Anara & Oktara

Anara & Oktara
15. Semakin Perhatian



"Gimana kabar kamu?" Ia tak mau terjadi seperti kemarin lagi. 


"Udah mulai membaik kok," sahutnya dengan cepat. 


"Baik ya?" Memang sedikit ada perubahan di wajahnya tapi ada hal yang sangat mencengangkan yaitu dia belum mandi dari kemarin. Oktara hanya tertawa saja melihat Anara yang jelas sekali berbohong. 


"Aku mau mandi dulu ya Mas, alhamdulillah sudah mulai membaik kok. Tenang aja kamu gak perlu khawatir lah sama aku. Aku biasa-biasa kok jadi kalau menurut aku sih gak udah dipikirkan akunya gimana." 


Oktara merasa tak yakin dengan ucapan dari Anara, karna menurutnya Anara sedang masih dalam pemulihan. Tak karna ia melihat Anara bisa terbangun dari tidurnya dan sudah mau menyiapkan makanan di bawah, akhirnya percaya. Dengan cepat ia memegang dahi Anara, ternyata panasnya tidak ada lagi dan cenderung normal. Ia hanya melihat bibir Anara yang sedikit pucat karna tak memakai make up dan tak mandi jadi lebih terlihat seperti orang sakit saja.


"Ya sudah aku berangkat dulu ya. Kamu jaga diri baik-baik, nanti kalau ada kenapa-napa kamu tinggal kabarin aja." 


Anara mengangguk dan Oktara keluar dari rumah seperti biasa. 


***


Oktara memencet klakson terdengar dari kejauhan Nanda menghentikan obrolan dengan rekan kerjanya yang menunggu dijemput juga. Ia masuk ke dalam mobil dengan ekspresi bahagia banget setelah pulang kerja ketemu kembali. "Huh hari ini aku santai-santai aja di dalam, karna baru aja ngerayain ulang tahun Bos aku. Jadi agak santai deh seharian ini." 


"Aku seneng banget deh, karna temen-temen aku bilang pas aku beli baju yang kamu bayarin itu mereka bilang aku jauh lebih cantik dan lebih langsing. Ya ampun aku bahagia banget tadi."


Tak ada respon dari Oktara. 


Laki-laki itu malah kepikiran dengan seorang wanitanya yang ada di rumah. 


Ia tiba-tiba merem mendadak. 


"Kamu kenapa malah diam aja sih sayang? Ayo ceritakan ke aku?" Nanda melihat ekspresi yang sangat datar sekali. 


"Gak kenapa-napa kok, kamu langsung aku antar ke rumah saja ya! Soalnya aku mau langsung pulang aja." 


"Eh ngomong-ngomong udah lama banget aku gak ke rumah kamu." Dengan cepat Oktara mencegahnya agar Nanda tak ke rumahnya, di karenakan ia tak mau Nanda tau kalau ia sudah menikah. 


"Kamu kok kayak panik kayak gitu? Kenapa? Santai aja kali. Oh iya boleh gak nih? Udah lama banget aku gak ke sana." Nanda merengek seperti anak kecil, gadis itu seperti anak kecil saja merengek kepada Oktara. 


"Iya nanti ya kamu aku ajak ke rumah aku, kamu kok hari ini cerewet sekali sih?" 


"Gak cerewet kok, kamu sekarang udah jarang banget asik kayak dulu. Bahkan chatting aku aja lama banget dibalas, padahal aku tuh nungguin chat kamu loh. Kamu kenapa sih? Aneh banget!" 


"Udah deh kamu jangan sok ngambek begitu, nanti cantiknya bakalan hilang." 


Sampailah di rumah Nanda. Oktara langsung pulang ke rumah tanpa masuk ke dalam walaupun sudah ditawarkan tapi tetap saja menolak. 


Oktara memarkirkan mobilnya di depan rumah, masuk ke dalam rumah melihat banyak sekali makanan di atas meja. Ia yakin karna art baru pasti Mbak yang bikin tapi ternyata salah ketika ia mencium aroma bau ikan di dapur ia melihat Anara yang sedang memanggang ikan di teflon. 


Ternyata dia sudah bisa beraktivitas kembali. "Eh Mas kamu udah bangun toh. Aku udah sediakan makanan di atas meja." 


"Em iya. Aku ganti baju dulu di kamar ya!" 


Ia berharap kalau Oktara bisa berubah menjadi lebih baik, mungkin awalnya terasa gak mungkin banget ini terjadi tapi karna ia yakin hal baik akan baik apabila kita duluan yang bertahan untuk baik. 


Menaruh makanan di atas piring dan lauknya pula, ia semakin lama semakin tau kebiasaan dari Oktara yang lebih suka ikan dan sayur makanya agak sedikit banyak. 


"Kamu kok gak makan?" 


"Aku nungguin kamu Mas, ya sudah kita berdua makan bareng yuk." 


"Ini siapa yang ke pasar?" 


"Mbak yang ke pasar dengan resep yang aku suruh lalu aku masak deh buat kamu. Ma'af kalau nantinya masakannya kurang enak, tapi ya sudah makan aja yuk." 


"Oh gitu, ya sudah." 


***


Nanda tetap memaksakan untuk ke rumah Oktara. Berharap kejutan itu berubah menjadi kaget tapi ternyata tak ada Oktara di dalam rumah. 


Ia disambut dan duduk di ruang tamu. "Kok sepi ya Tante? Oktaranya mana?" 


Istri? 


"Hah Istri? Maksudnya Tante apa? Kok aku gak ngerti sih?" Nanda kaget banget hingga kedua matanya terbelalak ketika mendengar kalau Oktara sudah menikah. Dengan siapa dia menikah? 


"Oh Oktara belum cerita sama kamu ya? Dia udah punya Istri dan mereka sudah menikah sekitar satu bulan lebih yang lalu. Kenapa kamu bisa sekaget begitu? Kamu belum dikasih tau sama Oktara ya? Mungkin dia lupa kali ya." Mama pikir Nanda sudah mengetahuinya, karna sepengetahuannya Nanda salah satu orang yang paling dekat dengan Oktara. Dan ia taunya mereka sudah berhenti menjalin hubungan dengan Oktara karna sudah menikah tak tau apakah masih berlanjut sampai sekarang. 


Ia mengambilkan minum dan menaruhnya di atas meja. Jantungnya terasa sesak dan terasa deg-degan banget kenapa Oktara tak menceritakan hal ini kalau ia sudah menikah? Perempuan mana yang tidak merasakan sakit apabila seperti ini? Diperlakukan seperti ini? Ia mencoba untuk menahan rasa sakitnya dan memendam saja, ternyata dugaannya selama ini benar dan memang terbukti kalau ada apa-apa dengan Oktara. 


"Nanda?" 


"Dia ngapain ke rumah Mama segala?" batinnya dalam hati, ia memundurkan langkahnya agar tak menjadi percekcokan di keduanya. 


Ia masuk ke dalam mobil dan mengurungkan niatnya untuk masuk. Nanda merasa ada seseorang yang datang, ia melihat ke luar ternyata tak ada siapapun. Mungkin perasaannya saja. "Nanda, kamu kenapa?" 


"Kayak ada orang Tante, kalau gitu aku pamit pulang dulu ya. Makasih banyak udah kasih tau aku kalau Oktara sudah menikah." 


Ia berpamitan untuk pulang ke rumah. Tapi sebelumnya ia menghubungi Oktara terlebih dahulu untuk mengkonfirmasi apa yang sebenarnya. Ternyata dan rupanya Oktara tidak mengangkat panggilan telepon tersebut setelah ia sudah keluar dari rumahnya. 


"Kenapa sih selalu aja bikin ulah sama gue? Gue nggak akan pernah tinggal diam kalau dia enggak akan pernah ngaku di depan gue! Dia pikir gue selama ini cuma diem doang! Ternyata benar dugaan gue selama ini dia malah sudah menikah dengan orang lain tanpa sepengetahuan gue! Tunggu aja gue bakalan membuat hubungan kalian berdua nggak bakal langgeng dan gue bakalan menghancurkan semuanya!" 


Nanda masuk kembali ke dalam rumah lalu meminta alamat rumah Oktara bersama Istrinya. "Makasih banyak ya Tante udah kasih alamatnya buat aku, aku pengen silaturahmi doang sih nggak ada maksud apa-apa. Ya udah kalau gitu aku pamit pulang dulu ya Tante!" Alamat rumah Oktara sudah dikantongi di dalam jaket tinggal menunggu momen saja untuk ke sana bertemu. 


Dengan cepat ia masuk ke dalam taksi online yang sudah ia pesan dari tadi. Dia memberikan alamat tersebut untuk menuju ke sana hari ini juga. Merasa karena dibohongi dan merasa dirinya seakan-akan disembunyikan gitu aja dan gak dihargai.