
Iqbal menerima panggilan telpon dari nomor yang tidak dikenal. Waktu itu ia dalam perjalanan pulang ke apartemennya.Ia menepikan mobilnya dan segera menerima panggilan itu.
"halo Iqbal ya?" suara seorang perempuan
" iya ..benar, ini siapa? "
" ayo tebak ini siapa? " kata perempuan itu lagi dengan nada manja.
"saya banyak urusan ya...saya nggak suka basa basi. Kalau cuma mau bercanda saya tutup telfonnya."
" kamu masih sama ya...nggak berubah..."
"Saya sudah bilang jangan bercanda sama saya!" Iqbal mulai sedikit marah.
"oke. oke..sudah empat tahun memang ..aku rasa kamu memang lupa, tapi aku yakin dalam hati kamu pasti masih ada aku." kata perempuan itu lagi dan otomatis membuat Iqbal kesal karena ia mulai ingat siapa perempuan itu.
"ngapain kamu telfon aku.." jawab Iqbal seraya tersenyum sinis.
" kok kamu nanya gitu? bukannya kamu seharusnya senang aku menelfon. Sudah empat tahun Bal...aku yakin perasaan kamu nggak mungkin berubah"
Iqbal diam beberapa saat. Perempuan itu adalah Kinanti, mantan pacarnya yang empat tahun lalu memilih pergi ke luar negeri untuk mengejar karir.Ia pergi karena ingin menjadi dokter dengan bantuan temannya,Rio yang juga
pemilik sebuah rumah sakit besar di Jakarta. Bahkan belakangan ia tahu Kinan telah memilih lelaki itu sebagai penggantinya.
Ia kecewa saat itu bahkan hingga kini. Tapi meski begitu apa yang dikatakan kinan memang benar jika dalam hatinya masih ada cinta untuk kinan.Tapi rasa kecewa itu mampu menutup segala harapan untuk mantan pacarnya itu.
Kinan masih bersemangat menceritakan banyak hal tentang dirinya dan juga karirnya.Ia kini telah menjadi dokter muda di sebuah rumah sakit besar di Jakarta. Ia juga mengatakan jika kini ia tidak lagi bersama Rio, orang yang banyak mendukung karirnya.
Ia bilang Rio tak sepertinya. Bahkan ia mengatakan jika masih mencintainya dan itulah alasannya memutuskan Rio.
Iqbal sejenak hampir terlena dengan kata kata manis wanita yang sudah menghianatinya itu.Tapi ia ingat sahabatnya,Lukman yang telah banyak membantunya keluar dari keterpurukan. Hingga ia bisa bangkit lagi kini.Oleh karenanya segera ia buang jauh jauh pikiran tentang masa lalunya itu.
" Aku tahu Bal...aku memang salah. Tapi tolong maafkan aku. Aku ternyata tidak bisa hidup tanpa kamu. Aku ingin kita kembali seperti dulu. Bukankah kau juga masih mencintaiku..."suara Kinan terdengar serak. Sepertinya ia menangis.
Iqbal masih diam . Ia ingin menutup telfon itu tapi suara perempuan itu begitu mengiba. Hingga ia berniat untuk mendengar kata katanya lagi sebelum ia benar benar menyuruhnya pergi dari kehidupannya.
" kenapa kau bisa seyakin itu..."
" karena aku juga merasakannya...aku masih mencintaimu!!! bahkan lebih besar...dan aku bisa merasakan nya...aku mohon Bal...aku mohon ..."
" kau salah!" kata Iqbal tegas," aku tidak mencintaimu lagi..karena aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai...jadi lupakan aku..."
Iabal menutup telfon secara sepihak.Perempuan itu terdengar berulang kali memanggil namanya tapi tak ia hiraukan.
Akhirnya ia kembali melajukan mobilnya. Hatinya masih kesal apalagi pada sahabatnya,Lukman yangsudah memberi nomor telponnya itu pada Kinan.
Sesampai di apartemen ia bergegas mandi dan kemudian menelfon Lukman.Jam di dinding sudah menunjuk angka 6 sore ,ia yakin Lukman sudah ada di luar kantor.
Ia marah marah pada Lukman. Bahkan ia tak segan memaki sahabatnya itu.
Lukman hanya berulang kali meminta maaf dan mengatakan jika Kinan menemuinya di kantor.Gadis itu menangis dan meminta ingin bisa bertemu lagi dengannya. Meski Lukman sudah berulang kali mengatakan jika itu akan sia sia.
Selesai mendengar penjelasan Lukman ponselnya kembali berdering. Masih tetap nomor tak dikenal itu lagi , ia malas menyimpan nomor itu.
"aku tidak akan pernah percaya apapun yang kau katakan sebelum aku melihat sendiri perempuan seperti apa yang bisa membuat kamu jatuh cinta.
Besok aku akan ke Semarang, aku ingin bertemu perempuan itu!"
" baik...aku juga akan memperkenalkan dia pada mama Henny besok. Kamu pikir aku bohong...aku bahkan akan menikahinya dalam waktu dekat." jawab Iqbal yang sebenarnya tidak pernah ia rencanakan akan dia jawab seperti itu.
" apa? kamu bahkan sudah seserius itu..." Kinan kembali menangis.
Iqbal tahu perempuan itu akan sedih tapi lagi lagi rasa sakit yang dulu ia rasakan itu mampu menghapus semua rasa ibanya.Ia tahu apa yang harus ia lakukan.Hanya saja satu hal yang membuat ia kebingungan adalah pernikahan itu. Bukankah ia tak pernah menjanjikan adanya pernikahan bersama Rara pacar pura puranya itu.? Lalu apa yang akan diperbuatnya kini.
Ia kembali menghubungi Lukman untuk minta nomor telpon gadis itu.Karena semua urusan perjanjian dengan gadis itu Lukman yang mengatur jadi ia tak punya nomor telponnya.
Terimakasih dukungannya..
Ini afalah karya perdana saya jika ada salah ketik atau thypo saya mohon maaf...