
Rencananya hari ini mereka akan ke rumah orang tua mereka masing-masing berdua untuk silaturahmi mereka. Anara sudah sangat cantik dengan riasan wajah yang direkomendasikan oleh Oktara, dibukakan pintu lalu masuk ke dalam mobil. "Nanti kalau misalkan kamu di rumah Mama, dan ditanyain tentang gimana kabar kamu dan kabar kita kamu jawab aja kita bahagia banget. Aku nggak mau kalau misalkan mereka curiga sama kita, dan satu hal lagi apa bila nanti kita ke rumah kamu kamu jangan cerita apapun sama kedua orang tua kamu. Intinya kamu jangan cerita apapun. Kamu pahamkan?" Anara sangat mengerti sekali sebelum Oktara menceritakan apa yang nantinya harus dilakukan ketika sampai di rumah orang tua.
Selama berada di dalam mobil Anara hanya berdiam diri memainkan ponselnya. "Aku boleh nanya sesuatu nggak sama Mas Oktara?"
"Ya udah kalau misalkan kamu pengen nanya-nanya aja nggak usah izin segala!" ucapan yang sangat ketus sekali dari mulut Oktara.
"Kira-kira sampai kapan sih kamu bakalan benci sama aku?"
"Hei saya dari dulu enggak pernah membenci seseorang, yang kamu maksud itu apa sih sebenarnya? Oh saya tahu, pasti kamu nanya 'kan kapan saya akan mencintai kamu? Saya berjanji nggak akan pernah mencintai kamu."
"Ya udah tapi aku berusaha untuk mencintai kamu Mas. Karena kita sudah menjadi ikatan yang halal sampai kapanpun aku akan mencobanya, walaupun sampai detik ini kamu nggak akan pernah mencintai aku."
Tak ada obrolan lagi ketika berada di dalam mobil menuju ke rumah Mamanya Oktara.
***
Sesampainya di rumah mertua Anara mereka dipersilakan untuk masuk ke dalam rumah. Dengan refleks kedua orang tua Oktara memegang perut dari Anara, mereka berharap menantunya sudah memiliki buah hati yang sedang dikandung. Sayang mimpi-mimpi orang-orang yang terdekat yang menyangka kalau misalkan hubungan mereka adalah keluarga yang bahagia itu salah besar. Melainkan mereka hanya sekedar menjalani rumah tangga atas dasar tidak mencintai satu sama lain. Karena pintarnya Oktara dengan cepat mengatakan dalam masih proses dan sebentar lagi mereka akan memiliki momongan tapi nggak tahu waktunya kapan.
Anara hanya tersenyum saja dengan pertanyaan tersebut lalu dipersilahkan untuk duduk dan dibuatkan minum ketika asisten rumah tangga menawarkan diri untuk membuatkan minum kepada tamu mereka yang datang.
"Mah, kok kayaknya Tiara nggak ada di rumah? Lagi jalan-jalan ya sama temennya? Jangan terlalu sering Mah jalan-jalan anak perempuan kayak begitu enggak baik." Rumah tampak sepi, biasanya ada Tiara yang suka bikin recok dan meramaikan suasana yang ada di rumah ini. Mama hanya bisa tersenyum dengan pertanyaan tersebut dikarenakan karena mereka udah lama banget nggak ke rumah jadi mereka nggak tahu kabar orang-orang yang di sekitar mereka. Kalau sebentar lagi Tiara akan menyusul mereka yaitu menikah. Tercenganglah kedua orang yang baru saja datang ke rumah mereka atas berita baik tersebut.
"Silakan diminum," ucapnya yang menaruh minuman di atas meja lalu kembali ke dapur dengan meja papan yang ia pegang tadi ketika menaruh minuman yang baru saja dibuat.
"Oh ya ampun enggak nyangka banget sebentar lagi juga bakalan menikah ya? Wah tuh bocah kira-kira bisa enggak sih jadi Ibu rumah tangga?"
"Kamu ngomong apaan sih, nggak baik ngomong kayak begitu sama Adik kamu. Kan bisa tanya sama Anara."
"Anara?" kejut Oktara yang melihat Mama mengatakan itu ke arah Anara yang ada di sampingnya.
Suara salam terdengar dari luar rupanya orang yang dibicarakan sudah datang di tengah-tengah mereka. "Astaga kamu ke mana aja sih!" Oktara menggoda Tiara yang selalu ia anggap seperti anak kecil yang padahal sudah dewasa yang sebentar lagi akan menikah tapi sampai kapan pun bagi seorang Kakak nggak ada yang namanya Adik yang sudah besar.
Tiara mendekat ke arah Anara minta tips sebagai istri yang baik itu seperti apa. Dengan excited banget memegang kedua tangan Anara. "Kak gimana sih caranya jadi Istri yang baik, Istri yang sabar menghadapi Suami yang benar-benar sulit banget diatur. Tapi untungnya calon aku nggak sulit diatur sih seperti orang yang di sebelah Kakak itu!" Ia sengaja menyindir orang yang ada di samping Anara yang membuat kedua orang tua mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala karena sampai saat ini mereka tidak pernah berubah masih aja seperti anjing dan kucing.
"Ngomong apaan sih? Seharusnya kamu nggak tanya sama dia, kamu harus tanya sama orang yang lebih senior yaitu Mama. Gimana sih kamu!" Ia bisa menggeleng-gelengkan Adiknya yang masih seperti anak kecil.
"Aku sama Vedro cari-cari tempat yang bagus buat nanti pernikahan. Soalnya dalam waktu dekat katanya dia pengen ketemu sama orang tua aku yaitu Mama dan Papah. Kira-kira bakalan diterima nggak kalau misalkan dia ke rumah?"
"Ya bakalan di terimalah dengan baik, asal dia terus."
Obrolan semakin panjang dan lama. Kedua orang tua sudah berhasil mendidik anak-anak mereka hingga mereka kembali berdua lagi seperti dulu ketika menikah.
Seakan waktu itu berjalan lebih cepat, perasaan kemarin baru saja melahirkan Oktara yang menangis di rumah sakit ketika sudah lahir ke dunia. Namun sekarang cerita itu sudah berubah dia sudah memiliki seorang Istri dan mereka akan memiliki momongan atau buah hati mereka. Ditambah pula Tiara Adik semata wayang yang sebentar lagi juga akan menikah yang otomatis bakalan ikut dengan Suami nantinya.
Ketika sudah sampai di rumah mertua, ini saatnya bergiliran ke rumah orang tua Anara.
Lagi dan lagi disambut untuk masuk ke dalam dan menanyakan hal yang sama seperti tempat yang mereka kunjungi tadi.
Mama mengelus perut antara berharap ia memiliki segera Cucu. Anara hanya bisa tersenyum dengan do'a-do'a yang dipanjatkan oleh mereka.
Karena pernikahan ini bukan pernikahan yang diinginkan maka tidak ada kebahagiaan di antara mereka yang tercipta dengan sendirinya. Tapi Anara ingin menutupi semuanya agar aib ini ini tidak melebar luas dan berkepanjangan.
Ia sangat berharap suatu saat nanti laki-laki yang sudah meminangnya sebagai seorang Istri bisa mencintainya apa adanya bukan karena perjanjian yang terikat.
"Saya berjanji bakalan membahagiakan Anara dengan sepenuh hati. Intinya yang terbaik buat kita berdua. Datang dari mana tadi kok kayaknya lagi habis jalan ya tadi?"
"Iya tadi kita habis dari tasyakuran tetangga, yang baru aja melahirkan yang seusia dengan Anara juga. Kalian juga bakal menyusul 'kan nanti? Kalau misalkan pengen ada acara di tempat sini aja di sini banyak kok tetangga-tetangga nanti mereka bakalan datang."
"Em iya Mah, nanti bisa diatur kok semuanya yang terpenting adalah kita bahagia dulu dan di awal pernikahan kita mikirin pekerjaan dulu kedepannya kayak gimana."
"Ah jangan mengeluh tentang pekerjaan kebahagiaan kalian dan Masa depan kalian juga sangat penting." Oktara tak bisa menjawab lagi mereka hanya mengangguk saja.
Karna sudah senja mereka memutuskan untuk pulang ke rumah dan berpamitan.
Sebelum masuk ke dalam rumah, Oktara mencegah tangan Anara lalu melepaskannya dengan cepat ketika dua mata itu melihat tangannya yang tak sengaja dengan refleks.
"Saya harap kamu jangan terlalu menanggapi orang tua kita, yang pengen kita punya momongan. Anggap aja itu cuma angin lalu doang. Ya sudah kalau gitu saya mau mandi dulu di dalam kamar rasanya gerah banget. Oh ya satu hal lagi kamu jangan ke gr-an sama do'a orang tua saya. Mereka nggak tahu aja kalau kita cuma pura-pura bahagia.
Anara hanya bisa meneteskan air mata, ketika sang Suami mengatakan sesakit itu. Dengan cepat ia menghapus air mata yang tiba-tiba saja jatuh, tidak mungkin ia mau terlihat lemah di depan Oktara. "Aku yakin Mas Oktara bakalan sayang dan cinta sama aku."