
"Kayaknya ini kesempatan aku deh buat keluar dan kabur," batinnya dalam hati.
Dua orang penjaga rupanya sedang tertidur. Perlahan dengan mengangkat kaki untuk keluar. Untungnya kedua tangan dan kaki sudah berhasil ia buka setelah menggesek-gesek di bagia tiang yang menanjak tinggi. Nada yang ngos-ngosan untuk keluar. "Semoga aja mereka berdua gak ke bangun."
Akhirnya berhasil kabur juga setelah perjuangan untuk keluar. "Ya ampun akhirnya aku bisa juga keluar dari tempat ini." Untungnya apa yang hampir saja tertinggal sudah ada di tangannya. Dengan cepat ia pun menghubungi Oktara untuk bisa bertemu dan dijemput.
"Mas, ayo buruan jemput aku sekarang aku udah kabur! Kamu di mana Mas buruan jemput aku sekarang juga!"
"Ya udah kalau gitu kamu tungguin aku di sana ya kamu kasih tahu alamatnya, dan jangan lupa juga buat foto biar aku tahu di mana." - Oktara.
Oktara pun menyuruh untuk tetap berada di tempat yang aman dan ia akan segera menjemput. Anara tak perduli ada orang yang mengejarnya kembali untuk memasukkan ke dalam rumah yang sangat tidak layak untuk di tempati waktu itu.
Ia masuk ke dalam mobil untuk menuju ke arah alamat yang sudah diberikan. Jantungnya berdegup lebih kencang, tak beraturan merasa takut kalau terjadi apa-apa di sana.
Anara terus saja mencari jalan raya yang ramai akan penduduk agar kalau terjadi apa-apa bisa meminta tolong. Ia berjalan dengan pakaian yang ia kenakan ketika pernikahan Tiara. "Kamu di mana? Aku pengen ketemu sama kamu, aku udah di jalan yang kamu kasih." Karna cukup luas hingga membuatnya seakan kebingungan mencari di bagian yang mana.
"Lah? Kok dia nggak ada ditempat sih? Apa jangan-jangan dia udah kabur dari sini?"
Sementara itu Ridho merasa kalau dua orang yang sudah ia amanatkan itu tidak bisa menjalankan tugasnya yang hanya sekedar menjaga doang. Dia marah-marah banget bahkan ingin menambah 2 orang tersebut secara berbarengan. "Kalian kenapa sih enggak bisa banget ngejagain satu orang doang?"
"Emang kalian tuh kerjanya ngapain tadi kenapa dia bisa lolos dari sini? Satu orang aja kalian enggak bisa ngejaga gimana banyak orang?"
"Ternyata kalian berdua nggak ada gunanya juga ya saya perintahkan! Sumpah saya beda-beda nggak nyangka banget tau nggak sih!"
"Kita nggak tahu juga kalau misalkan dia tuh kabur. Perasaan tadi dia tuh lagi tidur kenapa tiba-tiba malah pergi gitu aja!"
"Kalian berdua jangan banyak alasan jangan banyak omong, kalau kalian ngejagain itu benar nggak mungkin dia tuh pergi gitu aja dan gak mungkin banget kabur. Masa kalian enggak bisa sih jaga yang begituan?"
"Jangan banyak omong dan jangan banyak tingkah!" suruhnya untuk pergi tapi tetap saja tidak mengerti dan masih menunduk merasa ketakutan atas perbuatan mereka yang tidak becus menjaga.
"Terus kalian ngapain masih ada di sini? Cepat buruan kejar dia sebelum dia pergi dari sini!" Tanpa berbasa-basi mereka pun langsung pergi meninggalkan tempat penyekapan yang terjadi.
Kalau dia tadi berjalan kaki otomatis nggak jauh dari tempat ia disekap. Mereka saling menuduh dan menyalahkan satu sama lain karena tidak becus menjaga satu orang perempuan saja yang padahal mereka memiliki tenaga yang cukup kuat extra jauh lebih besar.
Tak ada satupun orang yang melintas karena tempat yang sengaja mereka sekap ini adalah tempat yang cukup aman dan jauh dari pemukiman. "Ini gara-gara kamu nggak mungkin banget dia kabur tahu nggak? Seharusnya kita tuh ganti-gantian buat tidur, bukan malahan kita tidur berdua langsung dia kan bisa kabur!"
"Kamu kenapa selalu salahin saya? Seharusnya kamu tuh harus sadar," ucapnya yang saling menyalahkan satu sama lain tidak ada yang namanya mengalah dan terus aja dorong-dorongan.
"Ya sudah lah mending kita cari aja sekarang juga!"
"Kira-kira itu Anara bukan ya? Kok kayaknya mirip banget apa itu emang dia?" Dari kejauhan ia melihat dan sepertinya benar.
Warna silawan lampu mobil memantaukan kedua mata Anara. Dengan cepat Anara pun mendekat karena ia mengenali mobil tersebut yang sedang berhenti.
Akhirnya mereka pun bertemu berdua. Oktara dengan cepat memeluk Anara, wajahnya yang khusuk dan kusam akhirnya dipertemukan dan sudah berada dalam genggamannya. "Gimana keadaan kamu sekarang?"
"Kamu udah makan belum? Kamu nggak diapa-apain kan sama dia? Aku nggak akan pernah biarin kalau dia ngapa-ngapain kamu!"
Tanpa berlama-lama ia pun menyuruh untuk masuk ke dalam mobil membawanya pulang ke rumah.
"Kamu nggak kenapa-napa kan? Beneran aku kaget banget tau nggak sih, dan gemetar banget ketika tadi kamu nelpon. Kamu nggak kenapa-napa kan?" Oktara terus saja mengulang pertanyaan yang sama.
"Aku bener-bener nggak nyangka banget ternyata kamu disekap, kamu nggak kenapa-napa kan dan kamu baik-baik aja kan?"
"Aku baik-baik aja kok dan aku juga nggak kenapa-napa. Tapi aku bener nggak nyangka dia bisa melakukan hal yang seperti ini. Aku beneran takut tau enggak sih di sana sendirian di sekap sama 2 cowok yang cukup besar badannya." Mendengar hal seperti itu membuat Oktara ingin menjebloskan ke penjara.
"Sudah-sudah kamu jangan terpancing emosi."
Anara dituntun untuk masuk ke dalam rumah. Menyuruhnya untuk duduk di ruang makan terlebih dahulu lalu mengambilkan air putih yang ada di dapur menyuruhnya untuk meneguk dengan satu tegukan. Wajahnya benar-benar kusam dan kedua matanya sembab banget. "Aku nggak kenapa-napa kok, ternyata kamu perhatian banget ya sama aku. aku pikir kamu adalah orang yang paling ternyata aku salah kamu adalah orang yang paling peduli buat aku. Apakah kamu udah mulai berubah buat aku Mas?"
Jelas membuat Oktara terdiam kikuk. Tak bisa mengatakan apapun ia pun membuang wajahnya ke arah lain agar tidak membuat kedua pipinya memerah. "Sudahlah kamu jangan bikin aku geer, aku kan udah bilang aku akan berusaha untuk mencintai kamu. Kamu tinggal nikmati aja cara aku kayak gimana kamu nggak usah kamu nanya-nanya kayak gini."
Anara tersenyum lalu ia meraih tangan Oktara yang berada di atas meja. "Aku suka kamu yang kayak gini, walaupun kamu terlihat gengsi dan nggak suka tapi aku yakin kamu tuh emang beneran malah jatuh cinta sama aku."
"Ini semua nggak bisa dibiarin, aku akan jebloskan dia ke penjara dan nggak akan pernah beri ampun."
"Jangan kayak gitu ngomongnya biarin aja," sahutnya yang merasa sangat takut banget.
"Udahlah, kamu nggak usah kasih peluang buat iya aku yakin banget dia tuh bakalan ngelakuin hal yang sama kalau nggak di kasih efek jera. Kamu paham kan maksud aku apa?" Oktara tetap saja teguh dengan pendiriannya untuk menjebloskan ke dalam penjara karena ini sudah termasuk kategori kriminal dan penculikan.
"Aku yakin banget nanti ketika dia sudah masuk penjara dia bakalan sadar atas perbuatannya tersebut."
Karena keadaan sudah meradang akhirnya ia pun mengalihkan pembicaraan ke arah lain. "Aku kemarin nggak bisa selesai acara pernikahannya Tiara, padahal aku pengen banget kemarin tuh ke sana."
"Emang kayak gimana udah keadaannya jadi begini, dan kamu pun enggak masuk dalam foto momen kebersamaan kita waktu itu. Tapi ya sudahlah, ya gimana dong yang penting kamu selamat sekarang."