A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 48 IQBAL POV 2



Aku tiba di Semarang sore ini. Meskipun aku tahu keadaanku masih tidak begitu baik. Namun setidaknya aku sudah sanggup berjalan sendiri meski sesekali Lukman masih membantuku.


Lukman memintaku ke apartemen terlebih dulu untuk istirahat. Namun aku menolaknya. Aku ingin segera mengetahui dimana keberadaan Rara. Apakah yang aku dengar memang benar, jika tidak ada seorangpun di rumahnya. Maka dari itu tempat pertama yang aku tuju adalah rumahnya.


Tidak ada seorangpun di sana. Aku segera turun dari mobil yang dibawa oleh Lukman. Namun Lukman mencegahku. Ia khawatir dengan kondisi kesehatanku yang belum stabil. Namun aku memaksa.


"Dasar keras kepala!" umpatnya padaku.


"Kalau kamu jadi aku, aku yakin kamu akan lebih parah dari aku!" jawabku seraya tertatih berjalan.


"Huh...! Dasar bucin loe!"


"Diem loe!"


Lukman hanya tertawa kecil melihatku begitu kesal karena ia terus saja mengejekku. Meski pada akhirnya ia membiarkan aku masuk ke pekarangan rumah Rara yang memang terlihat sepi malam itu. Bahkan tidak ada satu lampu pun yang dinyalakan. Dan dari situ akhirnya aku tahu jika memang tidak ada siapapun di rumah itu.


Aku berhenti melangkah. Diam membisu menatap bangunan rumah sederhana yang seolah sedang menunjukkan kemarahan kepadaku. Aku ingat nenek yang sudah menitipkan cucunya untuk aku jaga. Namun aku kembali teringat jika hari ini bahkan aku tidak tahu ia ada dimana.


Tiba-tiba seseorang datang menghampiri kami.


"Pak Iqbal!"


Aku menoleh. Kulihat Trisno ada di hadapanku. Aku senang melihat dia ada di sini. Aku tahu dia adalah sahabat istriku dan kuharap dia tahu dimana keberadaannya sekarang.


"Trisno! Syukur kamu datang!" kataku begitu senang.


Trisno membawa kami duduk di sebuah kursi panjang di depan teras rumah Rara. Keadaan tidak begitu gelap karena di depan rumahnya ada lampu jalan yang lumayan terang.


"Iya pak! Pak Iqbal apa kabar? Bapak sudah sehat kan? Saya mendengar semua yang bapak alami. Saya juga tahu selama ini bapak tidak berada di Semarang."


"Apa lagi yang Rara ceritakan?" tanyaku penuh semangat.


Trisno hanya menggeleng dan tersenyum.


"Kamu pasti tahu dimana dia sekarang?"


Trisno diam tidak menjawab. Tapi dari tatapan matanya aku tahu jika ada mau disampaikan olehnya.


"Katakan Trisno, apa kamu mau melihatku mati karena dia?"


"Jadi semua itu benar?!" tanyanya seperti ada sesuatu yang sedang ia ragukan.


"Apanya?"


"Semua yang Rara ceritakan." Trisno memulai ceritanya.


"Rara bilang jika dia jatuh cinta sama bapak. Dan dia juga bilang jika bapak juga sangat mencintainya. Tapi saya tidak pernah percaya dengan semua ucapannya. Mana mungkin bapak mau sama dia. Lagipula dia kan cuma istri sewaan pak Iqbal. Tapi sebenarnya ada yang membuat saya heran. Ketika dia pergi, dia tidak berhenti menangis."


"Dia memang cengeng! Apa-apa selalu ditangisi!" kataku mengenangnya.


"Saya tahu Rara tidak mungkin berbohong. Semua cerita yang dia sampaikan pasti benar. Tapi sebenarnya saya sendiri tidak tahu harus berbuat apa saat dia bilang jika semua hanyalah mimpi baginya. Saya tahu pak, jika ketika mengatakan itu ia mencoba lari dari kenyataan yang ada." lanjut Trisno.


"Kenapa dia pergi? Di bilang ke kamu kan jika ada yang menyuruhnya pergi? " Lukman melanjutkan bertanya pada Trisno karena melihat aku yang menahan rasa sedihku.


Trisno menggelengkan kepalanya.


"Itulah hebatnya istrimu pak! Semua yang menyakitinya bahkan masih bisa ia simpan dengan baik. Dia tidak mengatakan apapun. Tapi saya tahu dia bohong. Soleh dan istrinya yang menceritakan kepada saya tentang semua yang sudah terjadi."


"Jadi dimana dia sekarang?"


Aku bangkit dari duduk saat mendengar berita itu. Aku yakin apa yang kudengar bukan mimpi. Dan aku percaya dengan semua yang telah Trisno katakan.


"Mau kemana?" tanya Lukman yang juga mulai bangkit dan mencoba menopang tubuhku.


"Ke mana lagi, ke Jogja lah!"


"Ini jam berapa? Dasar bucin! Lagian Jogja tuh luas kali, mau nyari dimana? "


Aku berpikir sejenak. Ternyata setelah kupikir pikir benar juga apa yang Lukman katakan. Aku harus mencari informasi dimana tempat tinggal Rara kini.


Kami berpamitan setelah mengucapkan terimakasih pada Trisno yang sudah banyak membantu kami. Lalu kami menuju apartemen tempat aku dan Rara tinggal selama kami hidup bersama.


"Aku tidak bisa lupa semua kenangan indah yang tercipta di sini. Aku yakin dia juga pasti merasa hal yang sama."


"Cinta sesungguhnya adalah sebuah kenangan indah yang terangkai. Jadi sana pergi cari kenangan indah yang mungkin ditinggalkan oleh istrimu di sini!"


Aku masuk ke dalam kamarnya. Tidak ada sedikitpun jejak ia tinggalkan. Hanya aroma parfum yang wanginya masih tersisa. Dan tentu saja aroma wangi itu mengingatkan aku padanya. Aku keluar dan masuk ke dalam kamarku berharap ada sesuatu yang bisa kukenang di sana.


Dan benar saja dugaanku. Di atas meja nakas aku menemukan sesuatu. Dua buah kunci. Satu kunci mobilku dan satunya lagi kunci motor matik yang beberapa waktu lalu kubeli untuknya. Di sebelahnya ada ponselnya. Ponsel yang juga kubeli untuknya.


Namun saat aku membuka sebuah kertas di samping barang barang tadi, betapa aku terkejut saat tahu di dalamnya ada sekuntum mawar merah yang sudah layu namun masih tampak indah. Itu adalah mawar merah yang kuberikan padanya malam itu. Di dalamnya ada sepucuk surat tulisan tangan istriku.


Aku membacanya dan dari sana aku tahu bahwa sebenarnya dia mencintaiku dan masih akan tetap mencintaiku. Surat itu tidak mematahkan semangatku untuk menemukan dia kembali. Justru dari surat itulah aku tahu jika kami memang ditakdirkan untuk selalu bersama. Dan aku akan memperjuangkan cinta yang sudah mendarah daging dalam tubuhku.


Aku menuruti semua yang Lukman sarankan. Termasuk tidak terburu-buru pergi ke Jogja. Lukman membayar seseorang untuk mencari informasi keberadaan Rara. Dan aku kembali ke aktivitasku sebagai anggota kepolisian. Aku pun juga tak pernah absen mencari informasi ke rumah yang pernah ditinggalinya, meskipun tidak ada informasi berarti yang kudapat. Dan informasi terakhir yang kudapat saat acara empat puluh hari meninggalnya nenek. Aku pergi ke sana. Tapi tidak ada Bang Soleh dan istrinya. Di sana hanya ada keluarga nenek dan mereka mengatakan jika Soleh kembali ke Pulau Kalimantan karena dipanggil oleh atasannya untuk kembali bekerja.


Lagi-lagi aku pulang dengan kecewa. Tapi aku tidak akan pernah putus asa. Dimana pun Rara berada aku pasti akan menemukannya.


Dan semua yang sudah kulakukan tidak sia-sia. Hari ini Lukman datang ke Semarang dengan membawa berita yang membuatku seperti menemukan kembali gairah dalam hidupku.


"Orang yang aku suruh kali ini berhasil menemukan dimana istrimu berada!"


"Cepat katakan dimana dia sekarang!"


"Tenang dong boskuh! Apa harus buru-buru!"


"Jangan meledek terus!Ayo cepat katakan!"


Lukman tersenyum kecil dan hal itu membuatku semakin kesal. Lalu ia duduk di sampingku dan membuka ponselnya.


"Dia mengatakan jika ada seorang gadis yang datang dari Semarang dan bekerja di sebuah toko bunga di jalan Anggrek di kota Jogja. Ini fotonya!" Lukman menyerahkan ponselnya padaku.


Aku melihat foto seorang gadis di sana. Dan aku mengenal siapa yang ada di dalam foto tersebut. Aku tersenyum penuh semangat saat aku tahu itu adalah foto Rara, istriku.


"Kau hebat sekali!" pujiku pada Lukman yang juga tampak tersenyum penuh kemenangan.


"Sekarang yang harus kamu lakukan adalah meminta cuti pada atasanmu dan segera pergi ke Jogja. Lalu tentukan sendiri nasib cintamu. Aku akan mengurus bisnis keluargamu yang akhir akhir ini terbengkalai gara-gara urusan cintamu itu!"


"Baiklah! Aku akan mengurus sendiri urusan cintaku. Kamu cukup mendoakan saja dan terimakasih atas bantuanmu selama ini!"


Tanpa pikir panjang aku segera minta cuti pada atasanku yang juga sudah tahu akan semua masalah yang tengah kuhadapi ini. Lalu aku segera pergi ke Jogja dan mencari keberadaan istriku, Rara.


Tunggulah aku sayang. Aku akan datang dan membawamu kembali ke rumah kita.


Terimakasih telah membaca


Salam manis 😘