
Anara dan Oktara menceritakan apa yang bakalan mereka lakukan besok. "Gimana kalau misalkan besok kita foto bareng bersama soalnya kita kan nggak ada punya foto bareng-bareng dan juga ditempel di dinding sama kayak orang-orang kebanyakan biar jadi memori buat kita?"
"Aku mau kok karena kenapa ya selama ini Kita tuh nggak kepikiran buat foto bareng ya udah deh aku mau dan bakalan foto bareng sama Pingkan juga bertiga nanti siapa tahu kita bakalan jadi banyak atau berempat."
"Maksud kamu jadi banyak tuh apa ya apakah kamu mau nambah lagi satu anak buat keluarga kita jauh lebih rame ya ampun kamu ternyata suka juga ya punya anak banyak aku juga sih."
"Apaan sih, maksud aku nambah lagi satu nggak terlalu banyak juga emangnya kamu yang lahirin aku capek kalau misalkan keterlaluan banyak kayak orang-orang yang ada di seberang sana banyak banget anaknya aduh riuhnya bingung deh aku kayak gimana," jawabnya yang tidak terbayangkan apabila benar-benar terjadi apa yang mereka katakan hal ini karena ini sudah malam mereka pun berusaha untuk memejamkan kedua matanya untuk tidur karena besok mereka bakalan foto barang tapi setelah selesai bekerja di kantor.
***
Sebelum berangkat ia merapikan terlebih dahulu barang-barang yang ada di kamar sesuai dengan tempatnya. "Kayaknya sudah selesai, ya sudah Mama mandi dulu ya sayang kamu tiduran dulu kamu yang anteng sebentar lagi kamu bakalan mandi dan kita bakalan berangkat ya? Oke? Ya udah deh."
Setelah sore hari dan juga selesai sholat akhirnya ia pun mendandani Pingkan terlebih dahulu yang sebelumnya mandi dan rasanya segar banget. Walaupun sedikit agak rewel tapi membuat anak itu lebih anteng karena bukan tipe orang yang cerewet dan bukan tipe orang yang mudah dalam kepanikan.
Melihat wajah Pingkan yang sangat lucu rasa lelah pun terbayarkan walaupun semuanya serba sendiri dan meskipun ada asisten rumah tangga yang juga siap membantu tapi sebagai seorang ibu tidak mau untuk kehilangan momen seperti itu karena ini adalah sekali dalam seumur hidup dan nggak akan pernah terulang kembali. Bahkan ketika ia berhasil sudah membesarkanku Pingkan sampai besar maka itu adalah kebahagiaan sendiri.
Suara klakson terdengar dari luar sepertinya itu adalah Oktara yang baru saja pulang dari kerja.
Anara sangat sibuk sekali mendandani si kecil yang ternyata tiba-tiba saya tidur padahal tadi ketika bangun ia sangat ganteng banget tapi namanya juga baik nggak bisa ditolerir dan nggak bisa dikasih briefing terlebih dahulu karena belum tahu apa-apa, tapi tak masalah membuatnya merasa ada masalah ia pun dengan cepat membawanya masuk ke dalam mobil karena Oktara sudah siap untuk berangkat ke studio foto. Karna mereka tidak pernah sebelumnya berfoto bersama dengan pakaian begitu sangat rapi.
Karna mereka sangat profesional banget maka dari itu membuat mereka sabar dan juga tingkat kecerdasan yang tidak bisa diukir ukir dan mereka pun walaupun masih dalam keadaan rewel dengan pakaian yang sudah siap buat difoto tapi mereka bisa mengambil angle yang tepat untuk bisa diambil gambar dan juga disimpan ke dalam memorinya. "Gak papa, kalau nangis juga nggak masalah nanti ketika difoto bakalan jauh lebih bagus kok hasilnya."
"Oh gitu ya? Oke deh kalau kayak gitu nggak masalah kalau misalkan emang bisa diakalin jadi nggak papa deh." Ternyata diam-diam Ok cara mengambil gambar dari tempat ia duduk.
Setelah drama yang terjadi akhirnya mereka pun mendapatkan hasil yang diinginkan benar-benar tidak disangka sama sekali ternyata hasil tersebut sangat memuaskan. "Ya udah kita istirahat dulu yuk makan-makan kayaknya udah lapar banget perut aku keroncongan kamu bawakan makanan buat Pingkan?" Sebagai seorang ibu yang harus cekatan apapun yang bakalan terjadi Anara mulai belajar tentang pengalamannya selama ini yang perlahan-lahan ia ketahui dan juga melihat orang-orang yang cerita di YouTube tentang pengalaman baru pertama kali memiliki seorang anak.
"Aku denger sebentar lagi Nadia bakalan menikah ya yang mantan tunangan kamu itu soalnya mama kamu taruh di story."
"Oh iya? Aku seharian ini nggak buka wa dan juga wa-nya aku buka cuma sekedar wa kerjaan doang soalnya aku punya dua HP jadi nggak ngeliat deh apa aja story yang tersimpan di sana nanti deh aku lihat ya kalau misalkan dia nemuin orang yang bentar lagi bakalan menikah itu tandanya mereka bahagia dengan pilihan yang baru apalagi mantan tunangan aku. Ya kalau ditanya awal-awal ya aku sedih juga waktu itu nggak jadi tunangan sama dia tapi aku jauh lebih sedih lagi kalau misalkan aku kehilangan kamu karena ternyata kamu tuh bener-bener sabar, tulus dan juga kamu adalah manusia yang paling baik yang pernah aku kenal jadi aku bakalan takut kalau misalkan aku kehilangan kamu."
Dan suara itu malah membuat orang-orang yang di sekitar memperhatikan mereka berdua yang sedang mengatakan hal ini membuat Anara sedikit merasa malu. "Apaan sih, kenapa kamu harus malu dan kenapa kamu kayak ngerasa bingung kayak gitu santai aja kali. Kan kita udah menikah juga dan gitu juga udah memiliki seorang anak tapi kenapa kamu sampai sekarang malu sih kalau aku ngomong serius dan romantis kayak begini?"
"Iya, tapi ngomongnya jangan di depan orang banyak juga kali aku bakalan malu dan aku juga nggak pede kalau mereka dengar obrolan kita berdua yang menurut aku terlalu berlebihan." Anara menunduk takut Oktara marah-marah karena ia memberanikan diri untuk berkata jujur. Tapi rupanya ia salah Oktara malah mengelus-ngelus puncak kepalanya bersama dengan Pingkan yang terdiam anteng.
"Ya udah deh, nanti aku bakalan buktiin sama kamu dan aku juga bakalan bikin kamu lebih malu banget dari sekarang soalnya supaya kamu tuh sadar kalau aku itu beneran cinta dan sayang sama kamu jadi aku harap kamu jangan ada kata malu lagi di antara kita berdua oke?"
Anara pun cemberut.