Anara & Oktara

Anara & Oktara
11. Pertanyaan Sensitif



"Mas, aku boleh nggak nanya sama kamu? Tapi kamu harus jawab jujur ya?" Ketika waktu malamnya untuk tidur mereka malah mengobrol satu sama lain karena kedua mata mereka tidak merasa mengantuk. Dan mereka tidak satu tempat tidur yang sama melainkan berseberangan di kamar yang sama. 


"Ya sudah kamu tanyakan aja nggak usah banyak nanya dan gak usah banyak basa-basi!" 


"Boleh nggak aku minta satu permintaan? Bolehkah aku meminta kamu mencintaiku?" 


Oktara hanya terdiam saya tidak bisa menjawab apapun. Ia malah memalingkan badan dan memejamkan kedua matanya lalu tidur. "Ternyata pertanyaanku malah membuat dia nggak suka!" gerutunya dalam hati, karna sudah terbangun dari lelap tidur ia pun membangunkan diri yang sangat malas sekali untuk sholat malam tapi tetap saja ia paksakan untuk bangun dan melaksanakan sholat. 


Ia berdo'a dengan sepenuh hati agar bisa mendapatkan ketenangan di dalam diri dan keindahan dalam biduk rumah tangganya. Sambil meneteskan air mata, berkeluh kesah kepada sang semesta adalah jalan yang jauh lebih membuat rasa tenang di dalam dada. Suara sesegukkan terdengar sampai di telinga Oktara. 


Ia melirik siapa yang sedang menangis sesenggukan namun ternyata itu hanyalah biasa saja. 


"Anara mending kamu tidur deh dari pada kamu nangis kayak begitu. Kamu udah selesai juga 'kan sholatnya?" 


Anara tidak menjawab apa-apa takut suaranya berubah menjadi parau ia melepas mukena lalu merebahkan kepalanya ke tempat tidur, rasanya lega banget ketika sudah melakukan hal yang benar-benar mustajab baginya di kalau orang tertidur pulas ia meminta kepada Allah subhanahu wa ta'ala. 


Mungkin sebagian orang merasa hidup itu harus memiliki tantangan tapi ketika hidup tanpa meminta rasanya sia-sia banget. Karena hidup kita saling ketergantungan antara makhluk dan Tuhannya. 


Keesokan paginya badan Oktara sudah mulai membaik. Ia bergegas untuk berangkat ke kantor. "Lain kali kalau nangis jangan terlalu berlebihan gak baik. Coba deh kamu bercermin didepan cermin yang ada di depan mata kamu sembab banget!" 


Ketika ia bercermin didepan cermin ternyata benar wajahnya sangat sembab dan matanya sedikit agak membengkak warnanya kemerahan. Karena mungkin terlalu berlebihan banget tidak henti-hentinya meneteskan air mata sampai benar-benar membuat kedua matanya bereaksi. 


"Ya udah kalau gitu saya berangkat dulu ya. Kalau misalkan ada apa-apa kamu tinggal telepon saya aja. Untuk sementara ini kamu tinggal sendiri dulu ketika saya tidak ada di rumah, tapi nanti saya bakalan cariin asisten rumah tangga buat bikin kamu nggak capek." 


Seperti biasa mengantarkan ke depan untuk melihat Oktara masuk ke dalam mobil dan lalu ia masuk kembali lagi ketika sudah selesai. 


***


Banyak banget persiapan yang harus dilakukan apalagi ia akan segera menikah. Rencananya pernikahan itu akan digelar sekitar 1 bulan lagi ke depan. 


Jadi Tiara dan Vedro merupakan satu kantor atau satu kerjaan jadi mereka sering bertemu yang membuat mereka jatuh cinta hingga mereka memutuskan untuk menikah. Sebenarnya awal-awal sama sekali nggak menyangka akan berjodoh seperti ini, tapi mungkin garis Tuhan yang sangat besar dan yang pastinya membuat semuanya menyatu karena kehendaknya maka dari itu mereka dipersatukan. 


Kalau dilihat-lihat dari kilas balik ke belakang ya memang enggak nyangka. Semuanya berjalan begitu saja bahkan di luar dari ekspektasi. 


Dan kini mereka di satukan dalam ikatan cinta. "Aku bener-bener nggak nyangka banget ternyata kita dipersatukan, ternyata apa yang terjadi di masa lalu itu seharusnya nggak boleh kita katakan karena semua itu bakalan jadi do'a buat kita berdua." 


"Bener juga ya dulu aku ogah banget buat nikah sama kamu apalagi terima kamu buat jadi pendamping aku, eh malah sekarang kita akan menjadi pasangan. Sumpah aku bener-bener nggak yakin banget sih waktu itu terima kamu jadi pendamping aku tapi sekarang alhamdulillah aku bersyukur. Setelah problema-problema yang terjadi selama ini di dalam hidup kita berdua."


Tiara menyenderkan kepalanya ke pundak Vedro. "Ternyata kita berdua bener-bener bahagia banget ya?" 


"Pokoknya sampai kapanpun aku nggak mau kehilangan kamu, terkecuali ajal yang memisahkan kita berdua." 


"Kan misalnya? Semuanya itu bakalan terjadi juga?" 


"Ya tapi jangan sekarang juga kali. Masa kebahagiaan yang tiba-tiba aja diambil 'kan jangan?" 


***


Nanda memikirkan nasibnya yang belum dinikahi oleh Oktara, sampai kapanpun. "Kenapa sih hubungan gue sampai sekarang masih kayak abu-abu gitu? Gue bingung banget deh apa yang harus dilakukan! Kenapa perasaan gue nggak enak banget sama Oktara, kayaknya dia ada sembunyiin sesuatu di belakang gue! Apa gue tanya aja langsung sama dia supaya dia bisa jujur sama gue? Apalagi nyokap udah mulai nanyain kapan Oktara bawa orang tuanya ke rumah! Haduh kenapa sih pikiran gue ke mana-mana begini. Gue nggak mau kalau misalnya dia udah nikah sama orang lain tapi nggak kasih tahu gue!" 


Sebagai seorang perempuan pastinya merasa bingung dan dan nggak mau dibuang laki-laki karena sampai kapanpun perempuan lah yang paling berdampak sangat besar. 


"Lo ngapain sih kayak banyak banget pikiran gitu?" Salah satu teman kerja dari Nanda menanyakan akhir-akhir ini banyak banget pikiran dan gagal fokus dalam bekerja, itu sangat berpengaruh sekali. 


"Nggak tahu nih gue pusing banget sama hubungan gue sama pacar gue, akhir-akhir ini dia tuh kayak berubah banget gitu, lebih sibuk. Kira-kira lo tahu nggak Alasannya kenapa?" 


"Kalau menurut pengalaman gue dan menurut teman-teman gue sih cowok gitu tuh pasti ada punya hubungan sama orang lain, gue yakin banget dia punya hubungan dengan orang lain. Atau dia sudah menikah lo aja yang nggak tahu mungkin!" 


"Bener juga sih, tapi mana mungkin sih dia menghianati gue?"


"Yaelah zaman sekarang mah nggak ada kata setia, kalaupun ada tipikal cowok yang setia itu tandanya dia adalah laki-laki yang baik dan pantas buat kita tapi itu 1 banding 1.000." 


Nanda langsung terdiam, mungkin saja apa yang diucapkan oleh teman atau rekan sekerjanya itu benar. Ia harus menanyakan langsung kepada Oktara apakah kecurigaan ini benar dan apakah kecurigaan ini salah. Perempuan mana yang mau diduakan dan perempuan mana juga yang mau disembunyikan, pastinya dia pengen menjadi manusia yang utama. 


"Ya udah gue lanjut kerja dulu ya, soalnya gue capek banget nanti banyak deadline yang harus dikerjakan."


"Ya udah kalau gitu, gue lanjut kerja juga. Makasih banyak ya udah kasih saran ke gue gue bahagia banget bisa punya teman kerja kayak lo!" senyum Nanda dengan cepat. 


"Santai aja nggak usah terburu-buru juga." Mereka pun bersama-sama mengerjakan tugas mereka masing-masing di layar komputer yang sudah menyala di depan. 


Oktara mendapatkan sebuah pesan dari Nanda, ketika nanti pulang kantor dia pengen ketemuan dengan Oktara dan sebuah pesan itu membuat pikirannya seakan pengen cepat-cepat ketemu karena banyak banget pertanyaan yang bersarang di kepalanya. 


***


Sampailah pertemuan mereka ketika sudah pulang kerja. Ketika ingin menjemput Nanda wajah Nanda sudah sangat sensitif dan sangat deg-degan banget untuk menceritakan atau bertanya. "Sebenarnya apa sih maksud kamu ngirimin pesan sama aku? Emang ada apa sebenarnya kamu pengen nanya apa sama aku?" 


"Sebenarnya hubungan kita ini cuma Anara aku dan kamu, kamu dan aku doang 'kan nggak ada perempuan lain di hidup kita 'kan?" Seketika Anara mematung tiba-tiba.