
"Kenapa harus kamu sih yang nanganin semuanya emangnya dia itu siapanya kamu kamu 'kan udah punya pasangan ngapain kamu harus mikirin orang kayak begitu?" ucap Oktara yang benar-benar marah karena merasa tidak terima padahal ini bukan urusan antara kenapa malah disuruh untuk menyelesaikan masalah yang terjadi kepada orang yang di masa lalu.
"Aku gak enak kalau misalnya Mamanya Ridho bilang langsung ke aku minta tolong buat cariin dia aku nggak enak buat nolak. Aku harap bisa mengerti ya aku titip dulu Pingkan di rumah."
"Ya udah deh terserah kamu aja sebenarnya kamu tuh nikah sama dia tuh sama aku sih kok malah kamu lebih pentingin daripada rumah?" Oktara benar-benar marah banget. Karena sebagai wanita yang taat kepada
Suami akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk keluar dari rumah karena tidak mendapatkan izin.
"Kenapa kamu nggak pergi dan ngapain kau masih ada di sini katanya mau nyariin dia dan kasih tahu dia, supaya balik ke rumah emang dia tuh siapa sih udah besar, juga udah gede, udah dewasa?"
Anara tersenyum lalu mengecup singkat pipi dari Oktara mengatakan semua ini seakan-akan hanya sekedar pertemanan atau persahabatan doang nggak ada maksud lain buat selingkuh. Apalagi mereka berdua sudah memiliki seorang anak yang gak mungkin banget untuk selingkuh apalagi mendua kepada laki-laki lain satu aja udah capek apalagi dua.
"Kamu kenapa sih marah-marah terus sama aku padahal aku itu enggak kenapa-napa dan aku juga nggak bikin masalah yang gimana-gimana kok?"
"Aku tuh nggak mau kalau misalkan kamu ke sana kemari sama orangnya nggak jelas apalagi dia itu pernah suka sama kamu, kalau misalkan dia pengen berbuat jahat sama kamu terus kamu diem aja gimana? Sekuat-kuatnya wanita itu nggak akan pernah kuat sama seorang laki-laki walaupun laki-laki itu kurus jadi kalau menurut aku kamu mendingan di rumah aja ya."
"Ya udah kalau misalkan kamu nyuruh aku di rumah ya aku bakalan di rumah aku nggak akan pernah ngebantah juga." Setelah mereka sudah mulai mereda dan juga mulai akur tiba-tiba saja suara ponsel berdering di tempat tidur dengan cepat kedua sorot mata tersebut melihat ke arah sana.
"Ya udah kamu buruan angkat kali aja penting."
Dengan cepat ia pun mengangkatnya dengan menggeser layar ponsel yang berwarna hijau ke bagian atas. Sangat terdengar sekali suara rintihan memohon kepadanya agar bisa mencari di mana dia berada karena bingung juga mau cari ke mana aja karna nggak tahu pergaulannya tuh di mana aja.
"Ya udah di Tante aku bakalan cari sebisa mungkin dan aku bakalan kasih tahu nanti kalau misalnya ada kabar, galau dan jangan kepikiran. Tante tenang aja ya jangan sedih ya." Dengan cepat ia pun mematikan ponselnya.
"Ya udah aku kasih kesempatan kamu buat cariin dia dan kamu ingat pesan aku ya pokoknya kamu harus bisa jaga diri baik-baik dan jangan pernah melakukan sesuatu di luar dari apa yang aku suruh. Tapi ada syaratnya ya," ucapnya dengan sangat panjang lebar banget.
"Ya udah kamu kasih tahu aja apa syarat-syaratnya aku bakalan pengen wujud in kok dan juga mau nurut apa kata kamu yang bilang."
Ketika mendengar Oktara akan memberikan satu syarat dan syarat itu adalah ia harus ikut menemaninya maka ia tertawa kembali karena saking posesifnya enggak mau kehilangan beda banget dengan sikapnya yang dulu yang jauh lebih cuek dan santai. "Ya udah kalau gitu kita langsung aja ya pergi semoga aja ketemu belum kita kasih pengertian biar balik ke rumah."
Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil mencari di mana biasanya nongkrong dan dimana biasanya juga sering menghabiskan dirinya dikala sedih atau galau.
***
"Ridho," panggil Anara yang melihat Ridho yang sedang duduk sendirian menatap ke depan biasanya kalau lagi galau atau lagi sedih dia suka berdiam diri di depan danau dari dulu sampai sekarang nggak ada perubahan tetap saja selalu begitu.
Anara dan Oktara turun dari mobil dan menghampiri. "Kamu tunggu sebentar ya di sini aku pengen ngobrol dulu."
"Ya udah tapi kamu jangan lama-lama." Anara melangkahkan kaki perlahan lalu memanggil namanya.
"Ridho, kamu ngapain di sini lagi galau?"
Ridho hanya tersenyum biasa saja bahkan ia tidak bisa menjawab apapun yang ia rasakan saat ini jauh terlebih dalam bahkan tidak bisa diungkapkan. "Aku pengen ngomong sama kamu boleh nggak?" Ketika menengok ke arah belakang ada seorang laki-laki yang sedang memperhatikan mereka berdua dengan menaruh tangan di atas dada dengan menyilang. Ternyata Anara tidak sendirian melainkan dengan pasangannya yang pastinya emang wajar seorang perempuan yang sudah menikah harus didampingi oleh mahramnya.
"Gue boleh ngomong sebentar nggak?"
"Aku sebenarnya nggak mau nikah sama dia bahkan sampai detik ini aja aku tuh ngerasa nyesel banget menerima tawaran tersebut buat berjodoh sama dia bukannya kenapa-napa ya aku tuh emang beneran enggak suka dan enggak cinta sama dia. Tapi aku tuh merasa kasihan aja sama kedua orang tuaku yang semakin lama semakin menua bahkan sampai sekarang aja mereka pengen banget aku menikah dan bahagia. Kapan sih aku bisa ngedapetin orang yang bener-bener sayang tapi ternyata ketika aku sudah mendapatkan kebahagiaan, ternyata dia sudah memiliki pasangan bahkan sekarang dia udah bahagia banget memiliki seorang anak." Ridho sangat terlihat depresi dan juga merasa sedih tidak bisa menjangkau apa yang diinginkan, dan pengen banget menikah dengan perempuan yang ada di hadapannya sekarang kan sampai kapanpun dan sampai di mana pun juga enggak akan pernah hilang rasa itu karena cintanya yang terlalu jauh dan terlalu dalam sehingga sulit untuk naik ke permukaan.
"Ridho kamu enggak boleh ngomong kayak begitu Ini kan udah pilihan kamu Dan mungkin udah takdir kamu bareng sama dia, masa kamu tega banget sih berpikiran kayak begitu Itu tandanya kamu egois menyakiti banyak orang. Kamu nggak boleh kayak gitu kamu balik dong ke rumah tadi Mama kamu tuh hubungin aku, beliau sangat khawatir banget sama kehadiran kamu kenapa kamu nggak balik ke rumah?"
Ridho hanya berdiam diri lalu ketika ia ingin memegang tangan Anara dengan cepat Oktara menggubrisnya dan menurunkan angka tersebut karena tidak ada yang boleh memegang kecuali dirinya sendiri. "Gue harap lo bisa ngehargain gue kalau gue ada di sini?"
Oktara mengundurkan diri ke belakang lalu membiarkan mereka berdua mengobrol sampai benar-benar menurutnya ini sudah cukup.
"Aku harap kamu pulang ke rumah ya kasihan orang ada dirumah tuh nyariin kamu masa kamu tega banget sih kayak begini? Ridho aku yakin banget nanti kamu bakalan bahagia yang bakalan senang banget ketika sudah memiliki keluarga dan juga orang yang benar-benar peduli sama kamu." Anara mampu menembus perasaan dari Ridho, dia yang paling bisa membuat pikirannya berubah dan mau melakukan sesuatu karena mungkin kata-kata yang super lembut dan juga tutur kata yang baik untuk didengar.
***
Telah berhasil membujuknya untuk pulang ke rumah dengan cepat Oktara menasehati agar tidak terlalu dekat dengan seorang laki-laki yang masih menyimpan perasaan kepada Anara.
"Aku harap kamu jangan ada hubungan lagi sama dia apalagi komunikasi."
"Berubah berubahnya seorang laki-laki kalau dia masih punya perasaan ya bakalan akan tumbuh kalau misalkan perempuan itu terus mendekat kepadanya."
"Iya sih bener juga tapi aku yakin kok dia bakalan bahagia nanti setelah menikah kita do'ain aja yang terbaik."
"Gimana dia nggak cinta sama kamu, kamu baik banget sama dia bahkan kamu memperlakukan dia layaknya seorang laki-laki diperlakukan seorang Ibunya," batin Oktara dalam hati.
***
Akhirnya Ridho pun sampai ke rumah disambut oleh Mama dengan memeluknya sangat erat banget. Mama menyuruhnya untuk duduk di sofa lalu menanyakan kemarin nginep di mana dan juga kenapa nggak ada kasih kabar sama sekali bahkan nomor HP nya bener-bener nggak aktif Mama khawatir banget takut kenapa-kenapa. "Aku nggak kenapa-napa kok aku cuman tenangkan diri doang apakah aku bisa menerima kenyataan atau enggak."
Lantas membuat Mama sangat terkejut apa yang dimaksud oleh anaknya itu. "Sebenarnya aku tuh gak cinta sama Karin tapi ya karena aku pengen bahagiain Mama dan Papah ya udah aku mencoba untuk mencintai tapi ternyata semakin hari H aku semakin merasa sakit."
Kalau memang itu adalah jawaban yang sesungguhnya dari awal Mama sudah pengen banget juga kalau semuanya di akhiri atas kebahagiaan anaknya tersebut tapi karena Ridho tidak mengatakan hal apapun jadi Mama menerima aja apa yang sebenarnya akan terjadi nanti kenapa bisa seperti sekarang setelah semuanya sudah hampir rampung.
"Tapi aku pengen mencoba untuk mencintai dia tapi aku harap jangan ada pemaksaan."
"Pokoknya Mama selalu dukung apa yang terbaik buat kamu, kamu jangan ngerasa semuanya itu tertekan." Mereka berdua pun saling berpelukan satu sama lain.