A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 42 HATI YANG BERDARAH



Laki laki itu masih mengancam akan menembakkan pistol itu ke arah Rara. Entah apa yang diinginkan olehnya. Sepertinya pikirannya itu sedang tidak stabil.


Sementara itu kasak kusuk orang mengatakan jika ia sedang kehilangan harta bendanya karena rumah dan tokonya ludes terbakar. Ia juga kehilangan istri dan anaknya. Jika dilihat dari penampilannya sepertinya pria ini adalah orang yang hidupnya mapan.


Rara semakin ketakutan. Ia hanya bisa menguraikan air matanya. Sementara hatinya terus merapalkan doa yang ia bisa. Ia masih belum menyadari jika suaminya sudah berdiri di belakang pria itu dan bersiap hendak mengambil pistol dari tangan pria itu.


Dengan cekatan Iqbal meraih pistol itu dengan tidak menyakiti siapapun. Hingga pada akhirnya Rara berhasil lepas dari pria itu. Namun ternyata terjadi hal yang diluar dugaan. Pria itu tidak mau begitu saja menyerahkan pistolnya kepada Iqbal. Ia berusaha mempertahankan pistolnya. Hingga terjadi perebutan antara Iqbal dan pria itu.


Tiba tiba terdengar bunyi ledakan. Tidak ada yang tahu siapa yang terluka. Namun keduanya tampak seperti menahan rasa sakit.


Rara yang syok makin bertambah syok ketika melihat suaminya jatuh tersungkur. Pria itu ternyata tidak apa apa. Namun beberapa saat kemudian datanglah anggota kepolisian yang dengan segera mengamankan pria itu.


Rara segera berlari menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh suaminya yang bersimbah darah. Air matanya mengalir begitu deras.


" Mas ..mas... Iqbal! Bertahanlah mas...! Buka mata mas Iqbal! Aku mohon mas...!" katanya di sela sela tangisnya.


Sementara Iqbal memberikan ia senyuman agar istrinya itu tidak merasa takut. Iqbal menggelengkan kepalanya pertanda ia baik baik saja. Namun itu tak membuat istrinya berhenti menangis. Tangisnya justru semakin menjadi jadi. Apalagi saat ambulans datang dan petugas membawanya pergi , ia dengan rasa takutnya melihat jelas darah yang mengalir dari perut suaminya.


Rara masih dengan deraian air mata ikut masuk ke dalam ambulans dan menuju ke rumah sakit. Di dalam ambulans ia masih bisa mendengar suaminya mengerang kesakitan namun lagi lagi ia tetap memberikan senyuman kepada istrinya. Tentu saja ia tak mau jika istrinya merasa khawatir dengan keadaannya. Ia terus menggelengkan kepalanya dan dengan begitu lirih mengatakan jika dirinya baik baik saja.


Sampai di rumah sakit, Iqbal segera dilarikan ke ruang gawat darurat. Dokter melarang siapa saja untuk masuk termasuk istrinya sendiri.


Salah seorang petugas kepolisian yang sepertinya sudah mengenal Iqbal dan dirinya mendekat ke arahnya. Ia duduk di sampingnya di ruang tunggu yang berada di depan ruang gawat darurat. Laki laki seusia suaminya itu mencoba menghibur Rara dan memintanya untuk mendoakan suaminya. Rara mengucapkan terimakasih dan meminta polisi muda itu untuk membantu agar suaminya mendapatkan perawatan yang terbaik.


Dokter belum juga memberikan keterangan mengenai kondisi Iqbal meskipun sudah satu jam berlalu. Di saat itu Rara baru kepikiran siapa yang harus ia hubungi. Pertama tentu saja Lukman. Lukman mengatakan jika malam itu juga ia akan berangkat ke Semarang. Setelah itu ia menghubungi Tante Wina dan om Yuda. Mereka juga mengatakan jika malam itu juga akan berangkat ke Semarang. Ia pun tak lupa menghubungi abangnya, yaitu bang Soleh yang satu jam setelahnya sudah berada di rumah sakit menemaninya menunggu jawaban dari dokter.


Beberapa saat kemudian seorang dokter beserta seorang suster keluar dari ruang gawat darurat tersebut.. Tanpa diminta, Rara bang Soleh beserta seorang petugas kepolisian mendekati dokter tersebut. Dokter mengatakan jika Iqbal tidak dalam kondisi baik. Ada pendarahan di perutnya. Sehingga saat ini ia dalam kondisi koma.


" Saat ini pasien belum bisa dilihat siapapun. Tapi jika memaksa baiklah, saya ijinkan tapi hanya satu orang saja dan itupun jangan terlalu lama." jawab dokter ketika Rara meminta ijin untuk melihat suaminya.


"Terimakasih dokter! Saya isterinya! Saya yang akan melihat suami saya ke dalam!"


"Baiklah! Tapi jangan ingat jangan lama-lama!"


Tanpa menunggu lagi Rara segera masuk ke ruangan yang dipenuhi oleh alat-alat kedokteran yang canggih itu.


Rara masuk dan matanya mendapati suaminya yang terbaring dengan mata terpejam. Berbagai macam alat bantu terpasang di tubuhnya. Tanpa sadar air matanya telah membanjiri seluruh wajahnya. Ia tak dapat lagi mencegah keluarnya air mata itu. Ia berjalan pelan mendekati suaminya.


"Mas Iqbal...!" panggilnya begitu amat sangat lirih berharap suaminya itu akan membuka matanya.


Namun nyatanya laki laki yang baru saja mengatakan jika ia amat sangat mencintainya itu tidak bergeming sedikitpun. Jangankan menjawab panggilannya, menoleh pun tidak ia lakukan. Iqbal hanya terdiam dan seolah berada di alam lain. Ingin sekali Rara mencari keberadaan jiwa suaminya kini. Ia ingin pergi ke tempat dimana Iqbal berada menggantungkan jiwanya.


Masih dengan deraian air mata, Rara mencoba menyentuh tangan kiri suaminya. Ia mengusap lembut kepala suaminya itu. Sementara tangan kanannya mengusap lembut kepala suaminya, ia benamkan wajahnya yang berurai air mata di tangan kiri suaminya. Ia tumpahkan segala rasa sedihnya di sana.


"Aku mohon mas..., buka mata mas Iqbal sekarang! Ini aku mas... apa mas Iqbal tidak rindu padaku. Aku ingin mas Iqbal melihat aku! Aku tak pernah ingin mas Iqbal jauh dariku! Aku mohon mas... bukalah matamu!"


Belum juga tangisnya reda seorang suster masuk ke dalam dan menyuruhnya untuk segera keluar dari ruangan itu. Ketika ia keluar di ruang tunggu sudah ada om Yuda dan Tante Wina serta Lukman.


Tante Wina memeluk menantunya dan memberikan kekuatan kepadanya. Setelah semua mereda mereka yang ada di sana menyuruhnya untuk pulang dan istirahat. Namun Rara tidak mau.


Hingga pagi menjelang, matanya masih tetap terjaga. Sementara om Yuda dan tante Wina pulang ke hotel. Ia di rumah sakit ditemani Lukman dan bang Soleh. Akan tetapi bang Soleh pamit pulang karena harus memberikan kabar pada keluarganya.


Rara dan Lukman masih duduk di ruang tunggu, setelah Lukman memberikan makanan untuk Rara. Tetapi makanan itu tampaknya masih utuh tak tersentuh.


"Apa tidak sebaiknya kamu pulang dulu! Mandi dulu mungkin!" kata Lukman.


"Aku nggak akan pulang sebelum mas Iqbal membuka matanya!"


"Kamu ini juga harus menjaga kesehatan. Seenggaknya makan dulu. Apa kata Iqbal kalau dia bangun nanti melihat kamu jadi kurusan! Dia akan marah padaku?" lanjut Lukman mencoba menghibur Rara.


Rara hanya tersenyum kecil. Namun matanya mengisyaratkan bahwa ia tidak baik baik saja. Ia masih belum bisa melihat suaminya yang masih menutup matanya.


Jam satu siang, mereka masih di tempat yang sama. Tiba-tiba seperti ada langkah kaki yang begitu terburu-buru menuju ke arah mereka.


Betapa terkejutnya Rara dan Lukman melihat siapa yang datang. Dua orang wanita yang mereka kenal.


"Lukman! bagaimana keadaan anak Tante?" tanya wanita paruh baya itu. Iya...dia mama Henny. Ia datang dengan perempuan yang juga tidak asing. Kinan yang datang bersamanya.


Tanpa melihat apalagi menyapa Rara kedua wanita itu justru memandang dengan tatapan tajam pada Rara.


"Sini kamu!" kata mama Henny dengan kasar seraya menarik lengan Rara menjauh dari tempat itu.


Sementara itu Kinan duduk menggantikan posisinya di sebelah Lukman. Merasa ada yang aneh Lukman bangkit dari duduknya dan hendak menyusul Rara. Namun Kinan mencegahnya.


"Aku tahu siapa kamu sebenarnya! Kamu pikir kamu perempuan seperti apa! Kamu cuma perempuan ren***** yang berusaha memperdaya Iqbal!" kata mama Henny dengan kasar.


"Apa maksud mama?"


"Jangan lagi panggil aku mama! Akan aku pastikan kamu pergi dari kehidupan Iqbal sebelum ia membuka matanya!"


"Saya tidak mengerti apa yang tante


maksud?"


"Kamu jangan pura pura! Saya tahu semua sandiwara kamu! Semua yang sudah kamu rencanakan. Saya tahu semua! Pernikahan kalian hanya sandiwara kan? Iqbal tidak pernah mencintai kamu! Kamu cuma perempuan yang disewa untuk pura pura menjadi istrinya! benar kan?"


Bagaikan ada ribuan batu besar menimpa kepalanya, Rara seakan ingin pingsan mendengar semua yang dikatakan oleh ibu tiri suaminya itu. Dan belum juga rasa kagetnya hilang ,ia melihat Tante Wina dan om Yuda sedang berdiri di dekatnya dengan tatapan penuh dengan penyesalan.


"Tante tidak menduga kamu melakukan semuanya Ra!" ucap tante Wina


"Om juga tidak percaya jika kamu bukan gadis sebaik yang om kira selama ini."


Dengan air mata yang berlinang Rara mendekati kedua orang yang sudah ia anggap orang tua sendiri itu. Namun mereka menampakkan raut wajah yang marah dan penuh kekecewaan padanya. Bahkan berulang kali ia meminta maaf. Tapi mereka masih tidak peduli padanya. Dan pada akhirnya ia hanya bisa menangis dan membayangkan suaminya ada di dekatnya. Namun itu semua hanya mimpi.


Yang sedih sedih dimulai ya...


Salam manis 😘