A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 23 CUEK (LAGI)



Selesai sarapan, Iqbal membawa istrinya pergi keluar. Tante Wina yang menyuruhnya. Sebelum berangkat ia mengajaknya ke garasi untuk mengambil mobil karena Iqbal ingin menyetir sendiri. Ada tiga mobil di sana. Satu mobil milik om Yuda satu lagi punya tante Wina yang kemarin dipakai menjemput mereka di bandara. Sedang mobil terakhir milik Iqbal. Sebuah mobil berukuran lebih kecil berwarna merah. Sementara di salah satu sudut ada sebuah motor sport buatan Jepang yang juga berwarna merah. Rara mendekat ke arah motor itu. Ia tertawa kecil sambil matanya mengisyaratkan sebuah kekaguman. Ia menyentuh motor itu. Ia ingat sinetron favorit neneknya yang setiap sore selalu dilihatnya. Mau tak mau ia juga menonton sinetron itu hingga ia sendiri juga mengidolakan pemeran utamanya.


"Ini motornya B** yang di Tv itu ya mas..?"


"B** siapa? Itu motorku bukan punya orang ya!" jawab Iqbal seraya membuka pintu mobil merah itu.


" Iya tahu mas...maksudku motor ini sama kaya yang di sinetron itu. Seandainya nenek ada di sini pasti minta dibonceng pake motor ini!"


"Nenek apa kamu yang mau dibonceng?"


" Ya kalau aku sih maunya yang bonceng itu di B** pasti keren tuh..!" jawabnya tersenyum cerah yang hanya dibalas senyum kecil oleh Iqbal. Lalu ia segera masuk ke dalam mobil begitu Iqbal menyalakan mobilnya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Iqbal tampak cuek di dalam mobil. Tidak ada obrolan apapun. Rara merasa jika sandiwara mereka di depan om dan tante sudah berakhir . Jadi sekarang ia telah kembali ke bentuk semula yang cuek dan dingin. Iqbal menerima panggilan telpon. Sambil menyetir ia memakai head set untuk menerima panggilan tersebut.


Ia tampak ngobrol dengan raut wajah ceria dengan lawan bicaranya. Sesekali ia tertawa lepas dan tak menghiraukan istrinya yang duduk manis di sampingnya. Ia juga mengatakan hal hal yang sama sekali tidak dimengerti Rara. Hingga akhirnya Iqbal mengatakan akan segera tiba dan temannya itu ia suruh menunggu sebentar. Setelah itu Iqbal menutup telponnya , kemudian ia hanya diam .Ia tidak menjelaskan apapun pada Rara. Dan Rara juga hanya diam tak berani bertanya apapun. Hingga pada akhirnya mobil berhenti di sebuah mall mewah yang berdiri diantara bangunan bangunan pencakar langit di kota Jakarta.


Rara mengekor di belakang suaminya. Iqbal tidak menggandeng tangan Rara sama sekali. Bahkan ia tidak mengatakan apapun padanya. Rara hanya diam sambil berulang kali merutuki dirinya sendiri yang lagi lagi terlalu berharap yang indah indah pada suaminya itu. Namun nyatanya semua sandiwara akan berakhir begitu tidak ada orang lain di sekitar mereka.


Mereka maduk ke sebuah tempat makan. Di salah satu meja sudah ada tiga orang yang melambaikan tangan begitu melihat Iqbal datang. Dua orang laki laki dan seorang perempuan. Iqbal mendekat lalu menjabat tangan mereka satu per satu. Lalu ia memperkenalkan Rara sebagai istrinya. Seakan mendapat secercah cahaya ia menampilkan senyum terbaiknya pada teman teman suaminya. Berharap mereka akan bersikap baik padanya. Tapi ternyata tak seindah harapannya. Mereka lebih asyik ngobrol berempat tentang hal hal yang sama sekali tidak dimengerti olehnya.


Dari pembicaraan mereka, Rara tahu jika mereka adalah teman semasa SMA. Bahkan di depan dirinya mereka juga tidak sungkan menyebut nama Kinan. Entah mereka memang tahu jika dirinya dan Iqbal sedang bersandiwara atau memang perasaan mereka yang kurang peka. Tapi Rara kemudian menyadari jika ia hanya istri pura puranya Iqbal. Kemudian ia menghibur dirinya sendiri agar ia kuat karena bukankah seharusnya ia harus seperti itu. Selalu kuat untuk urusan apa pun.


"mas..aku ke toilet sebentar ya...!" pamit Rara pada suaminya yang hanya dibalas anggukan dan sebuah senyum kecil.


Rara melangkah menuju toilet. Sebenarnya ia sama sekali tidak ingin buang air kecil. Ia hanya ingin melepas segala beban yang ia tahan sebentar. Ia merapikan dirinya lalu keluar begitu pikirannya mulai tenang.


Saat berjalan kembali ke mejanya, dari kaca restoran ia melihat seorang anak kecil tengah menangis histeris memanggil manggil nama ibunya. Usianya sekitar tiga atau empat tahun. Ia terus menangis namun tak satu orangpun peduli padanya. Tanpa pikir panjang Rara keluar dan mendekati gadis kecil itu.


" Sayang... mama kamu kemana?" tanyanya seraya duduk berjongkok mengelus rambut gadis itu lembut. Ia sama sekali tak menjawab hanya terus menangis dan memeluk tubuh Rara. Ia benamkan wajahnya di pundak Rara dengan sesekali menyebut nama ibunya.


" mama....icha tatut....mama....hu hu hu..."


Rara makin kebingungan. Ia mencari cari dimana orang tuanya namun tak ia temukan seseorang yang mengenal gadis kecil itu.


Kemudian ia melihat seorang petugas keamanan dan segera mendekati orang tersebut. Namun ketika Rara hendak menyerahkan gadis kecil itu kepada petugas ia berontak dan mengeraskan tangisnya.


Gadis kecil itu memeluk kaki Rara dan meminta untuk digendong oleh Rara. Ia merasa ketakutan dan meminta perlindungan kepada Rara.


" gini aja mbak, saya ke pusat informasi dulu nanti kalau ibunya sudah ketemu biar saya bawa kesini." kata petugas itu kemudian bergegas pergi.


Rara mencoba menenangkan gadis itu. Lama lama akhirnya dia mau juga berhenti menangis. Rara membujuknya dengan membelikan es krim untuknya. Setelah tenang Rara mengajak dia duduk disebuah kursi panjang.


"Malica...dipangginya Icha...tante baik deh...icha nggak tatut lagi...!" jawab gadis itu dengan nada bicara yang lucu.


" iya. Tante bukan orang jahat kok...icha juga jangan nangis lagi ya...nanti tante belikan es krim lagi....Sekarang kita duduk sini dulu sambil nunggu mama Icha. oke?"


Gadis itu hanya mengangguk seraya terus menikmati es krimnya. Tiba tiba Rara ingat suaminya. Bergegas ia menelfon suaminya untuk membertahu dimana dirinya berada. Di ponselnya sudah ada lebih dari sepuluh panggilan tak terjawab dari Iqbal.


Beberapa saat kemudian Iqbal muncul dengan raut wajah kesal dan marah. Rara tahu jika ia pasti mencari cari dirinya sedari tadi. Rara hanya menunduk menunggu Iqbal memarahinya.


"Kamu pikir tempat ini seluas kampung kamu apa?! Aku tuh muter muter nyari kamu kesana kemari tau nggak! Kamu ditelfon nggak bisa dichat nggak dibales... Emang ada kepentingan apa sih kamu?!"kata Iqbal marah marah.


" Maaf mas aku tadi habis...."


" Sudah deh kamu nggak perlu ngeles. Seenggaknya kalau ditelfon itu ya diangkat. Kamu pikir aku nggak panik! Kamu di sini itu tanggung jawab aku ya! Kalau kamu kenapa napa aku juga yang kena!" Iqbal memotong ucapan Rara dengan nada menohok. Entah apa yang membuat air mata Rara tiba tiba ingin meluncur. Ia belum pernah melihat Iqbal marah seperti ini dan mungkin itulah sebabnya ia ketakutan.


Tiba tiba gadis kecil yang tak terlihat oleh Iqbal itu maju ke hadapannya. Ia mendongak ke atas menatap wajah Iqbal dengan kesal. Kedua tangannya ia letakkan di pinggangnya pertanda ia siap menghadapi pak polisi yang sedang marah marah itu.


" Om ciapa? Om jangan malah malah ya cama tante Lala. Ini tantenya Icha! Kalau om malahin tantenya Icha, Icha akan malahin om! Om jahat!"


Kata kata lucu tadi mendadak menurunkan kadar kemarahan Iqbal. Ia lalu membungkukkan dirinya dan menatap gadis kecil itu. Rara mendekat.


"Kamu siapa kok om nggak lihat ada kamu di sini. Memang kamu kenal sama tante Rara ?"


Icha mengangguk. Iqbal lalu tersenyum dan mengusap sisa es krim di sudut bibir gadis itu.


" Dia kehilangan mamanya mas...aku nemuin dia tadi. Sekarang petugas keamanan sedang mencari tahu dimana mamanya. "


Iqbal melirik Rara sekilas. Sudah tidak ada lagi kemarahan di sana. Kali ini justru ada rasa bersalah di sana. Ia masih membungkuk lalu menatap Icha lalu tersenyum padanya.


"Icha tahu nggak siapa om?" Icha menggeleng, " om ini suaminya tante Rara. Om minta maaf ya tadi sudah marah marah sama tante Rara. Habis om tadi juga kehilangan tante Rara. Om muter muter nyari tante Rara tapi tante Rara nya nggak ketemu. Om jadi kesel terus om marah marah." kata Iqbal dan membuat gadis itu tersenyum.


Rara iku berjongkok seperti suaminya.


" Icha! om ini namanya om Iqbal, suaminya tante Rara. Icha tahu nggak om Iqbal ini seorang polisi. Jadi Icha nggak perlu takut. Om Iqbal akan menolong Icha ketemu sama mama. Sekarang kita duduk lagi ya sambil nungguin om Iqbal nyari mama kamu.!"


Icha mengangguk dan mereka kembali duduk di kursi panjang. Sementara tanpa pikir panjang lagi Iqbal bergegas pergi mencari dimana keberadaan orang tua Icha.


Terimakasih telah membaca


Salam manis