Anara & Oktara

Anara & Oktara
24. Pilihan Mudah



Nanda terus saja membuat recok, Anara memilih untuk masuk ke dalam. Membiarkan pertengkaran terjadi di luar. Tak berapa lama akhirnya Oktara pun masuk ke dalam kamar. "Kamu jangan pernah ninggalin aku ya, aku udah usir dia di rumah kita aku nggak mau dia merusak rumah tangga kita berdua." 


"Dia benar-benar berontak banget tadi untungnya kamu masuk ke dalam kamar kalau nggak dia bisa nampar kamu bahkan cakaran ini aja sangat kencang banget tadi." 


Oktara merasa bahagia banget ternyata Anara tidak terlalu berontak juga malah ia menenangkan dan mengatakan semuanya bakalan baik-baik aja lalu mempersiapkan baju-baju yang nanti ia kenakan ketika masuk ke dalam kritik untuk mencoba baju yang akan digunakan di saat resepsi pernikahan Tiara yang sebentar lagi akan digelar. "Haduh aku enggak sabar banget deh sebentar lagi menikah dan merasakan hal yang sama seperti Kak Oktara dan Kak Anara." 


"Ya sabar dulu lah harus melalui proses yang panjang dulu biar kamu bisa ngedapetin dan bisa ngerasain kayak begini juga. Hidup itu nggak semuanya harus bahagia terus pasti ada yang namanya lika-liku dalam rumah tangga pokoknya kamu bakalan ngerasain deh."


Oktara sama sekali nggak menyangka kalau Nanda bisa brutal ini melakukan sesuatu hal. Tapi untungnya sudah diusir oleh satpam yang menjaga rumah, yang kerap membantu. 


Mereka hari ini rencananya mau fitting baju karena Tiara sebentar lagi akan menikah. Dengan aura yang tidak enak mereka memutuskan untuk pergi dan melupakan segalanya ketika sudah sampai nanti di sana. 


Balutan baju yang dikenakan oleh Tiara sangat elegan banget bahkan membuat orang-orang yang di sekitarnya merasa pangling dan terpesona. 


Ia sekarang berdiri di depan cermin dengan memakai baju yang nanti ia kenakan ketika resepsi pernikahan. 


Keluarga tidak henti-hentinya menanyakan pertanyaan yang sama selalu saja begitu. 


Pun, orang-orang yang pastinya terdekat terutama Mama dan Papah yang pengen memiliki keturunan lagi dari pihak anak pertama. Kalau mereka tahu mereka berdua tidak pernah tidur setempat tidur maka mereka tidak menyangka. 


Pernikahan mereka bukan dilandasi oleh dasar cinta makanya nggak ada yang namanya tidur bareng atau semuanya bareng-bareng baru beberapa hari kemarin mencoba untuk mendekatkan diri yang sudah sangat terlambat. 


Ia masuk ke dalam kamar ganti untuk mengenakan pakaian apakah sudah tepat atau belum. Untuk tidak kehilangan momen akhirnya ia pun menyimpan gambar ke dalam galerinya sebagai kenang-kenangan. 


Kalau boleh jujur ketika pertama kali mereka dinobatkan sebagai pasangan nggak ada kata bahagia apalagi ngerasa sempurna hidup. 


Entah kenapa sekarang setelah berjalan hampir 2 bulan mereka baru saja merasakan hal yang seperti ini. 


"Kamu ganteng banget hari ini Mas." 


"Kamu juga cantik banget hari ini." Tak kalah juga dengan calon pengantin yang jauh lebih repot hari ini. 


Sebagian keluarga sudah datang bahkan membuat mereka satu sama lain merasa pangling. Karena enggak mau hari ini terbuang sia-sia maka dari itu mereka memutuskan untuk makan barang terlebih dahulu yang ada di seberang sana. 


Oktara bener-bener sangat berubah memperlakukan Anara layaknya seperti princess membuat para keluarga saling tatap-tatapan satu sama lain dan hanya bisa senyum-senyum gak jelas. Membuatnya sedikit merasa malu tapi dengan percaya dirinya ia tetap biasa aja dan santai. 


"Kapan nih, kok lama banget perasaan hamil? Udah ada tanda-tanda belum kalau lagi hamil? Jangan-jangan kalian berdua belum pada sadar lagi?" 


Oktara dan Anara saling tatap satu sama lain? 


Hamil? Oh tidak mungkin sekali? Hamil dari mana? Tidur saja masih sendiri dan tak pernah satu tempat tidur. 


"Aku rencananya bakalan langsung pengen punya anak sih ya sayang ya?" 


Makan-makan bareng kayak gini sangat langka banget untuk di jalan ya makanya mereka nggak mau kehilangan momen sedikitpun atau sepeserpun. 


"Anara? Kelihatannya bahagia banget sih! Tapi kenapa gue masih belum bisa melupakan!" Pandangannya tidak pernah berubah dari dulu selalu saja terpesona dalam hal apapun. Walaupun ia tidak sadar orang yang ia cintai sudah memiliki pasangan yang tidak seharusnya seperti ini diperlakukan. 


"Hei kenapa kok bengong aja sih dari tadi?" 


"Gue nggak kenapa-napa kok gue pengen ke toilet sebentar ya!" sahutnya yang langsung berdiri menuju ke arah toilet laki-laki yang tak jauh dari di mana ia duduk. 


Anara melihat ke arah bangku kosong yang ada di sampingnya seseorang sedang memainkan ponsel. Ia merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya tadi, tapi tidak ada siapapun apakah ini sepeda perasaan belaka doang atau gimana? "Hei kamu kenapa kok bengong?" 


"Aku juga nggak tahu sih, tapi aku ngerasa tiba-tiba ada orang yang ngeliatin aku gitu dari kejauhan," tunjuknya dari kejauhan ke arah bangku kosong yang diduduki oleh Ridho tadi. 


"Ya udah mungkin perasaan kamu aja kali, silakan makan ntar nanti kita udah berangkat kamu belum selesai makan," ujarnya yang sudah tinggal dua suapan lagi lalu selesai minum-minuman yang sudah dua gelas ia pesan karena tenggorokannya terasa benar-benar kering. 


"Habis dari ini kita langsung ke mana aja nih?" 


"Habis dari ini aku sama Vedro bakalan ke suatu tempat dulu jadi kita pisah ya di sini." 


"Kalau kalian berdua mau bareng atau mau pisah juga?" tanya Mama ke mereka berdua antara Anara dan Oktara. 


Sapi lucu dan anehnya mereka malah menjawab tidak sama alias berkebalikan. Yang membuat mereka bingung dan saling tatap satu sama lain dan melihat yang lain malah ketawa. 


***


Tiara dan Vedro masuk ke dalam tempat yang tidak pernah mereka datangi sebelumnya dan tidak menyangka banget bisa sampai ke titik ini. 


Tempat ini sering banget dikunjungi oleh kaum Adam dan kaum Hawa yang ingin segera menikah dalam waktu dekat. Dan barang-barang di sini juga banyak banget untuk bisa dijadikan souvenir. Dari berbagai macam bentuk dan segala macam motif yang sangat bagus untuk bisa menyesuaikan dengan acara yang nanti bakalan digelar. 


Mereka berdua memang benar-benar pengen acara mereka berjalan dengan baik dan berjalan dengan sempurna tanpa sedikitpun ada yang kurang. 


Persiapan mereka sudah hampir rampung banget dan tinggal menunggu waktu saja untuk menggelar. 


Pilihan mereka jatuh kepada gantungan kunci, gembok dan kunci. Hal tersebut menggambarkan Hati siapa pun tidak akan pernah membuka kalau bukan dari kuncinya sendiri filosofi yang cukup simpel tapi sangat elegan. 


"Ya udah deh pesan yang ini aja."


"Oke deh kalau gitu yang ini aja ya Mas." 


Setelah sudah memesan dan memberikan DP terlebih dahulu akhirnya mereka berdua jalan lagi ke suatu tempat ke tempat yang lain yang tidak jauh juga. Ketika berada dalam mobil Tiara bener-bener nggak nyangka bahkan mengenang hal-hal yang lalu seakan aneh dan lucu aja gitu. "Namanya juga hidup penuh dengan teka-teki."