Anara & Oktara

Anara & Oktara
48. Pertengkaran Hebat



"Kayaknya udah aman deh buat gue masuk ke dalam ya udah deh gue masuk!" ucapnya dengan mengendap-endap memakai jaket dan juga masker agar tidak ketahuan. 


Ia melihat Oktara yang baru saja duduk di ruang kerja. Lalu ketika ia mengetuk Oktara pun mempersilakan untuk masuk ke dalam karena ia tidak melihat siapa tamu yang datang ke dalam. 


Ketika membuka jaket dan juga masker akhirnya Oktara pun terbelalak dan langsung berdiri menjaga jarak kepada Nanda. "Ka--- kamu ngapain ada di sini kok tiba-tiba kamu bisa ada di sini sih?" gagapnya seperti itu. 


"Kenapa kamu kaget gitu?" senyumnya yang menakutkan. 


Karena sudah merasa emosi banget Nanda pun akhirnya masuk menerobos ke kantor Oktara, ia sama sekali tidak peduli apakah nantinya di sana bakalan diusir dengan cara hormat atau tidak hormat. 


Ketika sudah berhasil masuk dengan cepat pun ia masuk ke dalam ruangan Oktara karena tadi satpam untungnya tidak ada di luar melainkan sedang masuk ke dalam toilet jadi sebelumnya Nanda memperhatikan terlebih dahulu agar ia dengan leluasa masuk ke dalam. 


Oktara sangat terkejut sekali atas kedatangan Nanda yang tiba-tiba saja masuk. "Kamu kenapa kok tiba-tiba ada di sini sih?" ucapnya yang benar-benar terkejut sekali atas kedatangan Nanda ke tempatnya di kala ia sedang mengerjakan tugas-tugas kantor yang baru saja ia buka berkas-berkas tersebut.


Dengan cepat Nanda tersenyum karena telah berhasil masuk ke dalam ruangannya dan mampu membuat Oktara yang awalnya mungkin santai kini berubah menjadi tegang. "Nggak usah panik kayak begitu aku di sini cuma pengen ngomong sesuatu doang sama kamu."


"Aku nggak akan pernah tinggal diam untuk mendapatkan kamu kembali dan aku nggak akan pernah mau kalau kamu bahagia dengan perempuan lain selain aku!" 


Oktara malah berdecak kesal sama sekali tidak peduli dengan ucapan tersebut yang dilontarkan langsung oleh Nanda.


"Sebenarnya mau kamu tuh apa sih aku sama sekali nggak suka kalau kamu selalu bikin sesuatu hal yang gak baik mending kamu cari laki-laki di luaran sana yang jauh lebih baik yang pengen sama kamu dan mau membahagiakan kamu jadi aku harap kamu keluar dari tempat ini, sebelum aku berperilaku kasar sama kamu, kamu paham 'kan maksud aku apa?" 


Karena Nanda terus aja mendekat dan ingin memeluk Oktara dengan cepat atau dengan refleks pun Oktara mendorong bahu Nanda hingga membuatnya sedikit terpeleset dan membuatnya sedikit agak kesakitan juga. Ketika Oktara ingin mengadakan tangan dengan cepat Nanda pun memeluk kedua kakinya memohon agar Oktara mau menerimanya kembali. 


Bener-bener ini ide yang sangat gila yang membuat Oktara merasa marah dan kesal dengan sikap Nanda yang seperti ini. "Udahlah kamu lepasin kaki aku kamu ngapain ngelakuin kayak gini jangan pernah merendahkan diri kamu sendiri?" 


Suaranya berubah menjadi serak bahkan membuat Nanda sedikit agak merasa terpaksa untuk melakukan semua ini karena benar-benar sangat mencintai Oktara dan tidak mau kehilangannya. "Sampai kapan sih kamu bahagia dengan perempuan yang tidak kamu cintai dan sampai kapan kamu bakalan seperti ini terus sama aku?" Kedua matanya berubah menjadi merah karena air mata itu berjalan begitu deras di pelipis kanan dan pelipis kiri maka hingga membuat kedua matanya hampir bengkak. 


Oktara dengan cepat melepaskan tangan tersebut yang menempel di kakinya bahkan ia merasa malu ketika ada teman-teman kantor yang melihat keadaan seperti ini yang tidak diinginkan. "Aku nggak mau pergi sebelum kamu mengingatkan apa yang aku mau, Sampai kapan aku harus melakukan seperti ini Oktara?" 


"Apa sih yang ada di pikiran kamu aku sama sekali nggak ngerti sama kamu kamu udah fitnah aku kalau misalkan aku hamilin kamu sedangkan kamu nggak hamil? Harusnya kamu tuh mikir kamu itu sama-sama seorang perempuan yang pastinya tahu perasaan perempuan lain tuh kayak gimana, jangan memperlakukan diri kamu bodoh seperti ini kamu akan terus mempertahankan diri kamu di saat kamu terpuruk? Aku bingung deh sama kamu sudah cukup ngelakuin kayak begini Nanda?" 


Oktara pun mengambil telepon dan menyuruh satpam untuk masuk ke dalam ruangan yang membawa Nanda keluar dari tempat ini. 


Karena Oktara masih memiliki perasaan ia tidak mau menyakiti perempuan manapun apa lagi main fisik ia menyuruh satpam itu untuk berhati-hati dan jangan terlalu kasar agar Nanda masih dihargai oleh seorang laki-laki. 


Satpam pun menyuruh Nanda untuk keluar dari tempat ini karena sudah membuat kegaduhan dan tidak selayaknya berada di tempat ini. "Mending kamu keluar dari tempat ini dari pada aku panggilkan polisi buat jemput kamu karena kamu udah bikin kegaduhan dan bikin semuanya menjadi runyam!" 


"Sampai kapanpun aku akan tetap pengen bareng sama kamu Oktara, sampai kapanpun," ucap Nanda yang terus saja memaksa Oktara untuk tetap bersamanya tapi ia sama sekali tau mau dan menolak karena menurutnya itu adalah hal yang paling masuk akan dan bisa membuatnya tenang. Walau dengan cara yang salah. 


Nanda pun kembali memegang kedua tangan Oktara memohon agar diberikan kesempatan dan ia pun bersedia untuk dijadikan Istri kedua. 


"Kamu ngomong apa sih? Kamu ngapain ada di sini, mending kamu pulang dan gak usah balik kembali. Gak penting banget tau gak sih." Ia mencoba untuk melepaskan tangan Nanda yang sengaja menempel di bagian tangannya menyuruh untuk keluar dari kantor agar tak membuat recok di sana. 


"Mending kamu keluar dari tempat ini dari pada----" 


"Pak ada panggilan telepon kayaknya hal penting deh." Karena urusan di dalam jauh lebih penting daripada di luar dengan cepat Oktara pun masuk ke dalam kantor kembali membiarkan Nanda sendirian di luar seperti orang yang aneh dan seperti orang yang kebingungan mencari jalan keluar supaya bisa mendapatkan orang yang ia cintai. 


Oktara pun merapikan baju yang ia kenakan dan masuk ke dalam mengangkat telepon dan ia menstabilkan nada suaranya agar tidak terdengar seperti orang yang sedang emosi. 


Padahal baru pagi-pagi seperti ini sudah dibuat terima dan sudah dibuat emosi banget dengan orang yang enggak sangka-sangka datang. 


Raut wajahnya dirubah dengan rasa bahagia ternyata hari ini adalah hari anniversary mereka berdua antara Oktara dan Anara. "Astaga aku lupa banget deh kalau misalkan kita anniversary ma'af banget ya soalnya---" 


"Kayaknya enggak perlu deh gue kasih tahu kalau misalkan tadi Nanda datang ke kantor dan marah-marah mungkin aja dia lagi ngasuh Pingkan gue nggak mau kalau kepikiran," gumamnya dalam hati yang mengurungkan niat untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di kantor. 


"Oke nanti aku bakalan beli bunga dan juga kue buat anniversary kita kecil-kecilan berdua di rumah ya maunya kamu tungguin aja ma'afin aku kalau misalkan aku udah lupa dan makasih banyak kamu udah ingetin aku." Dengan cepat Oktara pun kembali duduk di tempat kerja dan membuka kembali berkas berkas yang hampir saja ia kerjakan tapi karena ada Nanda yang tiba-tiba aja datang jadi terhalang dalam beberapa waktu atau tertunda. 


Karena ini adalah anniversary mereka untuk yang pertama kalinya maka dari itu ini harus tidak boleh kehilangan momen dan anniversary hari ini adalah hari kebahagiaan dan juga merupakan anniversary yang tertunda sebenarnya ke tunda karena macam-macam kejadian-kejadian yang membuat mereka tidak merayakan.