Anara & Oktara

Anara & Oktara
14. Orang-orang Baru Rumah



Pekerjaan rumah banyak banget hingga membuat Anara sering merasa kelelahan seharian, karna mengerjakan pekerjaan rumah sendirian. Membuatnya merasa capek banget tapi tetap ia merasa tanggung jawab sebagai seorang Istri hari ia lakoni sehari-hari. 


Karna beberapa hari belakangan merasa lemas, akhirnya Oktara membawakan asisten rumah tangga dan satpam juga untuk membantu pekerjaan rumah dengan tugasnya masing-masing. 


Ia tak menceritakan terlebih dahulu kepada Anara, ia langsung membawanya saja ke rumah dengan tugas yang ia beri tahu terlebih dahulu. 


Anara tak merasa kelelahan atau capek lagi ketika di rumah beban kerjanya berkurang sedikit. 


Ia merebahkan kepalanya ke tempat tidur, karna hari ini adalah hari yang paling drop banget. "Kamu kenapa?" 


"Aku gak papa kok Mas, cuma gak enak badan doang kok." Anara menarik selimut di kamar dan memejamkan kedua matanya. 


"Ya sudah kalau gitu kamu istirahat ya. Mau saya bawa ke dokter?" 


"Gak perlu Mas, aku butuh istirahat doang kok." Tak lagi menjawab, ia pun menutup kamar dan menuruni anak tangga. Mengamanatkan pekerja baru untuk mengerjakan tugas-tugas mereka. "Kamu nanti beliin bubur di depan ya, dan jangan lupa buatin minum untuk Anara. Saya berangkat dulu ya." 


"Iya Mas," ujarnya yang mengangguk. 


Ia berangkat ke kantor dan masuk ke dalam mobil. Anara melihat Oktara sudah pergi dari rumah. Ia tidak tertidur pulas hanya sekedar merebahkan badannya saja ke tempat tidur. 


Oktara


"Kalau kamu ada apa-apa jangan lupa langsung hubungin saya ya!" 


Anara tersenyum dengan Oktara yang begitu sangat perhatian walau sangat terlihat dia cuek dan sedikit menyakiti perasaan karna terang-terangan selingkuh dengan perempuan lain. 


Art mengetuk pintu kamar Anara dan memberikan bubur untuk dimakan terlebih dahulu. "Siapa yang suruh Mbak?" 


"Mas Oktara yang nyuruh saya untuk kasih ini ke Mbak Anara, biar bisa jadi tenaga. Saya taruh di sini ya Mbak dan ini minumnya. Ya sudah kalau gitu saya ke luar dulu ya. Permisi." Semangkuk bubur dan susu putih ditaruh di atas meja. 


Ia membangunkan badannya. Menyuapkan bubur yang masih panas ke dalam mulut. Tapi rasanya hambar tak ada rasa. Biasanya ia sangat lahap sekali memakan bubur kali ini tampak berbeda. 


Sementara itu Oktara merasa tidak enak hati takut kenapa-napa terjadi di rumah. Ia mencoba untuk menghubungi Anara tapi tidak ada jawaban sama sekali. 


"Kenapa sih enggak diangkat sama sekali?" Dan ia pun memutuskan untuk pulang ke rumah. 


Bergegas takut kenapa-napa. 


***


"Kamu kenapa kok wajahnya pucat banget sih? Ayo cerita sama saya apa yang sebenarnya terjadi sama diri kamu!" Tubuhnya yang merasa lunglai dan tidak seperti biasanya yang lebih bugar. Oktara semakin ingin mengajaknya untuk ke rumah sakit untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi. 


"Ini 'kan waktunya belum pulang kantor kenapa kamu langsung pulang ke rumah?" Baru saja sekitar jam 10-an sudah pulang ke rumah dengan memakai pakaian yang baru saja ia lihat ketika tadi pagi. 


"Udah deh kamu nggak usah peduliin saya, saya pengen kamu ikutin aku ke rumah sakit ya buat cek semuanya!" 


"Nggak usah aku istirahat aja di rumah, aku tuh cuma sekedar kecapean doang jadi nggak kenapa-napa. Udah mending kamu ke kantor aja lagi balik kerjain pekerjaan kamu nanti kamu malah capek lagi pulang kali ke sini." 


Anara memejamkan kedua matanya lalu tertidur di samping Oktara yang sangat panik banget untuk pertama kalinya, karena keadaan benar-benar belum stabil. Ia melihat bubur dan susu belum diminum hanya sedikit saja yang terlihat. "Anara, mending kamu duduk sebentar deh."


"Kenapa aku harus duduk aku pengen tidur dulu ya Mas." 


"Anara! Kamu nggak dengar saya bilang kamu tuh duduk!" suara itu berubah menjadi suara yang sedikit agak naik dan membuat Anara langsung duduk setelah mendengarkan apa yang diucapkan oleh Oktara. 


Oktara menyuapkan bubur yang sudah dingin itu ke dalam mulut Anara. Menyuruhnya untuk segera mengunyah agar perutnya terisi karena kemarin-kemarin ia menyebabkan makanan yang ada di hadapannya itu hanya sedikit jadi nggak ada makanan yang masuk ke dalam pencernaan. 


"Kamu tuh harus segera makan biar perut kamu tuh terisi, kamu tahu nggak sih nanti saya bakalan capek banget ngurusin kamu kalau lagi sakit. Kamu saya bawa ke rumah sakit juga nggak mau, saya pulang kantor lebih dulu untuk melihat keadaan kamu ternyata lebih parah kayak begini. Buruan dikunyah biar saya suapin lagi suapin kedua! Kalau kamu sakit kamu tuh cerita sama orang-orangnya di sekitar kamu biar nggak capek, kenapa sih kamu ini nggak bisa dikasih tahu banget!" 


Anara hanya berdiam diri saja tidak menjawab apapun ia meminum dan memakan saja ingin muntah karena nggak ada selera sama sekali untuk ditelan walaupun makanan bubur ini adalah makanan kebiasaan setiap hari. 


"Anara, ayo buruan di makan buburnya biar cepet!" 


Oktara menghubungi salah satu rekannya di kantor memberitahu kalau misalnya hari ini ia tidak kembali lagi setelah izin tadi sebentar. "Kamu kenapa malah pulang aja sekaligus? Aku nggak papa kok sendirian di tinggal di sini kan ada Mbak juga yang nantinya bakalan ngurusin aku." 


"Udah deh kamu tuh jadi manusia nggak usah keras kepala, udah dimakan aja buburnya." Iya jauh lebih bawel dari pada biasanya karena tidak mau melihat perempuan yang ada dihadapannya saat ini sakit. 


Oktara memegang dahinya ternyata terasa panas atau hangat. Ia turun ke bawah untuk mengambilkan setengah air panas dan handuk untuk mengompres dahi Anara. 


"Mending kamu rebahan deh. Nanti dilanjut lagi makan buburnya. Kamu jadi ngerepotin saya begini 'kan? Makanya kalau misalkan gak bisa kamu nggak usah kerjain kamu santai aja. Kamu pekerjaan di rumah selalu di porsir makanya jadinya begini kamu tuh bukan robot, kamu tuh manusia!" 


Biasanya kalau misalkan orang sakit itu jauh lebih sensitif dan jauh lebih manja kepada orang yang ada di sekitarnya. Ia meneteskan air mata karena sudah merepotkan orang-orang yang di sekitar apalagi Oktara. "Kamu kenapa malah nangis kayak begitu?" 


"Aku minta ma'af. Udah bikin capek kamu pulang ke rumah gara-gara aku sakit. Aku banyak banget ngerepotin kamu. Aku banyak-banyak minta ma'af ya sama kamu." 


"Udah-udah kamu nggak ngerepotin saya kok. Saya enggak akan kemana-mana kamu di sini aja bareng sama saya." Mendengar perempuan itu sudah meneteskan air mata dan bersedih karena sensitif banget dimarah-marahin akhirnya ia menurunkan nada suaranya jauh lebih tenang agar tidak menjadi kerusuhan yang terjadi lagi. 


Anara memegang tangan Oktara. "Aku terima kasih banyak ya sama kamu yang udah baik banget sama aku Mas. Walaupun kamu terkadang bikin aku sedih tapi ternyata kamu adalah Suami yang paling baik buat aku yang dikirim Tuhan. Yang pastinya memiliki alasan yang sangat kuat kenapa kita berdua berjodoh," senyumnya dia mengecup tangan Oktara. 


"Kenapa sih dia semakin lama semakin sulit banget ngomong kayak gini ke gue! Semakin bikin hati gue bergetar dan semakin bikin diri gue merasa bersalah tentang apa yang gue lakuin selama ini ke dia. Tapi dia tetap aja baik sama gue!" batinnya.