
Nanda bingung apakah ia harus berbohong lagi dengan sesuatu hal yang sangat besar ini sejak tadi ia mondar-mandir ke kanan dan ke kiri. Akhirnya setelah berpikir panjang ia pun mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Kakaknya dari Anara. Rasanya deg-degan banget ketika nanti kebohongannya ini apakah berhasil atau tidak. "Semoga aja semuanya berhasil dan semoga aja mereka berdua bakalan berpisah. Gue nggak akan pernah rela kalau Oktara bahagia dengan perempuan lain selain gue! Sampai kapanpun gue nggak akan pernah biarin perempuan manapun yang ngambil dia, karena gue tahu banget kalau misalkan Oktara itu cinta banget sama gue dan nggak mau kehilangan gue sampai kapanpun! Gue yakin banget kalo misalkan pernikahan mereka itu bukan pernikahan yang di inginkan dan mereka juga nggak bahagia kalau bersama!"
Suara ketukan terdengar dari pintu kamar, Mama masuk dan menyuruhnya untuk makan di bawah. "Iya Mah sebentar lagi aku bakalan turun kok,"
"Ayo buruan sama adik-adik kamu yang lain juga udah nunggu di bawah." Mama menutup kembali pintu kamar Nanda.
Nanda menaruh ponselnya di bawah ah bantal dan ia pun turun dan bergabung bersama Adik adik dan juga Mama dan Papah. "Kayaknya kepikiran sesuatu deh? Kamu kenapa sih Nanda?"
"Aku nggak kenapa-napa kok aku cuma pikirin hal yang gak penting aja di kantor soalnya banyak banget kerjaan di sana yang belum selesai-selesai juga," jawabnya yang sedikit agak berbohong. Mama mengambilkan nasi dan juga lauk menaruhnya di atas piring.
"Perasaan menurut Papah semenjak kamu udah nggak barang-barang sama Oktara lagi kamu kok kayak lesu banget gitu kenapa?"
"Kita berdua 'kan udah putus Pah, dan dia juga udah nikah."
"Oh jadi dia udah menikah? Kenapa waktu itu kamu nggak datang ke nikahan dia?"
"Aku juga nggak tahu kenapa dia tiba-tiba nikah, mungkin dia udah bahagia sama orang yang ada di sampingnya sekarang aku nggak masalah juga sih sebenarnya."
----
"Aku hamil anak dari Oktara." Sebuah nomor yang sengaja tidak ia simpan, Prima tahu sekali kalau misalkan pesan tersebut dari Nanda mantan selingkuhan dari Oktara. Kedua matanya langsung saja terbelalak membaca sebuah pesan singkat tersebut. Rasa-rasanya sama sekali tidak percaya.
"Gue kok sama sekali nggak percaya sama pesan ini? Walaupun gue kurang suka sama hubungan mereka berdua tapi gue yakin banget Oktara nggak mungkin sebejat itu. Tapi bener juga sih mana mungkin seorang perempuan bakalan mengatakan aibnya sendiri ke orang lain kalau nggak bener?"
Prima melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil karena hari ini rencananya mau datang ke tasmiyah Adiknya bersama sang Istri. Selama di perjalanan selalu saya terbayang-bayang dengan kata-kata tersebut, enggak rela banget kalau misalkan apa yang terjadi itu memang benar-benar terjadi.
Perasaan Oktara bener-bener nggak enak banget hari ini entah apa yang sebenarnya terjadi nanti tapi feeling hari ini tu nggak enak banget.
Acara sudah mulai lengkap banget persiapannya tinggal menunggu tasmiyah nanti yang akan digelar dalam beberapa jam ke depan. Sang bayi pun sudah sangat cantik banget padahal masih jauh lagi waktunya. Tubuhnya semakin hari semakin banyak progres bahkan perkembangannya pun semakin baik.
Beberapa kali Oktara melihat ke layar ponsel yang tergeletak di atas meja. Di sana ada tiga panggilan dari Mas Prima, namun panggilan tersebut tidak diangkat dan dibiarkan tergeletak begitu saja di sana. Setiap mengobrol dengan Mas Prima perasaannya selalu aja deg-degan dan bingung harus menjawab apa karena pertanyaannya selalu saja skakmat dan sulit untuk dijawab dengan jawaban-jawaban yang bohong. Ini semua gara-gara Nanda yang mereka lakukan di dalam kehidupannya padahal di dalam hatinya sudah mulai berubah menjadi lebih baik tidak mau dibayang-bayangi rasa seperti itu. Tapi dia selalu saja melakukan apapun yang dilakukan membuat pikirannya pusing dan juga apa yang dilakukannya nanti bakalan serba salah apalagi di mata Mas Prima.
"Oh ada telepon dari Mas Prima? Kok kamu enggak ngangkat sih apa kamu nggak dengar?"
"Aku sengaja nggak ngangkat karena 'kan itu HP kamu jadi aku enggak berani buat angkat." Jawaban macam apa ini yang keluar dari mulut Oktara, jelas kali mereka berdua sudah Suami Istri yang pastinya tidak ada yang harus ditutupi lagi karena semuanya bakalan bebas apapun komunikasi yang ada di ponsel mereka bukannya malah sembunyi-sembunyi.
"Ya udah kalau gitu kita langsung ke bawah aja yuk kayaknya keluarga udah mulai berdatangan deh kedengeran suara motor."
Banyak sekali sanak keluarga yang datang, rumah yang awalnya sepi berubah menjadi sedikit agak ramai. Si kecil benar-benar membawa hikmah yang sangat baik dan juga menyatakan tali silaturahmi keluarga.
***
Prima menepuk bahu Oktara lalu ia berbisik kata-kata yang keluar langsung membuat bulu kuduk merinding. "Pokoknya kamu jangan melakukan sesuatu kebohongan yang bisa menyakiti dia, kalian sudah memiliki keluarga kecil jadi jangan main-main." Belum sempat melanjutkan kata-kata tersebut Anara pun keluar dengan menggendong si kecil. Ekspresi yang awalnya tadi tegang berubah menjadi lebih santai.
"Hati-hati ya Mas dan juga kamu semoga selamat sampai tujuan nanti di rumah." Dengan terpaksa Oktara membuat senyum yang sedikit agak terpaksa.
Setelah semuanya sudah pulang satu persatu. Oktara pun masuk ke dalam terlebih dahulu. "Kira-kira apaan sih yang bikin Mas Prima ngomong kayak begitu? Kok kayaknya aneh banget gitu?" Anara menepuk bahu Oktara, menghentikan lamunan tersebut.
"Aku gak kenapa-napa kok, cuma ya gitu aja." Mendapatkan jawaban yang ambigu, Anara menyuruh Oktara untuk menggendong si kecil yang anteng banget tertidur.
Acara berlangsung dengan sangat khidmat sekali tadi, semua sudah usai dan akhirnya mereka pun sudah menggelar acara sederhana keluarga yang tak mengundang orang banyak untuk hadir.
Prima langsung masuk ke dalam rumah tanpa ada senyum sama sekali. "Mas Prima kenapa lagi sih?" Ia tau sekali Prima kalau lagi marah atau lagi kepikiran sesuatu.
Ia mengikuti dari belakang.
"Kamu kenapa sih Mas? Kok kayak kepikiran sesuatu gitu? Ada apa? Kamu bahagiakan kalau misalnya Anara sudah memiliki seorang anak perempuan? Kamu kayak gak suka gitu?" Banyak sekali pertanyaan di dalam benaknya.
"Aku pengen cerita sama kamu, tapi aku harap kamu jangan ceritakan ke siapapun bisa?"
Ia mengangguk.
"Perempuan yang jadi selingkuhan Oktara hamil?"
Kedua matanya langsung saja terbelalak, ia sama sekali tak menyangka. Tidak henti-hentinya ia mengucapkan istighfar berkali-kali, dengan cepat ia menutup mulutnya. "Kamu jangan bilang ya, aku harap kamu dan aku aja yang tau. Aku takut Anara bakalan kepikiran nanti dan aku gak mau kalau dia nanti bakalan berpengaruh sama rumah tangga mereka." Prima benar-benar kesal dengan sikap Oktara yang tak mau jujur, kalau bukan Anara adiknya maka sampai detik ini pun sudah babak beluk sosok seperti Oktara itu. Ia masih memandang Anara saja bukan yang lain.
"Tapi aku rasa ini cuma akal-akalan perempuan itu doang sih untuk merusak rumah tangga mereka. Kalau menurut aku kamu jangan langsung percaya gitu aja karena kan orang lain itu kalau merusak hubungan rumah tangga orang bakalan melakukan segenap cara apapun untuk benar-benar terjadi atau enggak." Feeling seorang perempuan pastinya selalu saja hampir benar dari pada laki-laki yang memikirkan dengan logikanya.
"Bener juga sih apa yang kamu bilang? Bisa aja sih dia cuma ngakalin doang supaya berpisah?"
"Makanya menurut aku kamu jangan terlalu percaya gitu aja. Tapi kalaupun memang benar, tergantung sama Anaranya aja mau ngejalanin lagi atau enggak apalagi mereka sudah memiliki anak yang baru aja lahir 'kan kasihan juga."