
Jakarta. Kota sejuta mimpi. Kota metropolitan pusat segala aktivitas.Baik aktivitas politik, pemerintahan, ekonomi bahkan hiburan. Di kota ini banyak orang menggantungkan hidupnya mencari kepuasan untuk bertahan hidup.
Sebuah mobil berwarna hitam lengkap dengan supir nya siap menjemput mereka. Adalah pak Basuki seorang supir keluarga Iqbal yang sudah bekerja selama puluhan tahun. Ia orang yang baik, bahkan ia juga selalu mendukung semua yang Iqbal lakukan termasuk pernikahannya ini.Pak Basuki adalah salah satu orang yang senang dengan pernikahan Iqbal. Hal itu dibuktikan dengan betapa ramahnya ia kepada istrinya. Demikian juga dengan Rara yang juga selalu baik kepada semua orang. Ia memperkenalkan dirinya dengan sopan pada pak Basuki.
"Ternyata benar ya Mas apa kata orang kalau Jakarta itu panasnya minta ampun !" tukas Rara begitu masuk ke dalam mobil.
Iqbal hanya tersenyum kecil sambil mengingat betapa lugu sekaligus menggelikannya istrinya itu. Ia ingat ketika di dalam pesawat. Sebelum pesawat lepas landas Rara mengeratkan pegangan tangannya pada lengan suaminya. Matanya terpejam dan bibirnya komat kamit merapalkan doa. Tak lama setelah keadaan normal ia berteriak histeris ketika melihat sekumpulan awan yang berarak tertiup angin.
Hal itu sontak membuat dua orang yang duduk sebaris dengan mereka kaget . Untung saja dua orang yang sepertinya juga sepasang suami istri itu memakluminya dan malah ikut tertawa melihat tingkah Rara. Iqbal pun menyadari jam jika memang ini pengalaman pertama bagi istrinya nsik pesawat.
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang. Untung jam masih menunjuk angka tiga. Jika sejam lagi pasti kemacetan akan ada di mana mana. Iqbal mengintruksikan pak Basuki agar berhenti sebentar di pemakaman. Kira kira lima menit kemudian mobil sudah berhenti di sebuah pemakaman mewah. Tempat yang sungguh jauh berbeda dengan tempat ibu Rara dimakamkan.
Sebelum memasuki area pemakaman mereka membeli bunga yang dijual di area dekat pemakaman. Iqbal melangkah di depan sementara Rara mengikuti langkah suaminya dari belakang. Mereka berhenti di sebuah area makam yang bersih dan teduh. Di sana ada empat makam yang berjajar. Tanpa diberitahu pun Rara tahu itu adalah makam orang orang yang dicintai oleh suaminya. Iqbal duduk bersimpuh di samping makam.
" mereka tinggal berdampingan di sini !" ucap iqbal seraya tertunduk menahan kesedihan.
Tanpa berpikir Rara tahu apa yang harus ia lakukan. Ia menyentuh pundak suaminya dan mengelusnya perlahan. Ia mencoba memberi kekuatan sama persis dengan apa yang suaminya lakukan kepadanya. Mereka sama sama memberi kekuatan satu sama lain.
Iqbal hanya makin menundukkan kepala seraya mengucapkan doa doa. Ia tak mengenalkan kepada orang orang yang dicintainya itu siapa Rara. Ia hanya menunduk dan terus menahan kesedihan. Sementara Rara masih setia membelai pundak dan punggung suaminya.
Setelah dari tempat pemakaman mereka menunu ke rumah keluarga Iqbal. Sebuah rumah mewah dan indah. Seorang wanita dan seorang laki laki menyambut kedatangan mereka. Satu per satu mereka menyalami dan memeluk Iqbal dan istrinya. Mereka om yuda dan istrinya, tante wina. Kedua orang yang sudah menganggap Iqbal sebagai anak sendiri.
Rara terkagum kagum melihat rumah yang mewah dan megah itu. Ia mengedarkan pandangannya menyusuri tiap jengkal rumah itu. Rumah bergaya modern yang lengkap dengan perabotan yang juga modern. Hiasan bunga bunga tertata rapi menghiasi tiap sudut ruangan. Guci keramik tertata menghiasi di setiap celah. Sementara dindingnya dipenuhi foto foto keluarga.
Diantara foto foto itu ada satu foto yang menarik perhatian Rara. Sebuah foto seorang wanita yang tengah menggendong seorang bayi laki laki. Ia melangkah ke depan mendekat ke arah foto itu. Entah apa yang membuat ia begitu tertarik pada foto itu. Hingga tanpa ia sadar seseorang telah berdiri di sampingnya.
" siapa juga yang lihatin Mas Iqbal! aku tuh lagi lihatin mamanya Mas tuh ...kan waktu di apartemen aku nggak begitu jelas. Ternyata mama Mas Iqbal itu sungguh cantik jelita.!"
" ah masak...Jangan bohong kamu ya...lihatin mama apa lihatin aku...?"
Rara tertawa kecil melihat tingkah suaminya. Sementara Iqbal kembali asyik menatap foto itu. Seolah menemukan sebuah kenangan indah di sana. Rara menoleh ke arah suaminya.
" sudah mas nggak usah dilihat sampai segitunya , aku tahu kok Mas Iqbal itu ganteng...ganteng banget malahan!" katanya mencoba mengembalikan senyum suaminya. Dan benar saja yang dipuji langsung membelalakkan mata dan tersenyum cerah.
Mereka terus memandangi foto lain dan Iqbal menceritakan kisah dibalik foto foto itu. Hingga suara tante Wina mengakhiri percakapan mereka. Tante Wina menyuruh Iqbal mengajak istrinya untuk mandi dan istiahat. Mereka naik ke lantai dua tempat dimana kamar Iqbal berada.
Kamar yang luasnya sama dengan luas rumahnya. Sebuah kamar yang jika dibuat tidur akan mampu menampung anak anak sekampungnya. Lagi lagi Rara dibuat takjub dengan dekorasi kamar yang tertata sempurna itu. Disana ada barisan foto foto pemiliknya. Dari mulai foto berseragam hingga foto foto keren seperti foto seorang model. Dalam salah satu foto itu ada sebuah foto Iqbal tengah tersenyum dan memakai kaca mata hitam. Rara tak dapat menyembunyikan perasaanya.Ia selalu terpanah setiap suaminya itu memakai kacamata hitamnya. Ia selalu dibuat melayang ke angkasa jika melihatnya seperti itu.Hingga tanpa sadar Rara menutup mulutnya yang menganga seperti melihat seorang pangeran.
" tuh kan ...aku bilang juga apa! Awas ntar malam nggak bisa tidur kamu ya...!" suara itu mengagetkannya. Buru buru ia ia arahkan pandangannya ke tempat lain tapi ia tetap tak mampu menyembunyikan perasaanya.
Pipi Rara merona menahan malu. Meski begitu ia masih sempat curi curi pandang pada pemilik foto yang telah mencuri hatinya lagi. Ia terlena untuk ke sekian kalinya.
Maaf ya buat yang ngefans sama prince Mateen ...he he..abis fotonya cocok tuh...
sesuai dengan imajinasi saya...
Salam manis...