
Beberapa saat muncullah seorang wanita berpenampilan cantik berusia sekitar tiga puluhan lari tergopoh mencari cari sesuatu. Ia memeluk Icha begitu matanya menangkap keberadaan gadis itu. Iqbal dan petugas keamanan berada di belakang wanita itu.
Ialah mama Icha. Wanita yang terlalu banyak menangis terlihat dari matanya yang sembab. Ia tak henti memeluk dan mencium Icha. Begitu pula dengan Icha yang nampak sungguh sangat bahagia melihat mamanya.
"Mama ...Tante Lala baik cama Icha... om Iqbang juga baik udah nyaliin mama ...Icha nggak apa apa...tante Lala tadi juga beliin Icha es kim...!" kata Icha pada mamanya.
" Terimakasih ya...Lala...kamu sudah menyelamatkan Icha" kata mama Icha
" Iya kak...tapi ngomong ngomong nama saya bukan Lala tapi Rara, icha aja tuh yang salah ngeja...!" Rara ter tawa kecil melirik Icha yang juga sudah banyak tertawa.
Iqbal mendekat ke arah tiga perempuan itu.
"Icha jangan lari lari sendiri lagi ya...musti patuh sama mama nggak boleh pergi sendiri Kalau nggak ada mama!" kata Iqbal
" om juga jangan malah malahin tante Lala telus...tante Lala baik tau!"
Semua yang ada disana tertawa mendengar kata kata Icha yang menggemaskan. Lalu setelah berkali kali mengucapkan terimakasih, mama Icha segera mohon diri. Icha melambaikan tangan kepada kedua orang yang sudah menolong dia. Begitu pula dengan sepasang suami istri itu, mereka membalas lambaian tangan gadis kecil itu.
Di dalam mobil yang menuju arah pulang, Rara masih diam seribu bahasa meski Iqbal sudah berulang kali mengajaknya bicara. Bahkan ia juga sudah minta maaf karena telah berkata kasar tadi. Ia tahu jika istrinya itu masih marah padanya. Tapi hingga mobil sampai di rumah pun Rara tak mengatakan apapun.
Mereka masuk ke kamar dan segera merapikan pakaian masing masing karena jam dua siang nanti pesawat mereka akan terbang kembali ke Semarang. Rara masih asyik dalam diamnya. Yang tentu saja membuat Iqbal tak bisa berbuat apa apa.
Saat makan siang om Yuda pulang dari kantornya karena keponakannya akan kembali ke Semarang. Mereka makan bersama untuk terakhir kali. Namun Iqbal berjanji kepada kedua orang tua itu untuk kembali mengunjungi mereka setelah ada waktu luang.
Mereka berpamitan setelah makan siang selesai. Tante Wina seakan masih ingin berlama lama dekat dengan menantu barunya itu. Namun ia harus merelakan mereka kembali karena pekerjaan Iqbal akan banyak menyita waktu akhir akhir ini. Mereka saling memeluk dan mencium sebelum pergi. Pak Basuki yang bertugas mengantar mereka kembali ke bandara.
Jam dua siang pesawat lepas landas. Namun dua insan itu masih saling diam. Bahkan di pesawat, Rara yang pada awalnya ketakutan kini ia sebisa mungkin melawan rasa itu. Tidak tahu kenapa rasa kesal di hatinya masih belum bisa ia kurangi. Meskipun sebenarnya ia tidak tahan jika harus berdiam diri seperti ini.
Setelah sampai di Semarang Iqbal membawa istrinya pulang ke apartemen. Rara ingat ia pernah sekali masuk ke apartemen ini. Suasananya masih sama. Hanya sedikit berantakan di sana sini. Rara meletakkan tas ranselnya di atas sofa lalu segera beranjak menuju dapur menyalakan kompor dan mengambil sapu. Ia menyapu lantai sambil menunggu air yang ia rebus mendidih. Iqbal heran kenapa gadis Itu bisa dengan cepat mengerti seperti ini. Padahal dia bukan pembantu tapi ia seolah siap dengan apa yang harus ia kerjakan.
" Kamu nggak capek apa? kita kan baru sampai lebih baik kamu istirahat dulu." kata Iqbal yang sudah merebahkan dirinya di atas sofa.
"Nggak apa apa mas. Aku paling benci lihatin yang kotor kotor!" jawab Rara tanpa menoleh.
" Kenapa sih kamu masih marah aja. Aku kan sudah minta maaf! Ayo dong Ra.. jangan cemberut terus, aneh rasanya kalau kamu cemberut gitu! "
Rara tak menjawab. Ia terus menyapu lantai, bahkan lantai di sebelah suaminya.Sementara suaminya masih asyik dengan ponselnya. Tiba tiba karpet yang ada di bawah kakinya menyeret kakinya hingga ia hampir terjatuh. Namun Rara tak menyadari jika ia terjatuh di atas suaminya yan berbaring itu. Mata mereka bertemu di satu titik. Seolah nafasnya terhenti Rara mencoba menguasai dirinya. Tapi tatapan mata itu, aroma parfum itu dan tentu saja pesona itu terlanjur menimbulkan genderang di dalam jantungnya. Hatinya berdecak kagum melihat tatapannya yang teduh dan mampu mengguncang dunianya.
Rara benar benar dibuat serba salah dengan keadaan ini.
" Maaf mas! mas nggak apa apa kan?" katanya kemudian tanpa berani menatap mata Iqbal. Pipinya terlihat merona.
Iqbal tak menjawab. Lalu Rara segera beranjak. Namun ia tersentak saat tiba tiba suaminya menarik tangannya dan mendudukannya di samping tubuh suaminya yang masih terbaring. Rara memalingkan wajahnya. Lagi lagi ia tak berani menatap mata suaminya.
" Kenapa? Kamu malu? hm...?"
Rara hanya diam. Iqbal bangkit dari tidurnya hingga bibirnya kini tepatbberada di samping wajah istrinya. Jantung Rara semakin tidak karuan.
"Ini karma karena kamu cemberut melulu sama aku. Bahkan aku bisa mendengar detak jantung kamu sekarang. Makanya kalau suami minta maaf itu jangan diacuhin. Kena karma baru tahu rasa kamu!" lanjut Iqbal lagi. Kali ini Rara memberanikan diri menatap mata itu.
" Mas Iqbal tahu tidak, mas Iqbal memang sudah minta maaf karena telah berkata kasar sama aku tadi dan aku sudah memaafkannya. Tapi mas Iqbal belum minta maaf atas kesalahan mas Iqbal sebelumnya! "
Tanpa menunggu Iqbal menjawab, Rara beranjak pergi. Tapi lagi lagi Iqbal menarik tangannya hingga ia kembali terduduk. Iqbal menatap mata Rara intens.
" Mas Iqbal tuh masih sama ternyata. Mas Iqbal nggak peka! " Rara melempar bantal kursi ke dada Iqbal. Ia sendiri tidak tahu ia mendapat kekuatan itu dari mana. Rara berdiri dan berlalu menuju dapur.
Sementara Iqbal masih berpikir kesalahan apa yang sudah diperbuat olehnya hingga Rara bisa semarah itu padanya. Ia melangkah menuju dapur mencoba mencari jawaban. Rara sedang menuang air panas ke dalam dua buah cangkir berisi gula dan teh celup di dalamnya. Iqbal mendekati gadis itu.
"Ra...ayo dong kasih tahu aku , kesalahan apa yang sudah kuperbuat hingga kamu marah gini! ayo dong Ra..."
"Baik akan aku kasih tahu!" Rara menghela napas dalam lalu menatap mata Iqbal.
" Mas Iqbal tahu nggak, Mas Iqbal tadi terlalu asyik berbincang dengan teman teman mas Iqbal! Mas Iqbal sampai lupa kalau ada aku! Aku tuh sebel tahu nggak! Aku merasa nggak ada harganya sama sekali! Biar aku ini cuma istri pura pura nya mas Iqbal tapi nggak seharusnya mas Iqbal memperlakukan aku seperti itu! Mas Iqbal jahat! Aku merasa seperti orang bodoh dan hina!" Rara berkata dengan nada tinggi dan tanpa ia sadari air matanya sudah mengalir kemana mana.
Iqbal menyentuh pipinya dan menghapus air matanya. Lantas ia tersenyum kecil dan menatap mata istrinya.
" Aku minta maaf ya...! sudah kamu jangan nangis lagi! Iya aku memang salah. Tadi aku pikir kamu nggak akan sampai sesakit ini. Tapi lagi lagi kamu mengatakan yang sebenarnya jika aku ini memang kurang peka atau bahkan tidak peka sama sekali. Sekali lagi aku minta maaf ya...!"
"Aku sebenarnya memang nggak pantas jika sampai marah seperti ini. Tapi mas Iqbal nyebelin. Nggak apa kalau misalnya mas Iqbal nyuekin aku kalau nggak ada orang. Tapi jangan pas kita didepan banyak orang dong mas. Ini semua juga demi mas Iqbal kan? Coba bayangin apa kata orang kalau tahu mas Iqbal cuek sama istrinya sendiri. Yang rugi juga mas Iqbal sendiri kan?"
" oke ....mas ngerti! Dan mulai sekarang tolong buat aku lebih peka dengan apapun yang kamu lakukan. "
Rara mulai menampakkan senyum di wajahnya. Ia lalu mengangguk pelan. Kemudian mereka menuju ruang tengah dan menikmati teh yang baru saja Rara buat. Kini Rara telah kembali ceria dan Iqbal merasa seolah matahari telah kembali menyinari dirinya.