
Oktara mendadak bucin banget bahkan membuatnya benar-benar sangat terlihat posesif banget. "Kamu itu sebenarnya kenapa sih kok malah kayak tiba-tiba posesif gitu sama aku? Ya udah kalau gitu berangkat aja ini udah jam berapa kamu dari tadi peluk aku terus?"
"Aku juga bingung kenapa aku bisa kayak begini cuman aku khawatir aja kalau kamu kenapa-napa, nanti kalau misalkan ada apa-apa kamu tinggal telepon aku aja ya aku bakalan langsung pulang kok ke rumah."
Anara mengangguk dan mengantarkannya untuk turun ke bawah dan masuk ke dalam mobil. Setelah sudah mengantarkan di depan rumah akhirnya ia pun masuk ke dalam rumah duduk di ruang tamu lalu disediakan sarapan pagi yang baru saja ia pesan ketika sudah pergi Oktara, walaupun sekarang dalam keadaan hamil tapi tetap membuatnya rajin melakukan aktivitas padahal sudah sangat dilarang dan harus sangat mengurangi kegiatan-kegiatan yang tidak seharusnya dikerjakan.
"Ini apa Mbak? Dari siapa?"
"Dari kurir, gak tau dari siapa? Ya udah kalau gitu ke dapur dulu ya Bu mau bikin makan buat nanti siang."
Anara membuka kartu ucapan yang ada di sela sebuket bunga mawar merah segar. "Ish bagus banget sih, dari siapa ya?"
Jangan lupa kamu selalu bahagia ya! - Suamimu.
"Ya ampun sweet banget sih jadi cowok, kenapa dia bisa seromantis ini sih sekarang? Ya ampun bahagia banget deh," batinnya dalam hati mengatakan langsung. Dengan cepat ia mengambil ponselnya yang ada di saku celana dan memotret bunga yang harum tersebut ia kirimkan ke Anara.
"Bagus banget sumpah, makasih ya!" tulisnya seperti itu ke tulisan text hijau.
Oktara melihat tulisan tersebut malah tersenyum bahagia, kebahagiaan Istri adalah hal terbaik untuk saat ini dan nanti. Sampai kapanpun akan bahagia selalu, ia merasa tenang ketika bekerja kembali di kantor. Rencananya setelah pulang dari kantor mereka bakalan jalan ke mall untuk membeli perlengkapan bayi dan langsung di iyakan oleh Anara.
***
Anara sudah siap untuk berangkat dan ternyata benar suara mobil terdengar dari luar. Dengan cepat ia keluar dan menyambutnya.
Ketika sudah dari kantor, mereka berdua memutuskan untuk ke toko pelengkapan bayi yang di jual di dalam mall. Oktara tak henti-hentinya mengelus-elus sang anak yang masih di perut Anara. Bahkan ketika di dalam mall saja masih sama ketika seperti berada di dalam mobil hingga membuatnya sedikit agak malu dan takut banget. "Kenapa sih kamu kayak takut dan kebingungan gitu sepi aja kali? Semua orang juga tahu kok dan semua orang juga punya pasangan pastinya mereka bakalan biasa-biasa aja ngeliat kita, ada yang jauh lebih romantis dari pada kita?"
"Ya tapi kan aku tuh malu orangnya kita enggak bisa nyamain orang lain sama kayak kita. Tapi kamu jangan ngambek kayak begitu dong ya udah kita pegangan tangan."
Oke masuk lah mereka ke dalam toko baju anak-anak yang belum pernah mereka kunjungi atau datangin sebelumnya bahkan dari kecil sampai sekarang pun belum pernah sama sekali.
Seneng banget akhirnya setelah sekian lama mewujudkan dan mengimpikan apa yang terjadi hari ini terkabul juga dan rasanya bahagia banget. Yang selama ini biasanya ke mal cuma ngeliatin doang dari luar karna emang nggak bisa beli dan belum punya tapi sekarang sudah Insya Allah bakalan punya.
Dan ini adalah pengalaman pertama kali mereka masuk ke dalam perlengkapan bayi dan juga sangat lengkap banget di sana. Diarahkan untuk memilih barang-barang apa saja yang mereka butuhkan.
Sempat merasa kebingungan tapi dilayani dengan baik pelayan toko bayi yang mengarahkan mereka apa saja yang dibutuhkan oleh bayi. "Kalau boleh tahu kelaminnya si dedenya laki-laki atau perempuan?" Bahkan hal yang sangat sepele seperti ini aja mereka pun enggak tahu karena bener-bener enggak tahu apa-apa sampai sekarang.
Untuk mengakalinya mereka pun disuruh untuk memilih barang-barang yang sesuai yang bisa digunakan untuk laki-laki dan perempuan jadi kalau misalkan anak mereka laki-laki lebih gampang untuk dipakai begitupun sebaliknya kalau mereka memiliki anak perempuan juga nggak masalah.
Hampir satu jam memilih barang-barang yang cocok nantinya dikenakan oleh anak mereka, tapi anehnya tak ada satupun yang dipilih bahkan dibeli.
Toko kedua ini banyak sekali beraneka ragam barang-barang yang dijual bahkan jauh lebih lengkap dari pada yang pertama. Nggak cuma sekedar perlengkapan baju-baju bayi banyak juga mainan mainan yang dibeli dari 0-6 bulan dan juga bahkan sampai usia 10 tahunan juga ada super sangat lengkap banget. Pengunjung yang datang pun juga lebih banyak dari pada yang tadi.
Yang menjadi referensi mereka berdua adalah melihat orang tua orang tua baru yang membeli jauh lebih mudah dan tidak merasa bingung.
"Ya udah deh kita beli ini aja kayaknya lebih better deh dari pada yang lain lagian juga banyak banget persiapan yang harus kita persiapkan pasti."
Karena Oktara merasa takut kenapa-napa dan juga merasa lelah maka dari itu ia lebih memilih salah satu barang tersebut dan membayarnya langsung ke kasir, setelah mereka membeli perlengkapan bayi yang hanya cuma satu doang mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Karena perut sama sekali nggak bisa ditoleransi sedikitpun.
"Kayaknya yang kita beli ini nggak bagus-bagus amat dan nggak penting-penting amat. Tapi ya udah deh semoga aja bermanfaat nantinya ketika udah lahiran."
Lucu emang! Memang sangat lucu banget. Pesanan yang mereka pesan pun akhirnya datang dengan menu yang cukup banyak apalagi Oktara yang akan menyantap habis makanan yang ada dihadapan.
"Sebenarnya kamu tuh yang nggak sih nikah sama aku?" Ia terus saja menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang dan bosen dengerinnya.
"Hahaha ini pertanyaan kesekian kalinya yang kamu tanyain ke aku, aku bosan tau haha!" Wajahnya berubah menjadi cemburu bahkan dengan cepat ia memasukkan makanan tersebut ke dalam mulut. Anara meraih tangan Oktara lalu mengatakan sambil tersenyum simpul.
"Semua bakalan baik-baik aja, kita bakal menjalani semuanya bareng-bareng."
Cara mengambil makanan yang masih banyak lalu menyuapkan ke mulut Anara. "Gimana enak nggak punya aku?"
Ketika tangan Anara ingin mengambil kembali dengan cepat ia menggubrisnya agar tidak diambil. "Jangan minta lagi, dah cukup! Soalnya ini makannya pedes jadi kamu nggak boleh terlalu banyak dan berlebihan nanti efeknya bakalan panjang."
"Soalnya makanan kamu jauh lebih enak dari pada punya aku kamu mah kayak gitu sama aja!"
"Udah-udah ngomong kayak begitu nanti kalau kamu udah melahirkan dan anak kita udah besar jadi kamu bebas makan apapun tapi untuk sekarang jangan dulu. Aku takut kamu kenapa-napa, ya udah kamu makan habisin dulu makanan kamu itu juga enak kok dulu aku juga makan itu waktu lagi sakit."
"Jadi kamu anggap aku ini sakit?"
"Ya gak, jangan baperan kayak begitu lah santai aja!" Sambil mengelus puncak kepala Anara.
Selesai makan mereka pun beralih tempat alias pulang ke rumah dengan membawa perlengkapan bayi yang hanya satu kantong plastik, Oktara dengan cepat mengambilnya.
"Aku lupa bilang terima kasih sama kamu karena kamu udah kasih sebuket bunga mawar merah dan juga kartu ucapannya yang sangat romantis. Makasih banyak ya kamu udah perhatian banget sama aku selama ini!"
"Iya, kamu tahu nggak aku sengaja nyuruh kurir mendadak banget. Untung aja ada!"