


Suami tapi sampai kapanpun itu adalah hal pribadi masa lalunya yang gak perlu diungkap kepada calonnya sendiri. "Aku minta ma'af sama kamu aku nggak ada maksud buat ngungkit-ngungkit ini." 


Dengan cepat setelah berpamitan keluar dari fitting baju mereka pun langsung saja masuk ke dalam mobil. "Habis dari sini kita langsung pulang aja ya soalnya aku banyak banget kerjaan yang harus aku kerjain." 


Karin tidak bisa menolak ia pun hanya mengiyakan saja dan selama berada di dalam mobil tidak ada obrolan sama sekali di antara mereka berdua. Mereka seperti sendiri-sendiri dan kaku. 


"Kalau gitu aku langsung pulang aja ya ma'af kalau misalkan aku nggak mampir pokoknya salam aja sama orang-orang yang ada di rumah." 


Karin mengucapkan terima kasih dan mengangguk ia masuk ke dalam rumah dan dicecar pertanyaan oleh Mama yang sangat bahagia banget sebentar lagi sama putri yang dulunya masih kecil sekarang sebentar lagi bakalan menikah. 


Karena tidak mau merusak mood Mama menjadi buruk dengan cepat pun ia mengatakan ia sangat bahagia banget menikah dan gak sabar. "Andai aja Mama tahu kalau misalkan pernikahan kita ternyata tidak diharapkan oleh salah satu di antara kita?" 


"Pokoknya kalian berdua harus bisa jadi pasangan yang sangat mandiri dan kalian juga harus bisa saling mengerti satu sama lain jangan pernah egois dan kamu harus bisa menjadi Istri yang baik nantinya jangan terlalu ketergantungan sama orang tua, oke?" 


"Gimana tadi udah fitting bajunya?" 


"Udah, semuanya udah kelar terus katanya dia ada kerjaan gitu makanya abis dari fitting baju kita langsung pulang ke rumah, ya udah kalau gitu aku masuk ke dalam kamar dulu ya mah mau ganti baju soalnya belum sholat juga mumpung masih ada waktu," senyumnya sangat terpaksa sekali.