Anara & Oktara

Anara & Oktara
28. Sahabat Yang Sah



Ridho sangat terkejut sekali ketika polisi menghampirinya dan membawanya ke kantor polisi. Sempat menolak tapi karena dua orang yang sangat memicunya untuk masuk ke sana akhirnya ia tidak bisa berkata-kata apalagi. "Loh saya nggak ngelakuin apa-apa kok tiba-tiba aja di borgol?" 


Selama diperjalanan Anara hanya bisa terdiam diri saja. "Udah deh kamu jangan kepikiran. Aku yakin banget dia tuh bukan orang yang baik buat dipertahankan sebagai seorang sahabat. Dia tuh suka sama kamu jadi kamu jangan memberi harapan dan kamu nggak usah berbuat baik sama dia sampai kapanpun dia akan tetap suka sama kamu? Kamu ngerti kan maksud aku apa?" 


Setelah mempertimbangkan dengan panjang lebar, ia pun mengiyakan apa yang diucapkan oleh Oktara.


Keliatan banget dari kedua mata Ridho yang tidak terima ketika dimasukkan dalam penjara. 


Anara memohon sejenak kepada Oktara untuk mengobrol untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke dalam sel. Awalnya mungkin cara menolak karena buat apa ngomong hal yang gak penting. Tapi karena terus saja memohon dan meminta akhirnya diperbolehkan untuk masuk dan berbicara sejenak. "Aku pengen ngobrol sebentar doang nggak bakalan lama kok. Ada hal yang pengen aku sampein ke dia. Semoga dia bisa mengerti dan paham apa yang aku sampaikan hari ini." 


"Tapi jangan lama-lama ya ngomongnya." Ia mengangguk lalu meminta waktu untuk berbicara sebentar. 


"Mau apa lagi kamu ngomong sama aku? Kamu udah kembali sama orang yang tepat, aku ini orang yang enggak baik makanya aku sengaja sekap kamu waktu itu." 


"Ridho, kamu jangan ngomong kayak begitu dong. Kalau kamu pengen berubah kamu bisa jadi manusia yang lebih baik asal kamu ada kemauan dan niat. Kita saling mengenal satu sama lain itu bukan waktu yang sebentar tapi lama banget." 


Ridho hanya diam saja dan menunduk kedua matanya pun tidak pernah menatap orang yang sedang berbicara kali ini. 


"Aku harap kamu bisa berubah jadi manusia yang jauh lebih baik, aku yakin banget perubahan kamu nanti jauh lebih baik dan aku nggak bisa nyangka banget." 


Ridho pun menunduk dan tidak bisa berkata apa-apa lagi, ini nih yang bikin dia jatuh cinta dan nggak bisa move on. Dikarenakan mereka berdua sudah mengenal dari lama bahkan kebaikan dari Anara lah yang sulit untuk menemukan perempuan lain. Sempat waktu itu dekat dengan perempuan lain dan hampir aja jadian tapi tetap aja kembali ke masa lalu dan tetap di sana letak hatinya. "Sampai kapanpun aku nggak akan pernah kehilangan perasaan aku ke kamu." 


"Aku yakin banget suatu saat kamu bakalan dapatin orang yang bener-bener bisa menjaga perasaan kamu dan bisa membuat kamu jatuh hati sama dia. Aku pun sama ke Oktara juga kayak gitu. Butuh yang namanya proses penyesuaian nggak cuma sekedar 1-2 hari doang tapi butuh waktu yang cukup lama nggak kami memutuskan untuk saling mencintai satu sama lain." 


Segi manapun orang menasehati orang seperti Ridho maka sampai kapanpun orang itu nggak pernah berubah karena emang jatuh cinta itu dibutakan oleh segalanya dan membuat semuanya itu terasa gelap dan baik-baik saja.


Karena sudah merasa lama ngobrolnya akhirnya Oktara pun mengucapkan sesuatu. 


"Udah belum lama banget sih ngobrolnya." 


"Aku bener-bener minta ma'af ya. Aku yakin kamu bakalan bahagia sama dia. Kalau misalkan kamu udah nggak bahagia kamu bisa hubungin aku karena sampai mati pun aku tetap mencintai kamu." 


Anara tidak bisa berkata-kata apapun ia pun mempersilahkan Pak polisi untuk dijebloskan di penjara.


Oktara membawanya keluar. 


Akhirnya bahagia banget bisa menjebloskan ke penjara orang yang selama ini dianggap baik dan orang yang dianggap bisa diajak buat cerita atau curhat kini malah berkhianat. "Aku harap mulai sekarang kamu jangan terlalu welcome sama siapapun apalagi sebagai seorang perempuan ke laki-laki, karena pada dasarnya kalau laki-laki diberi harapan diberikan suatu perhatian yang menurut kita itu biasa-biasa aja tapi kan kita nggak tahu perasaan orang lain ke kita tuh kayak gimana? Jadi kalau menurut aku sih kamu jangan terlalu welcome kepada siapapun terkecuali sama aku." 


Rencananya hari ini mereka akan menghadiri pernikahan dari Prilly yang akan menikah hari ini. Karena tidak mau terlambat akhirnya mereka pun pergi. "Ya udah deh kalau yuk kita langsung aja berangkat."


***


Sesampainya di sana pertemuan mereka sungguh sangat mengharukan gak nyangka banget Prilly sudah menikah. Dan ada hal yang bikin sesuatu membuat Oktara terbelalak yaitu ternyata yang jadi suaminya Prilly sahabatnya dari Anara adalah Akbar teman atau rekan satu kantor. 


Banyak sekali tamu undangan yang datang ke pernikahan Prilly dan Akbar. Sebagai seorang sahabat pastinya bahagia banget melihat sahabatnya bahagia. 


Ternyata Prilly gemar sekali namanya bercanda ia pun memegang perutnya Anara mendotakan supaya perempuan yang ada di sampingnya sekarang itu segera diberikan momongan. "Intinya adalah do'ain aja yang terbaik semoga aku segera hamil. Makasih banyak ya udah jadi sahabat yang paling baik."


"Benarkan kataku akhirnya dia bakalan jatuh cinta juga sama kamu, aku harap kamu sabar aja pasangan itu kayak layangan harus ditarik dan diulur enggak boleh ditarik terus dan enggak boleh juga di udara terus bergerak tahu rasanya stabil tuh kayak gimana." 


"Bisa aja deh kamu. Aku bahagia banget ngelihat kamu udah menikah hari ini. Ternyata cita-cita kita buat jadi Seorang Istri berhasil juga dan terkabul. Ya udah kalau gitu aku makan dulu ya kamu lanjutin lagi salaman sama tamu undangan yang lain."


Oktara mengambilkan makanan yang ditunjuk oleh Anara. "Makasih banyak ya aku bisa kau ambil sendiri sebenernya nggak usah diambilin segala."


"Udah deh kamu silakan aja makan. Aku kan pernah ngomong waktu itu pengen berubah 180° dan sekarang aku wujudkan? Udah deh kamu jangan ngelihatin aku kayak gitu banget aku kan jadi malu." 


Anara mengambil sendok lalu menyiapkan ke dalam mulut Oktara dengan sangat romantis dan memberikan senyum yang hangat hingga membuat laki-laki itu sedikit agak merasa salting atau salah tingkah. 


"Kenapa sih kamu malu-malu kayak begitu, santai aja kali?"


"Ya nggak kayak gitu juga kali ya kan bisa nyuap sendiri." 


"Ya udah giliran aku yang nyuapin kamu sekarang!" Oktara mengambil sendok dan menyuapkan bergantian kepada Anara. 


"Nanti kita berdua program hamil ya?" 


"Emang sebenarnya kamu pengen segera aku hamil?" 


"Iya tujuan pernikahan memang itu bisa membuat keturunan yang baik buat kita. Dan aku pengen punya anak biar aku bisa jalan-jalan sama dia dan aku bisa ngajakin Dia buat main bareng sama aku. Semoga aja deh kamu nanti hamil anak laki-laki."


"Tapi akunya pengen anak perempuan doang nggak mau anak laki-laki. Tapi terserah aja deh nanti anaknya mau laki-laki atau perempuan yang penting sehat." Mereka malah membahas program anak yang malah dilihatin orang-orang yang ada disekitarnya tapi mereka sama sekali nggak peduli, yang mereka jalani adalah pengen hidup bahagia tanpa ada orang yang ngeganggu sedikitpun dengan kehidupan mereka berdua.