A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 59 POLISI ITU KEMBALI



Sesaat mata sipit dan juga pemiliknya itu menghipnotis Rara hingga ia tidak mampu berkedip. Perasaan yang dulu pernah ia rasakan kini seakan kembali mengaliri seluruh jiwa raganya. Perasaan ingin terbang, perasaan ingin menikmati keindahan kembali berputar dalam pikirannya.


Laki-laki itu masih menatapnya dengan ekspresi datar. Tidak ada senyuman, tidak ada sapaan hangat. Ia tahu bahkan ia mengenal dengan baik siapa laki-laki itu, tapi yang aneh adalah wajahnya yang datar.


"Iya! Ada yang bisa dibantu?" tanyanya seakan-akan tidak saling mengenal.


'Ini mas Iqbal kenapa sih? Kok kayak nggak saling kenal gini. Nih orang bikin kesel deh hobinya' Pikir Rara dalam hati.


"Hello...Ada yang bisa dibantu?!" tanya Iqbal lagi yang seketika membangunkan Rara dari lamunannya.


"Ma...maaf! Ini pak... anak ini nyariin ibunya. " jawab Rara terbata.


"Tunggu ya!" perintah Iqbal dengan tatapan dingin dan tegas. Kemudian ia meraih ponselnya dan segera menghubungi seseorang. Pandangannya beralih ke arah lain dan hal itu membuat Rara semakin kesal dibuatnya.


"Sebentar lagi ibunya kesini. Tunggu sebentar lagi." kata Iqbal lagi. Rara masih cemberut karena kesal.


Laki-laki berseragam kepolisian itu kemudian berjongkok untuk menyeimbangi tinggi gadis kecil di hadapannya.


"Hallo manis! Udah jangan nangis lagi, ibu kamu sudah ketemu. Bentar lagi kesini kok. Sekarang berhenti menangis ya...!" kata Iqbal membujuk gadis kecil yang masih terisak itu.


Setelah gadis kecil itu menghentikan isaknya Iqbal segera berdiri. Namun bibirnya masih diam tidak sedikitpun mengeluarkan kata-kata walaupun hanya sekedar berbasa basi. Bahkan kini ia lebih fokus melihat layar ponselnya dari pada mengajak Rara berbincang. Melihat itu Rara menjadi lebih kesal. Ia mendengus dalam hati.


Beberapa saat kemudian seorang wanita muncul dan langsung memeluk gadis kecil itu. Ia ternyata adalah ibunya yang hampir satu jam kehilangan anaknya. Setelah mengucapkan terimakasih kepada Rara dan Iqbal, wanita itu segera pamit.


Rara belum beranjak dari tempatnya berdiri. Meskipun Iqbal masih tampak cuek padanya namun dalam hati kecilnya ia masih berharap orang yang masih sah menjadi suaminya itu mau mengajaknya sedikit berbincang. Namun hampir lima menit ia menunggu tak juga ada sebuah ucapan dari Iqbal. Mata laki-laki itu masih menatap layar ponselnya.


"Ya sudah pak! Karena masalahnya sudah selesai, saya permisi! " kata Rara dengan nada kasar.


"Kamu mau kemana?"


"Apa urusannya sama bapak?"


"Jelas ada dong! Kamu minta tolong sama polisi itu artinya secara tidak langsung kamu sudah membuat sebuah laporan. Dan kalau sudah begitu, kamu wajib menandatangani surat pernyataan. Jangan seenaknya saja kamu!"


"Salah saya apa pak?" tanya Rara semakin kesal.


"Kamu diam di sini! Tunggu sampai teman saya sampai membawa dokumen untuk kamu tandatangani!"


Entah mengapa rasa kesal dalam hati Rara perlahan memudar berganti menjadi rasa bahagia. Apalagi ketika melihat suaminya itu marah-marah tidak jelas. Hati kecilnya tertawa dan ia terus memandangi wajah suaminya intens.


"Apa kamu lihat lihat!"


"Bapak sengaja menahan saya di sini kan?"


"Untuk apa?"


"Ya karena bapak rindu kali sama saya!"


Rara sendiri merasa heran ia mendapat kekuatan dari mana hingga bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Dan adu argumentasi itu sudah seperti dua orang yang sedang bermusuhan.


"Memang kamu siapa? Jangan-jangan kamu yang rindu sama saya! Ayo ngaku?!"


"Apa apaan! Bapak tuh yang rindu sama saya!"


"Terus kalau iya emang kenapa? Hm? Jawab! Kenapa kalau saya rindu sama kamu? Tidak boleh?! Ayo jawab!" Iqbal melangkah mendekat ke arah Rara dan hal itu membuat Rara memundurkan langkahnya ke belakang.


"Bapak mau apa?"


"Kenapa? kamu takut?!"


"Enggak!"


Mendengar jawaban yang berani dari bibir istrinya, Iqbal makin mendekatkan dirinya. Rara mundur selangkah lagi. Sementara Iqbal masih menatap mata indah istrinya yang mulai gusar. Tiba-tiba...


Krucuk... krucuk...


Iqbal tertawa mendengar suara perut perempuan di depannya. Sementara si empunya perut mendengus kesal dan pipinya memerah menahan malu.


Tanpa pikir panjang Iqbal meraih tangan istrinya dan menariknya secara paksa.


"Bapak jangan macam-macam ya...?"


"Bapak..bapak! Emang bapakmu apa?!"


"Lepaskan! Mau dibawa kemana saya pak!"


Iqbal tidak menjawab. Ia malah mengaitkan jari tangan istrinya pada sela sela jari tangannya. Sementara tangan satunya meraih kacamata hitamnya lantas memakainya. Rara terpesona melihat penampilan suaminya. Kakinya terus melangkah mensejajari langkah suaminya.


Iqbal terus melangkah tanpa peduli teman-temannya yang berteriak memanggil namanya. Ia menyebrangi jalan raya dan masuk ke dalam sebuah tempat makan bersama dengan kekasihnya.


Di dalam tempat makan sederhana dengan menu soto ayam itu Iqbal mendudukkan istrinya di salah satu bangku. Lalu ia memintanya diam dan menunggu. Tidak tahu harus berbuat apa Rara hanya mengangguk dan mematuhi semua yang Iqbal minta.


Beberapa saat kemudian Iqbal kembali dengan membawa sebuah nampan berisi semangkuk soto, sepiring nasi dan segelas teh. Ia sudah melepas kacamatanya.


"Ayo dimakan!" perintahnya tegas.


"Kok cuma satu mas?"


"Mas...mas...! Di sini aku polisi! Dilarang panggil mas! Cepat makan! Selesai makan kita lanjutkan urusan kita."


"Urusan yang mana lagi pak!"


"Cepat makan! Jangan banyak bicara kamu ya...!"


Karena memang perutnya juga lapar Rara segera menyantap makanan di depannya.


"Tadi kan saya tanya...kok makanannya cuma seporsi? Bapak mana? Nggak lapar?"


Iqbal yang sebelumnya menatap layar ponsel mengalihkan perhatiannya pada gadis yang masih asyik makan di depannya. Ia tersenyum membuat Rara seketika menghentikan aksi makannya.


"Kenapa? Khawatir aku nggak makan! Aku nggak lapar kok sayang...!"


"Sayang? Ingat ya pak ini jam kerja, saya ini warga sipil loh! Jadi jangan macam-macam ya pak!"


"Siapa bilang? Ini sudah masuk jam istirahat makan siang. Jadi sudah bebas mau apa aja." jawab Iqbal yang seketika membuat Rara kembali merasa kesal. Ia hanya mendengus lalu melanjutkan makannya.


Sementara Iqbal tampak asyik sedang video call dengan seseorang. Beberapa detik kemudian ia mengarahkan ponselnya ke arah Rara.


"Tuh lihat... lagi kelaparan dia tuh!"


Rara menoleh ke arah ponsel. Tampak di layar ponsel seorang perempuan tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit. Di sampingnya ada seorang laki-laki yang menemani. Sementara di sisi bawah perempuan itu ada seorang bayi mungil tengah tertidur pulas.


Melihat mereka Rara terkejut hingga ia secara refleks menutupi mulutnya yang tanpa disadarinya telah terbuka.


"Mia...!" pekiknya kemudian.


Seketika ia meraih ponsel dari tangan suaminya dan mendekatkannya ke arah wajahnya. Itu adalah Mia dan suaminya, Lukman yang sedang video call. Mia baru saja melahirkan. Dan bayi kecil mungil itu adalah anaknya. Mia dan Lukman mendapatkan anak laki-laki.


Rara begitu bahagia melihat sahabatnya itu kembali. Sudah berbulan-bulan ia berhubungan lagi dengan Mia. Tentu saja sejak semua peristiwa menyedihkan itu. Sekarang ia bisa bicara lagi dengan Mia apalagi sekarang Mia telah memiliki seorang putra. Iqbal hanya tersenyum melihat tingkah istrinya. Ia membiarkan Rara bicara begitu lama dengan Mia memakai ponselnya. Dan hal itu tidak disadari oleh Rara.


Ponsel Rara yang ada di atas meja tiba-tiba berdering. Rara tidak mendengar panggilan itu karena tengah asyik melepas rindu dengan Mia. Dan Iqbal mencoba melihat siapa yang membaca istrinya itu. Ketika tahu itu panggilan dari Dira, ia segera mengangkatnya.


Dan Rara tidak menyadari hal itu.


Selesai bicara dengan Mia, Rara menyerahkan ponsel itu kembali pada pemiliknya sambil tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Dan tak lama setelah itu seorang gadis centil muncul begitu saja.


"Oh...gitu ya! Mintanya dianterin ke taman, tahunya sudah janjian di sini! Pantesan ! Kalau mau pacaran, pacaran aja. Nggak usah pake acara bohong gitu!" cerca gadis itu kepada Rara.


"Apaan sih? Siapa yang janjian!" sahut Rara.


"Lah ini apa? Udah deh nggak perlu ngeles. Aku tuh malah seneng lihatnya! He..he.. Udah baik baik saja kan keadaan kalian?"


"Kita tuh nggak sengaja ketemu. Lagipula ini tuh dia yang maksa!" jawab Rara lagi melirik ke arah Iqbal.


"Aku tuh lagi bertugas, lagipula aku tuh paling nggak tega lihat orang kelaparan. Jadi ya aku bawa saja ke tempat makan ini. Bukannya terimakasih!"


"Tapi BeTeWe... ini tuh sesuatu yang perlu disyukuri loh! Tahu nggak kalian, ini tuh artinya jodoh!" kata Dira sambil menarik kursi dan duduk di atasnya.


"Kamu ngomong apa sih?" Rara berkata begitu lirih seakan baru tersadar dari mimpi. Ia melirik sekilas ke arah Iqbal yang menatapnya dalam.


Setelah memalingkan wajahnya dari Iqbal, Rara kembali menatap wajah itu lagi. Entah apa yang membuatnya ingin mencari sesuatu dalam mata Iqbal. Ia memang tidak menemukan apapun di sana. Tapi ia tahu jika bara rasa kecewa yang muncul dari dalam mata teduh itu.


Iqbal bangkit dari duduknya.


"Jam istirahat sudah selesai. Aku kembali ke tempat tugas dulu. Kalian hati-hati ya!"


Keduanya tidak menyahut. Rara hanya menatap punggung Iqbal yang mulai menjauh. Ada rasa yang sulit diucapkan yang menyelimuti hatinya.


Terimakasih telah membaca


Salam manis 😘