
"Ya udah aku masuk ke dalam sebentar ya kalian ngobrol-ngobrol aja berdua soalnya Pingkan lagi rewel banget."
Mas Prima mengontrol hubungan mereka berdua ia melupakan apa yang terjadi di masa lalu dan ia tidak mempertanyakan kembali apa saja yang terjadi dengan Oktara dengan cepat pula ia mengatakan ia sudah berdamai dengan masa lalu dan tidak mau mengungkit lanjutnya kembali. "Kenapa, kok muka kamu kayak tegang banget kayak begitu sih padahal Mas cuma ngeliatin kamu doang dari tadi?"
"Ya ampun lama banget sih di dalam kamar dan gue jadi deg-degan begini kalau berduaan sama Mas Prima?" batinnya dalam hati.
Namun,
Ada hal yang selalu ia tekankan jangan pernah menyakiti perempuan yang benar-benar baik dan jangan pernah membuat rasa sakit hati yang diciptakan yang seharusnya tidak ada. Yang mampu membuat Oktara sedikit agak tegang dengan kata-kata tersebut walaupun mungkin ucapan yang sangat santai tapi mampu membuatnya berdegup lebih kencang dari sebelum-sebelumnya. "Iya Mas, aku janji aku nggak akan pernah kecewakan dia apalagi aku sudah memiliki seorang anak dari buah cinta kita berdua jadi kalau menurut aku berusaha untuk melupakan masa lalu dan meraih kesuksesan di masa depan bahkan kebahagiaan sudah ada di depan mata jadi aku nggak akan pernah mau lagi berpaling Insya Allah."
"Bagus kalaupun misalkan kamu mengulanginya kembali maka kamu tahu sendiri konsekuensinya yang bakalan terjadi kamu bakalan malu sama anak kamu sendiri. Dan kamu bakalan sakit hati banget nanti mungkin kamu bisa depresi bahkan penyesalan yang bakalan terjadi di ujung maka dari itu aku sebagai seorang kakak yang selalu mendominankan kebahagiaan daripada keinginan kita untuk mendua."
"Ya udah kalau gitu kita berangkat dulu ya buat ke pernikahan teman aku soalnya kayaknya acaranya udah dimulai deh aku pamit dulu ya Mas?"
"Ya sudah kalau gitu kalian hati-hati ya." Karna masih sangat kecil sekali dengan cepat pun mereka masuk ke dalam mobil meninggalkan si buah hati sebentar karena tidak mau buah hati mereka masuk ke dalam keramaian yang mungkin akan dibawa nanti beberapa waktu ketika ia sudah besar dan tidak merengek.
Anara masuk ke dalam mobil lalu menanyakan apa yang sebenarnya mereka obrol kan tadi berdua ketika ia masuk kedalam kamar menenangkan Pingkan yang sedang menangis.
"Em kita berdua enggak ngobrol apa-apa kok kita cuma ngobrolin tentang masa depan kita aja ke depannya kayak gimana karnakan usia kita semakin lama semakin bertambah lagian juga semakin lama kita tuh bisa membedakan mana yang prioritas dan mana yang sebenarnya nggak perlu kita lakukan." Tak mungkin sekali Oktara menceritakan yang sesungguhnya karena tidak mau semuanya salah paham.
***
Oktara membukakan pintu untuk perempuan yang sangat spesial yang ada di sebelahnya yang akhir-akhir ini ia lakukan. "Silakan buat tuan putri yang paling cantik." Berlagak pangeran yang ada di kerajaan.
Dan kejauhan tidak menyangka banget ternyata perjalanan mereka selama ini bareng-bareng dan juga bisa janji barang itu ternyata cuma sekedar ngejagain jodoh orang lain tapi enggak masalah mungkin itu namanya hidup siklus hidup yang harus kita jalani dan harus kita terima supaya kita tahu bagaimana cara kita untuk menjalani dan bagaimana cara kita untuk mempraktekkan dan menerimanya.
"Selamat untuk kalian berdua mudah-mudahan kalian bisa jadi keluarga yang bahagia dan sukses selalu ke depannya nanti."
Tidak bisa dipungkiri kedua mata mereka tidak bisa dibohongi bahkan bisa dikatakan mereka masih ada rasa cinta dan rasa kasih sayang. Tapi mereka sudah bahagia dan mereka sudah menerima suatu ketetapan yang seharusnya mereka tidak bisa dipaksakan dan mereka juga udah bahagia masing-masing dengan pasangan masing-masing. Suara deheman terdengar dari seorang laki-laki yang berada di samping Nadia. Rupanya Oktara tak sadar laki-laki yang ada di sampingnya itu adalah temannya dulu waktu duduk di bangku SMA walaupun mereka satu angkatan tapi mereka tidak pernah satu kelas jadi nggak tahu secara menyeluruh siapa aja temen-temen seangkatannya itu.
Mereka pun bergiliran untuk mengambil makanan yang sudah disediakan. Oktara dengan cepat mengambilkan makanan untuk istrinya atau Anara. Dari kejauhan masih memperhatikan gerak-gerik Oktara bersama Anara ia masih belum bisa ikhlas karena masih mencintai dengan sepenuh hati. "Kamu dan aku udah menikah itu tandanya kita harus bisa mencintai apa adanya pasangan kita dan kita harus melupakan masa lalu kita." Rupanya Sony sangat sadar banget kalau tatapannya dia benar-benar beda kalau menatap ke arah depan dan dia juga yakin kalau dia masih ada rasa cinta dan membekas itu sangat dalam maka dari itu ia mengingatkan ketika mereka sudah menikah dan ketika mereka sudah menjalin hubungan yang baru maka mereka masing-masing harus melupakan masa lalu mereka untuk ke jenjang selanjutnya yaitu masa depan.
Nadia hanya diam saja tidak mau menjawab lalu bersalaman kembali kepada tamu undangan yang sudah berada di depannya mengucapkan selamat agar pernikahan mereka langgeng sampai maut memisahkan.
"Kamu kayaknya laper banget deh memakan makanan yang ada di depan kamu?"
"Iya Aku lapar banget soalnya perut aku keroncongan 'kan aku di rumah tadi nggak makan jadi ketika udah sampai di sini rasanya langsung makan dan kenyang banget pastinya nanti ketika sampai di rumah."
"Iya sih jadi seorang ibu itu pastinya menuntut banget supaya kita bisa siap siaga pokoknya aku bangga banget deh punya kamu yang selalu siap siaga dan kamu rela nggak makan demi anak kita makan terlebih dahulu yang pun aku nggak nyangka banget deh ternyata kamu dewasa dan menjadi perempuan yang sempurna banget di dalam hidup aku." Oktara tak sadar kalau mereka sedang berpegangan tangan di depan umum ada beberapa orang yang sedang memperhatikan mereka berdua dengan cepat Anara pun mengundurkan tangannya dan agar tidak terlihat romantis dan jadi pusat perhatian.
"Ya ampun kamu kebiasaan banget selalu aja ngelakuin kayak gini di saat orang-orang lihatin kita lagi mesra-mesraan santai aja kali kita itu udah sah jadi ngapain kamu kayak rasa grogi dan canggung kayak begitu?"
Anara tidak mau memperpanjang cerita dan tidak mau membuat suasana semakin nyaman dan tidak mau memperpanjang lalu ia tersenyum dan melanjutkan kembali makanan yang ada di hadapannya. "Hahaha iya deh aku tahu banget pasti kamu nggak mau memperpanjang masalah dan biasanya aku emang kayak begitu suka bikin masalah sama kamu ma'afin aku ya, aku udah berubah kok janji deh." Dan ternyata membuat Oktara sadar juga kalau apa yang ia lakukan hari ini kayak seperti anak kecil yang bingung mau ngelakuin apa dan ternyata ia sadar juga tentang ulahnya sendiri tersebut.
"Kamu ini ya," sahutnya.