
Rasanya males dan sedih banget ketika pengen ngasih undangan ini langsung dan ngajakin ketemuan. Persiapan harus disiapkan dari seperti ini sampai nanti ke jenjang akad makan resepsi.
Mungkin cara jitu untuk melupakannya adalah dengan cara menikah dengan perempuan lain walaupun mungkin sampai detik ini dan mungkin sampai akad tidak ada perasaan sedikit pun untuk menjalani kehidupan bersama orang yang tidak dicintai.
Ridho sengaja mengambil atau melepas foto-foto yang terpajang di dinding kamar karena percuma juga orang yang difoto tersebut tidak akan pernah mungkin membalasnya karena dia sudah bahagia dengan laki-laki lain. Ternyata biasanya selama ini tidak menguntungkan hanya sekedar menyakiti perasaan saja.
Setelah semuanya dilepas akhirnya ia merobek dengan paksa menaruh ke dalam bak sampah agar semua kenangan yang terjadi dalam pikirannya selama ini terbuang begitu saja dan juga bisa move on bahkan menjalani kehidupan yang baru.
Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi agar bisa ketemuan untuk kesekian kalinya memberikan sebuah undangan seakan-akan ia sedang bahagia menikah. Rasanya gemetar sekali ketika mengirimkan sebuah pesan singkat.
Ia pun turun ke bawah dan berpamitan terlebih dahulu untuk memberikan undangan tersebut.
***
Sampai detik ini tak ada perubahan di dalam pikirannya melihat perempuan yang selalu saja menjadi bayang-bayang dan bahkan biasnya sampai kapanpun dari dulu sampai sekarang. Entah pesona apa yang ditunjukkan sampai membuatnya tidak bisa berpaling bahkan perempuan secantik apapun tidak bisa ia jalani apalagi ia memberikan ketulusan hati yang sebenar-benarnya.
"Ma'af kalau misalkan aku terlalu lama datang soalnya tadi itu amit dulu dan momong anak." Ridho hanya mengangguk lalu mengeluarkan 1 lembar undangan yang dibungkus dengan plastik putih transparan ditaruh di atas meja. Mengatakan ia sebentar lagi bakalan nikah.
Ekspresi dari Anara sangat senang sekali bahkan ambisius ketika melihat sebuah nama laki-laki dan seorang anak perempuan terpampang di sana bahkan akad nikah dan juga resepsi juga sangat terlihat. "Ya ampun aku nggak nyangka banget ternyata sebentar lagi kamu bakalan menikah, kamu ketemunya di mana ya ampun gak nyangka deh?"
"Aku di jodohkan, mungkin sampai saat ini aku belum cinta sama dia tapi Insya Allah aku mencoba untuk menjalaninya dan mungkin aku juga percaya kalau misalkan cinta itu datang karena terbiasa."
Anara menarik napas sejenak lalu mengatakan dengan sangat lembut. "Aku yakin banget kalian bakalan bahagia percaya deh sama aku dan sampai kapanpun kalian bakalan bahagia kalau kalian benar-benar membuka diri dan juga saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing."
"Aku sebelumnya pengen ngucapin terima kasih karena kamu udah datang ke sini, aku cuma pengen kasih undangan ini sama kamu nanti kamu bakalan datang ya ke acara pernikahan aku yang sebentar lagi bakal yang digelar. Mungkin banyak orang yang kaget kenapa tiba-tiba aja aku menikah tapi karena aku pengen melupakan semuanya nggak akan pernah mungkin kembali lagi dan gak bisa aku dapatkan maka dari itu aku memutuskan untuk menikah. Padahal aku masih sayang dan cinta sama orang yang ada di hadapanku walaupun dari dulu sampai sekarang masih bertepuk sebelah tangan." Dengan sangat blak-blakan sekali Ridho mengatakan kalau misalkan orang yang ada di hadapannya ini adalah orang yang tidak pernah tergantikan.
Anara memang dari dulu sama sekali tidak pernah menggubrisnya bahkan hanya sekedar menganggap sebagai seorang teman biasa tidak lebih dari hal itu walaupun mungkin banyak sekali pengorbanan yang dilakukan tapi ya Sampai kapan pun nggak akan pernah berubah seorang sahabat akan selamanya menjadi sahabat yang nggak akan pernah berubah menjadi seseorang yang sangat spesial.
Tapi Anara sangat menghargai banget apapun orang lain yang suka secara diam-diam atau terang-terangan tapi di dalam hidupnya adalah walaupun ada orang yang seperti itu yang masih kekar dengan keyakinannya ia sangat menghargai dan mendo'akan apapun yang terbaik. "Makasih banyak ya kamu udah ngundang aku aku sama sekali enggak nyangka kamu bakalan menikah dan juga bahagia."
Pelayan pun menaruh minuman di atas meja kini mereka terkesan seperti orang yang menjalin hubungan kalau dilihat dari penampilannya juga gestur tubuh. Sebenarnya Anara sangat merasa risih kalau misalkan pertemuan mereka hanya berdua saja tapi karena nggak ada lagi yang diharapkan maka dari itu dengan terpaksa ia berusaha untuk santai walaupun mungkin banyak orang-orang yang disekitar mereka dan tempat ini bukan tempat yang sangat private banget.
***
"Ma'af ya aku benar-benar lupa soalnya kamu tadi itu benar-benar nggak bisa dihubungin coba cek deh HP kamu aku udah pengen kasih tahu tapi menurut aku kayaknya kamu udah tau juga deh kalau aku ketemu sama siapa, coba tanya Mbak langsung aja aku tadi bilang kok?"
Oktara melihat ART-nya sedang nyuci piring di dapur dengan sangat banyak menghalus untuk mengintrogasi satu persatu dan saja ucapannya benar.
"Kamu habis ketemuan sama siapa tadi?"
"Aku habis ketemuan sama Ridho? Kenapa Mas?" Wajah Oktara selalu sedang marah nggak bisa ditolerir bahkan dia selalu saja cemburu kalau Istrinya bertemu dengan laki-laki lain.
"Yakin? Dan kenapa kamu ketemu sama laki-laki? Kamu lupa kalau misalnya kamu sudah memiliki pasangan dan seorang anak? Kamu lupa?" Emosi Oktara tak bisa lagi untuk dibendung karna merasa dibohongi dan tak terima kalau Anara jalan dengan seorang laki-laki lain tanpa ada kejujuran yang dikatakan langsung olehnya.
"Kamu tau dari mana kalau misalnya aku ketemuan sama laki-laki? Dia itu sahabatku dia Ridho Mas," ucapnya dengan sangat gemetar sekali takut dengan tatapan tajam dari Oktara yang seperti itu, tatapan itu sangat menakutkan bagi siapa saja yang melihatnya.
"Seharusnya kamu tuh jujur sama aku, aku paling nggak suka kalau misalkan pasangan aku tuh bohong. Ngapain sih kamu pake bohong segala?"
"Iya udah aku minta ma'af aku nggak bakal ngulangin semuanya lagi kok." Karena tidak mau berkepanjangan akhirnya Oktara pun mema'afkan dan tidak ada toleransi untuk kesekian kalinya untuk kali ini ia sengaja untuk tidak mempermasalahkan masalah itu menjadi panjang nanti bakalan rumit.
"Ya udah kalau gitu lain kali kamu bilang dulu sama aku. Tolong buatin aku makanan dong aku laper banget nih?"
"Baik Mas, wajahnya yang ditekuk kayak begitu dong santai aja nggak usah marah-marah?"
"Aku sama sekali nggak marah-marah kok aku cuma bingung aja sama kamu yang nggak ngasih kabar. Tapi ya udah deh nggak usah dipikirin lagi bakalan panjang nantinya kalau misalkan kita terus-terusan berantem cuma masalah sepele kaya begini."
Anara dengan cepat ke dapur mengambil barang-barangnya yang pengen dia buat hari ini menaruhnya di atas meja karena makanan kesukaan dari Oktara adalah makanan yang sangat simpel itu nasi goreng maka dari itu makanan hari ini nasi goreng terlebih dahulu.
Sebelum membuatnya ia mengambil nasi terlebih dahulu yang ada di rice cooker menaruhnya di atas meja untuk 2 porsi karena kebetulan ia juga merasa lapar walaupun tadi sudah makan juga sedikit ketika bertemu dengan Ridho.
Dengan piawai ia memotong-memotong bahan-bahan di atas talenan. Sedangkan Oktara menyalakan televisi dan memainkan ponselnya sembari menunggu sekarang hobinya bukan main games atau scrolling tik-tok atau Instagram tapi udah lebih ke foto-foto si kecil yang semakin hari banyak banget perkembangan dan juga perubahan yang semakin hari semakin kelihatan dan itu membuatnya menjadi naik.