
Akbar memasang wajah yang sangat berkesan banget mengatakan kalau misalkan dia telah membohongi Prilly walaupun mungkin nggak tega banget buat bilang seperti ini karena pastinya Prilly bakalan marah dan kesal karena telah dibohongi. "Kamu kenapa sih sebenarnya kau na tappaku kayak gitu banget ada sesuatu hal yang ingin kamu sampaikan ke aku?"
"Tapi aku harap kamu jangan marah ya sama aku. Dan aku harap kamu bisa berlapang dada dan jangan pernah marah ya sama aku aku janji bakalan melakukan yang terbaik lagi dan berusaha paling baik," sambil menunduk ke bawah meminta ma'af kepada Prilly dan Prilly pun mencoba untuk berlapang dada mendengarkan apa yang diucapkan oleh Akbar.
"Aku pengen dengerin kalau kamu cerita aku nggak mau kalau misalkan kamu cuma sekedar pendam sendiri dan aku juga nggak mau kalau kamu kenapa-napa ayo buruan cerita dong sama aku?" Prilly sangat siap banget mendengarkan cerita Akbar maupun itu cerita yang baik atau cerita yang sangat tidak berkesan.
"Kamu tahu kan rumah yang waktu itu yang aku ajak kamu ke sana? Jadi rumah itu tuh sebenarnya bukan rumah aku dan bukan dari uang tabungan aku melainkan rumah tersebut rumah orang lain yang sengaja aku pinjam alias rumah itu adalah rumah temen aku yang waktu itu dia lagi pergi keluar kota makanya dia nitipin kunci sama aku. Ternyata semuanya diluar ekspektasi kamu bahagia banget setelah aku aja ke sana dan aku sebenarnya sedih banget enggak dengar kamu bahagia soalnya kita bakal pindah ke sana."
"Jadi sebenarnya masuk kamu tuh apa sih kalau aku bener-bener nggak ngerti dan nggak paham?" suaranya berubah sedikit menjadi agak parau karena tidak yakin dan percaya kalau semua ini hanya kebohongan dan juga sekedar prank biasa.
"Nah 'kan wajah kamu kelihatan banget kayak sedih gitu aku nggak tega buat cerita semuanya dan aku nggak mau kalau kamu ngerasa sedih cuma gara-gara aku?"
"Enggak, aku nggak kenapa-napa kok ayo buruan cerita sama aku apa yang sebenarnya terjadi karena aku nggak mau kalau kamu ngomongnya setengah-setengah sama aku?"
"Jadi rumah ini cuma prank doang kenapa sih kamu malah bikin aku begini sama aku, aku tuh udah berharap banget?" Prilly malu banget dan ia menangis sesunggukan karena tidak terima kenapa bisa dikerjain kayak gini padahal sudah cerita sama kedua orang tua mau dibawa ke mana kalau ini benar-benar bohong?
"Jadi kamu udah cerita sama orang tua kamu kalau misalkan rumah itu adalah pemberian aku kenapa kamu malah cerita duluan sih? Aku nggak suka ah kalau misalkan kamu cerita duluan sama mereka nggak kasih tahu aku 'kan kita juga belum pindah juga ke sana."
"Loh kenapa kamu malah nyalahin aku ya suka-suka aku lah mau cerita apa nggak sama kedua orang tuaku. Aku cerita karena ini adalah hal yang baik bukan hal yang buruk ini ngapain juga aku harus sembunyiin dan ternyata kamu yang malah bikin aku nggak ngerti begini kamu cerita rumah itu hanya sekedar paling doang lebih baik kamu nggak usah cerita sama sekali sama aku biar aku enggak berharap buat pindah ke sana!"
"Ah udahlah kalau gitu kamu nggak usah lagi kasih kejutan-kejutan sama aku jangan-jangan kejutan yang kemarin itu juga prank juga? Ya ampuni kita itu bukan remaja lagi yang harus di prank paling gak jelas kita udah dewasa udah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk?"
Akbar merasa kebingungan banget dikarenakan menurutmu ini emang keterlaluan sih tapi karena pengen ngerjain Prilly dan bikin nantinya dia bahagia maka dari itu ia mengajak untuk masuk ke dalam mobil untuk rumah itu kembali tapi sayangnya ia menolak karena udah nggak mood banget dan benar-benar hancur bahkan malu di depan kedua orang tuanya yang menurutnya ini kebohongan terbesar yang ia lakukan di dalam hidup.
Setelah sekian waktu ia membujuk akhirnya Prilly pun masuk kedalam mobil dan mereka sekarang sudah sampai ditambah Anara dan Oktara sudah sampai duluan dan memberikan kejutan kepada Prilly sebagai sahabat yang terdekat dan pengen kebahagiaan sahabat-sahabatnya di sekitarnya juga merasakan kebahagiaan yang menyeluruh.
Wajahnya udah bete banget ketika sudah sampai di dalam rumah tersebut namun ketika kedua matanya dibuka secara perlahan dengan kain yang ditutup tadi di kedua matanya akhirnya ia terkejut apa yang sebenarnya terjadi kenapa tiba-tiba ada mereka berdua di sini.
"Loh kok ada kalian? Kenapa bisa ada kalian di tempat rumah ini bukan rumah aku dan bukan rumah Akbar dia cuma ngepreng aku doang jahat banget 'kan!" Wajahnya sudah kesal banget karena tidak terima dibohongi tapi malah mereka berdua tertawa dan sebagai seorang perempuan Anara mendekat dan berbisik, selalu mengatakan kalau semuanya bakalan baik-baik aja dan ini benar-benar rumah mereka berdua yang udah diidam-idamkan dari lama karena selama ini mereka numpang dan belum memiliki sebuah rumah buat tempat tinggal.
"Ah aku nggak mau berekspektasi terlalu tinggi ini bukan rumah aku dia bilang ini rumah temennya dia yang cuma nitip kunci jadi aku nggak mau terlalu berharap!" ucapnya yang tidak mau dibohongi kedua kalinya dan tidak mau berharap lebih.
"Masa sih?"
"Oh iya, ini aku sengaja kasih kado buat kamu supaya kamu jadi lebih semangat dan semoga di usia kamu sekarang jadi manusia lebih baik. Aku senang banget bisa masuk ke dalam rumah kamu dan ternyata rumahnya cukup lumayan besar dan bikin nyaman juga Akbar cerita sama Oktara kalau dia udah lama banget ngumpulin uang buat beli rumah ini dan ternyata akhirnya kesampaian juga dan dia telah berhasil bikin kamu marah dan juga merasa sedih."
"Ah pasti bohong ini bukan rumah kita berdua melainkan rumah orang lain yang sananya dia bohongin aku udah cerita sama kedua orang tuaku, aku bener-bener malu banget aku nggak bisa terima kalau misalkan dibohongin kayak begini males banget tau nggak sih!"
Oktara dengan cepat menepuk pundak dari Akbar mengatakan perempuan itu nggak suka yang namanya dibohongi apalagi di prank dan ternyata kejadian apa yang diucapkannya waktu itu tapi nggak masalah yang terpenting udah bikin Prilly perasaannya tercampur aduk antara bahagia dan juga kesal.
Anara sengaja membeli makanan terlebih dahulu sebelum sampai ke rumah ini menaruh makanan tersebut di atas meja dan membuka bungkusan tersebut dan mereka pun makan bareng walaupun wajah Prilly masih merasa kesal banget dan tidak percaya apakah ini sebuah prank atau benaran terjadi.
"Ya udah kalau misalkan ini beneran sih nggak masalah tapi kamu udah berhasil banget bikin aku marah tau nggak sih! Untung aja aku bukan tipe orang yang jantungan kalau misalkan jantungan kayak gimana?"
"Ya ampun, ya udah deh aku minta maaf sama kamu aku enggak bakal ngulangin lagi tapi 'kan berhasil?"