
Anara sengaja bangun pagi hari untuk menyediakan baju di dalam kamar dan juga segelas kopi di atas meja. Sedangkan sikecil masih tertidur pulas di tempat tidur. Berulang kali Oktara mengatakan kalau ia tidak perlu disiapkan karena ia bisa melakukannya sendiri, tapi karna Anara tidak mau kehilangan momen tersebut apalagi sebagai seorang Istri wajib melakukan atau berbakti kepada Suami.
Dan tepat saja dugaan dari Oktara si kecil rupanya terbangun lalu merengek suara teriakan sang bayi yang sangat khas banget. "Udah deh kamu urusi kecil aja aku bisa kok ngelakuin semuanya sendirian nggak usah repot-repot apalagi kamu kan baru aja melahirkan jadi kamu jangan terlalu capek."
Karena semua yang sudah selesai sebelum berangkat, ia pun sengaja untuk membawanya keluar.
Saatnya untuk menjemur si kecil acara tasmiyah yang akan di gelar besok hari, membuat sedikit ada kerepotan yang terjadi. Anara merasakan hal yang paling tak ia duga sebelumnya, apalagi yang ia rasakan akhirnya terjadi juga hari ini. "Aku berangkat kerja dulu ya kamu nggak papa 'kan kalau misalkan ditinggal?"
"Ya nggak apa-apa kok silahkan aja kamu tinggal."
Oktara masuk ke dalam mobil dan siap untuk bekerja kembali karena ia hanya diberi izin sekitar 2 hari saja dari kantor. Mungkin sebenarnya di dalam hati yang paling dalam pengen banget ketemu dan bareng-bareng terus sama orang baru yang ada di rumah yaitu anaknya sendiri tapi ya sudahlah karena tuntutan pekerjaan yang mau kayak gimana lagi.
Anara masuk kembali ke dalam rumah dan dan memberikan ASI eksklusif kepada sang bayi yang masih banget perlu seorang Ibu yang ada di sampingnya. Perubahan yang sangat signifikan adalah beberapa hari yang lalu sampai sekarang mungkin bahkan sampai selanjutnya ia terbangun pukul dini hari karena sikecil terus saja bangun dan juga ASI.
Ucapan selamat pun diucapkan oleh rekan kerja di kantor karena story yang dipasang oleh Oktara di ponselnya sangat terlihat jelas di sana. Tidak henti-hentinya dijuluki sebagai sugar daddy dan statusnya sudah berubah menjadi Ayah dan seorang Suami. "Pokoknya entah kenapa setelah gue memiliki seorang anak gue ngerasa kayak berubah aja gitu hidup gue, dan gue juga ngerasa obrolan kita tuh udah beda banget."
"Ya iyalah kalian bakalan berubah apalagi pas anak kalian nanti udah bisa jalan dan udah sekolah pasti kalian bakalan rempong banget deh."
"Hahaha iya banget sih, gue do'ain lo semoga lo juga merasakan hal yang sama juga ya kayak kita. Pacar lo mana?"
"Hahaha iya juga sih, tapi gue gak mau juga kalau terlalu tergesa-gesa."
Oktara dan teman-teman yang sudah punya pasangan tidak mau memojokkan teman yang belum menikah bahkan ia yang belum punya pacar juga. "Pokoknya do'a yang terbaik deh buat lo, kita sih pengen yang terbaik aja."
***
Karena malam ini rencananya mereka bakalan datang, maka dari itu Anara dengan sengaja menyiapkan makanan yang berlebih agar nanti disantap oleh mereka yang datang nanti. "Udah deh kamu nggak usah capek-capek kayak gitu biar Mbak aja yang lakuin semuanya. Aku ngelihat kamu udah dari pagi lo kayak begini aku takutnya nanti kamu bakalan ngedrop dan nggak bisa bangun lagi nanti malam."
"Udah deh sayang kamu nggak usah terlalu banyak pikiran kayak begitu aku bisa kok ngelakuin semuanya, lagian juga ini nggak berat-berat amat. Emangnya aku bawa bakul setiap aku jalan nggak 'kan?" Oktara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan sikap perempuan yang keras kepala, yang nggak mau kalah sama sekali.
Menata makanan di atas meja dan juga minuman yang di tata rapi. "Aw." Wajahnya sudah sangat pucat sekali bahkan seperti orang yang kesakitan, lantas membuat Oktara sedikit panik dan bingung apa yang harus ia lakukan.
"Udah kamu di sini aja, aku gak mau ke atas. Aku gak mau ke kamar. Kamu pijitin kaki aku dong, aku sakit nih kakinya." Oktara tak ada ke bayang apa-apa di dalam pikirannya kalau Anara sedang membohonginya.
"Di sini Mas, di situ udah."
"Kamu sih sibuk sendiri, jadi aku yang sibuk gini. Kamu gimana nanti bangun malam? Aku? Aku besoknya kerja, terus siapa yang beri ASI kalau kamu sakit? Aku? Kamu sih gak mikir?"
Anara meneteskan air mata pura-puranya seakan Oktara salah. "Kamu kok tega banget sih ngomong kayak gitu sama aku? Aku capek tau, aku cuma pengen melakukan yang terbaik doang kok. Kamu kenapa marahin aku?"
Dengan cepat Oktara pun memeluk Anara yang menangis, ia mengelus puncak kepala Anara karna merasa perempuan yang baru melahirkan dan menyusui itu pastinya capek dan butuh perhatian yang lebih biar perasannya lebih tenang. "Iya deh aku yang salah, udah ya gak usah nangis segala. Kamu gak salah kok, aku yang salah dan aku minta ma'af ya sama kamu. Jangan marah ya sayang!"
Karna merasa kasihan Anara pun menghentikan drama yang sengaja ia buat kepada Oktara. "Hahaha, kamu kenapa jadi terlalu ngalah gini sih sama aku? Aku cuma iseng doang ngerjain kamu, kamu jangan ngomong kayak gitu dong aku jadi bersalah 'kan?"
Oktara menaikkan alisnya sedikit naik ke atas karna ia tak paham dengan ucapan dari Anara. "Jadi aku kerjain kamu, aku cuma bohong doang kok dan kaki aku gak sakit sama sekali."
Setelah berpikir beberapa detik baru ia tersadar. "Ish untung aja aku sayang sama kamu, kalau enggak aku pitak deh kamu. Aku khawatir tau gak sih sama kamu jangan kayak gitu lagi yah. Aku gak mau, aku gak mau semua terjadi kayak gitu ya!"
Anara memeluk Oktara yang memang tak marah malah ia menasehatinya agar tak berbuat kayak gitu lagi, kepanikan yang terjadi ternyata tidak dibuat-buat dan memang tidak ada keinginan untuk membalas. "Iya deh aku cuma bercanda doang soalnya kamu jadi orang bawel banget makanya aku kerjain kamu eh ternyata gitu hasilnya."
Mereka pun merapikan kembali dan melanjutkan apa saja yang kurang di atas meja.
Para sanak keluarga berdatangan untuk melihat si kecil yang sudah lahir bahkan mereka memberikan hadiah kepada si kecil itu. Mereka sangat bahagia banget menyambut anggota baru di keluarga. Rezeki seseorang atau rezeki anak yang baru lahir itu sangat berkah banget untuk dijadikan pedoman. "Ya ampun cantik banget sih anaknya." Anara yang masih memiliki berat badan yang masih belum stabil ia tersenyum melihat sanak keluarga yang datang ke rumah.
Suara mobil terdengar dari luar, mobil Mas Prima pun datang bersama sang istri yang membawakan kado juga buat si kecil. Aura yang terpancar dari wajahnya sangat terlihat banget apalagi Mas Prima merupakan laki-laki yang berwibawa namun juga terkesan santai. Kedua belah keluarga semakin lengkap di ruang tamu menyambut dan saling bersilaturahmi satu sama lain.
Banyak sekali kado buat si kecil yang baru lahir padahal belum juga diadakan tasmiyah yang besok digelar tali rezeki yang sudah berlimpah ruah. "Wah banyak banget ya Dek, si kecil yang alhamdulilah bakalan dapat rezeki."
Pertanyaan yang selalu saja datang menghampiri. "Bakalan nambah lagi?"
Anara hanya tersenyum miring saja tapi mau berkomentar apapun. "Ayo silahkan dimakan dan diminum, kita sengaja buat kalian semua. Jangan sungkan kayak gitu, silakan."