A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 46 PERGI



Pagi ini sinar matahari begitu muram. Meskipun aktivitas yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarga Rara sudah seperti biasanya, namun baginya seolah tiada lagi ada sebuah semangat. Ia malas melakukan apa pun. Bahkan ponselnya yang sedari tadi berdering tidak ia hiraukan. Matanya masih sembab menahan perihnya air mata.


Mbak Dewi masuk ke dalam rumah dan menjumpai dia yang sudah duduk di kursi ruang tamu tengah melamun. Mbak Dewi mendekati dirinya dan duduk di sampingnya.


"Sudah Ra...! Semua sudah kamu putuskan bukan? Apalagi yang bisa kita lakukan?"


"Aku tidak akan mungkin menyesali semua keputusan yang sudah aku ambil mbak. Aku hanya tidak bisa jika aku harus membohongi mas Iqbal nantinya."


Belum selesai ia bicara ponselnya kembali berdering. Ia masih tidak berniat menjawabnya. Kemudian mbak Dewi mencoba melihat siapa yang menelepon.


"Ini video call dari Iqbal, Ra!"


"Aku tahu mbak...!"


"Kenapa tidak diangkat. Kamu tidak mau tahu keadaannya. Sudah ada dua belas panggilan video yang tidak kamu jawab! Lima panggilan tidak terjawab dan Dua puluh pesan yang belum kamu baca. Semua dari Iqbal!"


Seolah tidak ada yang membuatnya terkejut, Rara melihat ke arah mbak Dewi dengan tatapan penuh rasa sedih.


"Aku tahu mbak! Tapi aku tidak akan pernah menjawabnya!"


Mbak Dewi meletakkan ponsel yang sudah berhenti berbunyi itu kembali ke atas meja.


Ia meraih tangan Rara Kemudian menggenggam tangan gadis itu dan memberinya kekuatan.


"Kamu salah jika tidak mau mengangkat panggilan itu. Jika memang kamu sudah memutuskan untuk pergi dari kehidupan Iqbal, inilah saatnya kamu mengatakan padanya. Kamu harus pergi dengan baik baik. Katakan jika semua adalah keputusan terbaik untukmu dan untuk dia."


"Aku tidak bisa mbak!"


Matanya kembali mengeluarkan kesedihan yang mendalam.


"Kalaupun kamu tidak mau mengatakan tentang keputusan itu , setidaknya jadikan ini kesempatan terakhir kamu melihat dia. Apa kamu tidak mau melihat dia untuk yang terakhir kalinya."


Rara berhenti menangis dan menganggap apa yang sudah disarankan oleh mbak Dewi mungkin akan membuat perasaannya lebih lega setelah ia pergi nanti. Ia masih mencoba mencerna semua yang sudah mbak Dewi katakan.


Kemudian ia meraih ponsel dari atas meja dan langsung menghubungi nomor Iqbal. Ia ingat dengan jelas jika di ponselnya, ia memberi nama my hubby untuk nomor suaminya itu. Ia pun juga ingat jika di ponsel suaminya , namanya adalah my sweety. Air matanya kembali mengalir ketika semua itu terputar kembali di ingatannya.


Panggilan video tersambung. Lagi-lagi ia tak sanggup menahan air matanya, ketika ia melihat suaminya yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Di sampingnya ada Lukman yang membantunya memegangi ponselnya.


"Halo sayang...!" sapanya begitu lirih dan lemah namun begitu indah terdengar di telinga istrinya itu.


"Mas...! Mas Iqbal sudah nggak apa-apa kan ? Aku minta maaf mas...!"jawab Rara terbata sambil menahan isaknya.


"Hei...aku nggak apa-apa! Kok kamu malah nangis sih.. Kamu nggak seneng lihat aku! "


Rara mengangguk perlahan. Ia ingin sekali memeluk suaminya itu jika ia bisa.


"Aku akan segera pulang. Kamu tunggu saja aku di rumah. Aku minta maaf karena aku tidak ada saat kamu butuh aku. Seharusnya aku ada di sana saat nenek pergi. Nenek pasti marah padaku." kata Iqbal lagi masih dengan suara yang lemah.


"Mas Iqbal nggak boleh pulang sebelum benar-benar sembuh. Aku tidak apa-apa mas ..! Mas Iqbal jaga diri baik-baik ya!"


"Aku tidak mau menjaga diriku sendiri. Aku maunya kamu yang mengurus aku, aku maunya kamu yang jaga aku. Pokoknya aku akan pulang ke rumah kita. Aku nggak butuh siapa pun. Aku cuma mau hidup bersama dengan kamu. Cuma kamu!"


Air mata semakin deras menganak sungai di pipinya. Ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa kini. Ia hanya bisa menahan isaknya.


Sementara Rara belum bisa menguasai dirinya. Ia tidak tahu harus berbuat apa.


"Ra...dokter datang! Nanti aku telfon lagi ya?"


"Mas..., Kamu baik-baik ya di sana. Aku minta maaf mas. Aku tidak bisa menemani mas Iqbal saat seperti ini. Mas Iqbal harus sehat. Nanti kita ketemu lagi! Da mas Iqbal!"


"Da...da..sayang...I love you!"


Setelah menutup panggilan video itu, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah ruah. Mbak Dewi dengan sigap memberikan dadanya untuk Rara sandari.


Entah kenapa semua yang baru saja Iqbal katakan begitu menusuk ke dalam hatinya. Ia merasa seolah semua itu adalah sebuah kenyataan yang tidak mungkin akan bisa ia lakukan. Semua yang Iqbal katakan adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi.


Air matanya tak berhenti mengalir. Dan segala gundah di dalam hatinya hanya bisa ia tumpahkan dengan menangis. Dan mbak Dewi adalah satu-satunya orang yang begitu baik yang mau membantu meringankan beban di dalam dadanya.


Hari ini adalah hari yang begitu berat. Rara dengan sekuat tenaga berusaha bangkit dari keterpurukannya dan akan memulai sesuatu yang baru.


Setelah semua yang ia tangisi mereda, Rara segara merapikan dirinya. Ia mandi dan mengganti pakaiannya. Merasa ada yang aneh, mbak Dewi mencoba menanyakan sesuatu.


"Kamu mau kemana?"


"Aku akan ke apartemen dan..."


"Dan apa Ra?"


Rara tampak ragu-ragu. Namun sejurus kemudian ia tersenyum kecil dan berusaha untuk menampilkan raut wajah yang biasa-biasa saja. Sementara ia melihat ada sebuah kekhawatiran di wajah kakaknya itu.


" Mbak Dewi tenang saja. Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin mencari apakah masih ada barang barangku ya Ng tertinggal di apartemen atau tidak. Aku juga akan mengembalikan ini!" ia memperlihatkan ponselnya.


"Mbak tahu kamu pasti bisa!"


Rara mengangguk perlahan kemudian segera pergi.


Tiba di apartemen ia bergegas pergi ke kamarnya. Ia menemukan tas selempang miliknya yang selalu ia pakai kemana mana.


Ia meraihnya dan membukanya karena ingin mencari sesuatu di dalamnya. Namun ia begitu terkejut tatkala ia menemukan sesuatu yang penting dalam hidupnya ada di sana.


Sekuntum bunga mawar merah yang sudah tidak karuan bentuknya masih tersimpan dengan baik di sana. Perlahan ia mengambilnya. Dan semua kenangan tentang malam itu kembali dalam ingatannya. Ia ingat ketika Iqbal memberikan sekuntum mawar merah yang saat itu masih begitu segar. Dengan senyum yang mengembang ia menerima bunga itu dan mendengarkan setiap ungkapan perasaan suaminya.


Ia juga mengingatkan malam berdarah itu lagi. Karena menyelamatkan dirinya , suaminya menjadi korban penembakan oleh orang tak dikenal. Ia sedih jika terus mengingat kejadian itu.


Rara mengambil selembar kertas dan menyimpan mawar merah itu di dalamnya. Kemudian ia mematikan ponselnya. Ia mengambil kartu SIM yang berisi nomornya dan membuangnya ke luar jendela.


Ia masuk ke dalam kamar suaminya. Ia letakkan ponsel dan bunga mawar merah itu di atas meja bersebelahan dengan dua kunci yang sebelumnya sudah ia taruh di sana.


"Selamat tinggal mas Iqbal. Aku telah memilih jalan yang benar. Setidaknya sebelum mas Iqbal benar-benar jatuh cinta padaku, mas Iqbal harus tahu dimana posisiku. Aku mungkin tidak akan pernah bisa melupakan semua kenangan indah kita, karena akulah orang yang paling mengagumi dirimu sejak pertama kita bertemu. Dan mas Iqbal mungkin hanya sesaat mengagumi diriku. Mas Iqbal akan lebih mudah untuk melupakan aku. Jangan pernah mencoba mencari diriku lagi. Aku akan pergi jauh dari mas Iqbal. Carilah cinta lain yang mungkin sudah ada di dekat hatimu mas. Terimakasih atas semua yang telah mas Iqbal berikan padaku. Aku bahagia bisa mengenal dan bisa hidup bersama dengan mas Iqbal."


Rara menuliskannya di selembar kertas yang akhirnya juga ia taruh di samping barang barang itu. Masih dengan deraian air mata Rara melangkah pergi dari kamar itu.


Matanya menatap ke sekeliling tempat yang memberi begitu banyak kenangan dengan orang yang paling ia cintai. Namun ia harus segera pergi sebelum hatinya kembali membiarkan semua kenangan indah itu masuk kembali ke dalam dunianya.


salam manis 😘