
"Akhirnya kamu nemuin aku juga sekarang? Aku pikir kamu udah nggak mau lagi sama aku dan nggak peduli lagi. BTW selamat ya karena kamu udah memiliki seorang anak," ucapnya yang memberikan selamat kepada Oktara tapi kali ini membuatnya tidak seperti dulu lagi welcome atau menyambut hangat.
"Udah deh jangan pura-pura. Waktu aku di sini cuma sebentar pengen nanya sama kamu. Aku harap kamu bisa jawab jujur dan jangan ada kebohongan-kebohongan lagi yang kamu ciptakan." Oktara sengaja hari ini mengatur perjanjian mereka berdua tanpa siapapun karena dari beberapa hari yang lalu membuatnya semakin merasa tidak nyaman apalagi apa yang ia rasakan hari ini adalah hari yang paling meledak dan tidak bisa di bendungan-bendung lagi.
"Ya udah kalau gitu kalau misalkan pengen ngomong sesuatu yang ngomong aja. Aku tahu deh apa yang sebenarnya kamu pikirkan pasti kamu menyesalkan meninggalkan perempuan sebaik aku?"
Padahal Oktara belum ada mengatakan sesuatu tapi dengan percaya dirinya Nanda mengatakan hal tersebut. "Jadi kedatangan nabi ke sini adalah kamu jangan pernah ganggu-ganggu lagi keluarga aku karena aku udah punya orang-orang yang benar-benar aku sayang."
"Oh jadi Kakak dari Anara kasih tahu kamu kalau misalkan aku udah ambil dari anak kamu? Ternyata gercek juga jadi orang ya ampun aku sama sekali nggak nyangka deh!" Lantas membuat kedua mata terbelalak begitu saja sama sekali nggak nyangka banget kenapa bisa seperti ini. Dengan cepat ia pun berdiri lalu menunjuk Nanda karena sudah keterlaluan banget menyebarkan fitnah yang sebenarnya mereka nggak ngelakuin apapun dan biasa-biasa saja.
"Emang bener 'kan kalau misalkan aku lagi hamil? Emangnya kamu lupa?"
Suara Oktara sedikit agak meninggi tidak terima dituduh seperti ini apalagi cenderung fitnah. "Kamu jangan macam-macam ya aku sama sekali nggak pernah hamilin kamu. Nanda kenapa sih kamu keterlaluan banget menuduh aku yang nggak-nggak? Sumpah ya aku bener-bener nggak nyangka tau nggak sih aku nyesel banget kenal sama orang yang kayak kamu."
"Harusnya kamu tuh sadar sebelum semuanya terlambat, semuanya bakalan baik-baik aja sih kalau menurut aku. Dan satu hal yang kamu pikir aku ini adalah perempuan yang terbaik buat kamu!"
Rasanya ingin menampar atau menonjok orang yang ada dihadapannya sekarang. Tapi ya sadar orang yang dihadapannya sekarang ini bukan lawannya dan dia seorang perempuan yang nggak pantas untuk mendapatkan kekerasan dari seorang laki-laki yang emosi. "Kenapa sih wajah kamu kok kayak tegang? Udahlah aku bisa kok jadi Istri kedua kamu yang melayani kamu apapun yang kamu mau."
Karena sudah enggak beres akhirnya Oktara memutuskan untuk pulang karena sia-sia juga menghabiskan waktu di sini tanpa harus memikirkan ending seperti apa nantinya bakal terjadi, semuanya bakalan sia-sia karena nggak akan pernah mungkin bakalan baik perempuan yang ada dihadapannya sekarang berubah seperti apa yang diinginkan, nggak akan pernah.
Nanda sedikit merasa lega banget karena Oktara merasa gelagapan dengan apa yang baru saja ia lakukan. Hubungan mereka bakalan kandas dalam waktu cepat dan ia segera akan mendapatkan posisi yang disandang oleh Anara sekarang. Ia sama sekali nggak peduli yang diharapkan adalah kembali bersama antara seperti semula. "Gue bahagia banget deh ngelihat dia kayak gelagapan begitu!" batinnya dalam hati sangat gembira banget.
***
"Sini tas kerja kamu."
"Aku mau mandi dulu ya!" Oktara dengan datar mengatakan lalu ia menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar, mengambil handuk yang terpajang di samping pintu dan masuk ke dalam kamar mandi untuk melepaskan pikiran pikiran negatif dan juga badan yang sedikit agak kotor. Semua hal-hal negatif ia tumpahkan di kamar mandi dengan menyiramkan air di sekujur tubuh.
Setelah 10 menit berada di dalam kamar mandi dan sudah mulai seperti semula. Anara pun duduk disamping Oktara menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya hari ini.
"Kamu kenapa sih Mas kok wajahnya kayak ditekuk gitu? Coba kamu ceritain sama aku apa yang sebenarnya terjadi?"
Tapi kalau misalkan gak diceritain ya bakalan panjang dan bakalan lebar banget. Ia menarik napas sejenak untuk bisa lebih tenang dan sabar. "Jadi Mas Prima udah tahu kalau misalkan Nanda itu adalah pacar aku bahkan selingkuhan aku selama kamu nggak tahu. Dan aku bener-bener nggak enak banget sama Mas Prima dengan Nanda yang mengatakan hal gitu aku sama sekali nggak suka tahu nggak sih."
"Aku sama sekali nggak pernah cerita kalau misalkan kamu pernah punya pacar dan selingkuhan. Tapi mereka berdua kenal di mana ya kok tiba-tiba aja tahu satu sama lain dan cerita?"
"Aku juga nggak tahu kenapa mereka bisa kenal satu sama lain. Bahkan ada fitnah aku yang bikin aku bener-bener ngedrop dan stres banget."
"Nanda ngomong apa sama Mas Prima?"
Oktara menatap sebentar lalu mengatakan Nanda bilang ia hamil. "Astaghfirullahaladzim kok dia tega banget sih ngomong kayak begitu sama Mas Prima, aku takutnya dia percaya gitu aja sama omongan dari Nanda. Ya udah nanti aku kasih tahu deh Mas Prima kalau misalkan kamu nggak ngelakuin apapun. Tapi kamu nggak ngelakuin 'kan apa yang dituduhkan oleh Nanda itu?"
Oktara memegang kedua tangan Anara lalu ia mengatakan kalau misalkan nggak ada kata terbersit lagi untuk selingkuh akan mendapatkannya dengan perempuan lain karena cukup satu orang aja yang ada di dalam hatinya sampai menua dan sampai akhir hayat memisahkan. Walaupun mungkin di dalam hati kecilnya bilang nggak percaya tapi ia berusaha untuk percaya untuk masa depannya dan si kecil yang sudah lahir bahkan tumbuh kembang juga butuh seorang figur Ayah dalam kehidupannya.
Suara klakson terdengar dari luar. Mobil yang terparkir di depan halaman rasanya tidak asing lagi bagi mereka berdua. Oktara sudah sangat yakin kalau itu adalah mobil Mas Prima.
Prima dipersilahkan untuk masuk ke dalam. Sorot matanya sangat tajam banget menatap Oktara tapi ia berusaha untuk tetap santai dan tidak tegang karena takutnya nanti bakalan salah paham lagi, iya yakin banget kedatangannya ke sini pasti ada sesuatu hal yang ingin disampaikan. Anara dengan cepat menggeser posisinya jauh lebih dekat selalu menggenggam tangan kirinya yang berjuntai di atas paha respon tersebut akan menguatkan kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Kalian berdua kok kayak tegang banget gitu sih?" Dengan spontan pun mereka berdua menggelengkan kepala.
"Mas Prima cuma pengen nanya doang sama kamu Oktara sesuatu hal yang penting. Tapi Mas harap kamu bisa jawab semuanya. Anara kamu siapkan ngedengerin apa yang sebenarnya terjadi?"
Deg!
Sebenarnya Anara sudah diceritakan langsung sama Oktara tapi dia berusaha untuk tetap steril dan santai karena takutnya nanti dikira membela Suami yang salah.
----
Kira-kira apa yang akan disampaikan oleh Mas Prima ya? Yuk pantengin terus di bab selanjutnya!