
Makan malam sudah tersedia di atas meja. Rasa rasanya gatal banget untuk menanyakan hal ini langsung tapi mungkin tidak mau merubah mood menjadi rusak akhirnya ia ke sampingkan terlebih dahulu. "Kamu kenapa? Kok kayak banyak pikiran gitu? Cerita aja ke aku kali aja aku bisa ngebantu."
"Ntar aja deh aku mau makan dulu nggak baik kalau misalkan lagi makan kita cerita-cerita atau lagi ngobrol."
Anara hanya mengangguk dan tidak mempertanyakan lagi.
Oktara tak sanggup lagi untuk menahan semua akhirnya ia pun bercerita kepada Anara apa yang selama ini ia sembunyikan. Oktara melihat wajah Anara yang sangat lapar sekali memakan makanan yang ada dihadapan. Rasanya nggak tega banget untuk mengatakan yang sesungguhnya tapi kalau misalkan tetap disembunyikan sampai kapan pun ia akan merasa berdosa. Perempuan sebaik dia nggak seharusnya mendapatkan laki-laki yang buruk.
"Ya sudah kalau gitu saya ke kamar atas dulu ya."
"Iya aku mau rapi-rapi dulu mau cuci piring di dapur." Oktara yang menaiki anak tangga dan masuk dalam kamar.
"Sebenarnya saya pengen ngomong sesuatu sama ini sama kamu, tapi saya harap kamu jangan ceritakan ke siapapun. Dan ini semua menjadi rahasia kita berdua."
"Apa itu Mas?" Ia berpositif thinking aja semoga baik-baik saja.
"Tapi saya harap kamu jangan terkejut dan jangan salah paham terlebih dahulu, walaupun saya akan ceritain semuanya tapi saya akan tetap menanggung hidup kamu."
Kata-kata yang dilontarkan oleh Oktara terkesan ambigu. Lalu ia menarik napas dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Jadi selama ini saya punya selingkuhan!"
Deg! Perempuan mana yang tidak merasa sedih ketika seorang laki-laki yang berusaha ia cintai malah memilih perempuan lain. Yang paling sakitnya adalah laki-laki itu malah bercerita langsung menjelaskan yang sebenar-benarnya.
Oktara melihat kedua matanya sudah memerah sementara lagi air mata itu terjatuh dari titik kanan dan kiri. Tapi berusaha untuk menahan nya ia tidak mau terlihat cengeng.
"Jadi perempuan itu adalah orang yang paling saya cintai setelah saya putus sama mantan tunangan saya. Saya sadar banget kalau apa yang saya lakukan ini memang salah dan kamu berhak untuk menjudge saya."
"Jadi selama ini kamu punya selingkuhan?" Tubuh Anara merasa gemetar dan tidak menyangka ternyata apa yang dirasakan selama ini menjadi kenyataan dan benar-benar ia dengar dari Suaminya sendiri.
Oktara tahu kalau orang yang di depannya sedang sakit hati dan pastinya akan membenci. Tapi memang benar pernikahan mereka bukan di dasari oleh jatuh cinta atau bahkan memiliki keterikatan satu sama lain dan mereka juga tahu konsekuensi di awal bahwa rasa sakit hati akan berpeluang besar.
"Terus mau kamu sekarang apa? Saya bakalan mewujudkan apa yang kamu mau bahkan ketika kamu pengen kita berpisah juga nggak masalah!"
Anara hanya bisa berdiam diri saja ia pikir obrolan di awal tadi membuat Oktara terbuka untuk menerima tapi ternyata semua itu salah. Dan di luar dugaan dan sangat mustahil. "Kalau kamu mau saya ceraikan saya siap ceraikan kamu!"
"Aku tidak mau mengecewakan Mama dan Papah aku, aku pengen membahagiakan mereka. Tetaplah menikah denganku Mas walaupun kamu tidak pernah mencintaiku dan sayang terhadapku. Banyak budi keluargamu yang mau menyelamatkan keluargaku. Aku dan keluarga banyak jasa ke keluarga kalian."
Oktara tidak menyangka Anara mengatakan hal ini langsung dan ekspetasi. "Saya sangat yakin kamu sakit banget mendengar Suami kamu 'kan ngomong kayak gitu?"
Anara menggelengkan kepalanya. Tapi ia lupa kedua matanya sangat sembab dan bengkak karna tak berhenti terus menangis sampai suara sesegukkan.
Oktara mengambil air minum lalu memberikan air putih kepada Anara. Ia sebagai laki-laki tak merasa tega juga ketika seorang perempuan menangis dan bersedih hati.
"Kamu gak papa 'kan? Ma'af kalau kata-kata yang saya tadi terlalu menyakitkan dan bikin kamu sakit hati, saya emang bukan laki-laki baik dan saya bukan laki-laki yang pantas mendapatkan perempuan sebaik kamu Anara."
Memang benar!
Tapi apakah tak ada cara untuk mencobanya? Mencoba untuk bisa berusaha mencintai Anara? Sayang kepadanya?
Enggak ada?
Oktara mendekat lalu memagut Anara dan mengelus pundaknya untuk pertama kali. Anara baru merasakan jarak yang sangat dekat dengan Oktara. "Kalau kamu gak mau cerai dengan saya, saya akan berikan kebutuhan kamu dan itu semua adalah tanggungan saya pastinya. Sudah jangan menangis lagi Anara, saya merasa bersalah jika kamu tetap menangis seperti ini. Ma'afkan saya belum bisa mencintai kamu," ucapnya dengan gemetar. Sampai kapanpun Anara akan tetap ingat dengan kata-kata Oktara tentang ingin menceraikannya apabila ia tak sanggup untuk menyandangnya.
"Enggak papa Mas. Enggak papa kok. Makasih sekali lagi dengan kebaikan yang selama ini," sahutnya yang selalu saja ingat.
Tiba-tiba saja suara dering telepon di ponsel Oktara. Anara melihat nama yang tertera di sana. Ia menyuruh Oktara untuk mengangkatnya. "Ya hallo. Ada a---apa? Kok nelepon malam-malam?"
Oktara masih punya perasaan dan merasa gak enak banget ketika Anara Istrinya di samping. "Iya nanti aku transfer ya."
Dengan cepat Oktara mematikan ponselnya dengan tombol merah. Anara baru sajmdah ternyata Oktara mentransfer uang kepada perempuan lain. Dan perhatian sekali terhadap perempuan itu?
Anara memutuskan untuk tidur dan memalingkan badannya ke arah kanan tapi sebelumnya meminta izin terlebih dahulu. "Ya sudah kalau gitu aku tidur duluan ya Mas. Ma'af kalau misalnya duluan ya tidurnya."
Oktara mencuci wajahnya di kamar mandi, membasuh wajah dan menggosok gigi. Lalu ia beranjak ke tempat tidur. Tapi sebelumnya ia mengambil selimut terlebih dahulu menyelimuti Anara, agar ia bisa tidur hangat.
Sebenarnya Anara sadar ada seseorang yang menyelimutinya dengan selimut. Tapi ia tetap merasakan da berdiam diri.
***
Anara melihat sebuah pesan dari Tiara kalau misalnya hari ini Oktara berulang tahun. Tiara mengajak Anara untuk memberikan kejutan kepada Oktara. Tapi kejutan yang tidak disangka-sangka Oktara nanti.
Tiara
"Kak hari ini Kak Oktara lagi ulang tahun gimana kalau misalkan kita kasih kejutan sama dia?"
Anara
"Iya tenang aja,"
"Kamu kenapa? Kok kayak senyam-senyum gak jelas begini sih? Ada apa?"
"Em, enggak kok. Enggak kenapa-napa hehe. Aku gak papa. Kamu mau berangkat? Aku antar ke depan ya Mas." Oktara merasa bingung kenapa Anara biasa aja setelah kejadian drama tadi malam.
Sudah tersedia kopi dan sarapan pagi di atas meja. Ia mengambil dan dengan satu tegukkan saja. "Ya sudah kalau gitu Mas berangkat kerja dulu ya."
Setelah Oktara sudah keluar dari rumah, rencananya Anara akan memberikan kejutan kecil juga kepada Oktara. Tapi bukan kejutan yang mewah atau kejutan yang biasa-biasa saja.
Ia mengambil jaket lalu mengunci rumah membeli kue ulang tahun untuk Oktara. Yang tak jauh dari rumah. Dengan permintaan yang sederhana saja, tak lupa membeli bunga segar. Membawanya pulang ke rumah. 15. Sakitnya Bukan main
Di ruang tamu,
Anara sedang menonton televisi. Tapi entah kenapa tiba-tiba perasaannya ngerasa nggak enak setelah mendapatkan sebuah pesan singkat dari Oktara, beritahukan hari ini pulangnya agak sedikit lama atau sedikit ngaret. "Kenapa ya tiba-tiba perasaan aku kayak nggak enak ini?"
Sebenarnya iseng doang pengen ke kantor Oktara, ingin melihat kegiatan apa saja yang terjadi setelah pulang kantor karena soalnya feelingnya udah nggak enak tadi di rumah. Karena seorang perempuan pastinya ngerasain banget tentang hal ini jadi dari pada menyesal akhirnya pun ia naik ojek online untuk ke kantor Oktara.
Ada seorang perempuan yang sedang menunggu di depan ia pikir itu orang lain ternyata beberapa menit kemudian Oktara keluar dari ruangan dan menghampiri perempuan tersebut. Pikiran positif pun masih terbayang-bayang dibenak. Jarak mereka yang tidak terlalu jauh terdengar sekali apa yang mereka obrolkan berdua.
"Makasih banyak ya ma'af kalau misalkan aku duluan ke kantor kamu terlebih dahulu soalnya aku males banget nungguin di kantor aku." Oktara dengan cepat membukakan pintu dengan persilahkan untuk masuk ke dalam.
"Ternyata Mas Oktara bareng sama perempuan itu. Jadi perempuan itu adalah orang yang diceritakan ternyata dia jauh lebih cantik dari aku dan sepertinya perempuan itu adalah anak orang kaya yang sepadan dengan Mas Oktara."
Kedua air matanya tiba-tiba saja menetes tidak menyangka ternyata Oktara berduaan dengan seorang perempuan yang bukan pendampingnya. Alih-alih ingin berdamai dengan kemarin eh sekarang malah sakit hati lagi. Dengan cepat ketika mobil baru saja melintas dihadapannya ia pun berjalan kaki untuk bisa pulang ke rumah.
Tidak menyangka ternyata di luar seperti itu dan bahkan berduaan dengan seorang perempuan.
Ketika berada di dalam mobil Oktara merasa ada hal yang aneh perasaannya tiba-tiba saja merasa enggak enak hati tapi dia enggak tahu apa yang di maksud didalam perasaannya tersebut. "Kamu kenapa sih kok tiba-tiba kayak aneh begitu? Kamu lagi mikirin sesuatu ya? Perasaan baru aja deh kamu kemarin ulang tahun kenapa sekarang wajahnya kayak ditekuk gitu?"
"Mungkin ini cuma biasa doang," batinnya dalam hati lalu melanjutkan perjalanan untuk mereka jalan-jalan bareng. Karena sebelumnya dia mengirimkan sebuah pesan terlebih dahulu kalau pulang agak sedikit terlambat.
Dan ketika sampai pun rasanya tetap perasaan yang sama yaitu merasa gelisah dan khawatir. Ia menyuruh Nanda terlebih dahulu memilih baju di toko baju ketika sudah sampai di dalam. Ternyata ada beberapa panggilan dari Anara yang tak ia jawab. Karena penasaran dengan cepat ia pun menelpon kembali tapi tidak ada jawaban seperti ponsel yang sedang dimatikan, perasaan sedang khawatir kalau terjadi kenapa-napa soalnya dia di rumah sendirian.
"Aku udah beli baju nih tinggal di bayar aja di kasir!" Ia menyimpan kembali ponselnya lalu membayar dan mereka akan jalan bareng lagi.
"Kamu kenapa sih kenapa kayak kepikiran sesuatu gitu?"
"Enggak, aku nggak kenapa-napa kok. Ya udah kalau gitu kamu beli lagi apa yang kamu bakalan mau aku beliin deh hari ini juga. Sebagai tanda terima kasih aku karena kamu udah kasih kejutan buat aku kemarin yang nggak akan pernah aku lupain."
Merasa diberikan peluang akhirnya Nanda pun dengan cepat masuk ke dalam toko tas. Yang sangat mahal dan pastinya branded banget yang jarang ditemui di seluruh Nusantara dikarenakan barang barangnya juga limited edition. Sementara menunggu memilih barang Oktara pun kembali untuk menghibur sejenak agak jauh untuk menelpon kembali. Tapi tetap saja hasilnya nihil dan rasa gelisah pun semakin besar dan berkecamuk.
"Kamu ngapain sih main HP mulu dari tadi. Ayo dong cariin tas yang bagus buat aku. Kamu kenapa sih kok tiba-tiba aneh dan berubah banget kayak orang banyak pikiran?" Ada dua tas di tangan Nanda di kiri dan kanan yang berwarna merah dan berwarna putih.
"Ya sudah pilih aja kesukaan kamu aku bakalan bayarin, aku nggak tahu bagus yang mana ya udah ambil aja kalau nggak pilih keduanya deh!" Dengan cepat karena ditawarin 2 tas akhirnya ia membawa tas tersebut di kasir untuk dibayarkan oleh Oktara.
"Mohon ma'af sepertinya uangnya tidak cukup!"
"Kamu kenapa sih kok malah enggak orang plin-plan gitu, katanya pilih aja semuanya setelah udah pengen bayar kamu malah ah nggak cukup uangnya gimana sih!" Nanda marah-marah membuat kepala Oktara merasa berat dan sakit.
Ia memutuskan untuk keluar dari toko tas meninggalkan Nanda sendirian yang belum membayar. "Sayang, sayang kamu mau kemana kok malah ninggalin aku sih!" Oktara tidak peduli dengan teriakan orang yang ada di dalam toko tas tersebut.
Dia bergegas masuk ke luar parkiran dan menaiki mobil untuk langsung pulang ke rumah. Apalagi ketika ditelepon tadi tidak ada sambungnya sama sekali.
Ketika sudah sampai di rumah ia mengetuk tapi tak ada respon. Ia melihat ke belakang atau bagasi tapi tak ada respon juga. Ia pun dengan cepat mengedor pintu rumah agar Anara keluar dari dalam rumah. "Ke mana sih kamu Anara? Kamu lagi di mana? Bikin gue khawatir aja deh!" Ia merasa gemetar sekali ketika mencoba untuk menghubungi kembali tak ada respon.
Tak berapa lama ia pun melihat Anara yang baru saja pulang. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, kamu habis dari mana sih? Kok gak aktif nomor kamu? Kamu ke mana aja?"
"Aku tadi habis dari kantor kamu jalan kaki."
"Hah? Kantor saya? Ngapain kamu ke sana?" Anara menggeleng dan tak menjawab apapun. Ia membuka pintu rumah dengan kunci yang ia ambil dari dalam tas.
"Kamu aneh deh. Kamu bikin saya panik saja tau gak sih!"
Suara dering terdengar. "Ya sudah, aku masuk ke dalam dulu ya! Kamu angkat aja telepon kamu itu."
Nanda.
"Kamu kenapa tinggalin aku sih? Aku udah nungguin kamu nih dari tadi, kamu harus bayar tasnya. Aku malu nih."
Tanpa pikir panjang Oktara transfer sejumlah uang kepada Nanda untuk membayar tas yang belum dibayar. Ia masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Melihat Anara memasak ikan untuk makan nanti malam.
Serabutan!
Membersihkan kulkas yang sudah kotor dan pastinya sudah harus dibersihkan agar lebih rapi. Dia adalah perempuan yang baik, malah di uji dengan laki-laki seperti dirinya yang seperti ini. Berbeda sekali dengan Nanda yang jauh lebih emosian dan lebih menuntun tanpa perduli dengan orang yang ada di sekelilingnya.
"Mas udah makan kuenya ya?" Ketika ia membuka kulkas ternyata kue yang ia beli sudah tinggal separuh.
"Hm," jawabnya.
"Oh ya udah." Ketika ingin kembali Oktara mengatakan terima kasih.
Anara hanya mengangguk dan permisi ke dapur untuk memasak. "Kenapa Anara kayak diam gitu ya? Dan dia kenapa?"
Melihat gerak-geriknya Anara yang tampak beda dari sebelumnya. Biasanya perempuan itu jauh lebih ekspresif dan menyimpannya dengan baik gini malah standar dan biasa-biasa aja. Oktara berpikiran apakah Anara merasa marah ketika di saat ulang tahun tersebut dia nggak datang dan malah mengecewakan hatinya.
"Kenapa tiba-tiba aja perasaan gue ngerasa kayak gini ya? Dan kenapa perasaan gue seperti orang yang bersalah?"
"Kenapa Mas Oktara nyariin aku ya?" batinnya.